Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Video

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Menyongsong Hari Bhayangkara ke-80, tim karate Polresta Banyuwangi sukses mengukir prestasi gemilang dalam Kejuaraan Karate Kapolda Jawa Timur Cup 2026. Kompetisi bergengsi yang berlangsung di GOR Basket Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 20–21 Juni 2026 ini menjadi panggung pembuktian bagi ketangguhan para atlet binaan Polresta Banyuwangi.

Dalam kejuaraan yang diikuti oleh ratusan karateka terbaik dari berbagai daerah di Jawa Timur tersebut, Polresta Banyuwangi berhasil membawa pulang tiga medali berharga dari beberapa kelas yang dipertandingkan.

Ketiga medali tersebut disumbangkan melalui perjuangan sengit para atlet berbakat, yaitu: Juara 1 (Medali Emas): Diraih oleh Devin Kamil Akbar yang turun di kelas Kumite -55 kg Junior Putra. Devin tampil dominan dan sukses menumbangkan lawan-lawannya di babak final,Juara 3 (Medali Perunggu): Dipersembahkan oleh Aldhea Azarina Bharata pada kategori Kata Perorangan Kadet Putri setelah menyuguhkan performa keindahan teknik yang solid, Dan Juara 3 (Medali Perunggu): Diraih oleh Yanuar Syafaat Sabilillah yang berjuang keras di kelas Kumite -67 kg Under Putra.

“Momentum ini sangat tepat, di mana kita sedang menyongsong Hari Bhayangkara ke-80. Semangat juang yang ditunjukkan oleh Devin, Aldhea, dan Yanuar adalah cerminan dari semangat Polri yang presisi terus berprestasi dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat serta institusi. Semoga prestasi ini menjadi pemicu motivasi bagi pemuda-pemudi lain di Banyuwangi untuk terus menyalurkan energinya ke dalam kegiatan positif dan berprestasi di kancah nasional maupun internasional.” Ujar Kapolresta Banyuwangi

Kejuaraan Kapolda Jatim Cup 2026 ini resmi ditutup pada Minggu malam (21/6) dengan sukses. Keberhasilan tim Polresta Banyuwangi ini sekaligus menegaskan komitmen mereka dalam mendukung pengembangan bakat olahraga, khususnya bela diri, di wilayah Ujung Timur Pulau Jawa.(***)

PELET WETON PAHING: ANTARA MITOS, KARISMA, DAN REALITAS PSIKOLOGIS

Membongkar Keyakinan yang Telanjur Dianggap Kebenaran

Di berbagai daerah di Jawa, nama Weton Pahing sering dikaitkan dengan daya pikat luar biasa. Tidak sedikit yang percaya bahwa pemilik weton ini memiliki kemampuan “pelet alami” yang mampu membuat orang lain jatuh hati, selalu teringat, bahkan sulit melepaskan diri secara emosional.

Cerita-cerita semacam ini telah diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari khazanah budaya masyarakat. Namun pertanyaannya, apakah benar ada kekuatan gaib dalam Weton Pahing yang mampu mengendalikan perasaan manusia? Ataukah yang selama ini disebut “pelet Pahing” sebenarnya hanyalah penafsiran berlebihan terhadap karakter dan kepribadian tertentu?

Jika ditelaah secara kritis, sebagian besar klaim mengenai pelet weton tidak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa hari kelahiran seseorang mampu menciptakan energi supranatural yang dapat memaksa orang lain jatuh cinta atau kehilangan kehendak bebasnya.

Yang ada justru fenomena psikologis yang sering disalahartikan sebagai kekuatan mistis.

Ketika Karisma Disalahpahami Sebagai Pelet

Dalam kehidupan sosial, manusia secara alami tertarik kepada sosok yang memiliki kepercayaan diri tinggi, semangat hidup yang kuat, kemampuan berbicara yang baik, serta kehadiran yang menenangkan.

Seseorang yang mampu membuat orang lain merasa dihargai, didengarkan, dan diperhatikan sering kali meninggalkan kesan mendalam. Kesan inilah yang kemudian oleh sebagian orang diterjemahkan sebagai “terkena pelet”.

