We're open Closes at 5:00 pm

mbah semar

Profesi Wartawan Bukan Dijadikan Tameng Untuk Praktik Kriminal, Mbah Semar: Jangan Kotori dan Rugikan Profesi Mulia 

Banyuwangi, Jejak - Indonesia.id || Dugaan praktik pemerasan yang dilakukan oleh oknum yang mengaku sebagai wartawan kembali mencoreng dunia pers. Sejumlah SPBU di Provinsi bali, mengaku pernah didatangi oleh oknum wartawan yang menuduh mereka melakukan kesalahan SOP penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM), lalu menjadikannya alasan untuk meminta sejumlah uang secara tidak sah.

Selamet Solichin, akrab dengan sapaan Mbah Semar Pimpinan Umum Media Online Jejak - Indonesia.id mengatakan, Wartawan adalah pilar demokrasi, bukan alat untuk menekan atau memeras demi kepentingan pribadi.

”Profesi wartawan adalah ujung tombak penyampaian informasi yang benar, adil, dan berpihak pada kepentingan publik. Namun belakangan ini, sejumlah oknum justru mencoreng nama baik jurnalisme dengan perilaku tidak etis, hingga pemerasan."Ujarnya. Rabu (11/3/26)

Fenomena ini membuat banyak pihak khawatir. Masyarakat pun diminta lebih waspada dan tidak mudah percaya pada setiap orang yang mengaku sebagai wartawan.

Tak sedikit oknum bermodal Kartu Tanda Anggota (KTA) dari organisasi tak jelas dan media abal-abal menyusup ke kantor pejabat maupun pelaku usaha. Alih-alih melakukan peliputan, mereka justru melakukan tekanan atau ancaman.

Oknum wartawan yang melakukan pemerasan bisa terjerat Pasal 368 KUHP: Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman untuk memberikan sesuatu, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.

Pasal 310 dan 311 KUHP: Jika dalam proses pemerasan juga dilakukan pencemaran nama baik atau fitnah melalui media.

UU Pers No. 40 Tahun 1999 Pasal 7 Ayat 2: Wartawan memiliki dan tunduk pada Kode Etik Jurnalistik. Jika disalahgunakan, Dewan Pers dapat memberikan sanksi etik, dan pelanggaran berat dapat diproses pidana.

“Saya tidak ingin profesi wartawan dijadikan tameng untuk praktik kriminal. Jurnalis sejati adalah tentang kejujuran, integritas, dan keberpihakan pada kebenaran. Wartawan yang benar tidak memeras, tetapi menyampaikan informasi yang berimbang, memverifikasi data, dan memberi ruang pada semua pihak."Ujar Mbah Semar.

Masyarakat pun berhak mendapatkan informasi yang bisa dipercaya. Untuk itu, jangan ragu menolak dan melaporkan oknum wartawan yang menyalahgunakan profesi.

(red)

Banyuwangi, Surga Alam di Ujung Timur Jawa Yang Eksotis

Banyuwangi, Jejak - Indonesia.id || Kabupaten Banyuwangi di ujung timur Pulau Jawa selama satu dekade terakhir kerap disebut sebagai salah satu daerah dengan perkembangan pariwisata paling pesat di Indonesia. Keindahan alamnya yang beragam, mulai dari pegunungan hingga pesisir selatan yang eksotis, menjadikan daerah ini magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Salah satu ikon alam Banyuwangi adalah Gunung Ijen yang terkenal dengan fenomena api biru atau blue fire. Fenomena langka tersebut menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata alam paling unik di dunia. Ribuan wisatawan setiap tahun mendaki kawahnya untuk menyaksikan keajaiban alam tersebut.

Tak jauh dari sana, kawasan Taman Nasional Alas Purwo menawarkan bentang hutan tropis yang masih relatif terjaga. Kawasan konservasi ini juga dikenal sebagai habitat berbagai satwa liar sekaligus menjadi destinasi wisata alam dan spiritual bagi sebagian masyarakat.

Di pesisir selatan, panorama Pantai Pulau Merah menjadi salah satu ikon pariwisata. Pantai dengan pasir kemerahan ini populer di kalangan peselancar dan wisatawan yang mencari suasana pantai yang alami.

Pembangunan dan Transformasi Daerah

Perubahan wajah Banyuwangi tidak lepas dari kebijakan pembangunan yang mendorong sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta digitalisasi pelayanan publik. Pada masa kepemimpinan mantan bupati Abdullah Azwar Anas, Banyuwangi dikenal aktif mempromosikan berbagai festival budaya dan inovasi pelayanan publik.

Strategi tersebut berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan serta menggerakkan sektor ekonomi lokal, mulai dari usaha kecil, penginapan, hingga industri kreatif masyarakat.

