Komisi III DPR RI Setujui Usulan Tambahan Anggaran BNN untuk Tahun 2027

JAKARTA || Jejak-indonesia.id – Komisi III DPR RI sepakat menyetujui usulan tambahan anggaran sebesar Rp5,05 triliun yang diajukan BNN pada Rapat Kerja Bersama yang digelar di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu (17/6).

Tambahan anggaran tersebut diusulkan BNN guna mencegah kelumpuhan layanan publik pada tahun 2027 dan tercapainya target penurunan angka prevalensi penyalahguna narkotika menjadi 2,08%.

Kepala BNN RI, Komjen Pol. Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si., dalam paparannya menyebutkan bahwa Pagu Indikatif 2027 yang merosot menjadi Rp1,44 triliun dapat menyebabkan alokasi layanan masyarakat menyentuh angka nol rupiah. Karenanya, guna menutup defisit tersebut, BNN mengusulkan Pagu Ideal sebesar Rp6,49 triliun melalui kombinasi Rupiah Murni Rp1,51 triliun dan Pinjaman Luar Negeri (PLN) sebesar Rp3,54 triliun.

“Usulan pembiayaan luar negeri merupakan bagian dari total kebutuhan untuk 3 tahun ke depan, yang akan dieksekusi melalui 3 project utama di bawah payung Operasi Indonesia Bersinar,” jelas Kepala BNN RI.

Sementara itu, dalam pembahasan evaluasi kinerja, Kepala BNN RI memaparkan sejumlah capaian kinerja BNN di semester pertama tahun 2026. Ia menyebutkan bahwa per tanggal 15 Juni 2026 realisasi anggaran BNN telah mencapai 50,84% atau sekitar Rp733,18 miliar.

Serapan anggaran tersebut merupakan bentuk dari capaian operasional yang masif di lapangan seperti pengungkapan 155 kasus narkotika, penyitaan dan pemusnahan ratusan kilogram barang bukti narkotika, terbentuknya 370 peer educator, telaksananya 66.969 tes urine, terlayaninya ribuan klien dalam rehabilitasi, dan lain sebagainya.

Menutup rangkaian rapat kerja tersebut, Kepala BNN RI menegaskan bahwa seluruh capaian operasional dan usulan anggaran ideal ini merupakan satu kesatuan langkah strategis demi menyelamatkan generasi Indonesia dari ancaman narkotika.

“Tidak ada pembangunan yang berkelanjutan tanpa sumber daya manusia yang sehat dan tidak ada Indonesia emas tanpa lingkungan yang bebas narkotika, sekali lagi Kami ucapkan terima kasih atas perhatian, pengawasan, dan dukungan pimpinan serta seluruh anggota Komisi III DPR RI,” pungkasnya.

#warondrugsforhumanity
BIRO HUMAS DAN PROTOKOL BNN

Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Kapolresta Serang Kota Laksanakan kegiatan Anjangsana

POLRESTA SERKOT || Jejak-indonesia.id – Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Kapolresta Serang Kota Kombes Pol. Yudha Satria, S.H., S.I.K., M.H., bersama Ketua Bhayangkari Cabang Serang Kota Ny. Vivi Yudha, Pejabat Utama, Personel dan Bhayangkari Polresta Serang Kota melaksanakan kegiatan anjangsana dan silaturahmi ke kediaman Kompol (Purn.) Asan, Ibu Siti Nurmala, S.Ag., dan Bu Tukiyono selaku Warakawuri, pada Kamis, 18/06/2026.

Kegiatan anjangsana tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan Hari Bhayangkara ke-80 yang bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada keluarga besar Polri, khususnya para warakawuri yang telah mendampingi anggota Polri dalam menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.

Dalam kunjungan tersebut, Kapolresta Serang Kota bersama Ketua Bhayangkari Cabang Serang Kota menyampaikan rasa hormat serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada KOMPOL (Purn.) Asan, serta Almarhum AKP Tulus dan Almarhum IPTU Tukiyonko atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdiannya selama bertugas di lingkungan Polresta Serang Kota.

