Closing soon Closes at 5:00 pm

Tahun: 2026

Viral Video Dugaan Pungli Jasa Keset Rp 4 Ribu di Pelabuhan Gilimanuk

Jembrana || jejakindonesia.id - Beredar Sebuah video yang menunjukkan dugaan aksi pungutan liar (pungli) di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, viral di media sosial. Video berdurasi 17 detik tersebut memperlihatkan percakapan antara seorang petugas darat dengan pengguna jasa terkait biaya tambahan di luar tiket resmi.

Peristiwa tersebut diduga terjadi di area Dermaga LCM atau Landing Craft Machine. Dalam rekaman itu, seorang pengguna mobil mempertanyakan kegunaan uang yang diminta oleh petugas. Petugas darat tersebut kemudian menjawab bahwa uang sebesar Rp 4.000 itu merupakan biaya "jasa keset" menuju kapal.

Informasi yang dihimpun, petugas yang meminta uang tersebut bukanlah pegawai dari PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Pelabuhan Gilimanuk. Mereka diketahui merupakan kelompok organisasi yang menyediakan jasa untuk mempermudah kendaraan naik ke atas kapal atau yang dikenal sebagai jasa angkat jerambah. Hal ini diperkuat dengan bukti karcis yang diserahkan kepada pengguna jasa bertuliskan "Jasa Angkat Jerambah".

Menanggapi hal tersebut, Manajer Usaha PT ASDP Indonesia Ferry Pelabuhan Gilimanuk, Didi Juliansyah, menyatakan pihaknya tengah mendalami rekaman video yang beredar tersebut.
"Masih kami cari kebenarannya," ujar Didi singkat saat dikonfirmasi wartawan, Senin (5/1).

Hingga saat ini, pihak ASDP masih melakukan penelusuran di lapangan untuk memastikan apakah aktivitas jasa tersebut memiliki legalitas atau termasuk kategori pungutan liar yang meresahkan pengguna jasa penyeberangan. (admin)

Perangi Judi Online, Ponsel Pegawai Lapas Banyuwangi Mendadak Dicek

BANYUWANGI || jejakindonesia.id  - Komitmen pemberantasan judi online (judol) terus diperkuat di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi. Sebagai langkah konkret, ponsel milik seluruh pegawai diperiksa secara mendadak guna memastikan tidak ada satu pun petugas yang terlibat dalam praktik haram tersebut, Senin (5/1).

Pengecekan ponsel ini dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya, tepat usai pelaksanaan apel pagi pegawai. Satu per satu pegawai diminta menunjukkan perangkat komunikasinya untuk diperiksa secara teliti oleh tim internal.

Aksi sidak ini dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa. Dengan teliti, Kalapas bersama jajaran struktural menyisir riwayat aplikasi, peramban, hingga transaksi keuangan yang ada di ponsel para petugas.

Wayan mengungkapkan bahwa langkah tegas ini diambil sebagai respons atas fenomena judi online yang kian marak di tengah masyarakat. Selain itu, ia menegaskan bahwa pemberantasan judi online merupakan salah satu program prioritas nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

"Kami ingin memastikan bahwa Lapas Banyuwangi bersih dari praktik judi online. Ini bukan sekadar imbauan, tapi tindakan nyata untuk menjaga integritas institusi," ujar Wayan.

Lebih lanjut, Wayan menjelaskan bahwa keterlibatan dalam judi online membawa dampak yang sangat merusak. Selain merusak tatanan ekonomi pribadi dan keluarga, ketergantungan pada judol diyakini akan memicu penurunan kinerja pegawai secara signifikan.

"Judi online memiliki dampak negatif di berbagai segi kehidupan. Jika ekonomi terganggu akibat judi, maka fokus dalam bekerja pasti akan hilang, dan itu sangat berbahaya bagi keamanan serta layanan di dalam Lapas," tegasnya.

Sebagai penutup dalam rangkaian sidak tersebut, Wayan memberikan peringatan keras kepada seluruh jajarannya. Ia menegaskan bahwa haram hukumnya bagi seluruh pegawai Lapas Banyuwangi maupun anggota keluarganya untuk terlibat dalam aktivitas judi online dalam bentuk apa pun.

Langkah ini diharapkan menjadi pengingat sekaligus benteng bagi seluruh petugas Lapas Banyuwangi agar tetap berdedikasi pada tugas dan menjauhi segala bentuk aktivitas ilegal yang dapat merugikan diri sendiri maupun instansi.

Kasat Lantas Polresta Banyuwangi: Ubah Kebiasaan Hari Ini, Selamatkan Masa Depan di Jalan Raya

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – (5/01/2026) Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Banyuwangi terus mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran dan kedisiplinan berlalu lintas sebagai bagian dari budaya sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan melalui Quotes of the Day oleh Kasat Lantas Polresta Banyuwangi, Kompol Elang Prasetyo.

“Kamu tidak bisa mengubah masa depanmu. Tapi kamu bisa mengubah kebiasaanmu. Dan kebiasaanmu akan mengubah masa depanmu,” ujar Kompol Elang Prasetyo.

Menurutnya, keselamatan di jalan raya tidak hanya ditentukan oleh kondisi kendaraan atau infrastruktur, tetapi sangat bergantung pada kebiasaan pengendara dalam mematuhi aturan lalu lintas. Kebiasaan sederhana seperti memakai helm, mematuhi rambu, tidak melanggar lampu merah, serta tidak menggunakan ponsel saat berkendara menjadi kunci utama mencegah kecelakaan.

