Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Video

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi kembali menggagalkan upaya penyelundupan narkotika jenis sabu ke dalam lapas, Kamis (13/8). Seorang pengunjung wanita berinisial DAT ditangkap setelah nekat menyembunyikan paket diduga sabu seberat lima gram di dalam lipatan karet celananya.

Keberhasilan ini berkat kejelian, kewaspadaan, serta ketelitian petugas penggeledahan badan di pos pemeriksaan kunjungan wanita. DAT diketahui datang ke lapas dengan tujuan menjenguk kerabatnya, seorang warga binaan berinisial MKA yang sedang menjalani masa pidana.

Kepala Lapas Banyuwangi, Solichin, menjelaskan bahwa penangkapan bermula dari prosedur pemeriksaan rutin terhadap setiap pengunjung yang hendak masuk ke area kunjungan.

“Sesuai aturan yang berlaku, petugas kami memeriksa dengan ketat dan teliti setiap barang bawaan maupun badan pengunjung. Saat menggeledah bagian celana DAT, petugas meraba adanya benda keras yang mencurigakan di area karet pinggang,” ujar Solichin.

Selain mendapati keanehan fisik pada celana yang dikenakan, petugas juga melihat gelagat mencurigakan dan gestur gugup dari DAT. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih dalam di ruang khusus, petugas menemukan bungkusan plastik hitam memanjang yang diselipkan rapi di balik lipatan karet celana tersebut.

“Gelagat dari DAT menambah kecurigaan petugas, setelah diperiksa lebih lanjut, benar saja terdapat plastik hitam pada bagian kareta celana DAT,” ungkap Solichin.

Petugas langsung mengamankan DAT untuk dimintai keterangan. Tanpa bisa mengelak, DAT mengakui bahwa barang terlarang tersebut dibawa atas pesanan MKA. Petugas kemudian menjemput MKA dari blok hunian dan membuka bungkusan tersebut di hadapan kedua pelaku.

Saat dibuka, bungkusan tersebut berisi serbuk kristal putih diduga kuat narkotika jenis sabu seberat sekitar 5 gram yang dikemas dalam plastik bening. Baik DAT maupun MKA akhirnya tak mampu membantah dan mengakui peran masing-masing dalam rencana penyelundupan tersebut.

Guna penanganan hukum lebih lanjut, pihak Lapas Banyuwangi langsung berkoordinasi dan menyerahkan barang bukti beserta DAT kepada Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polresta Banyuwangi. Sementara itu, warga binaan MKA kini dijebloskan ke sel pengasingan (strafcell) untuk memudahkan proses penyidikan.

Solichin menegaskan, pihaknya tidak akan pernah membiarkan barang haram masuk ke lingkungan lapas dan siap menindak tegas siapa saja yang bermain-main dengan narkoba.

“Kami tidak akan memberikan celah sedikit pun kepada siapa pun yang mencoba terlibat dalam peredaran gelap narkoba di dalam lapas. Siapa pun yang terbukti, baik pengunjung maupun warga binaan, pasti kami proses tuntas sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id — Pasi Ops Kodim 0825/Banyuwangi Kapten Arm Fredy Abram menghadiri Festival Pawai Lampion Kebangsaan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kamis (13/8/2026) malam. Kegiatan yang mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur” tersebut berlangsung mulai pukul 19.20 hingga 23.00 WIB, dengan titik awal di depan Kantor Bupati Banyuwangi dan berakhir di RTH Taman Blambangan.

Festival tersebut diikuti sekitar 1.200 peserta yang terdiri dari pelajar SD/MI sebanyak 8 gugus, SMP/MTs 12 gugus, serta SMA/MA/SMK 4 gugus. Kegiatan turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Mujiono, Sekda Banyuwangi Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, Kepala OJK Jember Aris Budiman, unsur Forkopimda, kepala OPD, tokoh masyarakat, budayawan, kepala sekolah, guru, orang tua, serta para peserta pawai. Rangkaian acara diawali santunan anak yatim piatu yang diberikan Bupati Banyuwangi, dilanjutkan lantunan sholawat, menyanyikan lagu Indonesia Raya, penampilan tari tradisional Babat Gayuh dari SMA Negeri 1 Rogojampi, doa, serta sambutan.

Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi pelepasan peserta Festival Pawai Lampion Kebangsaan 2026 oleh Bupati Banyuwangi yang didampingi unsur Forkopimda. Kehadiran Pasi Ops Kodim 0825/Banyuwangi menjadi bagian dari dukungan TNI terhadap kegiatan masyarakat dalam menyemarakkan peringatan kemerdekaan sekaligus memperkuat semangat kebangsaan di kalangan generasi muda. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, lancar, dan kondusif hingga selesai.

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani membuka ruang dialog langsung dengan warganya melalui program “Gesah Bareng Ambi Bupati”. Forum ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi sekaligus mencari solusi bersama pemerintah.

Program tersebut digelar secara rutin setiap dua pekan sekali. Warga datang dan menyampaikan persoalannya secara langsung kepada Bupati Ipuk, tanpa harus melalui prosedur yang panjang.

