Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Redaksi

Gelar Festival Perkusi Perdana, Banyuwangi Harmonikan Kekhasan Musik Pukul Tradisional dengan Sentuhan Moderen

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Kabupaten Banyuwangi kembali menambah deretan event kreatifnya lewat Festival Musik Perkusi. Untuk pertama kalinya, festival ini digelar sebagai ajang pelestarian sekaligus inovasi kreativitas terhadap musik tradisional khas Bumi Blambangan yang dikenal dengan ritme cepat dan hentakan energik.

Musik perkusi Banyuwangi memiliki kekhasan tersendiri. Setiap pukulan menghadirkan semangat khas masyarakat pesisir yang dinamis. Ritmenya cepat, berpadu dengan hentakan alat musik tradisional seperti kendang, jimbe, rebana, dan gong kecil yang menghasilkan komposisi unik nan memikat.

Sebanyak empat grup perkusi tampil memeriahkan acara. Tiga di antaranya berasal dari Banyuwangi, yaitu Damar Art, Munsing (Musik Nada Using), dan JEB (Jiwa Etnik Banyuwangi). Ketiga grup lokal itu dimotori seniman muda jebolan kampus seni yang memadukan musik etnik Banyuwangi dengan unsur musik modern tanpa kehilangan identitas tradisi.

Irama perkusi yang selama ini identik dengan kesenian tradisi daerah seperti gandrung dan hadrah, disajikan dalam format baru yang lebih segar dan kekinian tanpa meninggalkan akar budayanya.

Seperti Damar Art, mereka tampil bersama penyanyi kondang asal Banyuwangi Vita Alvia. Membawakan salah satu karya berjudul “Bunga Bangsa” yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Banyuwangi yang dijuluki miniatur Nusantara.

Festival ini juga menghadirkan tamu spesial, Ethno Ensemble dari Solo, beranggotakan mahasiswa dan alumni ISI Surakarta jurusan etnomusikologi yang berkolaborasi dengan mahasiswa ISI Banyuwangi.

“Lewat festival ini, kami ingin membuka ruang kolaborasi agar musisi muda Banyuwangi dapat berinteraksi dengan seniman dari luar daerah dan memperluas pengalaman mereka,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Bupati Ipuk menyatakan Banyuwangi selalu berupaya menjaga tradisi, namun dengan kemasan yang relevan bagi generasi muda.

“Lewat festival perkusi ini Banyuwangi menegaskan diri sebagai daerah yang tidak hanya kaya budaya, namun juga kreatif dalam mengolahnya menjadi daya tarik wisata dan kebanggaan daerah,” kata Ipuk.

Kelompok musik perkusi Ethno Ensemble dari Solo mengaku, tampil dalam ajang Banyuwangi Percussion Festival menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi mereka.

Mereka menampilkan komposisi musik perkusi yang memadukan pola ritme janger khas Banyuwangi dengan sentuhan musik modern seperti rock dan genre kontemporer.

Koordinator Ethno Ensemble Solo, Bondan, menilai Banyuwangi sangat pantas memiliki festival perkusi, karena daerah ini memiliki tradisi musik ritmis yang kuat, seperti kuntulan dan gamelan Banyuwangi, yang telah menginspirasi banyak musisi, termasuk dirinya dan rekan-rekannya di Solo.

“Kami sangat bangga sekali tampil di Banyuwangi. Bicara tentang perkusi, yang paling menyita perhatian dunia dan Indonesia adalah Banyuwangi. 24 tahun kami berdiri, yang pertama kami pelajari adalah Kuntulan. Dan sampai sekarang belum bisa,” kata Bondan.

Festival ini tak hanya menarik masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara. Salah satunya Paul, turis asal Jerman yang datang bersama dua rekan senegaranya. Mereka sebelumnya telah mendaki Gunung Ijen dan menikmati pesona blue fire disana.

