Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Video

DENPASAR || Jejak-indonesia.id — Polemik yang menyeret nama anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna (AWK), memasuki babak baru. Empat anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB) sepakat membawa persoalan tersebut ke Badan Kehormatan (BK) DPD RI menyusul kontroversi terkait dugaan pernyataan bernuansa rasis dan perlakuan yang dinilai menyudutkan seorang warga perantauan asal Lombok di Bali.

Langkah empat senator asal NTB tersebut membuat persoalan yang sebelumnya berkembang di ruang publik kini bergerak menuju mekanisme etik di internal lembaga DPD RI. Badan Kehormatan nantinya menjadi pihak yang berwenang menindaklanjuti laporan sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku.

Anggota DPD RI asal NTB, TGH. Ibnu Khalil, mengatakan langkah tersebut merupakan sikap bersama empat anggota DPD RI asal NTB. Menurutnya, persoalan yang telah menimbulkan polemik di masyarakat perlu ditempatkan pada jalur kelembagaan agar dapat diperiksa secara objektif.

Kesepakatan melaporkan AWK ke Badan Kehormatan DPD RI sekaligus menjadi perhatian publik, terutama masyarakat NTB dan Bali. Publik kini menunggu bagaimana Badan Kehormatan memproses laporan tersebut dan menilai apakah terdapat pelanggaran terhadap kode etik anggota DPD RI.

Persoalan ini dinilai bukan sekadar menyangkut perdebatan antara individu. Ketika seorang pejabat publik berbicara dan bertindak dalam kapasitasnya sebagai wakil daerah, setiap pernyataan dapat membawa konsekuensi lebih luas karena melekat tanggung jawab moral, etik, serta kewajiban menjaga keharmonisan masyarakat.

Terlebih Bali merupakan daerah dengan masyarakat yang majemuk serta menjadi tempat tinggal dan bekerja bagi warga dari berbagai wilayah Indonesia. Karena itu, komunikasi pejabat publik dituntut tidak menciptakan sekat berdasarkan asal-usul, suku maupun identitas kedaerahan.

Tokoh Masyarakat Soroti Etika Pejabat Publik

Tokoh masyarakat Denpasar sekaligus pakar hukum pidana yang akrab disapa Jik Dewa turut menyoroti polemik tersebut. Ia menilai seorang anggota DPD RI seharusnya mampu menjaga etika komunikasi, terlebih ketika berhadapan dengan masyarakat dan ketika mengambil posisi sebagai pihak yang hendak melakukan mediasi.

Menurut Jik Dewa, mediasi semestinya menempatkan mediator pada posisi netral, tidak mengintimidasi maupun menyudutkan salah satu pihak.

“Secara etika, seorang anggota DPD tidak pantas berbicara menyudutkan seseorang, apalagi sampai ada kesan intimidasi. Kalau memang niatnya melakukan mediasi, semestinya harus netral,” ujar Jik Dewa, Jumat (14/8/2026).

Ia juga mengingatkan pentingnya pejabat publik menjaga semangat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Menurutnya, polemik semacam ini harus menjadi pelajaran bahwa perbedaan asal daerah tidak boleh menjadi alasan untuk memperlakukan seseorang secara berbeda. Ia mengaitkannya dengan semangat Sila Ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, yang menurutnya harus menjadi pegangan setiap penyelenggara negara.

“Jangan sampai perkataan ataupun tindakan justru berpotensi menciptakan perpecahan. Semangat yang harus dijaga adalah Persatuan Indonesia,” tegasnya.

Badan Kehormatan DPD RI Jadi Ruang Pengujian Etik

Dengan adanya kesepakatan empat anggota DPD RI asal NTB untuk melaporkan persoalan tersebut, sorotan kini tertuju kepada Badan Kehormatan DPD RI.

Proses etik menjadi penting untuk memberikan ruang pemeriksaan yang berimbang. Laporan maupun tudingan yang disampaikan kepada Badan Kehormatan tetap harus diuji berdasarkan bukti, keterangan para pihak, konteks kejadian serta ketentuan kode etik yang berlaku.

Karena itu, pelaporan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran etik. AWK tetap memiliki hak untuk memberikan penjelasan, klarifikasi dan pembelaan terhadap materi yang dipersoalkan.

