Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Sejarah dan Budaya

IMG-20260623-WA0125

KOMUNITAS GESANG KASUNYATAN LESTARIKAN BUDAYA JAWA DI KAWASAN GUNUNG ARJUNO

PASURUAN || Jejak-indonesia.id – Nilai-nilai dan tradisi budaya Jawa terus dijaga kelestariannya di kawasan Gunung Arjuno. Tepatnya di dusun tambak watu desa tambak sari kecamatan Purwodadi kabupaten Pasuruan Salah satu upaya nyata dilakukan oleh Komunitas Gesang Kasunyatan di bawah pimpinan Bopo Makrus, melalui kegiatan selamatan di sumber mata air Sendang Dewi Kunti.

Kegiatan ini diadakan secara rutin sebagai wujud kepedulian menjaga warisan leluhur sekaligus merawat kelestarian alam di wilayah pegunungan tersebut. Dalam kesempatan itu, Bopo Makrus menekankan makna mendalam di balik tradisi yang dijalankan.

“Selamatan sumber mata air ini murni bertujuan melestarikan budaya nenek moyang. Selain itu, momen ini menjadi sarana mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, karena telah melimpahkan karunia berupa air yang senantiasa mengalir dan bermanfaat bagi kehidupan sekitar,” ujarnya.

Menurut Bopo Makrus, tradisi seperti ini penting terus dijalankan agar tidak hilang ditelan zaman. Di sisi lain, kegiatan ini juga mengingatkan masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kelestarian sumber daya alam, mengingat air adalah kebutuhan pokok yang sangat berharga.

Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh kekeluargaan, dihadiri anggota komunitas serta warga sekitar. Semangat menjaga budaya dan rasa syukur kepada Sang Pencipta menjadi inti dari seluruh rangkaian acara tersebut.

Diharapkan, upaya Komunitas Gesang Kasunyatan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut serta menjaga warisan budaya sekaligus merawat kelestarian lingkungan di kawasan Gunung Arjuno dan sekitarnya.(LIMBAD86)

IMG-20260604-WA0047

Pesona Seririt 2026 Bangkitkan Semangat Budaya Bali, Ribuan Warga Padati Festival “Abhinaya Kumala”

Pesona Seririt 2026 Bangkitkan Semangat Budaya Bali, Ribuan Warga Padati Festival “Abhinaya Kumala”

SERIRIT, BULELENG – Ribuan masyarakat memadati arena Pesona Seririt 2026 yang digelar pada Rabu (3/6/2026). Mengusung tema “Abhinaya Kumala: Ekspresi Keindahan”, festival budaya terbesar di Kecamatan Seririt ini menjadi panggung megah yang menampilkan kekayaan seni, tradisi, serta semangat kebersamaan masyarakat sebagai kekuatan utama pembangunan daerah.

Sejak dibuka, suasana festival berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Warga dari berbagai desa di Kecamatan Seririt hadir memadati lokasi kegiatan, menunjukkan tingginya kecintaan masyarakat terhadap seni dan budaya Bali yang tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.

Camat Putu Satriawan menegaskan bahwa Pesona Seririt bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga wujud nyata komitmen seluruh elemen masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah melalui pelestarian seni, budaya, dan pemberdayaan potensi lokal.

“Melalui Pesona Seririt 2026, kami berharap seni, budaya, dan seluruh potensi masyarakat dapat terus berkembang menjadi kekuatan yang mendorong kemajuan Seririt dan Kabupaten Buleleng,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai simbol budaya yang ditampilkan dalam prosesi pembukaan memiliki makna filosofis yang mendalam. Nyala api di sisi kanan dan kiri panggung, misalnya, melambangkan doa, harapan, serta semangat masyarakat Seririt untuk terus melangkah menuju masa depan yang lebih baik, penuh keselamatan, keberkahan, dan kesejahteraan.

Sementara itu, Bupati I Nyoman Sutjidra memberikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan festival yang sempat vakum selama tujuh tahun. Menurutnya, keberhasilan Pesona Seririt 2026 menjadi bukti kuatnya koordinasi, kepemimpinan, dan kolaborasi antara pemerintah kecamatan dengan seluruh komponen masyarakat.