“Malam ini saya menyaksikan atraksi seni di Banyuwangi. Musiknya sangat menarik, budaya yang luar biasa. Kami sangat menikmatinya. Saya akan merekomendasikan teman-teman saya untuk datang ke Banyuwangi,” tutur Paul. (*)

Telah 13 Tahun Digelar, Pagelaran Kolosal Gandrung Sewu Banyuwangi Kian Memukau

BANYUWANGI || jejakindonesia.id - Memasuki tahun ke-13, pagelaran kolosal Gandrung Sewu kian memukau. Menghadirkan 1.400 penari dengan tema “Selendang Sang Gandrung”, penampilan ribuan penari dengan koreografi gerakan yang anggun dan harmonis memukau ribuan penonton yang memadati Pantai Marina Boom, Sabtu (25/10/2025).

Diselingi aksi teatrikal yang mengisahkan perjuangan menjadi seorang Gandrung yang dibawakan penari menambah sakral dan magis pertunjukkan.

"Ini pertunjukkan yang sangat luar biasa, penarinya sangat banyak. Mereka menari dengan kompak dan sangat indah," ujar Tara wisatawan asal Inggris, Tara, yang terkesan penampilan Gandrung Sewu.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Gandrung Sewu bukan sekadar festival, namun sebuah pesan tentang keindahan yang lahir dari kolaborasi dan kebersamaan.

"Tahun ini, Festival Gandrung Sewu mengusung tema “Selendang Sang Gandrung”. Selendang bukan
sekadar kain. Dalam setiap ayunan selendang, tersimpan filosofi hidup adalah tarian kolaborasi, yang saling menggerakkan, hingga tercipta harmoni yang indah hingga menciptakan berbagai peluang untuk kemajuan," kata Ipuk.

Gandrung Sewu kali ini diikuti oleh 1400 penari yang terdiri 1.100 penari berasal dari Banyuwangi termasuk para Kepala Desa yang ikut tampil sebagai Paju Gandrung, ditambah 200 para penari diaspora dari Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Probolinggo, Situbondo, Malang, Jakarta, Sumsel, Sulawesi Selatan hingga Papua dan Amerika.

Gandrung dari berbagai usia, mulai 4 tahun hingga mahasiswa membawakan koreografi yang apik. Mengenakan pakaian dan selendang merah, mereka menampilkan berbagai formasi. Mulai dari bunga, GS 2025, hingga formasi apik lainnya.

TAmpak pula gandrung cilik usia 4 tahun menari dengan ceria memadukan gerakan tari Gandrung dengan gerakan velocity yang lagi nge-trend. Membuat para penonton sontak memanggil mereka "Gandrung Velocity".

"Ini bukti semangat sinergi dan kolaborasi untuk menjaga warisan budaya dengan cara kontemporer. Kami sampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua yang berpartisipasi," ujar Ipuk.

Suasana haru dan bahagia menyeruak saat para penari menyelesaikan pertunjukan Gandrung Sewu. Kerja keras menjalani latihan selama tiga bulan terbayar dengan meriahnya sambutan ribuan penonton.

"Alhamdulillah pertunjukannya selesai. Kami terharu dan bahagia karena kerja keras dan kebersamaan selama menjalani bersama teman teman mendapatkan sambutan yang meriah," kata Diaz, salah satu penari yang merupakan mahasiswi semester pertama Kampus ISI Banyuwangi.

Gandrung Sewu kali ini dihadiri Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Rini Widianti, Asdep Pemasaran Pariwisata Nusantara Erwita Dianti, Pimpinan Pemeriksa Keuangan VII BPK RI Slamet Edy Purnomo, Kepala BKSDN Yusharto Hontoyungo, Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid. Juga dihadiri perwakilan Kementrian dan lembaga di antaranya LKPP RI, Kemendes RI, Kemen PU, Kementan, Kemendikbuddasmen, Kemenkop, Kemendagri dan lainnya. (*)

Mahfud MD Apresiasi Pengungkapan 38 Ribu Kasus Narkoba oleh Polri di 2025

JAKARTA || jejakindonesia.id - Eks Menko Polhukam Mahfud MD mengapresiasi langkah pengungkapan total 38.943 kasus peredaran narkoba yang dilakukan Polri di sepanjang Januari hingga Oktober 2025.