Di sisi lain, proses di Badan Kehormatan diharapkan mampu memberikan kepastian kepada masyarakat agar polemik tidak terus berkembang berdasarkan asumsi ataupun potongan informasi yang beredar di ruang publik.

Kasus ini sekaligus menjadi ujian terhadap standar etik seorang wakil daerah. Anggota DPD RI bukan hanya membawa kepentingan daerah yang diwakilinya, tetapi juga merupakan pejabat publik yang terikat pada tanggung jawab menjaga kehormatan lembaga serta persatuan bangsa.

Perbedaan pandangan ataupun konflik antarmasyarakat semestinya diselesaikan melalui dialog yang adil dan tidak diskriminatif. Terlebih apabila seorang pejabat publik mengambil peran dalam mediasi, netralitas menjadi unsur penting agar penyelesaian masalah tidak justru memunculkan persoalan baru.

AWK Belum Memberikan Tanggapan

Untuk menjaga keberimbangan pemberitaan, awak media telah berupaya meminta klarifikasi dari pihak Arya Wedakarna.

Konfirmasi disampaikan melalui WhatsApp kepada ajudan Arya Wedakarna untuk meminta tanggapan terkait rencana pelaporan empat anggota DPD RI asal NTB ke Badan Kehormatan DPD RI serta berbagai pernyataan yang berkembang terkait polemik tersebut.

Namun hingga berita ini disusun, belum diperoleh tanggapan dari pihak Arya Wedakarna.

Media tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Arya Wedakarna maupun pihak terkait lainnya agar persoalan ini dapat disajikan secara berimbang.

Kini publik menunggu langkah Badan Kehormatan DPD RI. Apakah laporan tersebut akan berlanjut ke pemeriksaan etik dan bagaimana hasil akhirnya, sepenuhnya menjadi kewenangan lembaga sesuai prosedur yang berlaku.

Di tengah sorotan tersebut, satu hal menjadi penting: polemik yang menyangkut isu suku, asal daerah, ataupun identitas harus ditangani secara hati-hati. Bali dan NTB memiliki hubungan sosial, ekonomi, budaya, dan sejarah antarmasyarakat yang telah berlangsung lama. Kontroversi individual semestinya tidak berkembang menjadi sentimen antardaerah.

Proses etik yang transparan dan berimbang diharapkan bukan hanya memberikan kejelasan terhadap pihak-pihak yang berselisih, tetapi juga menjaga ruang publik tetap sehat serta memastikan prinsip Persatuan Indonesia tetap berdiri di atas segala perbedaan.

SERANG || Jejak-indonesia.id – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026, Polresta Serang Kota menggelar kegiatan Doa Bersama Lintas Agama yang dilaksanakan pada Jumat, 14/08/2026.

Kapolresta Serang Kota Kombes Pol. Yudha Satria, S.H., S.I.K., M.H., melalui Kabag Perencanaan Polresta Serang Kota Kompol. Hendri Dunand, S.H., M.H., dalam sambutannya menyampaikan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia dan kasih sayang-Nya sehingga kegiatan doa bersama lintas agama dalam rangka memperingati HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026 dapat terlaksana dalam keadaan sehat dan penuh kebersamaan.

“ Kemerdekaan Republik Indonesia yang kita nikmati hingga saat ini merupakan anugerah sekaligus hasil perjuangan panjang para pahlawan dan seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, momentum peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan rasa syukur, memperkokoh persatuan dan kesatuan, serta memperkuat semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujar Kompol. Hendri Dunand.

Lebih lanjut disampaikan bahwa kegiatan doa bersama lintas agama memiliki makna penting dalam mempererat persatuan bangsa. Perbedaan keyakinan bukan menjadi penghalang untuk bersatu, melainkan keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia menjadi kekuatan yang harus terus dijaga dan dirawat bersama.

“Melalui doa yang kita panjatkan dengan penuh ketulusan, mari kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Republik Indonesia senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian, persatuan dan kemajuan. Kita juga berdoa agar seluruh masyarakat Indonesia diberikan kesehatan, keselamatan, kesejahteraan serta dijauhkan dari berbagai bentuk bencana, konflik, perpecahan dan ancaman yang dapat mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tambahnya.