“Pak Camat baru beberapa bulan bertugas, tetapi mampu mengoordinasikan kegiatan sebesar ini dengan sangat baik. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin wilayah harus mampu membangun sinergi dan menggerakkan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun daerah,” ungkapnya.

Tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari membludaknya pengunjung yang memenuhi area festival sepanjang kegiatan berlangsung. Kehadiran ribuan warga menjadi bukti bahwa kerinduan terhadap kegiatan budaya berskala besar masih sangat besar setelah tujuh tahun tidak terselenggara.

Keberhasilan festival ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari tokoh adat, tokoh masyarakat, aparat keamanan, pemerintah desa, hingga desa adat se-Kecamatan Seririt yang bersama-sama menyukseskan acara tersebut.

Bupati juga memberikan apresiasi kepada generasi muda yang tampil sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya daerah. Ratusan seniman muda dari kalangan pelajar, sanggar seni, desa, hingga desa adat tampil penuh semangat, menunjukkan bahwa regenerasi pelaku seni di Seririt berjalan dengan baik dan menjanjikan.

Lebih dari sekadar hiburan, Pesona Seririt 2026 menjadi wadah pembinaan kreativitas, pelestarian seni tradisi, sekaligus penguatan identitas budaya masyarakat di tengah perkembangan zaman.

Camat Seririt mengungkapkan masih banyak potensi seni dan budaya dari berbagai desa yang belum sempat ditampilkan pada tahun ini. Karena itu, penyelenggaraan festival pada tahun mendatang direncanakan akan lebih besar dengan melibatkan lebih banyak kelompok seni dan atraksi budaya agar seluruh potensi daerah dapat terakomodasi.

Menariknya, Pesona Seririt 2026 tercatat sebagai salah satu festival tingkat kecamatan dengan durasi penyelenggaraan terpanjang di Kabupaten Buleleng. Hal tersebut menjadi bukti besarnya semangat masyarakat dalam menghidupkan kembali panggung budaya yang telah lama dinantikan.

Dalam kesempatan tersebut, pihak sponsor dari SPBU Tangguwisia melalui Lanang Aryawan turut menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan festival yang dinilai mampu menampilkan kekayaan budaya Seririt secara elegan dan berkelas.

“Festival Pesona Seririt menjadi contoh bagaimana seni dan budaya dapat dikemas secara menarik tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi. Ornamen budaya, pertunjukan seni, serta semangat masyarakat yang ditampilkan layak menjadi inspirasi bagi pelestarian budaya Bali,” ujarnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimcam, para camat se-Kabupaten Buleleng, kepala desa se-Kecamatan Seririt, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta ribuan warga yang memadati lokasi acara.

Pesona Seririt 2026 bukan sekadar festival budaya, melainkan simbol kebangkitan tradisi, ruang ekspresi kreativitas, dan bukti nyata bahwa budaya akan tetap hidup ketika masyarakat bersatu menjaganya. Dengan semangat “Abhinaya Kumala”, Seririt kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat seni, budaya, dan kreativitas yang membanggakan di Kabupaten Buleleng.

Laporan: MS007

IMG-20260601-WA0033

Seblang Bakungan Banyuwangi, Ritual Sakral Kuno yang Pukau Banyak Wisatawan

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Masyarakat Osing di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah Banyuwangi, terus melestarikan ritual “Seblang”. Ritual magis berusia ratusan tahun itu menjadi salah satu daya tarik wisatawan yang mengunjungi Banyuwangi selama libur panjang Idul Adha ini.

Seblang Bakungan merupakan tarian sakral yang dibawakan oleh perempuan paruh baya dalam kondisi trance atau kehilangan kesadaran. Pada tahun ini, Seblang dibawakan oleh Isni yang telah berusia 54 tahun. Ini merupakan kali ketiga bagi dia menjadi Seblang.