Kapolresta Serang Kota mengatakan bahwa kegiatan anjangsana ini merupakan wujud kepedulian dan perhatian keluarga besar Polri kepada para warakawuri serta sebagai momentum untuk mengenang jasa-jasa para personel yang telah memberikan kontribusi terbaik selama berdinas.

“Melalui kegiatan anjangsana ini, kami ingin menjalin silaturahmi sekaligus mengenang jasa Almarhum AKP Tulus yang selama masa pengabdiannya telah menunjukkan dedikasi, prestasi, dan kinerja terbaik untuk institusi Polri, khususnya Polresta Serang Kota. Semoga tali persaudaraan ini terus terjaga dengan baik,” ujar Kombes Pol. Yudha Satria.

Sementara itu, Ibu Siti Nurmala, S.Ag., menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan oleh Kapolresta Serang Kota beserta jajaran dan Bhayangkari Cabang Serang Kota. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi bentuk kebersamaan yang sangat berarti bagi keluarga.

Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat dengan nilai kebersamaan. Selain bersilaturahmi, Kapolresta Serang Kota dan Ketua Bhayangkari Cabang Serang Kota juga memberikan tali asih sebagai bentuk perhatian dan dukungan kepada keluarga warakawuri.

Melalui kegiatan ini, Polresta Serang Kota berharap semangat kebersamaan, kepedulian, dan penghargaan terhadap jasa para pendahulu Polri dapat terus terpelihara, sejalan dengan semangat Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026 dalam mewujudkan Polri yang Presisi dan semakin dekat dengan masyarakat.

Humas

Jejak Silsilah Besar Besuki: Klaim Keturunan Van Ijsseldijk hingga Garis Brawijaya V, Masih Jadi Sorotan Sejarah Lokal

BESUKI || Jejak-indonesia.id – Kamis (18/6), Sejumlah catatan riwayat keluarga yang beredar di lingkungan Besuki kembali memunculkan perbincangan mengenai dugaan keterkaitan garis keturunan antara keluarga Gubernur Residen Besuki, J.H. Van Ijsseldijk, dengan trah bangsawan Jawa yang dikaitkan dengan Prabu Brawijaya V melalui figur Raden Astrodiarjo.

Dalam narasi silsilah yang berkembang, Raden Astrodiarjo disebut menikah dengan Ratu Moorlan, yang merupakan putri dari keluarga Residen Besuki. Dari pernikahan tersebut, lahir tiga keturunan utama, yakni Raden Sunaryo, Raden Kusman (Mantri Pengairan Residen Besuki), serta Roro Jeng Herlina.

Namun, catatan keluarga tersebut menunjukkan adanya dinamika lanjutan dalam garis keturunan. Raden Kusman diketahui tidak memiliki keturunan biologis, sehingga dalam struktur keluarga kemudian diangkat Raden Kusnandar sebagai anak angkat untuk melanjutkan garis keluarga.

Raden Kusnandar sendiri berasal dari garis Roro Jeng Herlina, yang menikah dengan Raden Sunyoto Hadinoto. Dengan demikian, Roro Jeng Herlina merupakan saudara kandung dari Raden Kusman, sekaligus penghubung utama dalam kelanjutan garis keturunan keluarga tersebut.

Dalam perkembangan berikutnya, Raden Kusnandar menikah dengan Putri Marta, putri dari seorang anggota kepolisian bernama Andrias Ade asal Flores. Dari pernikahan itu, lahir seorang anak bernama Raden Mas Muhammad Agus Rugiarto, S.H.

Rangkaian silsilah ini menunjukkan bagaimana jaringan keluarga tersebut tidak hanya terhubung dengan struktur birokrasi kolonial di Besuki, tetapi juga menyebar hingga lintas wilayah dan latar sosial, menciptakan narasi genealogis yang kompleks dan masih menjadi bahan penelusuran sejarah lokal.

