Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Redaksi

BSKDN Kemendagri dan LAN Sinergi Perkuat Kebijakan Daerah Berbasis Bukti

JAKARTA || jejakindonesia.id – Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN) berkolaborasi memperkuat penerapan kebijakan daerah berbasis bukti dan inovasi untuk meningkatkan kualitas tata kelola kebijakan publik di seluruh Indonesia. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengukuran Indeks Kualitas Kebijakan (IKK) 2025 yang diintegrasikan dengan Indeks Inovasi Daerah (IID).

Inisiatif ini menandai babak baru reformasi birokrasi yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berbasis bukti (evidence-based policy), sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 serta visi Indonesia Emas 2045.

Dalam sambutannya, Kepala BSKDN Yusharto Huntoyungo menilai peningkatan kualitas kebijakan dan inovasi daerah merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. “Inovasi tidak akan berumur panjang tanpa kebijakan yang berkualitas, dan kebijakan akan kehilangan relevansinya tanpa inovasi yang hidup. Karena itu, sinergi antara IKK dan IID menjadi kunci reformasi kebijakan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Yusharto menegaskan pemerintah daerah (Pemda) harus berani meninggalkan pendekatan kebijakan intuitif dan beralih ke kebijakan berbasis bukti. “Kita harus memastikan setiap kebijakan lahir dari diagnosis yang tepat, bukan dari tekanan politik atau rutinitas administratif. Setiap keputusan publik harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan etis,” tegasnya.

Data BSKDN menunjukkan jumlah inovasi daerah meningkat tajam dari 3.718 inovasi pada 2018 menjadi 36.742 inovasi pada 2025, dengan partisipasi 531 Pemda. Namun, masih terdapat 15 kabupaten yang belum menyampaikan laporan inovasi sejak 2023, seperti Puncak Jaya, Tambrauw, dan Maybrat.

Adapun daerah dengan capaian tertinggi Indeks Inovasi Daerah 2024 antara lain Kabupaten Banyuwangi (98,86), Kota Surabaya (94,17), dan Kabupaten Situbondo (94,13). Sementara itu, Kabupaten Pandeglang (4,30) berada di posisi terendah.

Dari sisi kualitas kebijakan, 546 Pemda telah terdaftar dalam sistem IKK dan 333 di antaranya telah menyelesaikan proses self-assessment. Target nasional dalam RPJMN 2025–2029 adalah 85 persen instansi pemerintah memperoleh nilai minimal “Baik” pada tahun 2029, naik signifikan dari 30 persen pada 2025.

Sejalan dengan itu, Kepala Pusat Strategi Kebijakan SDM dan Inovasi Pemerintahan Dalam Negeri BSKDN David Yama menekankan pentingnya perubahan pola pikir birokrasi. “Rekan-rekan di daerah jangan menjadi gambler dalam membuat kebijakan. Semua keputusan publik harus berdasarkan riset dan bukti. Ini adalah fondasi pemerintahan yang efektif,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Kebijakan Administrasi Negara LAN Agus Sudrajat menegaskan pengukuran IKK bukan sekadar formalitas administratif, melainkan instrumen strategis untuk mengukur kemampuan lembaga pemerintah dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

“Kita ingin mengubah cara berpikir para perancang kebijakan, dari sekadar menulis naskah menjadi merancang perubahan. Kebijakan yang baik harus berbasis data, diuji secara ilmiah, dan memberi manfaat konkret bagi publik,” tegas Agus.

Agus mengatakan LAN berkomitmen memperkuat kapasitas aparatur negara, peneliti, dan analis kebijakan agar memiliki kemampuan analitis yang kuat dan berorientasi pada hasil. “Kita ingin setiap instansi pemerintah memiliki ekosistem kebijakan yang sehat, di mana perencana, peneliti, dan analis bekerja dalam satu siklus pembelajaran yang terus berkembang,” tambahnya.

Agus menilai IKK bukan alat menghukum, melainkan instrumen pembelajaran dan akuntabilitas publik. Hasil pengukuran akan menjadi cermin untuk menilai posisi kebijakan saat ini dan kompas untuk menuntun arah perbaikan yang lebih sistematis.

Agus menutup paparannya dengan penegasan bahwa peningkatan kualitas kebijakan publik merupakan fondasi pencapaian Asta Cita dan visi Indonesia Emas 2045. “Reformasi birokrasi tidak boleh berhenti di tataran prosedur. Ia harus melahirkan kebijakan yang mendorong kesejahteraan, memperkuat keadilan sosial, dan memastikan pemerintahan bekerja efektif untuk rakyat,” pungkasnya.