Bupati Banyuwangi mengatakan, forum ini sengaja dibuat untuk lebih mendekatkan pemerintah dengan masyarakat. Pemkab ingin mendengar langsung persoalan warga, sekaligus memastikan setiap aspirasinya mendapatkan solusi dari pemkab.

“Lewat Gesah Bareng Ambi Bupati, kami ingin warga bisa menyampaikan langsung apa yang menjadi persoalannya. Jadi tidak hanya mendengar dari laporan, tetapi kami bisa berdiskusi langsung dan mencari jalan keluarnya bersama,” ujar Bupati.

Menurutnya, dialog langsung juga penting agar kebijakan pemerintah semakin pas dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Setiap persoalan yang disampaikan warga akan dipetakan dan dikoordinasikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan kemampuan pemerintah daerah.

“Jadi tidak hanya menampung persoalan warga, namun forum ini juga sarana bagi kami untuk mendapatkan masukan dari warga agar kebijakan kami lebih pas dengan kebutuhan warga,” kata Ipuk.

“Harapannya, warga pulang dari forum ini tidak hanya membawa jawaban, tetapi juga kepastian siapa yang akan menindaklanjuti dan bagaimana prosesnya. Pemerintah juga mendapatkan masukan langsung untuk memperbaiki pelayanan,” imbuhnya.

Pada pelaksanaan perdana, Gesah Bareng Ambi Bupati mengangkat tema pertanian. Sejumlah warga menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi di lapangan, mulai dari kebutuhan sarana produksi pertanian, irigasi, akses pupuk, hingga pemasaran produk horti.

Bagi masyarakat, forum ini memberikan sejumlah manfaat, seperti yang diungkapkan Fitri warga Kampung Melayu. Menurutnya, program dialog tersebut mendekatkan langsung pemimpin dengan rakyat.

“Saya kira, masyarakat ini perlu didengar. Apa yang menjadi keluh kesahnya bisa diketahui oleh pemimpinnya. Saya yakin Ibu Bupati pasti akan mencarikan solusi yang terbaik,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Sodiq dari Kalibaru. Ia sengaja datang untuk menyampaikan aspirasi petani kopi. “Alhamdulillah, kami bisa menyampaikan secara langsung aspirasi kami. Ditanggapi dengan baik. Semoga segera dapat diwujudkan,” jelasnya.

Pemkab Banyuwangi akan terus menggelar Gesah Bareng Ambi Bupati secara berkala dengan mengangkat berbagai tema yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Silakan datang dan sampaikan apa yang menjadi masalah. Kita gesah bareng, kita cari solusinya bareng-bareng,” kata Wakil Bupati Mujiono. (*)

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Usai menyajikan Karnaval Kemerdekaan yang menampilkan pesona budaya Nusantara, Kamis pagi (13/8/2024), Banyuwangi menyuguhkan ratusan lampion berbagai bentuk dan warna menghiasi suasana malam hari perkotaan Banyuwangi.

Lampion-lampion itu mengusung tema keragaman budaya Banyuwangi dan dibawakan ribuan peserta dari gugus pramuka tingkat SD hingga SMA se-Banyuwangi. Pawai Lampion digelar untuk memperingati Hari Pramuka ke-65. Pawai ini juga untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-81.

Meriahnya lagi, Festival Lampion ini dikolaborasikan dengan Peringatan Hari Indonesia Menabung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember.

Berbagai kearifan lokal ditampilkan, mulai dari bentuk wayang, Barong Osing, ada pula penari Gandrung, instrumen Angklung Caruk, serta pertunjukan tari tradisional.

Tak ketinggalan, simbol tradisi masyarakat seperti Petik Laut turut memeriahkan barisan. Unsur kebudayaan Kebo-keboan hingga Puter Kayun, dan budaya Banyuwangi lainnya semakin melengkapi deretan estetika parade.

Gemerlap cahaya lampion menyusuri jalanan kota. Atraksi pertunjukan seni di sepanjang rute parade makin menambah kesan spektakuler ribuan penonton yang menyaksikan.

“Perayaannya sangat meriah dan jauh lebih kreatif dari tahun-tahun sebelumnya. Kekayaan budaya Banyuwangi benar-benar terlihat di festival ini,” kata Rini, warga Kebalenan, Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan pawai lampion tahun ini memiliki konsep berbeda karena memadukan kekayaan budaya Banyuwangi dengan edukasi literasi keuangan.

Kolaborasi tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, terutama pelajar, mengenai pentingnya menabung melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR).

“Terima kasih OJK Jember yang sudah berkolaborasi. Mudah-mudahan semakin banyak anak-anak kita yang meningkat literasinya terkait keuangan,” ujarnya.

Ipuk berharap kebiasaan menabung dapat membentuk keluarga yang lebih siap menghadapi kebutuhan tidak terduga serta mampu merencanakan masa depan dengan lebih baik.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar semakin cerdas mengelola keuangan di tengah perkembangan layanan digital, termasuk mewaspadai pinjaman dan investasi ilegal.

