Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Peristiwa » Halaman 862

Peristiwa

IMG-20250915-WA0008

Siswa Presentasi Rencana Karier di Depan Orang Tuanya

SURABAYA || jejakindonesia.id - Sebagai orang tua, pernahkah anda duduk berhadapan dengan anak Anda dalam suasana yang agak formal? Lalu anak tersebut mempresentasikan rencana karier dan cita-cita dengan sistematis dan detail? Di SMA SAIM Surabaya, hal tersebut terjadi pada Sabtu (14/9), dalam acara Future Pathways Day.

Ini merupakan salah satu event dari rangkaian kegiatan bimbingan karier yang dilaksanakan sekolah yang berlokasi di Jl. Keputih Tegal 54 tersebut. Setiap siswa kelas 9 SMA SAIM wajib menyusun proposal hidup dilengkapi dengan data potensi diri, plus-minus yang dimiliki, bakat minat, serta impian yang ingin diraih.

Proposal tersebut dikemas dalam tampilan power point maupun aplikasi Canva. Kemudian mereka presentasikan di hadapan kedua orang tua masing-masing -- yang diundang khusus untuk hadir ke sekolah. Maka terlihatlah suasana yang menarik dan agak unik, karena belum lazim dilaksanakan oleh sekolah pada umumnya.

Tampak siswa menjelaskan cita-cita dan langkah-langkah strategis yang akan diambil. Sebagian siswa terlihat berupaya keras untuk meyakinkan orang tuanya dengan menyampaikan argumentasinya. Kemudian beberapa ayah memberikan komentar dan sang ibu juga ikut menyampaikan. Walhasil terjadi dialog intensif antar anggota keluarga tersebut. Untuk memperkuat presentasinya, beberapa siswa mengenakan baju sesuai dengan karier impiannya, misalnya mengenakan baju dokter, baju proyek, hingga berjas dasi ala kaum eksekutif.

“Program bimbingan karier untuk siswa di SM (SMP-SMA) SAIM memang kami prioritaskan, selain pembinaan karakter. Sebab pada akhirnya, yang terpenting memang dua hal itu. Setelah lulus, anak-anak akan membangun karier untuk masa depannya sendiri. Dan untuk sukses harus ditopang dengan karakter yang baik. Jadi dua itu intinya,” kata Direktur SAIM Aziz Badiansyah, M.M.Pd.

Acara presentasi rencana karier tersebut tidaklah berdiri sendiri. Sebelumnya sudah didahului dengan beberapa program terpadu lainnya. Di antaranya siswa mengikuti tes RMIB (Rothwell-Miller Interest Blank) untuk mengukur kecenderungan minatnya terhadap berbagai bidang pekerjaan dan profesi.

Pihak sekolah (guru wali) memantau nilai siswa dan kegiatan yang diminati, serta intensif berkomunikasi dengan orang tua siswa untuk melakukan pengawalan bersama. Siswa juga didorong untuk mengumpulkan portofolio dengan mengikuti lomba atau aktivitas yang dapat mendukung tercapainya karier yang diincar.

Psikolog sekolah SAIM Ust. Meutia Mega Syaputri, S.Psi, M.Psi menjelaskan bahwa SMA SAIM memiliki program magang, satu bulan lamanya. Ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk magang kerja, guna merasakan suasana kerja di bidang yang diminati.

Program Bravery Survival (BS) mendaki gunung hingga berpetualang backpacker ke luar negeri juga dirancang dalam rangka membangun daya juang, ketangguhan mengejar cita, dan menambah wawasan. Demikian juga program entrepreneurship dibuat untuk membangun jiwa wirausaha dan jeli menangkap peluang di tengah kehidupan yang makin kompetitif. (ono)

Teksfoto:
Suasana saat siswa SMA SAIM mempresentasikan rencana kariernya di hadapan orang tua masing-masing.
(Redho)

IMG-20250914-WA0042

Siswa Diktukba Polri SPN Polda Jatim Punguti Sampah di Pasar Mojokerto, Pedagang: “Bikin Hati Adem

MOJOKERTO || jejakindonesia.id – Ratusan pemuda berseragam pendidikan pembentukan Bintara (Diktukba) Polri, di sejumlah sudut Kecamatan Bangsal Mojokerto,dengan semangat membaur bersama warga dalam sebuah aksi nyata yang sarat makna pada Sabtu (13/9/2025).