Puspen Kemendagri

Perkuat Ekosistem Pembangunan Metropolitan, Kepala BSKDN Ajak Daerah Lakukan Replikasi Inovasi

JAKARTA || jejakindonesia.id – Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya penguatan inovasi dan kerja sama antarwilayah metropolitan dalam mempercepat pembangunan daerah. Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Diseminasi Draf Kajian dan Fasilitasi Kerja Sama dalam Rangka Replikasi Inovasi Daerah di Best Western Mangga Dua Hotel, Jakarta, Kamis (23/10/2025).

Dalam sambutannya, Yusharto menjelaskan bahwa meningkatnya urbanisasi di Indonesia membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi pemerintah. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat urbanisasi nasional diperkirakan mencapai 60 persen pada 2025 dan terus naik hingga 72,9 persen pada 2045. Bahkan, beberapa provinsi seperti Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, Bali, dan Kalimantan Timur tingkat urbanisasinya diperkirakan mencapai di atas 80 persen.

“Kondisi ini tentu membawa tantangan besar bagi pemerintah dalam pemerataan penduduk, penyediaan infrastruktur dasar, serta pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan di seluruh wilayah,” ujar Yusharto.

Yusharto mencatat beberapa persoalan akibat tingginya urbanisasi seperti sampah dan kemacetan. Beberapa daerah seperti Kota Surabaya berupaya menangani kemacetan dengan menambah koridor Trans Jawa Timur. “Ini barangkali menjadi salah satu jenis inovasi yang bisa ditawarkan kepada daerah-daerah lain,” ujarnya.

Ia mengutip laporan Bank Dunia berjudul Time to ACT: Realizing Indonesia’s Urban Potential yang menyoroti bahwa urbanisasi di Indonesia memang meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan, namun belum dimanfaatkan secara optimal dibandingkan negara lain di Asia Timur dan Pasifik. Karena itu, Yusharto menekankan perlunya langkah strategis untuk memperkuat kapasitas daerah dan memastikan pembangunan kota yang inklusif serta berkelanjutan.

“Diperlukan langkah cepat dan strategis untuk memperkuat kapasitas institusi daerah, memperbaiki mekanisme pembiayaan, meningkatkan koordinasi antarlembaga, serta memastikan pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.

Sejalan dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2022 tentang Perkotaan, pemerintah kini mendorong pengembangan kota cerdas berbasis teknologi dan inovasi. Upaya ini juga mendukung target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yaitu meningkatkan kontribusi wilayah metropolitan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dari 44,13 persen pada 2022 menjadi 45,60 persen pada 2029.

Selain itu, melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 24 Tahun 2024 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Penyelenggaraan Pengelolaan Perkotaan (RP2P), pemerintah menegaskan pentingnya perencanaan perkotaan yang terintegrasi dan berkelanjutan. “Perencanaan ini mencakup penguatan kelembagaan, penyediaan layanan dasar yang berkualitas, pemanfaatan teknologi digital, hingga penerapan skema pembiayaan inovatif,” jelas Yusharto.

Lebih lanjut, ia menyinggung Permendagri Nomor 104 Tahun 2018 sebagai dasar penilaian dan pemberian penghargaan inovasi daerah. Menurutnya, inovasi bukan hanya soal teknologi, melainkan juga cara baru dalam melayani masyarakat dan memecahkan persoalan publik. Berdasarkan Laporan Indeks Inovasi Daerah 2024, tercatat 31.719 inovasi daerah, meningkat 11 persen dibanding tahun sebelumnya.

Ia berharap kegiatan diseminasi ini dapat memperkuat sinergi antardaerah dan membangun ekosistem inovasi nasional yang tangguh. “Sehingga penerapan Pilot Project di wilayah metropolitan dapat terlaksana dengan baik, tepat sasaran, serta memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kinerja pemerintah daerah dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah pembicara dari beberapa daerah. Salah satunya Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya Nina Anggraeni. Ia menjelaskan berbagai inovasi yang telah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, salah satunya aplikasi Sibasam (Sistem Informasi Bank Sampah). Sebagai kota metropolitan, sampah menjadi salah satu persoalan serius di Surabaya. Karena itu, Pemkot Surabaya berupaya menangani sampah melalui aplikasi Sibasam.

“Di mana partisipasi aktif dari bank sampah atau masyarakat ini menjadi hulu untuk penanganan sampah yang ada di masyarakat,” pungkasnya.

Puspen Kemendagri

Polri dan Kesbangpol Jabar Perkuat Sinergi Cegah Intoleransi Lewat Pendekatan Terpadu

BANDUNG || jejakindonesia.id — Peserta Didik Sekolah Staf dan Pimpinan Pertama (Sespimma) Sespim Lemdiklat Polri Angkatan ke-74 Tahun 2025 melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP) di Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Barat, Senin (20/10/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh Kasespimma Sespim Lemdiklat Polri Brigjen Pol Sonny Irawan, S.I.K., M.H., dan Kepala Badan Kesbangpol Jawa Barat Wahyu Mijaya, S.H., M.Si.