Ritual kuno tersebut rutin digelar rutin di bulan Dzulhijah (bulan Haji), tepatnya satu pekan setelah hari raya Idul Adha.

Warga Osing Bakungan mengawali ritual Seblang dengan prosesi kenduri masal di sepanjang jalan Bakungan. Sebelumnya, warga terlebih dahulu sholat magrib dan sholat hajat di masjid setempat sembari memohon untuk keselamatan dan kesejahteraan desa.

Usai menunaikan solat, warga lanjut menggelar parade oncor (obor) yang dibawa berkeliling desa, yang biasa dikenal dikenal dengan ider bumi. Di sepanjang jalan itu, tumpeng dengan menu khas pecel pithik dinikmati bersama beralaskan tikar di bawah temaram cahaya obor.

Puncak ritual ditandai saat penari Seblang, memasuki kondisi trance. Isni terus menari sambil mata terpejam diiringi musik gending seperti Kodok Ngorek dan Seblang Lukinto. Saat menari, Isni diyakini telah dirasuki roh leluhur.

Tarian magis dan ritual yang mengiringinya menjadi tontonan yang memikat ribuan wisatawan yang hadir di malam itu. Termasuk wisatawan asal Hungaria, Gergo Zalatnai.

"Unik. Penarinya paruh baya, dan sedang kehilangan kesadaran. Sangat tidak lazim, tapi justru ini yang membuat menarik. Saya belum pernah melihat seperti ini di tempat lain," ujar Gergo Zalatnai.

Hal serupa juga diungkapkan Riski, pengunjung asal Jogjakarta yang mengaku terkesan dengan ritual ini. Riski yang sedang menghabiskan liburnya di Banyuwangi ini mengaku sengaja ingin menonton ritual Seblang Bakungan.

"Terkesan, terasa magisnya. Selain itu saya juga kagum dengan warga di sini yang gotong royong terus menggelar acara ini setiap tahunnya," ucapnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan apresiasi atas keguyuban warga dalam melestarikan tradisi leluhur yang diyakini telah ada sejak 1639 tersebut.

Ia berkomitmen terus mendukung pelestarian Seblang Bakungan sebagai salah satu identitas budaya daerah.

"Tradisi ini bukan sekadar upaya menjaga warisan leluhur, tapi juga memastikan budaya lokal tetap eksis di tengah modernisasi. Ini juga menjadi ajang memperkuat semangat gotong royong dan persaudaraan warga," urainya.

Di Banyuwangi, tradisi Seblang bisa dijumpai di dua tempat yang menjadi basis suku Osing, yakni Desa Olehsari dan Kelurahan Bakungan di Kecamatan Glagah.

Seblang Bakungan digelar setiap bulan Dzulhijah dan dibawakan oleh penari yang sudah paruh baya. Sementara Seblang Olehsari digelar setelah Idul Fitri dan dibawakan oleh penari yang masih belia. (*)

IMG-20260515-WA0045

Tradisi Cambuk Tiban Purwoharjo Kembali Digelar, Generasi Muda Diajak Lestarikan Budaya

BANYUWANGI,l || Jejak-indonesia.id – Dentuman suara cambuk yang saling beradu kembali menggema di kawasan Pasar Wit-Witan, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Tradisi sakral sekaligus atraksi budaya khas masyarakat Osing, Kesenian Tiban, kembali digelar melalui event bertajuk “Tiban Sodo Purwo” yang berlangsung selama sepekan, mulai 10 hingga 17 Mei 2026.

Ribuan warga memadati arena sejak hari pertama pelaksanaan, untuk menyaksikan para peserta saling adu ketangkasan menggunakan cambuk berbahan lidi pohon aren yang dipilin. Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan fisik, tetapi menjadi simbol kuat pelestarian budaya leluhur yang diwariskan turun-temurun di Bumi Blambangan.

Kesenian Tiban sendiri dikenal sebagai ritual tradisional masyarakat agraris, yang dahulu dipercaya sebagai bagian dari upaya memohon turunnya hujan saat musim kemarau. Dalam pertunjukannya, dua peserta bertelanjang dada saling berhadapan dan bergantian melayangkan cambukan ke tubuh lawan dengan aturan tertentu.