Mereka adalah 247 Siswa Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) Polri dari Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jatim T.A. 2025, yang tengah mengimplementasikan pelajaran kohesi sosial langsung di jantung masyarakat.

Dipimpin langsung oleh Kepala SPN Polda Jatim, Kombes Pol Agus Wibowo, S.I.K., para calon Bhayangkara negara ini serentak bergerak di Lima titik strategis mencakup 3 rumah ibadah yakni Masjid Mujahidin di Desa Sidulyo, Masjid Al Aziz di Desa Sumbertebu, dan Masjid An Nur di Desa Puloniti.

Selain itu, kegiatan juga menyasar pusat pendidikan agama, Pondok Pesantren Tanwirul Qulub, serta pusat ekonomi kerakyatan, Pasar Sawahan di Desa Sumbertebu.

Didampingi jajaran pengasuh lengkap, mulai dari Kakorsis AKBP Agung Setyono, S.S., M.H., hingga Danyon, Danki, dan para komandan peleton pengasuh, ratusan siswa ini terlihat sigap menyapu halaman masjid, membersihkan lorong pasar, dan menata lingkungan pondok pesantren.

Di sela-sela kerja bakti, mereka juga menyerahkan bantuan sosial berupa paket sembako, kegiatan ini membangun jembatan komunikasi yang hangat dan tanpa sekat.

Kepala SPN Polda Jatim, Kombes Pol Agus Wibowo, S.I.K., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari kurikulum Lemdiklat Polri.

Menurutnya, kohesi sosial bukan sekadar teori, melainkan doktrin yang wajib dipraktikkan.

"Pendidikan ini tidak hanya bertujuan mencetak aparat yang terampil, tetapi yang utama adalah membentuk insan Polri yang humanis dan memiliki kepekaan sosial tinggi," ujar Kombes Pol Agus Wibowo.

Melalui kegiatan itu, Kombes Agus menegaskan SPN Polda Jatim mengajarkan para siswa tentang pelajaran empati yang sesungguhnya.

"Para siswa agar belajar merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat, memahami kesulitan warga, dan menanamkan jiwa bahwa seorang Polisi adalah pelayan dan bagian tak terpisahkan dari masyarakat," tegasnya.

Kombes Agus menambahkan, interaksi langsung ini adalah bekal krusial bagi para siswa sebelum benar-benar diterjunkan bertugas, dengan harapan akan lahir generasi Bhayangkara yang tidak hanya disegani, tetapi juga dicintai karena kepeduliannya.

Di tengah riuh aktivitas jual beli di Pasar Sawahan, kehadiran para siswa ini menjadi oase yang menyejukkan.

Salah satunya dirasakan oleh Bu Yuli, seorang pedagang sayur yang telah belasan tahun menggantungkan hidupnya di pasar tersebut. Wajahnya semringah saat melihat lorong di depan lapaknya menjadi bersih.

"Kaget saya, Mas. Pagi-pagi lihat siswa Polisi banyak sekali bawa sapu, punguti sampah. Biasanya kan lihatnya gagah-gagah di jalan, ini kok mau kotor-kotoran buat kami," tutur Bu Yuli dengan logat Jawa yang kental.

Ia mengaku tak menyangka, selain membersihkan pasar, para siswa juga menghampirinya untuk memberikan paket sembako.

"Pasarnya jadi resik, kami yang jualan jadi nyaman. Eh, malah dikasih sembako juga. Alhamdulillah, sangat membantu sekali. Lihat anak-anak muda begini peduli sama rakyat kecil, rasanya adem hati ini," ucapnya tulus.

