Sorry, we're closed Opens Selasa at 9:00 am

Tahun: 2025

Polresta Banyuwangi Berbagi Bendera Merah Putih Sambut HUT Kemerdekaan RI ke – 80

Banyuwangi, Jejak - Indonesia.id |  Dalam semangat menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Polresta Banyuwangi Polda Jatim berbagi bendera Merah Putih.

Kegiatan ini merupakan bagian dari menumbuhkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air di kalangan masyarakat.

Pembagian bendera Merah Putih kali ini dilaksanakan di Simpang Empat Karangente, Banyuwangi.

Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra, bersama Wakapolresta AKBP Teguh Priyo Wasono, Kasat Lantas Kompol Elang Prasetyo,S.I.Kom., M.H., dan Anggota Lantas melaksanakan kegiatan pembagian bendera merah putih kepada pengendara yang melintas di jalan tersebut.

Dengan penuh kehangatan dan humanis, Kapolresta dan Wakapolresta Banyuwangi turun langsung ke jalan, menyapa dan membagikan bendera kepada para pengendara roda dua maupun roda empat.

"Melalui pembagian bendera ini, kami ingin mengajak masyarakat turut serta memeriahkan Hari Kemerdekaan RI dengan mengibarkan Merah Putih di rumah maupun kendaraan masing-masing," ujar Kombes Pol. Rama Samtama Putra, Selasa (5/8).

Kapolresta Banyuwangi menambahkan, momen ini juga menjadi sarana untuk mempererat kedekatan antara Polri dan masyarakat serta mendorong partisipasi aktif warga dalam memperingati hari bersejarah bangsa.

Warga yang melintas di lokasi kegiatan terlihat antusias menerima bendera.

Banyak di antara mereka langsung memasang bendera pada kendaraan masing-masing, sebagai bentuk dukungan terhadap ajakan nasional tersebut.

Salah satu pengendara, Budi Santoso (34), mengaku senang dan terharu atas perhatian dari jajaran kepolisian.

"Ini bukan sekadar bagi-bagi bendera, tapi mengingatkan kita untuk tidak lupa sejarah dan makna perjuangan kemerdekaan," ujarnya.

Selain membagikan bendera, Polresta Banyuwangi juga menyisipkan imbauan keselamatan berlalu lintas dan pentingnya menjaga ketertiban di jalan raya, guna menciptakan suasana perayaan kemerdekaan yang aman dan kondusif.(red)

Akses Jalan ke Pasar dan Puskesmas Kebonagung Terancam Ditutup, Sertifikat Lahan Tumpang Tindih

PASURUAN || jejakindonesia.id - Rencana penutupan akses jalan menuju Pasar Potong Rambut dan Puskesmas Kebonagung memicu perhatian publik. Akses vital yang kerap dilalui warga ini diduga berada di atas lahan milik pengembang Perum Griya Mulya Kebonagung.

Sengketa ini bukan sekadar konflik antarindividu, melainkan melibatkan klaim kepemilikan antara masyarakat dan pemerintah yang masing-masing memegang dokumen resmi.

Persoalan ini menguak kompleksitas hukum agraria di Indonesia. Di satu sisi, sertifikat tanah merupakan bukti hak paling kuat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). Namun di sisi lain, keabsahan sertifikat tetap harus diuji melalui prosedur yang ketat sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2018 tentang Penyelesaian Sengketa Tanah.

“Kasus tumpang tindih sertifikat ini seringkali lahir dari proses administrasi yang tidak sinkron, tumpang tindih peta, atau kurangnya verifikasi lapangan saat penerbitan,” ujar Saiful

Lanjut Saiful Arief Akses jalan ini diduga merupakan lahan milik pengembang Perum Griya Mulya. Saiful, yang juga bertindak sebagai kuasa pengembang, menjelaskan tujuan penutupan.

