Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Opini » Halaman 19

Opini

IMG-20260415-WA0006

Jusuf Kalla Tokoh Perdamaian

Jejak-indonesia.id || Rekam jejak Jusuf Kalla dalam menyelesaikan berbagai konflik di tanah air harus diapresiasi, kita harusnya bersyukur dan bangga punya figur tokoh bangsa sekaliber Jusuf Kalla dalam hal perdamaian dan persatuan bangsa, amanah JK inilah yang perlu kita jaga dan lestarikan dalam menghadapi berbagai konflik horizontal di Bangsa ini.

Bagaimana mungkin JK ingin memecah belah bangsa ini sementara JK adalah juru kunci perdamaian konflik Ambon, Poso Dan Aceh, coba kita bayangkan kalau tidak ada sosok JK dalam perdamaian konflik Ambon, Poso Dan Aceh, apa jadinya daerah-daerah itu sekarang, hancur ?, atau masih dalam konflik yang berkepanjangan ?

Sebagai anak Maluku, saya tentu bangga dengan sosok Pak JK dalam menyelesaikan konflik di Maluku, tanpa pak JK Maluku tidak seperti sekarang, mungkin masih dalam bayangan-bayang konflik dan pertikaian.

Jadi bagi mereka yang tidak paham substansi ceramah, rekam jejak dan perjuangan Pak JK, jangan dipolitisir ceramah Pak JK, saya yakin Pak JK tidak ada tujuan menyudutkan agama lain, yang Pak JK sampaikan dalam ceramahnya adalah pengalaman empirik Pak JK dan fakta sosiologis yang mendasari konflik SARA di Ambon Dan Poso.

Salam Hormat.
Korneles Galanjinjinay.
Ketum GMKI 2018-2020.
Waketum Parkindo 2021-2026.

IMG-20260406-WA0049

Misteri Gunung Ghaib Wentira: Jejak Keluarga, Sejarah Perjuangan, dan Ikatan Tak Terpisahkan

Jejak-indonesia.id - Suasana hening dan sejuk menyelimuti kawasan Gunung Ghaib Wentira, sebuah wilayah yang dikenal sarat nilai mistis sekaligus menyimpan jejak sejarah panjang. Di tengah hamparan hutan yang asri, tersimpan kisah keterkaitan erat antara keluarga Datuk Karamah Mangge Rante, yang disebut sebagai Raja Wentira, dengan sejumlah tokoh dan keluarga pejuang bangsa.

Kedekatan tersebut terlihat dari hubungan intens dengan keluarga besar Manggerante, termasuk sosok Ibu Agus Flores Marta yang disebut kerap berkunjung dan menjaga silaturahmi. Ikatan ini bukan sekadar hubungan sosial, tetapi diyakini berakar dari sejarah perjuangan masa lalu.

Dalam penuturan yang beredar, disebutkan bahwa seorang komandan polisi asal Nusa Tenggara Timur, Andrias Ade, pernah menjadikan kediaman Datuk Karamah sebagai tempat singgah saat menjalankan misi penumpasan gerakan Permesta dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Kebersamaan mereka disebut dilandasi semangat yang sama sebagai pejuang Merah Putih.

Tak hanya itu, kawasan Wentira juga dikaitkan dengan pembangunan infrastruktur penting di masa lalu. Lima jembatan di wilayah yang dikenal sebagai kawasan keramat tersebut disebut dibangun dengan keterlibatan perusahaan BUMN PT Adhi Karya, dengan peran arsitek dari R. Kusnandar Sunyoto Hadinoto yang memiliki latar belakang keluarga besar institusi kepolisian.

Kisah ini semakin kuat dengan fakta bahwa pada masa kecil, keluarga Agus Flores termasuk ayah, ibu, dan kakaknya pernah tinggal di barak kebun kopi kompleks Wentira. Lingkungan tersebut menjadi saksi perjalanan hidup yang berkelindan antara nilai keluarga, sejarah perjuangan, dan nuansa spiritual yang hingga kini masih melekat di kawasan tersebut.