Suasana serupa juga terasa di Pondok Pesantren Tanwirul Qulub. Pengasuh pondok, Ustad Roziqin Hafidz, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian yang ditunjukkan Siswa Diktukba Polri SPN Polda Jatim.

"Kami sangat terharu. Kehadiran adik-adik siswa ini membawa energi positif yang luar biasa, mereka menunjukkan teladan tentang disiplin, kerja keras, dan kepedulian. Ini pemandangan yang menyejukkan hati." tutur Ustad Roziqin.

Lebih lanjut, Ustad Roziqin berharap sinergi semacam ini dapat terus berlanjut.

"Melihat calon polisi masa depan mau turun langsung seperti ini, membangun harapan besar di hati kami. Semoga kelak mereka menjadi penegak hukum yang amanah," tutupnya penuh doa.

IMG-20250914-WA0038

Polres Tuban Tutup Mata Terkait Kegiatan Ilegal Mafia Penguras Solar Bersubsidi Di Kecamatan Palang

TUBAN || jejakindonesia.id - Dugaan kongkalikong, antara oknum Aparat Penegak Hukum (APH) di Polres Tuban, dengan mafia penguras Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar, kian kental terasa, terbukti dengan tidak adanya tindakan tegas terhadap pelaku yang sangat merugikan keuangan negara tersebut.

Hal tersebut dapat diketahui lantaran adanya pembiaran serta kesengajaan yang sangat mencolok, yakni adanya pembelanjaan BBM bersubsidi jenis solar di beberapa SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) dengan kuota melebihi ketentuan pembelanjaan melebihi aturan pemerintah serta UU Migas.

Berdalih untuk keperluan nelayan, ketika awak media masuk lebih dalam, guna mencari informasi sebagai pelengkap pemberitaan, alih-alih untuk keperluan nelayan, semua itu hanya akal-akalan belaka. Solar perliter seharga Rp. 6.800,- agar bisa membeli dengan kuota besar, para mafia kongkalikong dengan petugas SPBU, dengan harga diatas ketentuan, kirasan Rp. 7.300 perliter, kemudian dijual kembali dengan harga BBM non subsidi, yakni kisaran Rp. 12.000,- dan tentu saja sudah menjalin "kerja sama" dengan oknum APH agar kegiatan ilegal tersebut dapat dengan lancar beroperasi.

Yang lebih parah lagi ialah perijinan pengambilan atau pembelanjaan BBM bersubsidi jenis solar tersebut mendapatkan rekom dari kepala desa setempat, agar nelayan bisa mendapatkan solar bersubsidi sesuai kebutuhan, tetapi tidak digunakan semestinya, justru dimanfaatkan untuk menguras keuangan negara.

Hingga berita ini ditayangkan, kegiatan ilegal dengan menguras BBM bersubsidi di wilayah Tuban masih babas beroperasi seakan kebal terhadap hukum, serta tabrak peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Redaksi)

IMG-20250914-WA0024

Di Duga Jadi Lahan Bancakan Proyek Irigasi di Kelurahan Lateng

BANYUWANGI || jejakindonesia.id - Proyek irigasi (saluran air) di kelurahan lateng banyuwangi di duga jadi arena bancakan para oknum. Saluran irigasi (saluran air) yang berada di wilayah kelurahan lateng tepatnya di manggisan, di duga sangat kental dengan aroma bancakan para oknum (14/9/2025).

Bisa kita lihat bersama beberapa kejanggalan di lokasi proyek irigasi di kelurahan lateng :

1. Papan proyek tidak di pasang (tidak ada)
2. Terlihat warna pasir berwana coklat di duga banyak campuran tanahnya (lumpur)
3. Terlihat bangunan irigasi yang sudah jadi berwarna coklat, di duga campuran semennya sangat sedikit dan di dominasi pasir bercampur tanah (lumpur)

Dari temuan awal di lapangan sangat terlihat kejanggalan, di duga proyek tersebut tidak sesuai spesifikasi.