Hadir dalam kegitan Pejabat Utama Polresta Serang Kota, Kapolsek Jajaran, Personel Polresta Serang Kota, Ketua Bhayangakari Cabang Serang Kota NY. Vivi Yudha dan pengurus Bhayangkari Serang Kota dan Undangan lintas agama Kota Serang.

Sebagai bagian dari masyarakat dan insan Bhayangkara, Polresta Serang Kota berkomitmen untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif, serta membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya di wilayah Kota Serang untuk terus memperkuat toleransi, menjaga kerukunan antarumat beragama dan meningkatkan semangat gotong royong. Mari jadikan momentum HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai sarana memperkuat persaudaraan dan bersama-sama memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa dan negara,” ungkapnya.

Kompol. Hendri Dunand juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh tokoh agama serta personel Polresta Serang Kota yang telah hadir dan mendukung terselenggaranya kegiatan doa bersama lintas agama tersebut.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Serang Drs. KH. Matin Syarkowi menyampaikan bahwa momentum HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan rasa syukur.

“Mari kita doakan bersama, mudah-mudahan dengan usia ke-81 ini Indonesia semakin baik, semakin sejahtera dan semakin maju ke depannya. Sebagai warga negara Indonesia kita harus meningkatkan rasa syukur karena situasi dan kondisi negara kita saat ini dalam keadaan baik, tidak seperti beberapa negara lain yang mengalami konflik,” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut dilaksanakan pembacaan doa lintas agama yang dipimpin oleh para pemuka agama, di antaranya KH. Hidayat HS selaku Ketua MUI Kota Serang dari agama Islam, Pendeta Godnes Solin selaku Pendeta HKBP Resort Serang dari agama Kristen Protestan, Romo Leo Agung selaku Romo Gereja GKR Serang dari agama Kristen Katolik, serta Panindita Aris W sebagai perwakilan agama Hindu.

Melalui kegiatan doa bersama lintas agama ini, Polresta Serang Kota berharap semangat kemerdekaan dapat menjadi momentum untuk terus memperkuat persatuan, menjaga toleransi dan bersama-sama mewujudkan Indonesia yang aman, damai dan maju.

Dirgahayu Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Indonesia Bersatu, Indonesia Maju.

Humas

DENPASAR || Jejak-indonesia.id – Kapolda Bali Irjen. Pol. Daniel Adityajaya, S.H., S.I.K., M.Si., menghadiri Upacara Peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali Tahun 2026 yang berlangsung khidmat di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Jumat (14/8/2026).

Peringatan Hari Jadi Provinsi Bali tahun ini mengusung tema “Suci Lascarya Nusa Wijaya”, yang mengandung makna tulus ikhlas untuk kejayaan Bali. Tema tersebut menjadi semangat bersama untuk terus membangun Bali dengan ketulusan, pengabdian, serta memperkuat persatuan dan sinergi seluruh komponen masyarakat.

Upacara turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bali, di antaranya Gubernur Bali, Ketua DPRD Provinsi Bali, Pangdam IX/Udayana, Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Danrem, Ketua Pengadilan Tinggi Bali, Kepala BNN Provinsi Bali, Kabinda Bali, Danlanal, Danlanud, serta sejumlah undangan lainnya.

Dalam rangkaian upacara tersebut, Gubernur Bali menyampaikan pidato peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali, yang menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan pembangunan Pulau Dewata sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga Bali agar tetap aman, damai, maju, berbudaya, dan berkelanjutan.

Kapolda Bali menyampaikan bahwa peringatan Hari Jadi Provinsi Bali bukan hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga momentum untuk semakin memperkuat kebersamaan antara pemerintah daerah, TNI-Polri, seluruh pemangku kepentingan, dan masyarakat dalam menjaga serta membangun Bali.

“Atas nama keluarga besar Polda Bali, saya mengucapkan selamat Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali. Semangat ‘Suci Lascarya Nusa Wijaya’ hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memberikan pengabdian terbaik dengan tulus dan ikhlas demi kejayaan Bali. Polda Bali berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah, TNI, seluruh stakeholder dan masyarakat dalam menjaga keamanan serta menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif sebagai fondasi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Bali,” ujar Kapolda Bali.