Meski terlihat keras dan ekstrem, tradisi ini sarat nilai sportivitas, keberanian, solidaritas, serta penghormatan terhadap budaya lokal. Bekas cambukan yang membekas di tubuh para pemain dianggap sebagai simbol ketangguhan dan pengorbanan, demi menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Koordinator kegiatan, Suharsoyo, mengatakan gelaran Tiban Sodo Purwo sengaja digelar untuk memperkuat eksistensi budaya lokal agar tidak tergerus perkembangan zaman dan dominasi budaya luar.

“Kegiatan ini kami gelar dalam rangka melestarikan kesenian tradisional nenek moyang agar tetap eksis, dikenal luas, dan tidak hilang ditelan zaman,” ujar Suharsoyo, Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi Tiban di masa depan. Ia berharap anak muda Banyuwangi tidak hanya mengenal budaya modern, tetapi juga memiliki kebanggaan terhadap identitas budaya daerahnya sendiri.

“Harapan kami generasi muda jangan sampai melupakan budaya leluhur. Kesenian Tiban harus terus dijaga dan diwariskan, meskipun kita hidup di era digital dan modern,” tegasnya.

Untuk menjaga keselamatan peserta, panitia menerapkan aturan ketat selama pertandingan berlangsung. Cambukan dilarang diarahkan ke area wajah maupun organ vital. Seluruh peserta juga diwajibkan menggunakan perlengkapan pelindung, termasuk helm pengaman saat memasuki arena.

Salah satu peserta, Moch Bagus Tirta Samudra (22), warga Curahjati, Desa Grajagan, mengaku bangga dapat terlibat langsung dalam tradisi tersebut. Meski baru pertama kali mengikuti Tiban, ia merasakan pengalaman berbeda yang penuh makna budaya.

“Saya baru pertama kali ikut Tiban. Menurut saya ini sangat bagus sebagai ajang nguri-uri budaya lokal supaya tidak punah dimakan zaman,” kata Bagus.

Kemeriahan Tiban Sodo Purwo tahun ini, juga menjadi magnet wisata budaya di wilayah selatan Banyuwangi. Tidak hanya warga lokal, sejumlah pengunjung dari luar daerah turut hadir untuk menyaksikan tradisi unik yang jarang ditemui di daerah lain.

Menariknya, antusiasme tidak hanya datang dari kalangan dewasa. Anak-anak dan remaja juga tampak memenuhi area pertunjukan dengan pengawasan ketat dari panitia dan keluarga. Hal itu menjadi sinyal positif bahwa regenerasi pelestari budaya lokal mulai tumbuh di tengah masyarakat.

Melalui gelaran Tiban Sodo Purwo, masyarakat Purwoharjo menunjukkan bahwa tradisi leluhur bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas budaya yang harus terus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

IMG-20260508-WA0081

Jejak Darah Bangsawan Besuki: Kisah Raden Kusnandar Kabur dari AKABRI, Ayahnya Wafat karena Memikirkan Sang Anak, hingga Konflik Warisan Tak Berujung

Jejak-indonesia.id – Di balik megahnya sejarah tanah Residenan Besuki, tersimpan kisah panjang keluarga ningrat yang penuh perjuangan, konflik batin, hingga perebutan harta warisan yang membekas lintas generasi. Kisah itu berasal dari garis keturunan Raden Kusnandar Sunyoto Hadinoto, ayah dari Raden Mas MH Agus Rugiarto Astrodiarjo SH MH yang dikenal sebagai Agus Flores.

Kompleks Residenan Besuki, Jawa Timur, menjadi saksi kehidupan masa kecil keluarga besar ningrat tersebut. Dari wilayah inilah lahir sejarah panjang hubungan antara kalangan priyayi ningrat dan para kiai yang sejak dahulu disebut memiliki sekat sosial dan pengaruh tersendiri di tengah masyarakat.