"Bahwa penutupan dilakukan demi mensterilkan lokasi. “Lokasi ini akan kami jadikan percontohan perumahan sekaligus gudang bahan bangunan. Dengan begitu, area lebih aman dan tertata,” ujar Saiful usai berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset (BPKA) Kota Pasuruan, Selasa (5/8/2025).

Namun, BPKA menemukan masalah serius: sertifikat lahan antara Pasar Kebonagung, Perum Griya Mulya, dan SMA Negeri 2 Pasuruan ternyata tumpang tindih. Kabid BPKA, Lutfi, menyarankan penyelesaian melalui Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Pasuruan.

“Secara hukum, penutupan memang hak pemilik lahan. Tapi dampaknya ke masyarakat, terutama pedagang, pasien puskesmas, dan warga sekitar, harus dipikirkan matang-matang,” tegas Lutfi.

Saiful menegaskan akan segera melayangkan surat resmi ke dinas terkait dan Wali Kota Pasuruan, dengan tembusan ke pihak kepolisian, guna mempercepat penanganan masalah ini.

Sementara itu, Kepala BPKA, Mokhamad Amien, mengarahkan agar persoalan ini dibahas lebih lanjut dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) yang membawahi aset pasar. “Langsung ke Indag saja. Mereka yang berwenang memberikan solusi,” singkatnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Disperindag Kota Pasuruan belum memberikan tanggapan. Saat didatangi kantor, tidak ada pejabat yang ditemui, dan nomor WhatsApp dinas pun tidak aktif.

 

 

(RED)

Menteri Pertahanan Singapura Tegaskan Komitmen Kolaborasi Strategis Kawasan

Jakarta, Jejak - Indonesia.id | Menteri pertahanan sekaligus menteri koordinator layanan publik Singapura, H.E. Mr. Chan Chun Sing memberikan kuliah umum kepada peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) angkatan 25 tahun 2025, hari ini tanggal 5 Agustus 2025, bertempat digedung Dwi warna, Lemhannas RI.

Kegiatan dibuka oleh Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si, yang memperkenalkan peserta P3N kepada jajaran Kementerian Pertahanan Republik Singapura.

Peserta P3N berjumlah 103 peserta yang terdiri dari perwakilan berbagai unsur pimpinan antara lain Pimpinan TNI/POLRI, Pimpinan ASN, Perguruan tinggi, Kementerian dan Lembaga, serta Organisasi kemasyarakatan lainnya.

Dalam sambutannya Gubernur Lemhannas RI, mengapresiasi setinggi tingginya atas kehadiran Menteri Pertahanan Republik Singapura ke Lemhannas RI, " Kunjungan Menteri Chan merupakan kehormatan besar bagi kami, mengingat Pa Menteri adalah extraordinary person," ujar Bapak Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si.

Gubernur Lemhannas RI, menyampaikan bahwa selama ini telah menjalin kerja sama antara Lemhannas RIdengan Kementerian Pertahanan Republik Singapura antara lain pengiriman lulusan terbaik Program Pendidikan Lemhannas RI dalam kegiatan DISTINGUISHED GRADUANDS VISIT ke Singapore setiap tahun, Keenham Singapura juga tidak pernah absen dalam mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti Program Pendidikan di Lemhannas RI.

Menteri Pertahanan Republik Singapura Mr. Chan Chun Sing di awal kuliah umumnya, menceritakan kepada peserta P3N, bahwa Beliau kurang lebih 20 tahun yang lalu adalah Atase Angkatan Darat Singapura bagi Indonesia. Kuliah umum dalam suasana yang hangat serta penuh dengan keakraban. Mr Chan Chun Sing dalam kuliah umumnya yang mengangkat tema RI-SING TOGETHER .

"Friendship and cooperation over the years," menegaskan bahwa Indonesia dan Singapura tidak sedang bersaing, namun persaingan sesungguhnya adalah dengan tidak kepastian global.