Padahal, ilmu psikologi menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mengingat pengalaman emosional yang kuat. Ketika seseorang hadir dengan energi positif, antusiasme, dan ketulusan yang jarang ditemui, otak akan menyimpan pengalaman tersebut lebih lama dibandingkan interaksi biasa.

Dengan kata lain, rasa “kantil” atau terus teringat kepada seseorang tidak selalu berasal dari kekuatan gaib. Dalam banyak kasus, hal itu muncul karena adanya kesan emosional yang kuat dan pengalaman sosial yang menyenangkan.

Simbol Api dalam Filsafat Jawa

Dalam tradisi Kejawen, unsur Geni atau Api bukan semata-mata dimaknai sebagai kekuatan magis. Api adalah simbol kehidupan.

Api melambangkan keberanian menghadapi tantangan.

Api melambangkan semangat yang tidak mudah padam.

Api melambangkan kemampuan menerangi lingkungan sekitar.

Karena itulah, banyak ajaran Jawa kuno sebenarnya tidak mengarahkan seseorang untuk menggunakan pengaruhnya demi mengendalikan orang lain. Sebaliknya, ajaran tersebut mendorong manusia menjadi “Pepadhang” atau penerang bagi sesamanya.

Makna ini jauh lebih luhur dibandingkan sekadar mencari kemampuan untuk memikat atau menguasai perasaan orang lain.

Mengapa Orang yang Penuh Dendam Kehilangan Daya Tarik?

Fenomena ini dapat dijelaskan secara logis.

Orang yang menyimpan kemarahan berkepanjangan cenderung mengalami perubahan ekspresi wajah, nada bicara, bahasa tubuh, hingga cara berpikir. Energi negatif yang dipelihara terus-menerus akan tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Akibatnya, orang lain merasa tidak nyaman berada di dekatnya.

Bukan karena aura mistis berubah menjadi buruk, melainkan karena emosi negatif secara alami memengaruhi kualitas hubungan sosial.

Sebaliknya, individu yang mampu memelihara optimisme, ketulusan, dan rasa syukur biasanya lebih mudah diterima dalam lingkungan pergaulan. Mereka memancarkan rasa aman yang membuat orang lain nyaman untuk mendekat.

Bahaya Ketika Mitos Menjadi Alat Manipulasi

Persoalan muncul ketika mitos tentang pelet digunakan sebagai alat untuk menakut-nakuti, memengaruhi, atau bahkan mengeksploitasi orang lain.

Tidak sedikit pihak yang memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelet untuk menjual ritual, benda-benda tertentu, hingga jasa spiritual dengan janji mampu mengendalikan perasaan seseorang.

Padahal cinta, penghormatan, dan kesetiaan sejati tidak pernah lahir dari paksaan.

Hubungan yang sehat dibangun melalui komunikasi, kepercayaan, ketulusan, dan penghargaan terhadap kebebasan masing-masing individu.

Menganggap bahwa seseorang dapat dipaksa mencintai melalui kekuatan gaib justru merendahkan hakikat hubungan manusia yang seharusnya didasarkan pada kesadaran dan pilihan.

Weton Sebagai Warisan Budaya, Bukan Alat Mengendalikan Takdir

Weton memiliki nilai penting sebagai bagian dari identitas budaya Jawa. Di dalamnya terdapat berbagai filosofi tentang karakter, etika hidup, keseimbangan diri, dan hubungan manusia dengan alam semesta.

Namun weton tidak seharusnya dipahami sebagai penentu mutlak nasib seseorang.

Karakter manusia dibentuk oleh pendidikan, lingkungan, pengalaman hidup, nilai moral, serta keputusan yang diambil setiap hari.

Hari kelahiran mungkin menjadi simbol budaya yang menarik untuk direnungkan, tetapi masa depan seseorang tetap ditentukan oleh tindakan nyata yang dilakukan dalam kehidupannya.

Kesimpulan

Mitos tentang “Pelet Weton Pahing” pada dasarnya lebih banyak hidup dalam ranah kepercayaan daripada fakta yang dapat dibuktikan. Apa yang sering dianggap sebagai kekuatan gaib sebenarnya lebih dekat dengan karisma, kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, dan energi positif yang dimiliki seseorang.