Gunung Ghaib Wentira bukan sekadar tempat dengan panorama alam yang menenangkan, tetapi juga ruang yang menyimpan lapisan cerita antara fakta sejarah, tradisi, hingga keyakinan yang hidup di tengah masyarakat.

IMG-20260318-WA0038

Suasana Lebaran Yang Semakin Terasa Berubah

Jejak-indonesia.id || Opor ayam, rendang dan ketupat serta skubal hingga dodol buatan nenek sendiri dahulu menjadi bagian dari menu sajian perayaan lebaran, baik pada Hari Raya Idhul Fitri maupun saat merayakan Hari Raya Idhul Adha yang sering disebut juga dalam istilah Lebaran Haji atau Hari Raya Besar. Tapi entah bagaimana cerita dan prosesnya sekarang justru hari raya Idhul Fitri yang jadi begitu meriah dan marak berderak para pemudik menuju ke kampung halaman. Agaknya, pergeseran perayaan lebaran Idhul Adha jadi kalah semarak dibanding perayaan hari raya Idhul Fitri, tampaknya akibat dari ulah dan sikap para masyarakat urban di perkotaan yang menjadikan semacam "hukum wajib" untuk mudik ke kampung halaman lebih suka memilih waktu hari raya Aidhul Fitri ketimbang Hari Raya Idhul Adha. Sehingga waktu liburan resmi dari berbagai lembaga dan instansi pemerintah ikutan memberi waktu khusus untuk merayakan gari raya Idhul Fitri dalam beberapa hari sebelum dan sesudahnya.

Dahulu pun, perayaan hari raya -- saat masih di kampung -- suasana yang semarak dan meriah pun tak hanya ditandai oleh beragam menu panganan, tapi juga baju baru, seperangkat alat sholat yang baru. Bahkan untuk pakaian saat perayaan hari raya pun serba baru dan bertebaran wewangin tak hanya pada pakaian, tetapi juga untuk semua ruangan dan peralatan.

Pendek kata, suasana sakral bertebaran nuansa spiritual sangat terasa kental sepanjang hari lebaran, mulai dari persiapan sholat Idh hangga acara saling kunjung ke rumah tetangga sekitar tempat tinggal sampai kepada sanak keluarga dan saudara yang berada di kampung sebelah.

Suasana lebaran seperti itu sungguh masih tersisa sampai akhir tahun 1980-an..artinya, sejak kisaran 40 tahunan, suasana itu sudah berubah sampai sekarang yang pasti tidak lagi dialami oleh generasi yang lahir sejak tahun 1990 sampai sekarang. Begitulah nostalgia yang tersisa dalam ingatan. Lantaran tak lagi bisa dinikmati atau bahkan untuk sekedar dilihat. Sebab video yang merekam pergeseran budaya semacam itu, mungkin dianggap semacam peristiwa biasa, bagian dari proses perjalan waktu yang akan terus meninggalkan hal-hal yang dianggap tidak praktis dan mungkin juga tidak ekonomis dalam persepsi generasi hari ini yang juga tengah membangun budaya baru dalam persepsi mereka yang dianggap lebih baik dansesuai dengan selera dan perkembangan zaman.

Tradisi dan budaya untuk saling bermaaf-maafanpun tak lagi terkesan familiar dan abdol. Apalagi kemudian, muncul semacam trand baru yang disebut open house, pertemuan santai hampir dilakukan setiap mereka yang mampu untuk menyediakan beragam panganan dan minuman, sambil berkelakar tentang banyak hal, termasuk masalah politik dan ekonomi yang tengah menjadi topik pembicaraan banyak orang, mulai dari skala lokal hingga nasional dan internasional seperti perang yang tengah.memvara di Timur Tengah.

Apalagi untuk topik yang sedang mendongder negeri kita ini tentang beban ekonomi yang semakin berat terus diancam oleh kenaikan harga BBM dan gas, sehingga rakyat semakin terkesan panik.untuk siap beralih kepada banyak hal yang serba listrik. Hingga kesan terhadap kehadiran kendaraan listrik -- baik yang beroda dua, tidak tiga dan beroda empat hingga lebih -- segera dapat beralih kepada listrik. Namun masalahnya, bagaimana dengan yatlrof listrik, sungguhkah dapat dijamin tidak ikut menggeliat naik, seperti BBM ?