Dalam kegiatan tersebut, Polri mengusung tema “Sinergitas Polri dan Bakesbangpol dalam Deteksi Dini, Pembinaan Kebangsaan, dan Pencegahan Intoleransi Melalui Pendekatan Terpadu”. Program ini bertujuan memperkuat kolaborasi lintas lembaga dalam menciptakan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif dan berkelanjutan di Jawa Barat.

Brigjen Pol Sonny Irawan, SIK, MH menekankan pentingnya peran sinergi Polri dan Kesbangpol dalam mengantisipasi potensi konflik sosial. “Deteksi dini dan pembinaan kebangsaan menjadi kunci agar potensi intoleransi tidak berkembang menjadi gangguan keamanan. Pencegahan harus dimulai dari kesadaran bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Jawa Barat Wahyu Mijaya menyampaikan apresiasinya kepada peserta didik Sespimma Angkatan 74 atas inisiatif memperkuat kerja sama strategis di bidang pencegahan intoleransi. “Langkah kolaboratif ini membawa dampak positif bagi Jawa Barat, terutama dalam memperkuat semangat kebangsaan dan toleransi di masyarakat,” tutur Wahyu.

Selain Brigjen Pol Sonny Irawan, kegiatan KKP juga dihadiri sejumlah pejabat Sespimma Sespim Lemdiklat Polri, antara lain Kakorsis Kombes Pol Suprayitno, S.H., S.I.K., Kombes Pol Taufik Hidayat, S.H., S.I.K., M.Si. selaku pengawas KKP, AKBP Drs. Sabri Manulang, M.Pd., dan Kompol Sunu Prihandoyo, S.T.. Turut hadir pula para kepala bidang di lingkungan Bakesbangpol Jawa Barat.

Melalui KKP ini, diharapkan sinergi antara Polri dan Kesbangpol dapat menjadi model kerja sama efektif dalam mencegah tumbuhnya sikap intoleransi dan memperkuat persatuan di tengah masyarakat Jawa Barat.

Polda Kepri Gelar Sidang Kelulusan Seleksi PAG Dan SBP T.A. 2025: Wujudkan SDM Polri Unggul Dan Berintegritas

BATAM || jejakindonesia.id – Polda Kepri melaksanakan kegiatan Sidang Kelulusan Seleksi Tingkat Panda Sekolah Ahli Golongan (PAG) dan Sekolah Bintara (SBP) Tahun Anggaran 2025 bertempat di Gedung Lancang Kuning Polda Kepri, Jumat (24/10/2025).

Hadir dalam kegiatan ini, Wakapolda Kepri Brigjen Pol Dr. Anom Wibowo, S.I.K., M.Si., Irwasda Polda Kepri Kombes. Pol. Tato Pamungkas Suyono, S.I.K., M.Si., Karo SDM Polda Kepri Kombes. Pol. Taovik Ibnu Subarkah, S.I.K., Kabidpropam Polda Kepri Kombes Pol Eddwi Kurniyanto, S.H., S.I.K., M.H., Kabiddokkes Polda Kepri drg. Muhammad Zakir, S.H., M.H., Pejabat Utama Polda Kepri, seluruh panitia penerimaan seleksi, serta para peserta seleksi yang telah melalui berbagai tahapan sejak awal September lalu.

Dalam sambutannya, Wakapolda Kepri Brigjen Pol Dr. Anom Wibowo, S.I.K., M.Si., menyampaikan bahwa proses seleksi PAG dan SBP merupakan bagian penting dari upaya pembinaan karier serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Polri. Ia menegaskan, di era digital dan globalisasi saat ini, setiap anggota Polri dituntut untuk adaptif, kreatif, serta memiliki kompetensi unggul.

“Proses seleksi dan pendidikan seperti PAG dan SBP ini menjadi sangat penting untuk memastikan Polri memiliki kader-kader terbaik yang mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Wakapolda Kepri.

Wakapolda Kepri juga menekankan bahwa seleksi dilaksanakan dengan prinsip *BETAH (Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis)* serta diawasi ketat oleh Itwasda dan Bidpropam Polda Kepri. Hal ini menjadi bukti komitmen Polda Kepri dalam menjamin setiap tahapan berjalan jujur, adil, dan objektif tanpa intervensi.

“Kelulusan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Bagi yang lulus, jadikan keberhasilan ini sebagai motivasi untuk terus belajar dan menjaga integritas. Sedangkan bagi yang belum berhasil, jangan berkecil hati. Jadikan ini sebagai momentum untuk introspeksi dan berbenah diri,” tambah Wakapolda Kepri.

