Sorry, we're closed Opens Selasa at 9:00 am

Tahun: 2026

Optimalkan Lahan SAE, Lapas Banyuwangi Tebar 2.000 Benih Ikan Nila

BANYUWANGI || jejakindonesia.id - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat program pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Terbaru, Lapas Banyuwangi melakukan optimalisasi lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) yang berlokasi di Kelurahan Pakis dengan menebar 2.000 benih ikan nila pada kolam pembesaran, Selasa (06/01).

Kegiatan penebaran benih ini dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja), Priyo Asmanto. Dalam keterangannya, Priyo menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menghidupkan lahan SAE sebagai pusat pelatihan produktif bagi warga binaan.

Ribuan benih ikan nila tersebut merupakan hasil sinergi antara Lapas Banyuwangi dengan pemerintah daerah, melalui Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi.

"Sebanyak 2.000 benih ikan nila ini berasal dari bantuan Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi. Kami sangat mengapresiasi dukungan ini dalam rangka memperkuat sarana edukasi bagi warga binaan," ujar Priyo.

Menurutnya, proses perawatan dan pembesaran ikan nantinya akan dikelola sepenuhnya oleh warga binaan yang sedang menjalani masa asimilasi. Meski demikian, mereka akan tetap berada di bawah pendampingan dan pengawasan ketat dari petugas Lapas guna memastikan program berjalan maksimal hingga masa panen tiba.

“Petugas akan melakukan pendampingan dan pengawasan secara ketat untuk memastikan keberhasilan program ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Priyo menyatakan bahwa penebaran benih ini merupakan bentuk nyata komitmen Lapas Banyuwangi dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Selain itu juga sebagai sarana pembinaan narapidana agar memiliki keahlian di bidang perikanan.

"Kegiatan ini juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada poin ke-8, yakni mewujudkan kemandirian pangan melalui program pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rutan dengan memanfaatkan lahan-lahan yang belum tergarap maksimal (idle)," pungkasnya.

Terharu Kisah Abdurrahman PPPK yang Tunaikan Nazar Lari 52 Km, Bupati Ipuk: Cermin Dedikasi ASN

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku terharu pada Abdurrahman, seorang tukang kebun dan penjaga sekolah, SDN 3 Sepanjang Glenmore, yang menunaikan nazar dengan lari sejauh 52 kilometer, dari GOR Tawangalun Banyuwangi menuju rumahnya di Kecamatan Glenmore, usai menerima SK Pengangkatan PPPK Paruh Waktu.

Abdurrahman yang akrab disapa Cak Dur merupakan salah satu dari 4.888 tenaga honorer, yang resmi diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu oleh Pemkab Banyuwangi dan statusnya kini menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Pria berusia 45 tahun tersebut menunaikan nazar dengan berlari sejauh 52 kilometer, pada siang hari yang dia tempuh selama 7 jam, usai menerima SK Pengangkatan dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani pada 28 Desember 2025 lalu.

"Dari Cak Dur kita belajar tentang dedikasi seorang ASN. Beliau telah bersabar dengan pengabdiannya yang belasan tahun. Nazar yang dipilih juga bukanlah hal yang mudah. Ini bentuk dedikasi seorang ASN," kata Ipuk saat bertemu Abdurrahman di SDN 3 Sepanjang, Kecamatan Glenmore, Senin (5/1/2025).

“Bentuk syukur setiap orang berbeda-beda. Bisa saja Cak Dur memilih nazar yang lebih mudah. Tapi dia memilih jalan yang lebih lebih sulit, lari sejauh 52 kilometer pada siang hari di tengah teriknya matahari.,” kata Ipuk yang turut menyerahkan surat perintah tugas (SPT) pada Abdurrahman.

Ipuk berharap dengan resmi menjadi ASN, Pak Dur semakin semangat menjalankan pekerjaannya. "Semoga Cak Dur tambah semangat bekerja," kata Ipuk.

Ipuk mengatakan PPPK Paruh Waktu merupakan bagian dari ASN daerah. Ia berharap seluruh ASN dapat saling berkolaborasi meningkatkan kualitas pelayanan publik, termasuk di sektor pendidikan.

“Khususnya di SDN 3 Sepanjang, semua ASN bisa bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan sesuai bidang tugasnya masing-masing,” tambahnya

Kepada Ipuk, Abdurrahman mengungkapkan memang hobi lari. Dia sering ikut event lari di sejumlah kota seperti Bali, Jember dan Surabaya. Dalam kesempatan itu Ipuk juga menghadiahkan sepatu lari pada Abdurrahman.

Sementara Abdurrahman berterima kasih kepada Bupati Ipuk yang telah mengangkat ia beserta rekan-rekan honorer se-Banyuwangi sebagai PPPK Banyuwangi. Ia sendiri sangat senang karena pengabdiannya selama 17 tahun berbuah manis dengan pengangkatan sebagai ASN.