 

J.H. Van Ijsseldijk (Gubernur Residen Besuki)

└── Putri Residen (Ratu Moorlan)

└── Menikah dengan Raden Astrodiarjo

┌───────────────────────┼────────────────────────┐
│ │ │
Raden Sunaryo Raden Kusman (Mantri) Roro Jeng Herlina
│ │
(tidak punya keturunan) Menikah dengan Raden Sunyoto Hadinoto
│ │
Diangkat: Raden Kusnandar <───────┘

Menikah dengan Putri Marta

Andrias Ade (Polisi asal Flores)

└── Raden Mas Muhammad Agus Rugiarto, S.H.

Konsolidasi Politik Berbasis Desa Digelar di Banyuwangi, Gesah Aspirasi Didorong Jadi Saluran Resmi Suara Rakyat

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Mengingat kembali semangat sang Proklamator Soekarno yang menegaskan bahwa “suara rakyat adalah nafas perjuangan bangsa”, sebuah konsolidasi politik berbasis ruang dialog mulai digerakkan di Kabupaten Banyuwangi sebagai upaya memperkuat jalur penyerapan aspirasi dari tingkat akar rumput.

Forum diskusi dan “gesah aspirasi politik” tersebut tidak dirancang sekadar sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi wadah konsolidasi berjenjang yang akan dilaksanakan hingga tingkat desa di seluruh Banyuwangi. Program ini diharapkan menjadi instrumen komunikasi politik yang lebih dekat, terbuka, dan terstruktur antara masyarakat dengan para pengambil kebijakan.

Kegiatan perdana secara simbolik dibuka oleh Mas Seno sebagai representasi generasi muda, menandai keterlibatan pemuda dalam ruang politik yang semakin inklusif. Kehadiran unsur pemuda ini menjadi simbol bahwa proses politik tidak lagi eksklusif, melainkan membuka ruang partisipasi lebih luas bagi masyarakat lintas generasi.

Melalui forum ini, seluruh aspirasi masyarakat ditargetkan dapat terserap secara sistematis dari tingkat bawah, kemudian dikonsolidasikan oleh partai politik untuk direkomendasikan kepada para pemangku kebijakan, baik di eksekutif maupun legislatif. Dengan mekanisme tersebut, alur komunikasi politik diharapkan tidak lagi bersifat satu arah, melainkan berjalan secara timbal balik dari desa menuju pusat pengambilan keputusan.

Lebih jauh, model konsolidasi hingga tingkat desa ini diproyeksikan menjadi instrumen percepatan respons kebijakan. Aspirasi yang dihimpun tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dituntut untuk ditindaklanjuti secara konkret oleh para petugas partai di berbagai lini struktur pemerintahan dan legislatif.

Di tengah dinamika politik lokal yang terus berkembang, inisiatif ini menegaskan kembali esensi politik sebagai ruang pengabdian: mendengar, menyerap, dan bekerja untuk rakyat, sejalan dengan spirit perjuangan yang diwariskan para pendiri bangsa.

Senyum Keluarga Jadi ‘Upah Tertinggi’: Boy Warga Ajung Pancakarya Soroti Realitas Hidup di Balik Kerasnya Ekonomi Rumah Tangga

AJUNG PANCAKARYA || Jejak-indonesia.id – Di tengah kehidupan pedesaan yang tampak tenang, Luk—yang akrab disapa Boy, warga Ajung Pancakarya—mengangkat potret realitas sosial yang sering tidak tampak di permukaan: bahwa ukuran kesejahteraan masyarakat tidak selalu identik dengan angka pendapatan, melainkan juga dengan ketenangan yang tumbuh di dalam rumah tangga.