Mahfud menilai dengan total barang bukti mencapai 197,71 ton narkoba yang disita, capaian tersebut memang patut dibanggakan. Hal ini, kata dia, juga sesuai dengan intruksi Presiden Prabowo Subianto terkait pemberantasan narkotika yang tertuang dalam Asta Cita.

"Prinsipnya setiap keberhasilan tugas dalam perang melawan narkoba harus dispresiasi," ujar Mahfud dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (25/10).

Dalam kesempatan yang sama, Mahfud juga mengingatkan agar Polri dapat terus menjaga kedisiplinan dan keseriusan dalam penenanganan kasus-kasus narkotika.

Ia juga meminta agar pengawasan diinternal kepolisian dapat terus diperkuat sehingga tidak ada lagi kasus peredaran narkotika yang justru melibatkan anggota.

"Terus perkuat keseriusan dan kedisiplinan Polri dalam menangani kasus narkoba ini. Harus juga dijaga pengendalian di dalam tubuh Polri," tuturnya.

Mahfud juga berharap pengungkapan kasus narkotika dapat terus dilakukan dan tidak ada kebocoran operasi yang disebabkan oleh ulah oknum anggota.

"Yang terpenting harus juga dijaga jangan sampai terjadi kebocoran, misalnya kasus yang gagal diungkap atau hilangnya barang bukti karena kolusi yang melibatkan aparat," pungkasnya.

Sebelumnya, sepanjang Januari hingga Oktober 2025, Polri berhasil menyita 197,71 ton barang haram berbagai jenis dan menangkap lebih dari 51 ribu pelaku di seluruh Indonesia.

Kabareskrim Polri Komjen Syahardiantono menyebut hasil ini sebagai bentuk nyata komitmen Polri menjalankan amanat Asta Cita ke-7 Presiden Prabowo-Gibran, yaitu memberantas narkoba hingga ke akar.

"Pemberantasan dan pencegahan narkoba harus dilakukan terus-menerus. Pak Kapolri sudah menegaskan, perang melawan narkoba dari hulu ke hilir tidak boleh berhenti," kata Syahar dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Rabu (22/10).

Polri Sita 197 Ton Narkoba Sepanjang 2025, Granat: Selamatkan 200 Juta Anak Bangsa

JAKARTA || jejakindonesia.id - DPP Gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat) mengapresiasi pengungkapan 38 ribu kasus dan penyitaan terhadap 197 ton narkoba yang dilakukan Polri sepanjang Januari-Oktober 2025.

Ketua Umum Granat, Henry Yosodiningrat mengatakan, pengungkapan ribuan kasus dengan tersangka lebih dari 51 ribu tersebut bukan sebagai temuan yang secara kebetulan.

"Tapi dari hasil analisa dan penyelidikan serta pengintaian dalam waktu yang lama dengan tingkat kesulitan yang tinggi, karena sindikat narkoba menggunakan modus operandi yang berubah-ubah serta dengan militansi yang tinggi," kata Henry kepada wartawan, Sabtu 25 Oktober 2025.

Henry menuturkan, dengan disitanya narkoba dengan jumlah hampir 200 ton tersebut, artinya telah memutus peredaran gelapnya sehingga tidak sampai ke tangan pengguna, baik pemula maupun pecandu.

"Hal itu berarti telah menyelamatkan hampir 200 juta anak bangsa," ujarnya.

Ia pun berharap, dalam pengungkapan kasus ini tidak hanya menangkap pelaku dan menyita barang bukti, tapi membongkar serta melumpuhkan sindikat hingga ke akarnya.

Lebih lanjut, ia pun meminta pelaku yang masih dalam kategori anak diperlakukan sebagai korban dan tidak dihukum, namun dilakukan rehabilitasi.