Kapolda Bali juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa menjaga persatuan, keharmonisan, adat, budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini menjadi kekuatan Pulau Dewata.

Momentum Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali diharapkan semakin memperkokoh semangat kebersamaan dan gotong royong dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan, sekaligus mewujudkan Bali yang aman, damai, sejahtera dan semakin maju.

“Dirgahayu ke-68 Provinsi Bali. Suci Lascarya Nusa Wijaya — tulus ikhlas untuk kejayaan Bali.”

PALANGKA RAYA || Jejak-indonesia.id – Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan menyalurkan bantuan sosial ke sejumlah panti asuhan di Palangka Raya dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan tersebut menyasar empat panti asuhan, yakni Panti Asuhan Berkah di Jalan G Obos Induk, Panti Asuhan Al Mim di Jalan Semeru, Panti Asuhan Maria Innes di Jalan Rajawali, serta Panti Asuhan Mutiara Bunda di Jalan DA Tawa, Kota Palangka Raya.

Kapolda Kalteng secara langsung mengunjungi Panti Asuhan Berkah didampingi Karo SDM dan Dirbinmas Polda Kalteng, sementara penyaluran bantuan di panti asuhan lainnya dilakukan Wakapolda Kalteng bersama sejumlah pejabat utama Polda Kalteng.

“Bantuan sosial ini merupakan bentuk kepedulian dan perhatian Polri kepada masyarakat, khususnya anak-anak yang berada di panti asuhan,” kata Irjen Pol Iwan Kurniawan.

Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pokok untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari penghuni panti asuhan.

Bantuan tersebut terdiri atas beras, gula, dan minyak yang diserahkan kepada pengelola panti asuhan untuk dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

Kapolda mengatakan momentum peringatan kemerdekaan tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan bangsa, tetapi juga memperkuat kepedulian terhadap sesama.

“Kami berharap bantuan ini dapat bermanfaat dan sedikit membantu memenuhi kebutuhan panti asuhan serta anak-anak yang ada di dalamnya,” ujarnya.

JEMBER || Jejak-indonesia.id — Keluarga besar Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Watoniah menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Letjen TNI Mohammad Fadjar, M.PICT., Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), yang diperingati pada 14 Agustus 2026.

Ucapan tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi atas dedikasi serta pengabdian Letjen TNI Mohammad Fadjar dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai salah satu pemimpin strategis di lingkungan TNI Angkatan Darat.

Melalui pesan yang disampaikan dalam ucapan resmi tersebut, keluarga besar LBH Watoniah mendoakan agar Letjen TNI Mohammad Fadjar senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, keteguhan dan hikmat dalam menjalankan setiap amanah kepemimpinan.

“Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kekuatan, kesehatan prima dan hikmat dalam setiap langkah kepemimpinan serta terus menjadi payung pelindung bagi bangsa dan negara dalam menjalankan setiap tugasnya.”

 

Pangkostrad Letjen TNI Mohammad Fadjar diketahui aktif menekankan pentingnya profesionalisme, soliditas dan kesiapan prajurit dalam menghadapi dinamika tugas. Dalam sejumlah kegiatan Kostrad sepanjang 2026, ia juga mendorong prajurit untuk terus meningkatkan kemampuan serta menjaga jati diri TNI sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional dan tentara profesional.

Kostrad sendiri pada 2026 memperingati HUT ke-65 dengan semangat “Kostrad Prima Mengabdi Untuk Indonesia Maju”, yang menegaskan nilai Profesional, Responsif, Integratif, Modern dan Adaptif (PRIMA) dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.

Sementara itu, Pembina Umum LBH Watoniah, Selamet Solichin (Mbah Semar), bersama seluruh keluarga besar LBH Watoniah turut menyampaikan doa dan harapan agar bertambahnya usia menjadi momentum untuk semakin memperkuat pengabdian, kepemimpinan dan kontribusi bagi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Selamat ulang tahun Letjen TNI Mohammad Fadjar. Semoga senantiasa diberikan umur panjang, kesehatan, kekuatan serta kelancaran dalam mengemban amanah dan menjaga kehormatan bangsa dan negara,” demikian pesan keluarga besar LBH Watoniah.

error: Content is protected !!