Konon, pembagian wilayah bahkan pernah terjadi akibat konflik dan perbedaan pengaruh. Wilayah utara dikenal sebagai kawasan para kiai, sementara bagian selatan menjadi pusat kaum priyayi ningrat. Hingga kini, kisah tentang rivalitas lama itu masih menjadi cerita turun-temurun di kalangan keluarga besar Besuki.

Dalam silsilah keluarga tersebut, terdapat sosok legendaris bernama Mbah Sumo, kakek dari Raden Kusnandar yang disebut sebagai keturunan Cakraningrat dan dikenal dekat dengan tokoh-tokoh besar pada zamannya, termasuk era Presiden pertama RI, Soekarno.

Mbah Sumo dikenal sebagai tokoh sakti dan ahli tirakat. Tubuhnya tinggi besar dan disegani masyarakat. Bersama istrinya, Nyai Masturah, ia disebut sebagai figur pejuang rakyat yang berani melawan kekuasaan kolonial Belanda. Sosoknya bahkan dijuluki masyarakat sebagai “Si Pitung dari Besuki” karena keberaniannya membela rakyat kecil.

Sejarah keluarga itu kemudian berlanjut ketika salah satu putri Mbah Sumo, Roro Amna, menikah dengan Raden Kusman Astrodiarjo, seorang ningrat dari Mojokerto. Pernikahan dua keluarga besar itu melahirkan dua anak, yakni Raden Kusnandar dan seorang putri yang disebut mengalami gangguan kejiwaan akibat konflik keluarga dan persoalan warisan.

Pada tahun 1968, Raden Kusnandar dikisahkan dipaksa masuk AKABRI demi menjaga nama besar keluarga. Penolakan dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap kehormatan keluarga besar ningrat saat itu.

Namun jalan hidup berkata lain. Baru sekitar enam bulan menjalani pendidikan, Raden Kusnandar memilih meninggalkan barak AKABRI. Ia pergi tanpa pamit dan mengikuti saudara sepupunya yang bekerja sebagai arsitek di Kementerian PU untuk menangani proyek pembangunan di Sulawesi Tengah, termasuk proyek pembangunan rumah gubernur pertama di wilayah tersebut.

Di lingkungan AKABRI angkatan 1968, nama Kusnandar disebut cukup dikenal. Ia bahkan disebut satu angkatan dengan mantan Kapolri ke-13, Dibyo Widodo. Di kalangan tertentu, ia dikenang sebagai “anak ningrat Residenan Besuki”.

Kepergian Kusnandar tanpa kabar bertahun-tahun disebut membawa luka mendalam bagi sang ayah, Raden Kusman Astrodiarjo. Kesedihan dan rasa cemas memikirkan keberadaan anaknya diyakini menjadi salah satu penyebab menurunnya kondisi kesehatan sang ayah hingga akhirnya wafat.

Situasi keluarga semakin rumit ketika persoalan harta warisan mulai diperebutkan. Karena Raden Kusnandar tak kunjung kembali dan tidak diketahui keberadaannya, sebagian aset keluarga disebut dikuasai pihak lain. Konflik panjang itu bahkan dikisahkan menyebabkan tekanan mental berat bagi anggota keluarga lainnya.

Hingga kini, cerita tentang batas tak kasat mata antara keluarga kiai dan priyayi di kawasan Besuki masih sering terdengar. Bahkan, hubungan sosial antar keluarga disebut masih menyimpan sensitivitas sejarah yang belum sepenuhnya hilang.

Bagi Agus Flores, kisah keluarganya menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga. Menurutnya, kehidupan terbaik adalah mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada harta warisan yang justru kerap memicu konflik berkepanjangan dalam keluarga besar.

“Kadang kalau bicara sejarah keluarga dan persoalan warisan, rasanya seperti membuka luka lama yang tidak pernah selesai,” ungkapnya.

Kisah keluarga besar Residenan Besuki ini bukan sekadar cerita tentang darah bangsawan, tetapi juga potret tentang harga diri, perjuangan hidup, pengorbanan keluarga, dan dampak panjang dari konflik warisan yang terus membayang hingga lintas generasi.

error: Content is protected !!