Namun, pembangunan daerah tentu tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan investasi, berbagai isu juga muncul di ruang publik, mulai dari persoalan tata ruang, konflik lahan, hingga aktivitas ekonomi yang menuai sorotan.

Tambang dan Catatan Lingkungan

Di balik keindahan alamnya, Banyuwangi juga menyimpan cerita lain yang tak jarang menjadi perbincangan masyarakat, yakni aktivitas pertambangan. Salah satu yang paling dikenal adalah kawasan Tambang Emas Tumpang Pitu di wilayah selatan Banyuwangi.

Tambang tersebut telah lama menjadi perdebatan antara kepentingan investasi, pembangunan daerah, dan kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap dampak lingkungan.

Selain aktivitas pertambangan berskala besar, warga juga kerap menyoroti keberadaan tambang-tambang kecil yang diduga beroperasi tanpa izin resmi di sejumlah wilayah. Isu tambang ilegal ini sering muncul dalam percakapan masyarakat, terutama terkait dampak lingkungan dan penegakan hukum.

Pengamat lingkungan menilai bahwa pengawasan terhadap aktivitas pertambangan perlu terus diperkuat agar tidak merusak ekosistem yang menjadi kekuatan utama Banyuwangi sebagai daerah pariwisata.

Dinamika Hukum dan Sosial

Sebagai daerah yang berkembang pesat, Banyuwangi juga tidak lepas dari berbagai dinamika sosial dan hukum. Sejumlah kasus hukum, polemik kebijakan, hingga kritik masyarakat terhadap kebijakan pemerintah daerah sesekali menjadi sorotan media.

Dalam konteks demokrasi lokal, kritik dan pengawasan publik menjadi bagian penting agar pembangunan berjalan transparan dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

Aktivis sosial di Banyuwangi menilai bahwa pembangunan ekonomi harus tetap menjaga keseimbangan antara investasi, kelestarian lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat lokal.

Banyuwangi dan Harapan ke Depan

Dengan kekayaan alam yang dimiliki, Banyuwangi memiliki modal besar untuk terus berkembang sebagai daerah pariwisata unggulan. Keindahan alam, budaya Osing yang masih terjaga, serta potensi ekonomi kreatif menjadikan daerah ini memiliki masa depan yang menjanjikan.

Namun, seperti banyak daerah berkembang lainnya, Banyuwangi juga dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara pembangunan, investasi, penegakan hukum, dan kelestarian alam.

Pada akhirnya, di balik segala dinamika tersebut, Banyuwangi tetap dikenal sebagai daerah dengan pesona alam luar biasa, sebuah wilayah di ujung timur Jawa yang terus berbenah, menjaga citra bahwa Banyuwangi adalah daerah yang maju, terbuka, dan tetap berpijak pada kekuatan alam serta masyarakatnya. (Sober)

Srikandi Yakuza Maneges Berbagi Takjil Ramadan, Wujud Kepedulian Sosial di Tengah Masyarakat

Banyuwangi, Jejak - Indonesia.id ||  Semangat berbagi di bulan suci Ramadan ditunjukkan oleh Srikandi Yakuza Maneges melalui kegiatan sosial yang digelar oleh Yakuza Maneges dan Komunitas Pejuang Jalanan (KPJ) Banyuwangi.

Dalam kegiatan tersebut, ratusan paket takjil dibagikan kepada masyarakat pengguna jalan di depan Kantor Pemeritah Daerah (PEMDA). Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 100, Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Senin (9/3/26)

Kegiatan berbagi takjil yang dibagikan oleh srikandi Yakuza Maneges Banyuwangi itu mendapat sambutan antusias dari masyarakat yang melintas.

Para pengendara sepeda motor, mobil, hingga warga sekitar tampak menerima paket takjil dengan penuh rasa syukur untuk persiapan berbuka puasa.

Salah satu Srikandi Yakuza Maneges Banyuwangi, Rini Setiawati, mengatakan bahwa kegiatan berbagi takjil ini merupakan bentuk kepedulian Yakuza Maneges dan KPJ Banyuwangi terhadap masyarakat, khususnya di bulan Ramadan yang penuh berkah.

“Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian kami kepada masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa. Semoga takjil yang kami bagikan dapat membantu masyarakat yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka tiba,” ujarnya.