Kompol Elang menegaskan, perubahan besar dalam keselamatan berlalu lintas berawal dari kesadaran individu. Ketika masyarakat membiasakan diri tertib di jalan, maka risiko kecelakaan dapat ditekan dan keselamatan bersama dapat terwujud.
Satlantas Polresta Banyuwangi berkomitmen untuk terus melakukan edukasi, sosialisasi, serta penegakan hukum yang humanis demi menciptakan lalu lintas yang aman, tertib, dan lancar di wilayah Banyuwangi.

“Keselamatan adalah kebutuhan, bukan pilihan. Mari mulai dari diri sendiri dan dari kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari,” pungkasnya.

Waspada! Kapolda Papua Tengah Sebut Pergerakan KKB Kini Merambah ke Wilayah Perkotaan

NABIRE || jejakindonesia.id - Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Alfred Papare, mengungkapkan bahwa aktivitas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kini telah merambah ke wilayah perkotaan, termasuk Kota Nabire yang merupakan Ibu Kota Provinsi Papua Tengah. Hal tersebut disampaikannya dalam keterangan resmi pada Senin, 5 Januari 2026.

"KKB tidak lagi hanya beroperasi di wilayah pegunungan Papua Tengah, tetapi saat ini sudah masuk hingga ke tengah Kota Nabire," ujar Brigjen Pol. Alfred.

Menanggapi pergeseran pola gerakan tersebut, Kepolisian Daerah (Polda) Papua Tengah bersama jajaran Polres dan satuan keamanan lainnya memperketat langkah antisipasi. Fokus utama petugas adalah melakukan penegakan hukum tegas terhadap para pelaku yang mengganggu stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di seluruh wilayah Papua Tengah.

Menurut Kapolda, berdasarkan evaluasi sepanjang tahun 2025, Polda Papua Tengah menghadapi tantangan serius akibat aksi KKB yang kian brutal dan menyasar berbagai objek vital. Beberapa insiden menonjol di antaranya adalah pembakaran bangunan di Kabupaten Puncak yang diduga dilakukan oleh kelompok pimpinan Tentua Kogoya dan Kalenak Murib.

“Pembakaran bangunan di wilayah Puncak diduga dilakukan oleh KKB pimpinan Tentua Kogoya dan Kalenak Murib,” ungkapnya.

Selain pengrusakan fasilitas, KKB juga terlibat dalam serangkaian aksi kekerasan mematikan, termasuk penembakan terhadap purnawirawan Polri serta penyerangan personel Brimob Yon C Pelopor yang mengakibatkan korban jiwa. Kelompok ini juga bertanggung jawab atas gugurnya personel Polres Puncak Jaya dalam serangan yang dipimpin oleh Bumiwalo Enumbi.

"Pada tahun 2026 ini, kami tetap siaga mengantisipasi ancaman Kamtibmas di sejumlah titik rawan, meliputi Kabupaten Puncak Jaya, Puncak, Dogiyai, Intan Jaya, Deiyai, Mimika, hingga Kota Nabire," tegas Kapolda.

Kapolri kedua Percayakan Ke Andrias Ade Regu Tembak, Muncul Cucunya Dekat Para Kapolri

JAKARTA || jejakindonesia.id - Sejarah tidak mati. Ia hanya berganti wajah dan medan tempur. Dari laras senjata hingga meja hukum, dari operasi militer hingga pertarungan opini publik.

Nama Andrias Ade, polisi asal Timur, tercatat kuat dalam sejarah keamanan nasional. Pada tahun 1968, ia dipercaya langsung memimpin grup tembak dari Timur untuk membasmi pemberontakan di Kalimantan dan Sulawesi. Kepercayaan itu datang dari orang nomor satu di Korps Bhayangkara saat itu, Kapolri kedua RI, Jenderal Polisi Soekarno Djojohadinegoro.

Andrias Ade bukan polisi biasa. Ia adalah figur lapangan, keras, dan loyal pada negara. Namanya disegani, bahkan ditakuti, hingga ke pelosok Nusantara.

Puluhan tahun kemudian, publik kembali menyaksikan “kebangkitan” karakter serupa—kali ini bukan sebagai polisi, melainkan pengacara nasional yang dikenal tanpa kompromi: Agus Flores, cucu kandung Andrias Ade.

Jika sang kakek menghadapi musuh negara dengan senjata, Agus Flores memilih jalur yang tak kalah brutal: hukum, media, dan tekanan publik. Gaya keras dan frontal membuatnya dijuluki sebagai “pengacara koboy”, sosok yang kerap berhadap-hadapan langsung dengan kekuasaan tanpa takut risiko.

Agus Flores dikenal sebagai Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PW-FRN) dan figur counter Polri dalam banyak isu nasional. Ia bersuara lantang, bahkan saat berhadapan dengan institusi besar. Namun, menariknya, ia juga memiliki relasi dekat dengan jajaran Kapolri dan para jenderal Polri.

Kedekatan itu dinilai bukan kebetulan. Jejak sejarah, loyalitas merah putih, dan darah Timur yang mengalir kuat menjadi latar yang sulit diabaikan.

Nama Agus Flores bahkan disebut-sebut memiliki akses dan kedekatan dengan Presiden ke-7 RI, Ir. Joko Widodo. Dalam berbagai momentum nasional, ia tampil sebagai figur yang berada di lingkar isu strategis—hukum, kebebasan pers, dan relasi negara dengan rakyat.

Pengamat menyebut fenomena ini sebagai bukti bahwa darah perjuangan tidak hilang dimakan zaman. Ia hanya berpindah wujud. Dari komandan tembak di era rawan pemberontakan, menjadi pengacara keras kepala di era demokrasi yang penuh kepentingan.

Dari Timur, lahir karakter yang sama: tidak tunduk, tidak takut, dan tidak bisa dibungkam.

error: Content is protected !!