Menurut Boy, bagi banyak kepala keluarga, seluruh lelah dari pekerjaan sehari-hari di luar rumah pada akhirnya bermuara pada satu hal sederhana namun bermakna besar—pulang dan disambut senyum istri serta anak. Dalam keseharian warga, momen itu kerap dimaknai sebagai “upah tertinggi”, yang nilainya tidak bisa diukur dengan materi.

Namun di balik kehangatan tersebut, tersimpan kenyataan hidup yang tidak ringan. Tekanan ekonomi, terbatasnya lapangan pekerjaan, hingga beban tanggung jawab keluarga membuat sebagian warga harus bertahan dalam kondisi serba pas-pasan. Tidak sedikit yang memilih memendam lelah, sambil tetap melanjutkan rutinitas demi menjaga keberlangsungan hidup keluarga.

Dalam situasi seperti itu, rumah tidak lagi sekadar tempat beristirahat, melainkan menjadi ruang pemulihan terakhir—tempat untuk menguatkan kembali mental dan harapan setelah bergulat dengan kerasnya kehidupan di luar.

Pandangan Boy ini menjadi pengingat bahwa indikator kesejahteraan tidak cukup hanya dibaca dari pertumbuhan ekonomi atau besaran pendapatan. Lebih dari itu, kesejahteraan juga tercermin dari kemampuan keluarga menjaga keharmonisan, ketenangan, dan harapan di tengah tekanan hidup yang terus berjalan.

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Bupati Ipuk : Jadi Basis Data Kebijakan Pembangunan Daerah 10 Tahun ke Depan

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan sensus ekonomi 2026 akan menjadi landasan bagi pengambilan kebijakan pembangunan Banyuwangi satu dekade ke depan.

Hal itu disampaikan Ipuk saat pencanangan Sensus Ekonomi 2026 dalam Apel Siaga Sensus Ekonomi 2026 sekaligus Upacara Hari Kesadaran Nasional (HKN) yang berlangsung di halaman Kantor Pemkab Banyuwangi. Rabu (17/6/2026). Upacara juga diikuti ratusan ratusan petugas sensus Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi.

Menurut Ipuk, sensus ekonomi yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali memiliki peran strategis karena menjadi dasar dalam penyusunan berbagai kebijakan pembangunan ekonomi, baik di daerah maupun nasional ke depannya.

Dengan data yang akurat dan komprehensif, pemerintah dapat menyusun kebijakan yang tepat sasaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Bagi Banyuwangi, sensus ini memiliki arti yang sangat penting. Melalui sensus ini kita akan mengetahui secara lebih akurat bagaimana perkembangan usaha masyarakat, sektor ekonomi yang tumbuh paling cepat, potensi ekonomi baru yang muncul, tantangan yang dihadapi pelaku usaha, serta peluang-peluang yang dapat kita optimalkan untuk masyarakat. Karena itulah keberhasilan Sensus Ekonomi 2026 bukan hanya kepentingan BPS, tetapi merupakan kepentingan kita semua,” kata Bupati Ipuk.

Unuk itu, Bupati Ipuk mengajak warga Banyuwangi mengikuti sensus ekonomi dan memberikan data secara benar. Secara khusus ia juga menginstruksikan kepada seluruh perangkat daerah, kecamatan, desa, kelurahan, hingga RT/RW untuk memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.

“Bangun oordinasi yang baik, fasilitasi pelaksanaan di lapangan, dan memastikan seluruh proses berjalan aman, tertib, serta lancar,”pinta Ipuk.

Ipuk juga meminta ASN Banyuwangi, menjadi duta kesadaran data. Bisa memberikan contoh kepada masyarakat. Jika menerima kunjungan petugas sensus, berikan informasi yang benar, lengkap, dan sesuai kondisi sebenarnya.

