Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Redaksi

OPINI: Transparansi PBJT Pasuruan: Hak Rakyat, Bukan Sekadar Angka di Kertas

OPINI: Transparansi PBJT Pasuruan: Hak Rakyat, Bukan Sekadar Angka di Kertas

Oleh: Pengamat Kebijakan Publik & Masyarakat Sipil Pasuruan (Aliansi poros tengah)

Di balik meja kayu jati yang mengilap di ruang audiensi, dan di balik pagar besi dingin Kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Pasuruan, tersimpan satu pertanyaan yang sama-sama mendesak: Ke mana perginya uang rakyat?

Belakangan ini, sorotan publik kembali menyorot Bapenda Kabupaten Pasuruan. Dinamika ini memanas setelah Aliansi Poros Tengah, sebuah koalisi masyarakat sipil yang konsisten mengawal akuntabilitas fiskal, melontarkan tuntutan keras: Buka data rinci penerimaan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT), khususnya dari sektor tenaga listrik.

Perjalanan tuntutan ini tidak instan. Ia bermula dari dialog-diolog tertutup yang sering kali berujung pada jawaban normatif birokrasi, hingga akhirnya memuncak menjadi aksi damai di depan kantor Bapenda. Pergeseran dari "audiensi di balik meja" menuju "aksi di balik pagar" bukan sekadar perubahan taktik demonstrasi, melainkan indikator kegagalan komunikasi antara pemegang amanah dan pemberi amanah.

PBJT: Lebih dari Sekadar Pos Pendapatan Bagi sebagian birokrat, PBJT mungkin hanya terlihat sebagai baris angka dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA). Namun, bagi warga Pasuruan, PBJT adalah keringat dan kerja keras. Setiap kali tagihan listrik dibayar, sebagian nominal tersebut adalah pajak yang secara hukum dialokasikan untuk kembali ke masyarakat—untuk jalan yang lebih mulus, lampu penerangan yang menyala, atau bantuan sosial bagi yang prasejahtera.

Masalahnya, transparansi yang ditawarkan selama ini bersifat agregat. Masyarakat hanya diberi tahu total pendapatan, tanpa bedah anatomi: berapa kontribusi riil dari sektor kelistrikan? Bagaimana mekanisme reconcile antara tagihan pelanggan dengan setoran ke kas daerah? Apakah ada kebocoran di tengah jalan?

Ketidaktersediaan data granular (rinci) ini menciptakan apa yang disebut Aliansi Poros Tengah sebagai "kotak hitam" fiskal. Dalam tata kelola pemerintahan modern, kotak hitam adalah musuh utama kepercayaan publik

Sikap tertutup Bapenda Kabupaten Pasuruan memicu spekulasi yang merugikan institusi itu sendiri. Publik bertanya: Apakah keterbukaan data dianggap sebagai ancaman? Ataukah sistem pencatatan internal masih terlalu rapuh untuk diuji oleh mata awam yang kritis?

Menyembunyikan data rinci bukanlah strategi perlindungan, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap prinsip clean government. Dalam demokrasi fiskal, warga negara memiliki hak konstitusional untuk mengetahui (right to know) bagaimana uang mereka dikelola. Ketika hak ini dibatasi, yang tumbuh bukanlah kepatuhan, melainkan kecurigaan.

Aliansi Poros Tengah tidak sedang mencari kesalahan untuk dijatuhkan, melainkan mencari kejelasan untuk diperbaiki. Tuntutan mereka adalah cermin bagi Bapenda: jika Anda bersih, mengapa takut transparan? Jika sistem Anda rapi, mengapa ragu membukanya?

Transparansi Adalah Harga Mati
Kabupaten Pasuruan berhak mendapatkan pemerintahan yang tidak hanya efisien, tetapi juga jujur. Aksi damai di depan Bapenda adalah alarm kewaspadaan. Ini adalah pesan jelas bahwa masyarakat sipil tidak lagi puas dengan narasi "semua baik-baik saja" di atas kertas.