Maka berbarengan dengan suasana yang tengah mengguncang dunia -- penuh rasa khawatir terjadi krisis pangan -- maka suasana lebaran pun, tampaknya akan lewat seperti angin lalu. Oleh karena itu, kecenasan dalam kebahagiaan merayakan hari raya lebaran terasa semakin berbeda dari tahun-tahun sebelumnya bagi saya. Tapi mungkin berbeda menurut perasaan Anda.

Banten, 18 Maret 2026

IMG-20260316-WA0035

Doa Sang Ibu di Balik Perjalanan Sang Perwira Putra Daerah Banyuwangi: Kisah AKP Nurmansyah yang Menginspirasi

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id - Di balik setiap keberhasilan seorang anak, selalu ada doa tulus yang tak pernah putus dari seorang ibu. Kalimat sederhana itu tampaknya sangat tepat menggambarkan perjalanan hidup seorang putra daerah Banyuwangi yang kini mengemban amanah sebagai perwira kepolisian, AKP Nurmansyah, S.H., M.H.

Perjalanan hidup seorang anak menuju kesuksesan tidak pernah berdiri sendiri. Ada tangan-tangan yang membimbing, ada pengorbanan yang sering kali tidak terlihat, dan ada doa yang terus mengalir tanpa henti dari seorang ibu yang berharap anaknya kelak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang.

Bagi masyarakat Banyuwangi, nama AKP Nurmansyah bukan sekadar seorang perwira polisi. Ia adalah sosok putra daerah yang tumbuh dari lingkungan masyarakat sederhana, ditempa oleh nilai-nilai keluarga, serta didorong oleh semangat untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.

Namun di balik perjalanan panjang tersebut, ada satu sosok yang sering kali tidak terlihat di balik layar—seorang ibu yang dengan penuh kesabaran membesarkan, mendidik, serta mengiringi langkah anaknya dengan doa yang tidak pernah berhenti.

Sejak kecil, AKP Nurmansyah dikenal sebagai pribadi yang tekun dan memiliki tekad kuat untuk meraih cita-cita. Di tengah keterbatasan yang mungkin pernah dihadapi, sang ibu menjadi sumber kekuatan yang terus memberikan semangat. Doa demi doa dipanjatkan, berharap agar anaknya kelak mampu menjadi pribadi yang sukses, berintegritas, dan membawa manfaat bagi masyarakat.

Bagi seorang ibu, keberhasilan anak bukan sekadar tentang jabatan atau pangkat. Lebih dari itu, seorang ibu berharap anaknya mampu menjaga nama baik keluarga, menjunjung tinggi nilai kejujuran, serta menjadi pelindung bagi masyarakat yang membutuhkan.

Perjalanan menjadi seorang perwira kepolisian tentu bukan hal yang mudah. Dibutuhkan disiplin, pengorbanan, serta komitmen tinggi terhadap tugas dan tanggung jawab. Dalam setiap langkah perjalanan itu, doa seorang ibu menjadi penguat yang tidak terlihat namun sangat terasa.

Banyak orang percaya bahwa doa seorang ibu adalah salah satu kekuatan terbesar dalam kehidupan seorang anak. Doa itu yang sering kali membuka jalan di saat kesulitan datang, memberi ketenangan ketika ujian menghadang, serta menjadi cahaya yang menuntun langkah menuju masa depan yang lebih baik.

Kini, ketika AKP Nurmansyah telah mengemban amanah sebagai seorang perwira, perjalanan hidupnya tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda di Banyuwangi. Bahwa mimpi besar dapat diraih oleh siapa saja, selama ada kerja keras, ketekunan, serta doa yang tulus dari orang tua.

Kisah ini juga menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa di balik sosok-sosok yang berdiri tegak di garis depan pengabdian, selalu ada keluarga yang setia mendoakan dari kejauhan.

Seorang ibu mungkin tidak pernah meminta balasan atas pengorbanannya. Cukup melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab, serta mampu memberikan manfaat bagi orang lain—itulah kebahagiaan terbesar yang bisa dirasakan.