Dalam filsafat Jawa sendiri, makna tertinggi dari unsur Api bukanlah membakar kehendak orang lain, melainkan menjadi cahaya yang memberi manfaat bagi sesama.

Karena itu, daya tarik terbesar seseorang bukan terletak pada mantra, jimat, atau pelet, melainkan pada kualitas dirinya sendiri: kejujuran, keberanian, ketulusan, empati, serta kemampuannya menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Itulah “pelet” yang sesungguhnya—bukan kekuatan untuk menguasai hati orang lain, melainkan kemampuan untuk menginspirasi dan menerangi kehidupan mereka.

SERANG || Jejak-indonesia.id – Polsek Jawilan Polres Serang menindaklanjuti informasi terkait beredarnya video viral di media sosial mengenai adanya warga yang dikabarkan hilang dari rumah di wilayah Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Unit Intelkam Polsek Jawilan melakukan kegiatan pulbaket (pengumpulan bahan keterangan) pada Senin (22/6/2026) guna memastikan kebenaran informasi serta melakukan pengecekan terhadap pihak keluarga.

Dari hasil pendalaman diketahui bahwa Sdri. Suheti, warga Kp. Tipar RT 19/02, Desa Pagintungan, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, sebelumnya meninggalkan rumah pada Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 21.00 WIB dan dijemput oleh seorang teman laki-laki berinisial U yang beralamat di wilayah Jawilan.

Saat meninggalkan rumah, Sdri. Suheti sempat memberikan kabar kepada orang tuanya bahwa dirinya sedang menginap di rumah teman dan meminta agar tidak dicari, namun tidak menjelaskan lokasi keberadaannya.

Pihak keluarga kemudian berupaya menghubungi melalui telepon seluler, namun tidak mendapatkan respons. Keluarga juga melakukan pencarian dengan meminta bantuan warga sekitar serta menyebarkan informasi melalui media sosial Instagram @info.serang.

Namun pada Minggu (21/6/2026) sekitar pukul 19.00 WIB, Sdri. Suheti diketahui telah kembali ke rumah dalam keadaan aman.

Berdasarkan keterangan yang diberikan kepada pihak keluarga, Sdri. Suheti meninggalkan rumah karena merasa sering dimarahi oleh kedua orang tuanya.

Kapolsek Jawilan AKP Erwan Nurwanda, S.E. menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan langkah kepolisian dengan melakukan pengecekan dan pengumpulan informasi guna memastikan kondisi warga tersebut.

“Polsek Jawilan terus merespons setiap informasi masyarakat, khususnya terkait kejadian yang beredar di media sosial, untuk memastikan kebenaran informasi dan memberikan rasa aman kepada masyarakat dan kami menghimbau apabila melihat,mendengar atau memgetahui ada tindakan kejahatan atau membutuhkan layanan kepolisian agar melaporkan baik secara langsung ke kantor polisi terdekat atau melalui layanan call center 110,” tutup Kapolsek Jawilan.

SERANG || Jejak-indonesia.id – Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Polda Banten melalui Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) menggelar Layanan Bakti Sosial Pengobatan Gratis bagi masyarakat yang akan dilaksanakan pada Selasa (23/06) pukul 10.00 WIB bertempat di Aula Gawe Kuta Baluwarti Polda Banten.

Kegiatan bakti sosial ini merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap kesehatan masyarakat dengan memberikan pelayanan kesehatan secara gratis yang meliputi pemeriksaan kesehatan umum serta pengobatan gratis. Kegiatan tersebut terbuka untuk seluruh masyarakat sebagai upaya membantu warga memperoleh akses layanan kesehatan yang mudah dan terjangkau.

Melalui kegiatan ini, Polda Banten ingin hadir lebih dekat dengan masyarakat tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga melalui pelayanan sosial yang memberikan manfaat secara langsung. Bakti sosial kesehatan ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam menyambut Hari Bhayangkara ke-80 dengan mengedepankan semangat pengabdian dan kepedulian kepada masyarakat.

Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea mengatakan bahwa kegiatan pengobatan gratis merupakan wujud nyata komitmen Polri untuk terus hadir dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80, Polda Banten berupaya memberikan manfaat yang nyata melalui layanan pengobatan gratis bagi masyarakat. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap kesehatan masyarakat sekaligus sarana untuk mempererat kedekatan antara Polri dan warga,” ujar Maruli pada Senin (22/06).