Menurut Rini, momentum Ramadan menjadi kesempatan bagi seluruh anggota Yakuza Maneges dan KPJ Banyuwangi untuk lebih dekat dengan masyarakat melalui kegiatan sosial yang sederhana namun memiliki makna kebersamaan yang kuat. (red)

Bakti Sosial Saka Bhayangkara Polres Kendal

Kenda,  Jejak - indonesia.id ||  Dalam rangka menyemarakkan Ramadhan 1447H/ 2026, Ikatan Alumni Saka Bhayangkara Kepolisian Resort Kendal bekerjasama dengan anggota Saka Bhayangkara Kepolisian Resort Kendal, melaksanakan Bakti Sosial Ramadhan berupa pembagian Takjil Ramadhan. Kegiatan dilaksanakan pada Minggu (8/3/2026) berlokasi di Dukuh Kalijaran Desa Sidorejo Kec.Brangsong, dihadiri oleh 45 orang anggota untuk mendistribusikan takjil. Kegiatan pembagian takjil juga sekaligus sebagai ajang untuk mengajak warga agar tertib beralu lintas, khususnya untuk menggunakan Helm selama bekendara.

Kegiatan Bakti Sosial Ramadhan merupakan rangkaian program kerja Pengurus Ikatan Alumni Saka Bhayangkara (Ikasabhara) Polres Kendal selama Bulan Ramadhan, diataranya dengan dilaksanakannya Tadarus Al Quran 30 Juz, Khotmil Quran dan Buka Puasa Bersama, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Ikatan Alumni Saka Bhayangkara (Ikasabhara) Polres Kendal, Lilik Wiyar.

Lebih lanjut Lilik menyampaikan bahwa kegiatan Bakti Sosial Ramadhan merupakan bagian dari upaya melaksanakan Tri Bina Pramuka, yakni Bina Diri, Bina Satuan dan Bina Masyarakat juga sebagai bentuk pencerminan dari Tri Sayta dan Dasa Dharma Pramuka. Lilik juga menyampaikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan bersama antara anggota aktif Saka Bhayangkara Polres Kendal bersama dengan Ikatan Alumni Saka Bhayangkara (Ikasabhara) Polres Kendal, juga merupakan bentuk kolaborasi dan upaya menjalin silaturakhim antar anggota.

Sebagaimana disampaikan oleh Novita, Pramuka Garuda anggota Saka Bhayangkara Polres Kendal bahwa kegiatan semacam ini juga merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat dan dapat memupuk lebih dalam rasa Cinta Tanah Air dan kasih sayang kepada sesama manusia, sebagaimana tertuang dalam Dasa Dharma Pramuka.(M)

Yunus Wahyudi : Yakuza Maneges Berbagi Takjil Bersama Komunitas Pejuang Jalanan (KPJ), Kekompakan Kunci Utama.

Banyuwangi, Jejak-indonesia.id ||  Yakuza Maneges bersama Komunitas Pejuang Jalanan (KPJ) Berbagi takjil di depan kantor pemerintahan banyuwangi. Kegiatan ini bukan hanya sekadar sedekah makanan, tetapi merupakan sarana efektif untuk meningkatkan solidaritas, kebersamaan, dan kekompakan tim, baik dalam organisasi, komunitas, maupun lingkungan kerja, menumbuhkan rasa gotong royong dan kepedulian sosial yang mempererat tali silaturahmi. Senin (9/3/26).

Yunus Wahyudi Harimau Blambangan sekaligus Ketua Yakuza Maneges dan Komunitas Pejuang Jalanan (KPJ) banyuwangi, mengatakan berbagi takjil di bulan suci ramadan suatu kunci untuk Mempererat Silaturahmi Menjadi wadah bagi anggota organisasi dengan masyarakat untuk berkumpul dan berinteraksi secara positif demi satu tujuan mulia, "terangnya.

Yunus menjelaskan, berbagi takjil juga bisa Membangun Jiwa Korsa dan Soliditas dan Mengajarkan pentingnya bekerja sama antar elemen—seperti aparat, pemuda, dan tokoh masyarakat—untuk menjaga keharmonisan lingkungan,"ungkapnya.

Menanamkan Kepedulian Sosial Menjadi sarana dakwah nyata dan pendidikan karakter untuk peka terhadap sesama tanpa membedakan latar belakang,"tambah Yunus.

"Harmoni dalam Keberagaman Merangkul perbedaan di tengah masyarakat melalui semangat berbagi kebahagiaan di bulan Ramadan.

Penerapan Nilai Pancasila dalam Kegiatan berbagi takjil ini mencerminkan pengamalan Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) dengan memperkuat kesadaran nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Allhamdulillah Acara berbagi takjil berjalan lancar dan aman, Yakuza Maneges dan Komunitas Pejuang Jalanan (KPJ) Banyuwangi tetap berkomitmen menjadi Kondusifitas setiap kegiatan yang dilakukan,"pungkas Yunus Wahyudi sang Harimau Blambangan.

(Red)

error: Content is protected !!