Dalam sidang tersebut, diumumkan hasil kelulusan sebagai berikut:

Sekolah Ahli Golongan (PAG):
• Lulus Terpilih: 22 orang (21 pria, 1 wanita)
• Tidak Lulus Terpilih: 42 orang (41 pria, 1 wanita)

Sekolah Bintara (SBP):
• Lulus Terpilih: 48 orang (41 Brimob, 7 Polair)
• Tidak Lulus Terpilih: 4 orang (Polair)

Wakapolda Kepri juga memberikan apresiasi kepada seluruh panitia dan pengawas yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh serta menjunjung tinggi integritas selama proses seleksi berlangsung.

“SDM adalah aset utama organisasi. Tidak ada institusi yang kuat tanpa personel yang berintegritas, disiplin, dan berdedikasi tinggi,” tutup Wakapolda Kepri.

Dengan berakhirnya sidang kelulusan ini, diharapkan peserta yang dinyatakan lulus dapat menjadi personel Polri yang profesional, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan tugas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya di wilayah Kepulauan Riau.

Salam Presisi
Bidang Humas Polda Kepri

Kombes. Pol. Zahwani Pandra Arsyad, S.H., M.Si.
Kabidhumas Polda Kepri

E-Mail: humaspoldakepri1@gmail.com
Telp/Fax: 0778-7760038
Twitter: @poldakeprihumas
FB: Humas Polda Kepri
IG: @humaspoldakepri

Buka Acara Festival Danau Poso 2025, Wamendagri Bima Arya Puji Khazanah Daerah Setempat

POSO || jejakindonesia.id – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto secara resmi membuka Festival Danau Poso 2025 yang mengusung tema “Rhythm of Diversity in Matia Ndano” atau “Irama Keberagaman di Air Kehidupan” pada Jumat (24/10/2025) malam.

Bima memuji khazanah Kabupaten Poso, baik keindahan alam maupun kekayaan dan keunikan budaya yang dimiliki. Menurutnya, Danau Poso merupakan salah satu destinasi wisata alam Indonesia yang sangat memesona.

“Danaunya luar biasa, setiap sudutnya mempesona,” kata Bima dalam sambutannya di Anjungan Festival Danau Poso, Kota Wisata Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Bima menegaskan, setiap daerah di Indonesia memiliki daya tarik tersendiri. Namun, Kabupaten Poso bukan hanya indah secara alamiah, tetapi juga menyimpan keunikan sejarah dan budaya yang layak menjadi destinasi wisata unggulan. Salah satunya, kata dia, Patung Palindo di Taman Nasional Lore Lindu, Kabupaten Poso. Ia mengaku takjub saat menyaksikan langsung peninggalan zaman Megalitikum tersebut.

“Saya terus terang, mendadak, merencanakan mengunjungi Palindo baru tadi malam, pagi-pagi direncanakan secara kilat, langsung takjub, langsung terkesima melihat betapa dahsyatnya peninggalan zaman Megalitikum di Bumi Poso ini,” ujarnya.

Bima juga menyoroti kekayaan budaya lokal, termasuk baju adat masyarakat setempat, Inodo, yang dikenakan para penari dalam penyambutan.

“Kami datang disambut oleh para tokoh adat, ada tarian-tarian menggunakan baju kulit. Apa itu namanya? Inodo, yang tidak ada duanya. Banyak baju adat, baju daerah, tapi tidak banyak yang punya, cantik seperti Inodo itu,” jelas Bima.

Selain Danau Poso dan Patung Palindo, Bima juga menyempatkan diri mengunjungi Air Terjun Saluopa di Desa Tonusu, Kecamatan Pamona Puselemba. Air terjun ini memiliki dua belas tingkatan alami yang memukau.

“Poso itu unik karena baru kali ini saya hadir lihat langsung air terjun berundak bertingkat dua belas,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Bima juga mengapresiasi semangat Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Poso. Ia menyebut para ASN bekerja dengan antusias dan terbuka.

“Jadi, Poso tidak saja cantik, bukan hanya unik, tapi juga inklusif, terbuka bagi semua,” imbuhnya.

Tak ketinggalan, Bima turut memberikan apresiasi atas penyelenggaraan Festival Danau Poso 2025 yang dinilainya telah dirancang dengan matang. Ia menyebut berbagai elemen acara, mulai dari tari kolosal hingga tata suara, telah diatur dengan sangat baik dan layak disebut berskala internasional.

“Untuk Poso yang maju dan sejahtera, untuk event yang semakin membanggakan, dengan ini Festival Danau Poso kita nyatakan dibuka,” tandasnya.

Hadir dalam acara itu Gubernur Sulteng Anwar Hafid, Bupati Poso Verna G.M. Inkiriwang, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Sulteng dan Kabupaten Poso.

Puspen Kemendagri