“Kepada seluruh petugas sensus, kami berikan apresiasi yang sebesar-besarnya. Tugas yang saudara emban bukan sekadar mengumpulkan angka. Saudara sedang membantu menyiapkan fondasi bagi masa depan pembangunan daerah dan bangsa. Selamat bertugas, jalani tugas dengan baik,” imbuh Ipuk.

Sementara itu, melalui momentum Hari Kesadaran Nasional ini, Bupati Ipuk juga mengajak seluruh ASN daerah untuk terus menjaga integritas, meningkatkan profesionalisme, memperkuat semangat melayani, dan membangun budaya kerja yang produktif serta kolaboratif.

“Mari kita satukan langkah, satukan energi, dan satukan tekad. Dengan semangat Banyuwangi ASRI, dan spirit Tandang Bareng, kita hadirkan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya.

Upacara turut diikuti secara online oleh Kepala Desa, Satkorwilkerdik, guru serta kepala sekolah se Banyuwangi. Juga diikuti Kaploresta Banyuwangi Kombes Pol. Rofiq Ripto Himawan dan Kepala BPS Abdus Salam.

Uacara HKN tersebut juga dirangkai dengan penyerahan bantuan alat usaha bagi UMKM daerah serta bantuan dari Baznas Banyuwangi berupa alat bantu gerak kursi roda, biaya pengobatan hingga modal usaha dan beasiswa pendidikan.

Bupati Ipuk Ingatkan Tak Ada Pungutan Siswa Baru

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengingatkan kepada seluruh sekolah SD dan SMP Negeri di Banyuwangi untuk tidak melakukan pungutan serta berbisnis seragam dan buku pelajaran anak didik selama penerimaan peserta didik baru (PPBD).

“Kami ingatkan kepada seluruh SD dan SMP negeri untuk tidak ada pungli serta untuk tidak jual beli baju seragam dan buku-buku sekolah. Ini dikuatkan dengan Dinas Pendidikan telah mengeluarkan surat edaran terkait larangan tersebut,” kata Bupati Ipuk, Rabu (17/6/2026).

Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 400.3.1/4749/429.101/2026 perihal Kebijakan Pendidikan Akhir Tahun Pembelajaran 2025/2026 dan Pasca SPMB 2026.

Surat edaran bertanggal 11 Juni 2026 tersebut ditujukan kepada kepala SD dan SMP negeri/swasta serta pengawas sekolah SD & SMP.

Dijelaskan Plt Kepala Dnas Pendidikan Banyuwangi Alfian bahwa surat tersebut berisi larangan kepada sekolah (SD dan SMP) yang diselenggarakan pemerintah agar tidak melakukan pungutan biaya. Sekolah hanya diizinkan menarik sumbangan yang bersifat sukarela, tidak memaksa, serta tidak ditentukan nominal dan waktunya.

“Itu pun pengajuannya harus dari Komite Sekolah. Dan hanya boleh dilakukan jika ada kekurangan operasional pada pos-pos yang belum tercover oleh anggaran pemerintah. Selama masih ada dana dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau APBD, maka itu yang harus dioptimalkan,” ungkap Alfian.

“Intinya, pendidikan tidak boleh membebani orang tua murid,” imbuhnya.

Sebaliknya, untuk SD dan SMP swasta masih diperkenankan memungut biaya dari orang tua siswa untuk memenuhi kebutuhan operasional.

“Meski begitu, pungutan tidak boleh dikaitkan dengan penilaian. Misalnya, yang belum membayar tidak diperbolehkan ikut ujian, ijazahnya ditahan, rapor tidak dibagikan, dan sebagainya. Pungutan juga tidak boleh dilakukan kepada siswa kurang mampu,” ujar Alfian.

Lebih lanjut, surat tersebut juga berisi larangan tegas kepada sekolah, panitia sistem penerimaan siswa baru (SPMB), dan atau perorangan pendidik dan tenaga kependidikan menjual kain seragam kepada siswa baru. Termasuk juga buku pelajaran dan peralatan sekolah lainnya.