Lebih lanjut Maruli menjelaskan bahwa kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang harus mendapat perhatian bersama.
“Melalui bakti sosial ini kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan layanan kesehatan yang kami sediakan. Semoga kegiatan ini membawa manfaat, meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan, serta semakin memperkuat kepercayaan dan sinergitas antara Polri dan masyarakat. Sesuai tema Hari Bhayangkara ke-80, Polri akan terus berupaya memberikan pengabdian terbaik untuk masyarakat,” tutup Maruli.

Kegiatan Layanan Bakti Sosial Pengobatan Gratis ini mengusung semangat “Polri Untuk Masyarakat”, sebagai wujud nyata kehadiran Polri yang humanis, peduli, dan selalu hadir di tengah masyarakat (Bidhumas).

SOSA || Jejak-indonesia.id – Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Personil Polsek Sosa dan Bhayangkari Ranting Sosa, melaksanakan kegiatan anjangsana ke rumah para Purnawirawan Polri yang berdomisili di wilayah hukum Polsek Sosa, Senin (22/06/2025).

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.30 wib sampai sselesai ini melibatkan Kapolsek Sosa Akp Eko Ady Ranto, SH, MH, Ketua Bhayangkari Ranting Sosa, Personil Polsek Sosa, dan Pengurus Bhayangkari Ranting sosa.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, rombongan menyerahkan bantuan sosial dan bingkisan secara simbolis kepada para purnawirawan dan keluarga yang pernah mengabdi di institusi Polri, khususnya di Polsek Sosa

Kapolsek Sosa Akp Eko Ady Ranto, SH, MH, menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengabdian para purnawirawan Polri selama bertugas.

“Kami hadir bukan hanya sebagai anggota Polri aktif, tetapi juga sebagai keluarga besar yang ingin tetap menjaga silaturahmi dan menunjukkan bahwa institusi ini tidak pernah melupakan jasa para pendahulunya,” kata AKP Eko.

Kunjungan diawali di kediaman AKP (Purn) Suyatno, kemudian berlanjut ke rumah purnawirawan Ipda purn. Sri Winarno. Penerima bingkisan oleh purnawirawan, istri atau keluarga yang masih tinggal di Wilayah Hukum Polsek Sosa.

Tak hanya menyerahkan bantuan, kegiatan ini juga diisi dengan ramah tamah, yang menjadi momen hangat untuk berbagi cerita, mengenang masa tugas, dan mempererat tali silaturahmi antara Polri aktif dan para purnawirawan. Pungkas Kapolsek.

Ketua Bhayangkari Ranting Polsek Sosa, menambahkan bahwa kegiatan ini juga merupakan bagian dari gerakan Bhayangkari yang terus berkomitmen dalam mempererat hubungan sosial dan kemasyarakatan.

“Bhayangkari hadir bukan hanya untuk mendukung tugas suami, tapi juga menjadi penghubung kasih dalam menjalin persaudaraan sesama keluarga besar Polri,” ucapnya.

Lebih lanjut Kapolres Padang Lawas AKBP Dodik Yuliyanto, SIK., melalui PS Kasubsi Penmas Polres Padang Lawas Bripka Ginda K Pohan menambahkan, Polres Padang Lawas dan Polsek Jajaran,. menegaskan “pentingnya peran purnawirawan dalam mendukung program-program Polri, terutama dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing.

Bapak Kapolres juga meminta agar para Bhabinkamtibmas di wilayahnya aktif merangkul dan melibatkan para purnawirawan dalam kegiatan sosial maupun edukatif ke depan.

“Melalui kegiatan ini, Polsek Sosa Polres Padang Lawas ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap para purnawirawan bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk komitmen nyata dalam menjaga nilai-nilai kekeluargaan dan penghargaan terhadap jasa para pejuang Polri, Hingga selesai Kegiatan Anjangsana kepada purnawirawan Polri dalam rangka HUT Bhayangkara Ke-80 Tahun 2026 berjalan dengan aman dan Lancar” ujarnya. (Humas Polres Padang Lawas)

error: Content is protected !!