“Terima kasih Ibu Bupati yang telah mengangkat kami. Saya tidak menyangka bisa dapat SK. Memang ini yang diharapkan dari dulu,” ujarnya.

Cak Dur menceritakan, ia mendapat kabar akan mendapat SK Pengangkatan, Jumat 26 Desember 2025. Karena rasa senang yang sangat besar, malam sebelum penyerahan SK PPPK Paruh Waktu ia pun mengucap sebuah nazar akan berlari dari Kota Banyuwangi ke rumahnya di Kecamatan Glenmore sejauh 52 KM usai menerima SK.

“Akhirnya nazar itu saya laksanakan tepat setelah mendapatkan SK dari ibu Bupati di hari Minggu, 28 Desember. Setelah memegang SK, saya langsung ganti sepatu dengan sepatu lari dan start dari GOR Tawangalun menuju Glenmore,” ungkapnya.

Berbekal tas yang dipinjam dari temannya, ia berlari menyusuri jalanan yang ramai. Teriknya sinar matahari siang tidak menyurutkan langkahnya untuk menyelesaikan nadzar yang sudah terucap.

“Paling sulit di jalan Sumbersari-Pandan. Jalannya naik turun, banyak tanjakkan. Saya hampir pingsan, tapi ingat dengan nazar, semangat kembali tumbuh. Meski kaki sempat kram tapi saya tahan sampai finish,” tambah Cak Dur.

Ia makin semangat karena di sepanjang jalan banyak warga yang memberikan semangat. Ia juga sempat istirahat untuk menunaikan sholat Duhur. Total 7 jam waktu yang dihabiskan Cak Dur untuk berlari dari GOR Tawangalun–ke rumahnya di area SDN 3 Sepanjang Glenmore.

Cak Dur mengaku kerap mengikuti berbagai event lari di berbagai kota. Puluhan medali sudah menjadi koleksinya dari berbagai event baik di Banyuwangi, Jember, Surabaya dan Bali.

"Pernah ikut maraton juga, jadi finisher. Inshaallah Bulan Januari ini juga saya akan ikut event lari Banyuwangi,” katanya. (*)

Iqbal Reza Nugraha Resmi Pimpin Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengukuhkan pimpinan baru Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI Jember), Iqbal Reza Nugraha yang sebelumnya dijabat oleh Gunawan melalui rangkaian upacara pengukuhan di Kantor BI Jember, Senin (5/1/2026).

Hadir dalam pengukuhan tersebut lima bupati di wilayah Sekar Kijang yang menjadi wilayah tugas Kantor BI Jember yakni Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Bupati Jember Gus Fawait, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid, Bupati Lumajang Indah Amperawati dan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa Iqbal sudah memiliki banyak pengalaman di Jawa Timur sehingga dipilih menjadi Kepala Perwakilan BI yang wilayah kerjanya berada di lima kabupaten tapal kuda. Sebelumnya Iqbal merupakan Kepala Divisi Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur.

“Kami juga menyampikan terima kasih atas kinerja dan dedikasi Pak Gunawan yang luar biasa. telah bersama pemerintah daerah di lima kabupaten manjaga moneter dan ekonomi daerah,” ujar Perry.

Perry mengatakan kantor perwakilan Bank Indonesia di daerah merupakan mitra pemerintah daerah untuk memajukan ekonomi daerah. Ada lima peran pokok BI untuk mewujudkan itu. Pertama pengendalian harga, dimana BI bersama stakeholder terkait di daerah, memiliki peran dalam mengendalikan harga untuk menjaga inflasi.

Kedua memajukan perekonomian dengan berbagai program seperti hilirisasi pertanian, mengembangkan UMKM, hingga mempromosikan daerah untuk mendatangkan investor.

“Ketiga BI melakukan percepatan digitalisasi melalui perluasan penggunaan Qris sebagai alat pembayaran hingga memfasilitasi lahirnya start up di daerah-daerah dengan pelatihan hingga akses permodalan. Keempat pengembangan ekonomi kerakyatan dimana BI memfailitasi perputaran ekonomi yang ada di desa hingga pesantren,” ungkapnya.

“Bapak Ibu Bupati bisa senantiasa berkoordinasi dan bekerjasama dengan BI untuk program-program tersebut,” imbuhnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani juga menyampaikan selamat atas pelantikan Iqbal Reza Nugraha sebagai Kepala Bank Indonesia Jember yang baru. Ipuk berharap berbagai kolaborasi yang telah dijalin antara Kantor Perwakilan BI Jember dan Pemkab Banyuwangi bisa terus dilanjutkan baik dengan program-program yang telah berjalan maupun inovasi baru.