“Pada intinya orang tua bebas membeli seragam, buku pelajaran, dan perlatan lainnya di manapun saja. Kalaupun toh di sekolah ada yang menjual, itu harus melalui koperasi sekolah yang berbadan hukum, dan harganya harus sesuai pasar,” beber Alfian.

Langkah tersebut, kata dia, merupakan bagian dari komitmen Banyuwangi dalam melindungi hak peserta didik, serta mencegah praktik-praktik yang berpotensi membebani masyarakat di lingkungan pendidikan.

“Imbauan ini bersifat mengikat dan wajib dipatuhi oleh seluruh satuan pendidikan dan komite sekolah,” ujarnya.

Apabila setelah diberlakukannya surat ini masih ditemukan pelanggaran di lapangan, pemkab akan melakukan penindakan tegas dan terukur. (*)

Konco Lidasi: Gesah Aspirasi Politik Sak Koncoan” Digelar di Banyuwangi, Angkat Semangat Bulan Bung Karno

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Jumat, 19 Juni 2026 pukul 13.00 WIB, kegiatan bertajuk “Konco Lidasi (Gesah Aspirasi Politik Sak Koncoan)” dijadwalkan berlangsung di kawasan Taman Baru, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag 45) Banyuwangi, menghadirkan ruang dialog politik santai berbasis aspirasi anak muda dan komunitas.

Agenda ini menghadirkan narasumber Aryo Seno Bagaskoro, yang dikenal sebagai Juru Bicara Muda dari PDI Perjuangan, untuk membahas dinamika politik kebangsaan, partisipasi generasi muda, serta refleksi ideologis dalam momentum Bulan Bung Karno.

Mengusung tema “Menafsir Ulang Pikiran Sang Proklamator serta Membangkitkan Warisannya”, kegiatan ini diarahkan sebagai forum dialektika publik yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang interpretasi ulang terhadap gagasan-gagasan Bung Karno dalam konteks kekinian—terutama terkait nasionalisme, kerakyatan, dan kemandirian bangsa.

Penyelenggaraan di lingkungan akademik Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi juga menegaskan peran kampus sebagai ruang terbuka bagi pertukaran gagasan politik yang sehat, inklusif, dan berbasis literasi kebangsaan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah “gesah” (diskusi santai) yang membangun kedekatan antara aktivis muda, mahasiswa, dan tokoh politik, sekaligus memperkuat semangat Bulan Bung Karno sebagai momentum penguatan ideologi dan arah perjuangan bangsa di tingkat akar rumput.

Agus Flores dan H. Hercules Instruksikan Kader GRIB Jatim Sukseskan Banyuwangi Bersholawat HUT Bhayangkara ke-80

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Ketua Umum PW FRN Counter Polri Agus Flores bersama Ketua Umum GRIB Jaya H. Hercules menginstruksikan seluruh jajaran DPD GRIB Jaya Jawa Timur untuk hadir dan berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan Banyuwangi Bersholawat yang digelar dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke-80.

Instruksi tersebut menekankan pentingnya keterlibatan organisasi masyarakat dalam mendukung kelancaran acara, sekaligus membantu menjaga situasi yang aman, tertib, dan kondusif. Seluruh kader GRIB Jaya Jatim diminta berkoordinasi dan bersinergi dengan panitia serta aparat keamanan demi memastikan kegiatan berjalan lancar.

Banyuwangi Bersholawat tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat persatuan antara ulama, umara, organisasi kemasyarakatan, insan pers, dan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang kebersamaan dalam merawat nilai-nilai persaudaraan, kebangsaan, dan stabilitas daerah.

Agus Flores menegaskan bahwa sholawat adalah sarana mempererat ukhuwah serta mendoakan Polri agar semakin profesional, humanis, dan dicintai masyarakat.