Beliau melanjutkan "Meskipun banyak tantangan dan adanya beberapa perbedaan antara Indonesia dan Singapura seperti Wilayah dan populasi, namun kita juga memiliki banyak peluang untuk bekerja sama dan saling melengkapi, serta bersama mendiversifikasi resiko.

Tantangan yang dihadapi hari ini tidak bisa diatasi secata sektoral maupun oleh satu negara saja. " Untuk mewujudkan semua ini, kita perlu terus menanamkan benih kepercayaan dan semangat kerja sama didalam diri generasi muda kita," jika kita sukses ini bukan hanya baik bagi Indonesia dan Singapura namun baik juga bagi dunia," ujarnya.

Kuliah umum ini dihadiri juga oleh duta besar Republik Singapura untuk Republik Indonesia, M, Kwok Fook Seng, juga Wakil Gubernur Lemhannas RI, Laksda TNI Edwin, S.H, M.H, Han., M.H, dan Sekertaris utama Lemhannas RI, Komjen Pol, Drs, R.Z. Panca Putra S.,M.Si, para Deputi dan jajaran pejabat di lingkungan Lemhannas RI.

Kuliah umum ini menjadi bagian dari misi strategis Lemhannas RI untuk membentuk pemimpin Bangsa yang berpikir holistik, komprehensif, dan integratif, sekaligus memperkuat kerja sama kawasan dalam menghadapi isu-isu global yang semakin kompleks. (red)

Menengok Bakungan, Kelurahan di Banyuwangi yang Miliki Omah Olah Sampah

Banyuwangi, Jejak - Indonesia.id | Pemkab Banyuwangi terus mengkampanyekan bijak mengolah sampah sebagai upaya mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satunya, dengan menggelar Festival Sepekan Pilah Sampah yang dipusatkan di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Banyuwangi.

Kelurahan Bakungan dikenal dengan sebagai salah satu kelurahan yang sangat perhatian pada masalah sampah. Kelurahan tersebut bahkan memiliki pengolahan sampah yang diberi nama Omah Olah Sampah yang dikelola oleh warga setempat.

Apa yang dilakukan Kelurahan Bakungan mendapat apresiasi langsung dari Wakil Bupati Mujiono yang hadir saat pembukaan festival tersebut pada Senin (4/8/2025).

Mujiono mengatakan, sampah adalah masalah serius yang perlu mendapat perhatian banyak pihak. Sampah telah menjadi isu global, dan perlu mendapat penanganan serius. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah setiap keluarga mulai membiasakan memilah sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari rumah.

“Banyuwangi menghasilkan sekitar 300 ribu ton sampah per tahun, sebagian besar dari rumah tangga. Kalau kita pilah dari rumah, Insyaallah 50 persen sampah tidak perlu ke TPA,” ujarnya.

Mujiono mengatakan, Kelurahan Bakungan adalah salah satu wilayah yang memiliki inovasi dan kepedulian tinggi dalam pengelolaan sampah. Menurutnya, upaya yang dilakukan warga Bakungan patut menjadi contoh bagi kelurahan/desa lain di Banyuwangi.

“Bakungan ini luar biasa, memiliki bank sampah, bahkan sudah memanfaatkan teknologi untuk mencatat tabungan sampah warga. Ini bukti bahwa pengelolaan sampah bisa berjalan efektif kalau ada dorongan bersama dari warganya,” ujarnya.

Lurah Bakungan, Agus Rahmanto mengatakan, kelurahan ini memproduksi sekitar 1-1,5 ton sampah rumah tangga per hari. Dari jumlah tersebut bank sampah yang diberi nama Omah Rembug Inovasi dan Edukasi ini menghasilkan 2 kuintal sampah organik.

“Sampah organik yang telah dipilah ini kita buat untuk pakan maggot, kompos, dan pupuk cair. Melalui festival ini, kami ingin mengajak warga khususnya warga Bakungan untuk lebih peduli tentang masalah pengelolaan sampah,” jelasnya.