"Pengguna meskipun menurut undang-undang adalah pelaku kejahatan narkoba, tapi saya berpendapat bahwa pengguna anak adalah korban yang tidak layak untuk dihukum, melainkan mereka harus direhab, karena generasi muda adalah masa depan bangsa," katanya.

Sebelumnya, sepanjang Januari hingga Oktober 2025, Polri berhasil menyita 197,71 ton barang haram berbagai jenis dan menangkap lebih dari 51 ribu pelaku di seluruh Indonesia.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri, Komisaris Jenderal Polisi Syahardiantono, menyebut hasil ini sebagai bentuk nyata komitmen Polri menjalankan amanat Asta Cita ke-7 Presiden Prabowo–Gibran, yaitu memberantas narkoba hingga ke akar.

“Pemberantasan dan pencegahan narkoba harus dilakukan terus-menerus. Pak Kapolri sudah menegaskan, perang melawan narkoba dari hulu ke hilir tidak boleh berhenti,” kata Syahar dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 22 Oktober 2025.

Sinergi Polresta Malang Kota Bersama Ojol Komitmen Jaga Kamtibmas

MALANG || jejakindonesia.id — Semangat persatuan dan sinergi antara Polresta Malang Kota Polda Jatim dan masyarakat kembali menggaungkan deklarasi Kamtibmas bersama ratusan pengemudi Ojek Online (Ojol) yang dilaksanakan di Halaman Apel Depan Mapolresta Malang Kota, Jumat, (24/10/2025).

Deklarasi disampaikan perwakilan pengemudi ojek online saat Apel Kebangsaan yang dipimpin Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Nanang Haryono SH, SIK, MSi yang diikuti sekitar 200 driver Ojol dari berbagai Komunitas.

Apel Kebangsaan dan Deklarasi sebagai simbol komitmen bersama dalam menjaga kondusivitas wilayah dan stabilitas keamanan di Kota Malang.

“Apel Kebangsaan untuk memperkuat kebersamaan, Silaturahmi sinergi ini menunjukkan bahwa masyarakat dan Polri solid menjaga situasi yang kondusif agar pembangunan nasional berjalan dengan baik,” ujarnya.

Apel Kebangsaan bersama pengemudi ojek online ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa sehari sebelumnya yang melibatkan kalangan buruh dan pekerja.

Selain pembacaan Deklarasi Jogo Malang, para pengemudi ojek online Kota Malang mendapat pelayanan Bakti Kesehatan Gratis, pemberian helm keselamatan dan paket bantuan sosial dari Polresta Malang Kota sebagai wujud kepedulian terhadap para pengemudi ojek online.

Pengemudi ojek online serempak sampaikan Enam poin penting Deklarasi kamtibmas, di antaranya: menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, menolak aksi anarkis, mendukung Polri menjaga kamtibmas, serta mendukung kebijakan pemerintah sepanjang berpihak pada kesejahteraan pekerja.

Kombes Nanang, berkomitmen Polresta Malang Kota Polda Jatim terus membangun sistem perlindungan publik yang responsif, sekaligus memperkuat kemitraan antara Polri dan komunitas transportasi serta elemen masyarakat lainya.

Masih ditempat yang sama, Ketua Persaudaraan Driver Online Indonesia (PDOI) sekaligus Presidium Frontal Jatim, M Puji Waluyo menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan Polresta Malang Kota terhadap para pengemudi ojek online.

Puji juga menambahkan bahwa para pengemudi ojek online siap dukung Polri menjaga stabilitas keamanan nasional serta menolak keras segala bentuk aksi anarkis atau provokatif yang bisa mengganggu ketertiban umum.

“Kita semua memiliki tanggung jawab menjaga NKRI, pengemudi ojek online dan buruh adalah pejuang ekonomi, mereka juga penjaga stabilitas bangsa, Indonesia membutuhkan kamtibmas yang stabil agar ekonomi tumbuh, rakyat sejahtera, dan pembangunan," pungkasnya.

error: Content is protected !!