Pada akhirnya, perjalanan hidup AKP Nurmansyah adalah bukti bahwa doa seorang ibu tidak pernah sia-sia. Ia menjadi kekuatan yang terus hidup, mengiringi langkah anaknya dalam setiap pengabdian, serta menjadi bagian dari kisah perjalanan seorang putra daerah Banyuwangi yang terus berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Di balik seragam dan tanggung jawab besar yang kini diembannya, selalu ada doa seorang ibu yang diam-diam menjadi pondasi dari setiap langkah pengabdian tersebut.

IMG-20260312-WA0088

Ajakan Aspirasi Indonesia Untuk Melakukan Tobat Nasuha Nasional

Jejak-indonesia.id - Acara ngobrol menjelang waktu berbuka puasa ramadhan bersama, pada hari Rabu 25 Februari 2026 di Sekretariat Aspirasi Indonesia, Jl. Pati N0. 26, Menteng, Jakarta Pusat, untuk menyelenggarakan acara Tobat Nasuha Nasional, telah dipastikan akan berlangsung pada 15 Maret 2026 di Gedung Dewan Dakwah Iskamiyah Indonesia ( DDII), Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Demikiam ungkap Wati Salam Ketua Aspirasi Indonesia pads acara buka puasa bersama para anggotanya dan panitia penyelenggara acara yang dimaksudkan juga untuk mendesak pemerintah memasukkan deklarasi yang dinyatakan pada 15 Maret 2022 masuk dalam kalender serta menjadi hari libur nasionai pada setiap 15 Maret saat deklarasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang Anti Islamophobia itu dinyatakan secara resmi dan telah bergaung disejumlah negara, termasuk Indonesia.

Acara Tobat Nasuha Nasional yang melibatkan sejumlah tokoh dan pemuka agama ininyang juga dimaksudkan memperingati hari Anti Islamophobia ini, Asourasi Indonesia akan membagikan bingkisan leberan kepada sekitar 300 anak yatim piatu.

Acara yang akan dimulai pada pukul 10.00 pagi, akan diisi acara dialog -- jika mungkin sikap bersama untuk Pertobatan Nasuha dalam skala nasional ini seperti pada waktu bersamaan akan dilakukan juga di Yogyakarta dalam bentuk pawai yang akan dipimpin langsung oleh tokoh agama masyarakat Yogya, Kiyai Sukri Fadholi, kata Wati Salam.

Menurut pernyataan resmi Panitia Pelaksana acara Tobat Nasuha Nasional, kegiatan ini untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, merekatkan ukhuwah serta mendorong kesadaran kolektif sebagai wujud tanggung jawab moral untuk memperbaiki nilai kebangsaan secara bersana seluruh warga masyarakat.

Tobat Nasuha -- sebagai wujud pertobahan yang serius serta dengan kesadaran penuh -- mengakui kesalan atau sejedar pembiaran terhadap beragam kerusakan yang terjadi, tak hanya sebatas fisik untuk diperbaiki secara bersama sebagai wujud dan rasa tanggung jawab moral untuk tidak diulangi atau tidak kemvali dibiarkan kembali berlangsung yang seperti yang telah banyak menimbulkan kerusakan serta kerugian bagi orang banyak.

Hakikat dari tobat naduhu secara nasional ini adalah ajakan kedadaran membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah dilakukan, terutama yang sengaja dikakukan, termasuk kesalahan hingga kelalaian yang telah terjadi tergadap bangsa dan negara ini.

Yang tidak kalah penting dari tobat nasuha ini dalam perspektif spiritual adalah pengakuan pada kesalahan secara jujur dan rendah hati untuk berjanji pada diri sendiri, bahwa semua kesalahan dan kekekituan hingga kealfaan serta sikap abai terhadap kesakahan dan kerusakan yang terjadi -- tidak kecuali yang dilakukan sendiri atau yang dikakukan oleh orang lain -- harus dan wajib dicegah bersama secara nadional untuk tidak lagi terjadi di negeri ini.

 

Menteng, 11 Maret 2026

error: Content is protected !!