Menariknya, Bakungan juga memiliki inovasi pengelolaan sampah berbasis teknologi, yakni “ABank Sayang” (Aplikasi Bank Sampah Masyarakat Bakungan). Aplikasi ini mencatat tabungan sampah warga secara digital, mulai dari pendaftaran, penimbangan, hingga konversi menjadi saldo yang bisa ditukar dengan hadiah menarik.

“Warga cukup memilah sampah organik, anorganik, dan residu di rumah, lalu membawanya ke Omah Olah Sampah untuk ditimbang dan dicatat oleh petugas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM),” kata Agus.

Ketua Bank Sampah Kelurahan Bakungan, Danar Fataros Nurcahyani menambahkan, ke depan pihaknya berencana mengolah sampah anorganik menjadi produk-produk kreatif. Seperti seperti botol bekas untuk dijadikan sofa.

“Kita masih mencoba, ada beberapa ide yang akan segera kita kerjakan. Kita sedang melengkapi bahan-bahan yang diperlukan,” kata Danar.

Selama sepekan, festival ini diisi edukasi dasar pengelolaan sampah, sekolah komunitas ramah lingkungan, serta lomba foto dan video bertema Teknologi & Inovasi Hijau yang mengangkat isu pemilahan dan pemanfaatan sampah. (red)

Mari Bersama Kawal Gunung Tumpang Pitu, Jangan Sampai Seperti Negeri Wano Di Serial One Piece

Opini, Jejak - Indonesia.id | Dalam anime one piece, Monkey D. Luffy sebagai karakter utama dikenal sebagai seorang bajak laut. Namun tidak seperti bajak laut biasanya yang terlihat jahat dan garang. Luffy malah menjadi sosok humoris yang sering membantu kaum lemah dan tertindas, bajak laut mungkin hanyalah julukannya, tapi semangat yang dia bangun adalah semangat pembebasan dan persahabatan. Beberapa pulau yang didatangi oleh Luffy dan krunya selalu dalam keadaan kacau. Seringkali berada di bawah kuasa bajak laut jahat yang membangun kerajaannya dan membuat pemerintah bahkan para jenderal terkesan membiarkannya. Mulai dari Alabasta, Water 7, Dressrosa, Manusia Ikan hingga Wano.

Kru Topi Jerami yang dipimpin Luffy yang membebaskan pulau itu dari penindasan dan kesewenang- wenangan. Tentu ini membuat Luffy menjadi bajak laut yang seharusnya jahat menjadi pembeda, bahkan dianggap baik layaknya pahlawan. Menariknya, di Indonesia menyambut bulan Agustus yakni bulan kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa masyarakat ada yang mengibarkan bendera merah putih dan bendera hitam one piece atau yang dikenal dengan “Jolly Roger”, dikibarkan depan rumah atau bahkan di kendaraannya, hal ini pun seakan menjadi trend baru di media sosial.

Tentu ini bukan hanya sekadar perilaku para fans one piece, bisa jadi ini adalah ekspresi kegelisahan sekaligus semangat yang dibangun di dunia one piece. Masih banyak pulau-pulau di negeri ini yang dikuasai oleh penjarah, yang hanya ingin mengeruk alam Indonesia. Atau bisa saja mereka yang mengibarkan bendera merasa Indonesia butuh figur layaknya Monkey D. Luffy yang sederhana, lucu namun berani. Selalu menghadirkan kebahagiaan dan kemerdekaan untuk pulau-pulau yang dikunjunginnya.

Dalam realita bangsa saat ini, rakyat sangat membutuhkan sosok seperti Monkey D. Luffy dalam anime One Piece. Pasalnya dari Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote, setiap wilayah memiliki persoalan tersendiri yang hingga saat ini belum terselesaikan. Salah satu contohnya, persoalan yang terjadi di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa atau dikenal dengan nama Banyuwangi. Dimana, sampai hari persoalan kerusakan alam dan lingkungan yang terjadi di Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran akibat adanya aktivitas tambang emas yang dilakukan PT. Bumi Suksesindo (BSI).