Inisial SR alah satu warga lateng yang rumahnya dekat dengan lokasi proyek tersebut mengatakan proyek ini sudah berjalan kok aneh tidak pasang papan CV yang mengerjakan dan saya lihat pasirnya aneh warna coklat, bukan warna hitam seperti warna pasir normal pada umumnya.

"proyek ini sudah berjalan kok aneh tidak pasang papan CV yang mengerjakan dan saya lihat pasirnya aneh warna coklat, bukan warna hitam seperti warna pasir normal pada umumnya". Ungkap SR

Ibu Bupati Banyuwangi tolonglah saya ini rakyat kecil, pembangunan proyek irigasi yang di lateng jangan di kerjakan asal - asalan bu, saya yakin ini oknum - oknum nakal yang bermain, tolong Ibu Bupati tindak tegas oknum yang merugikan rakyatnya njenengan bu. Imbuh SR

Reporter : Rio

IMG-20250914-WA0023

Ditonton Bupati Ipuk, Puluhan Anak Banyuwangi Unjuk Bakat di Festival Band Pelajar

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Sebanyak 29 grup band pelajar unjuk kebolehan di Festival Band Pelajar yang digelar Pemkab Banyuwangi di Banyuwangi Park. Kompetisi musik yang digelar selama dua hari, 13-14 September 2025 ini diikuti 5 band dari SD, 16 dari SMP, serta 8 dari SMA sederajat.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani hadir langsung menyaksikan penampilan para pelajar. Ia tampak antusias menikmati alunan musik sekaligus memberi apresiasi kepada seluruh peserta.

“Selain menikmati bakat mereka, saya mengapresiasi apa yang sudah diupayakan oleh anak-anak kita,” kata Ipuk di lokasi, Sabtu (13/9/2025).

Menurut Ipuk, festival ini menjadi wadah bagi anak-anak yang memiliki hobi bermain musik dan menyanyi. Mereka diberi ruang untuk tampil dan menyalurkan bakatnya.

Setiap peserta juga diarahkan untuk membawakan lagu daerah dan lagu nasional. Agar mereka tetap mencintai kekayaan musik daerah sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap lagu kebangsaan.

“Tadi ada yang pakai lagu Banyuwangi, ada yang pakai lagu nasional. Jadi, walaupun mereka kita fasilitasi, tapi tetap kita atur agar mereka cinta lagu lokal Banyuwangi dan juga cinta lagu nasional,” kata Ipuk.

Ditambahkan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, Suratno, ajang ini bagian dari mengasah skill non-akademik siswa, termasuk musik.

“setiap tahun kita gelar, karena memang antusiasme yang tinggi dari pelajar. Bahkan dari level SD saja sudah ada 5 band yang ikut. Akan kita gelar rutin,” kata Suratno.

Sementara itu, dari 29 grup band pelajar yang ikut, ada salah satu peserta dari SMA di Kabupaten Situbondo. “Semoga tahun depan akan lebih banyak lagi pesertanya. Kita akan coba undang di daerah-daerah lain agar bisa ikut serta,” ujarnya.

Salah satu peserta, Laili Suci (18) dari SMAN 1 Glagah yang tergabung dalam Ganesha Band, membawakan lagu Banyuwangi berjudul “Kembang” ciptaan almarhum Koming.

Laili mengaku senang karena festival ini memberi wadah untuk berekspresi. Sebelumnya, ia juga pernah menjuarai lomba Festival Gending Using tahun 2023 yang digelar Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfo) Banyuwangi.

“Senang sekali, dimana kita semua calon-calon musisi mendapatkan wadah buat mengekspresikan karya-karya kami, dan juga bisa menampilkan bakat-bakat kami,” katanya.

Peserta lain, Dinda Atifa (17) dari SMAN 1 Purwoharjo bersama Aby Akta Band, membawakan lagu nasional “Berkibarlah Bendera Negeriku”. Mereka menyiapkan penampilan ini selama sebulan sebelum tampil di panggung.

“Festival ini sangat bermanfaat, karena bisa mengasah bakat dari anak-anak seperti kami yang suka bermusik,” ujarnya. (*)

error: Content is protected !!