“Malam ini lampion telah menerangi Banyuwangi. Saya berharap ketika lampion padam, cahayanya tetap tinggal dalam diri kita, menjadi cahaya literasi keuangan dan kebiasaan menabung,” kata Ipuk.

Sementara itu, Kepala OJK Jember Aris Budiman, memuji semangat para pelajar dalam festival lampion ini. Pihaknya sengaja memusatkan Puncak Hari Indonesia Menabung wilayah Sekarkijang di Banyuwangi.

Banyuwangi dipilih karena menjadi barometer kinerja percepatan akses keuangan daerah. Berbagai inovasi terus dihadirkan guna meningkatkan pemahaman keuangan seluruh lapisan masyarakat.

Program Satu Rekening Satu Pelajar terus didorong lewat sinergi berbagai pihak. Karakter sabar dan bertanggung jawab diharapkan tumbuh seiring kebiasaan menabung anak-anak.

“Lampion merupakan simbol cahaya dan harapan masa depan kita semua. Demikian pula halnya dengan kebiasaan menabung,” tegas Aris. (*)

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Pemkab Banyuwangi bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuwangi menyetujui Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Banyuwangi Tahun Anggaran 2027.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan bersama antara Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Wakil Ketua DPRD Banyuwangi, Siti Mafrochatin Ni’mah, di Gedung DPRD Banyuwangi, Kamis (13/8/2026). Rapat Paripurna turut dihadiri anggota DPRD dan jajaran Pemkab Banyuwangi.

Bupati Ipuk mengatakan APBD tahun 2027 dirancang sebagai upaya anisipatif terhadap tantangan eksternal yang masih berat. Sejumlah faktor global maupun domestik mempengaruhi jalannya perekonomian di 2027.

Karenanya kebijakan umum APBD Banyuwngi 2027 diarahkan untuk merespon dinamika perekonomian, antisipasi terhadap problem yang dimungkinkan masih akan terjadi serta rancangan langkah afirmasi (affirmative action) untuk peningkatan kesejahteraan warga Banyuwangi.

“Tadinya kita positif ekonomi semakin baik, ternyata kondisi belum memiungkinkan maka kami melakukan melakukan evaluasi kebiajakan keuangan tapi tentunya dengan tetap menekankan pada program prioritas yakni penurunan kemiskinan, terus mendorong pertumbuhan ekonomi, IPM hinga menuntaskan infrastruktur,” unagkap Ipuk.

Sementara itu, postur anggaran pada KUA-PPAS tahun 2027 dirancang dan disepakati sebagai berikut. Pendapatan daerah tahun 2027 dirancang sebesar Rp. 2,444 triliun mengalami penurunan sebesar Rp. 461 milyar dari APBD tahun 2026 sebesar Rp. 2,905 trilyun.

Pendapatan daerah tersebut bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp. 850,8 milyar. Terdapat kenaikan sebesar Rp. 50 miliar dari APBD tahun 2026 yang sebesar Rp.800,8 milyar. Pendapatan transfer diproyesikan sebesar Rp. 1,543 trilyun atau turun sebesar Rp. 511,3 miliar dari APBD tahun 2026 sebesar Rp. 2,054 trilyun. Lain-lain pendapatan daerah yang sah diproyeksikan sebesar Rp. 50,1 miliar.

“Pendapatan dari transfer masih menjadi alokasi terbesar sebagai pendapatan daerah,” ujar Ipuk.

Sedangkan belanja daerah pada APBD tahun anggaran 2027 diproyesikan sebesar Rp. 2,420 trilyun, mengalami penurunan sebesar Rp.496,9 miliar dari belanja daerah pada APBD tahun 2026 yang sebesar Rp 2,917 triliun.

“Kebijakan umum belanja daerah pada tahun anggaran 2027 disepakati untuk diarahkan pada dukungan ekonomi, peningkatan efisiensi, dan efektivitas pelaksanaan program kegiatan prioritas pembangunan daerah di tengah keterbatasan fiskal daerah,” ungkap Ipuk.

Pada kesempatan itu Ipuk juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak, yang selama ini telah bekerja keras, turut serta menggerakkan pembangunan di tengah situasi yang tidak menentu ini agar selalu kondusif, aman dan sejahtera.

Sementara itu juru bicara badan anggaran (banggar) DPRD, Marifatul Kamila menyampaikan ditengah keterbatas fiskal daerah harus dilakukan upaya meningkatkan sumber pendapatan daerah melalui berbagai langkah dan strategi maupun inovasi.

Selain itu juga perlu ada upaya peningkatan pada belanja modal melalui sumber pembiayaan lain misalnya potensi alokasi DAK, pengajuan alokasi kepada pemerintah pusat hingga pemanfaatan CSR.

“Tentunya ini memerlukan dukungan seluruh pihak, termasuk dukungan politik praktis,” ujarnya saat membacakan laporan akhir pembahasan Anggaran KUA-PPAS APBD Tahun 2027. (**)

error: Content is protected !!