“Selama ini Kantor Bank Indonesia Jember telah memberikan banyak pendampingan, pelatihan hingga fasilitasi bagi UMKM dan pelaku usaha di Banyuwangi. Kami sangat berterima kasih atas peran BI tersebut,” pungkas Ipuk. (*)

Sedekah Oksigen, Pemkab Banyuwangi dan Perhutani Bagikan Ribuan Bibit Pohon Gratis ke Warga

BANYUWANGI || jejakindonesia.id - Pemkab Banyuwangi bersama Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Raya, membagikan ribuan bibit pohon gratis pada warga, bagian dari gerakan sedekah oksigen, Senin (5/1/2026).

Sebanyak 2.026 bibit pohon dibagikan kepada para pengendara roda dua dan roda empat yang melintas di depan Kantor Perhutani, Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Bibit yang dibagikan terdiri dari berbagai jenis tanaman produktif dan kehutanan, seperti alpukat, durian, sirsak, dan salam. Jenis tanaman tersebut dipilih karena dinilai cocok ditanam di hampir seluruh wilayah Banyuwangi.

Antusiasme warga terlihat sejak pagi. Para pengendara yang melintas melambat untuk menerima bibit pohon.

“Senang sekali, dapat bibit pohon sirsak dan durian. Nanti akan saya tanam di halaman rumah,” ujar Wiwin, salah satu warga penerima bibit.

Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono yang turut hadir membagikan pohon, mengapresiasi Perhutani yang mendukung gerakan Sedekah Oksigen.

“Terima kasih kepada Perhutani yang terus mengawal dan menggalakkan gerakan sedekah oksigen. Semoga aksi ini berdampak pada lingkungan yang semakin sehat, ekonomi rakyat, serta ketahanan ekosistem yang kuat,” kata Mujiono.

Mujiono menjelaskan, gerakan Sedekah Oksigen mulai dilakukan secara masif sejak 2016, untuk menumbuhkan budaya menanam pohon secara berkelanjutan. Sejak itu, jutaan pohon telah ditanam di berbagai wilayah Banyuwangi.

Hingga kini, Pemkab Banyuwangi terus memasifkan gerakan tersebut melalui berbagai kebijakan. Salah satunya, mewajibkan ASN yang naik pangkat menyumbang satu bibit pohon.

Selain itu beberapa waktu lalu, 4.888 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu yang baru diangkat. Mereka mendonasikan satu bibit pohon berkayu sebagai bentuk rasa syukur atas pengangkatan sebagai ASN.

Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Raya, Mukhlisin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari aksi sedekah oksigen, sekaligus upaya melibatkan masyarakat secara aktif dalam menjaga lingkungan.

“Ini sinergi dengan program Sedekah Oksigen yang sudah dilaksanakan Pemkab Banyuwangi sejak 2016. Menjadi aksi nyata bersama dalam menjaga lingkungan melalui penghijauan,” ujar Mukhlisin.

Dia menambahkan, selain membagikan bibit kepada warga untuk ditanam secara mandiri, Perhutani juga secara rutin melakukan penghijauan di kawasan hutan.

“Setiap kegiatan penebangan selalu diikuti regenerasi. Pada 2025 saja, di KPH Banyuwangi Raya sudah ditanam sekitar 500 ribu tanaman kehutanan dan tanaman buah berkayu,” katanya. (*)

Jakarta Geger: Kisah 48 Tahun Tersimpan, Badan Tersiksa, Fast Respon dan Misteri Gaib Majapahit

JAKARTA || jejakindonesia.id – Kisah ini menggegerkan publik: seorang tokoh bernama Agus Flores mengungkapkan pengalaman pribadi yang ia sebut “tidak boleh disembunyikan” selama 48 tahun, yang membuat dirinya menderita secara fisik dan batin.

Agus Flores menjelaskan bahwa dirinya membawa amanah dari Titah Raja Majapahit dan Petuah Kerajaan Nusantara, yang menurutnya berkaitan langsung dengan garis keturunan Anak Ketiga Dewa Surya, Sultan Agung Partika Chandra.

Fenomena ini juga terkait dengan berdirinya organisasi Fast Respon, Fast Respon Nusantara, dan Pasivic. Menurut Agus, sebelum logo Fast Respon dipakai, ia melakukan ritual keliling makam raja Majapahit. “Kalau tidak paham asal muasal Fast Respon sebagai penjaga Bhayangkara, jangan ikut-ikutan,” tegasnya.

Nama Agus Flores, katanya, bukan sekadar tambahan nama biasa, tetapi merupakan amanah langsung dari leluhur dan petuah kerajaan. Cerita ini menyingkap sisi gaib dan spiritual yang jarang diketahui publik, menimbulkan rasa penasaran sekaligus misteri di kalangan masyarakat.

error: Content is protected !!