Keberadaan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur memiliki sejarah yang cukup panjang. Sejak satu dekade lebih, keberadaan tambang emas ini telah berdampak buruk bagi masyarakat lokal. Konsesi tambang sendiri dilakukan oleh Merdeka Cooper Gold Tbk dengan PT Bumi Suksesindo (PT BSI) yang merupakan anak perusahaannya sebagai operator di lapangan.

Penolakan terhadap tambang emas di Gunung Tumpang Pitu bukan sekedar reaksi spontan, melainkan cerminan dari kesedihan mendalam warga terhadap dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan. Warga di Desa Sumberagung, khususnya di Dusun Pancer, telah lama menyaksikan bagaimana eksploitasi tambang sedikit banyak telah mengubah kehidupan mereka. Apa yang dijanjikan sebagai pembangunan dan kesejahteraan justru berakhir pada ancaman terhadap ekosistem, mata pencaharian, dan keadilan agraria.

Dahulu, Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan hutan lindung yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologi di pesisir banyuwangi. Namun, keberadaan tambang emas di wilayah ini telah menyebabkan penggundulan hutan dalam skala besar, menghilangkan daerah resapan udara, serta meningkatkan risiko bencana seperti longsor dan banjir. Mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi petani perlahan mengering, sementara Sungai Katakan yang sebelumnya mengairi sawah warga kini ditanggul oleh perusahaan tambang, menyebabkan kesulitan udara di Dusun Pancer. Bencana menjadi semakin akrab bagi warga yang tinggal di sekitar konsesi tambang emas Tumpang Pitu, mulai banjir beruntun dari tahun 2019-2021. Protes pada tahun 2019 dan 2020 salah satunya disebabkan oleh adanya banjir, selain juga karena jalan rusak.

Beberapa bulan terakhir, lebih dari tiga kali, media sosial dihebohkan dengan sebuah vidio rekaman yang menunjukkan adanya kegiatan blasting (pengeboman) yang dilakukan oleh PT BSI. Dan dalam vidio amatir tersebut, terlihat jika serpihan dari ledakan itu dibiarkan untuk mengalir ke laut. Dampaknya ketika serpihan dari ledakan yang dilakukan oleh PT BSI dibiarkan saja jatuh ke laut pasti dampaknya akan mencemari lingkungan. Apalagi tak jauh dari lokasi tambang emas terdapat tempat wisata yang menjadi salah satu destinasi para wisatawan untuk berlibur dan berekreasi disana.

Perlu diketahui bersama, jika lokasi gunung tumpang pitu tidak jauh dengan lokasi pulau merah. Dan jika laut sekitar pulau tercemar oleh partikel tanah imbas dari kegiatan blasting, tentu saja ini merugikan warga yang mengais rezeki di daerah tersebut. Apalagi sektor pariwisata mulai dahulu merupakan program unggulan dari pemerintah kabupaten Banyuwangi. Selain itu, masyarakat di dusun pancer mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan, jika laut tercemar akibat kegiatan blasting jelas berdampak terhadap pendapatan mereka.

Dampak ekonomi dari tambang emas Tumpang Pitu juga mulai dirasakan oleh warga Desa Sumberagung. Efek dari penambangan ini memberi efek buruk pada mata pencaharian warga. Mayoritas penduduk setempat bergantung pada pertanian dan perikanan, namun keduanya kini terancam akibat pencemaran dan alih fungsi lahan. Salah satu dampak yang dirasakan warga adalah kondisi Sungai Katakan. Sungai yang selama ini menjadi sumber utama irigasi bagi petani, kini ditanggul oleh perusahaan tambang, menyebabkan banyak lahan pertanian kehilangan pasokan udara. Sumur-sumur warga yang mulai mengering, terutama dalam dua tahun terakhir, membuat kehidupan semakin sulit.