“Banyuwangi Bersholawat bukan sekadar peringatan HUT Bhayangkara ke-80, tetapi juga momentum memperkuat persaudaraan dan kebersamaan dalam menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat,” tegas Agus Flores.

Melalui kegiatan ini, sinergi antara masyarakat dan Polri diharapkan semakin kuat dalam menjaga kondusivitas, persatuan, dan keharmonisan di Jawa Timur.

Kurang dari 24 Jam, Polsek Kalideres Berhasil Ungkap Kasus Penipuan Berkedok Buka Aura, Perhiasan Emas Senilai Rp33 Juta Digondol Pelaku

JAKARTA || Jejak-indonesia.id – Unit Reskrim Polsek Kalideres Jakarta Barat berhasil mengungkap kasus tindak pidana pencurian dan penipuan dengan modus membujuk korban melalui janji usaha sembako dan ritual “membuka aura”.

Dalam pengungkapan tersebut, polisi berhasil menangkap seorang pelaku berinisial AF (48) di kawasan Batuceper, Kota Tangerang.

Kapolsek Kalideres Polres Metro Jakarta Barat Kompol Rihold Sihotang didampingi Kanit Reskrim Polsek Kalideres Akp Rachmad Wibowo menjelaskan bahwa kasus ini bermula ketika korban, seorang korban berinisial TW (67), berkenalan dengan pelaku di kawasan Cengkareng pada Senin (8/6/2026).

Saat itu, pelaku menawarkan bantuan sembako dan mengantar korban pulang ke rumahnya di wilayah Tegal Alur, Kalideres.

Keesokan harinya, pelaku kembali mendatangi rumah korban dengan iming-iming pekerjaan usaha sembako yang dijanjikan memberikan gaji sebesar Rp3 juta per bulan serta komisi tambahan.

” Untuk meyakinkan korban, pelaku mengaku dapat melakukan ritual membuka aura sebagai syarat keberhasilan usaha tersebut,” ujar Rihold saat dikonfirmasi Kamis, 18/6/2026

Korban kemudian diminta melepaskan seluruh perhiasan emas yang dikenakannya, berupa kalung, cincin, dan gelang seberat sekitar 12 gram, lalu meletakkannya di dalam sebuah mangkuk.

Saat korban menjalani ritual yang diarahkan pelaku, seluruh perhiasan tersebut dibawa kabur. Selain itu, korban juga kehilangan sebuah jam tangan merek Swiss dengan total kerugian mencapai sekitar Rp33 juta.

Mendapat laporan dari korban, Tim Opsnal Reskrim Polsek Kalideres yang dipimpin Kanit Reskrim AKP Rachmad Wibowo, S.H., M.H., bersama Panit Reskrim IPTU A. Iman Fathurahman, S.E., S.H., M.H., segera melakukan penyelidikan.

Berbekal keterangan saksi dan rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, petugas berhasil mengidentifikasi pelaku dan melacak keberadaannya.

Dikesempatan yang sama Kanit Reskrim Polsek Kalideres Akp Rachmad Wibowo menjelaskan, Pelaku berhasil kami amankan kurang dari 24 jam

“Kurang dari 24 jam setelah laporan diterima, tim berhasil mengamankan pelaku di Jalan Batu Jaya, Batuceper, Kota Tangerang, pada Rabu (10/6/2026) sekitar pukul 14.30 WIB,” terangnya

Saat penangkapan, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya sepeda motor yang digunakan pelaku saat beraksi, telepon genggam, dompet, serta pakaian yang dikenakan saat melakukan kejahatan.

Dari hasil pemeriksaan, pelaku mengakui telah menjual seluruh perhiasan milik korban dengan nilai Rp8,7 juta.

Saat ini tersangka telah ditahan di Polsek Kalideres untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Guna mempertanggung jawabkan atas perbuatan pelaku dijerat dengan Pasal 476 JO 492 KUHP

( *Humas Polres Metro Jakarta Barat* )