Para warga yang berprofesi sebagai petani mulai mengeluhkan lahan pertanian yang dulunya subur kini menyusut dan mengalami krisis udara. Meski samar-samar disampaikan, namun isyarat itu tampak dari keluhan-keluhan mereka, terutama bagi petani buah naga. Desa ini dikenal penghasil buah naga besar. Komoditas ini menjadi andalan warga Desa Sumberagung sejak 15 tahun terakhir. Selain buah naga juga ada komoditas jeruk. Para petaninya kini mengeluhkan tidak maksimalnya produksi buah mereka, terutama sejak kehadiran tambang. Salah satu yang mereka keluhkan tentunya terkait dengan akses air, dan potensi banjir saat musim hujan, terutama ketakutan mereka saat Sungai Katakan meluap.

Kerusakan lingkungan yang terjadi di gunung tumpang pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, hampir sama seperti yang terjadi di negeri Wano dalam anime/manga One Piece. Digambarkan, jika lingkungan negeri Wano sangat rusak karena praktik industrialisasi yang tidak terkendali oleh para penguasa, Shogun Orochi dan Kaido, serta praktik penambangan ilegal yang mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan parah. Kerusakan ini berdampak pada bencana kelaparan dan menghambat kehidupan masyarakat, terutama petani.

Penyebab kerusakan lingkungan di Negeri Wano adalah industrialisasi oleh Kaido dan Orochi yang mengubah sebagian besar wilayah Wano menjadi pabrik senjata raksasa. Hal ini menyebabkan pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem secara luas. Selain itu, sifat serakah para penguasa untuk memperkaya diri dengan melakukan penambangan ilegal dan penggunaan sumber daya alam yang berlebihan tanpa memperdulikan kelestarian alam, menyebabkan pencemaran maupun kerusakan pada lingkungan.

Kerusakan dan pencemaran lingkungan akibat industrialisasi menyebabkan terjadinya krisis pangan di Negeri Wano. Kegiatan bertani dan bercocok tanam menjadi terhambat akibat ekosistem yang rusak, mempengaruhi kehidupan masyarakat. Akibatnya, rakyat Wano menjadi korban kerakusan dan ambisi para pemimpin, yang hidup dalam penindasan dan penderitaan akibat kerusakan lingkungan yang mereka alami sehingga rakyat disana hidup dalam kemiskinan.

Maka dari itu berkaca dari Negeri Wano dalam anime One Piece, Si Penulis berharap kepada seluruh masyarakat Banyuwangi untuk bersama-sama mengkritisi aktivitas pertambangan Gunung Tumpang Pitu. Karena tambang emas itu milik seluruh masyarakat Banyuwangi tanpa terkecuali, dan adanya tambang tersebut semata-mata untuk kesejahteraan rakyat Bumi Blambangan. Jangan hanya kekayaan alamnya saja yang dikeruk, tetapi rakyat hanya disuguhkan dampak kerusakan lingkungan. Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. BSI selama beroperasi belum dirasakan oleh seluruh rakyat Banyuwangi. Buktinya ada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuwangi yang bersuara keras menanyakan hal tersebut. Kesimpulannya mereka yang menjadi wakil rakyat masih tidak tau dana CSR dari tumpang pitu di kucurkan kemana serta untuk apa. Dan ini, merupakan tanda tanya besar?

Terakhir Si Penulis berpendapat, adanya tambang emas di Pesanggaran tidak membawa kemajuan dan kesejahteraan untuk masyarakat Banyuwangi khususnya masyarakat ring satu. Melainkan melahirkan berjuta permasalahan baru disana, salah satunya konflik horisontal di tengah masyarakat. Lebih dari itu, kerusakan alam yang terjadi akibat aktivitas pertambangan akan menjadi problematika jangka panjang yang tak kunjung usai. Apalagi pihak perusahaan akan melakukan perluasan wilayah pertambangan di Gunung Salakan.

Penulis: Bondan Madani Si Raja Demo
Ketua Umum LDKS PIJAR

error: Content is protected !!