Pemkab Pasuruan, melalui Bapenda, harus segera merespons dengan langkah konkret:

1. Publikasi Data Rinci: Membuka data penerimaan PBJT per sektor, per bulan, dan per sumber pemungut dalam format yang mudah diakses publik (open data).

2. Audit Partisipatif: Melibatkan elemen masyarakat sipil dalam pengawasan alur penerimaan pajak daerah.

3. Dialog Substantif: Menggantikan defensivitas birokrasi dengan keterbukaan intelektual dalam menjawab keraguan publik.

Jika Bapenda terus memilih diam dan tertutup, mereka bukan hanya kehilangan kredibilitas, tetapi juga memicu erosi kepercayaan sosial yang dampaknya jauh lebih mahal daripada sekadar kerugian fiskal.

Rakyat Pasuruan tidak butuh janji manis di atas podium. Mereka butuh bukti bahwa setiap rupiah pajak yang mereka bayar dihormati, dihitung dengan benar, dan dikembalikan untuk kemakmuran bersama.

Kunci transparansi kini ada di tangan Bapenda Kabupaten Pasuruan. Bukalah pintunya, sebelum kepercayaan rakyat terkunci selamanya oleh rasa kecewa.

Catatan: Opini ini disusun berdasarkan dinamika sosial terkini terkait tuntutan akuntabilitas publik di Kabupaten Pasuruan.

Tumpeng Sewu Kemiren, Bupati Ipuk: Simbol Kekuatan Gotong Royong dan Budaya Banyuwangi

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id - Warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, kembali menggelar tradisi Tumpeng Sewu, Kamis malam (21/5/2026). Ribuan warga maupun wisatawan domestik maupun mancanegara memadati sepanjang jalan desa, untuk menikmati makan tumpeng bersama dalam suasana guyub dan penuh kebersamaan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang turut hadir menikmati tumpeng bersama masyarakat itu menilai, tradisi ini menjadi salah satu simbol kekuatan budaya lokal yang dimiliki Banyuwangi. Menurutnya, tradisi masyarakat Osing tersebut mencerminkan kuatnya nilai gotong royong yang terus dijaga hingga kini.

“Ini adalah bagian kekuatan lokal yang akan terus kita promosikan. Budaya gotong royong seperti ini tidak dimiliki semua daerah. Ini merupakan kelebihan Desa Kemiren yang harus terus dilestarikan,” ujar Ipuk.

Ipuk mengapresiasi komitmen masyarakat Osing Kemiren yang terus menjaga tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman. Menurut Ipuk keterlibatan warga yang secara sukarela menyiapkan ribuan tumpeng untuk dinikmati bersama menjadi bukti kuatnya solidaritas sosial masyarakat.

Tumpeng Sewu merupakan ritual turun-temurun masyarakat Osing sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Tradisi ini rutin digelar setiap tahun sepekan sebelum Hari Raya Idul Adha.

Dalam pelaksanaannya, warga menyajikan ribuan tumpeng lengkap dengan lauk khas Osing berupa pecel pitik dan lalapan. Pecel pitik merupakan olahan ayam kampung panggang dengan parutan kelapa dan bumbu khas Osing yang menjadi menu wajib dalam tradisi tersebut.

Tak hanya warga lokal, wisatawan juga ikut menikmati suasana kebersamaan yang tercipta selama acara berlangsung.

“Beruntung saya bisa menjadi bagian dari tradisi ini. Makanannya enak, cocok di lidah. Masyarakatnya juga sopan dan ramah. Saya senang bisa ke sini,” kata Adam, wisatawan asal Republik Ceko.

Pengunjung asal Semarang, Ati, juga mengaku terkesan dengan kerukunan masyarakat Kemiren.

“Warganya rukun dan guyub. Masakannya juga lezat. Tadi sampai nambah dua kali,” ujarnya.

Sebelum prosesi makan bersama dimulai, warga terlebih dahulu menggelar ritual Ider Bumi dengan mengarak barong mengelilingi desa. Barong diberangkatkan dari dua arah berbeda, timur dan barat, lalu bertemu di depan Balai Desa Kemiren.

Warga kemudian menggelar doa bersama untuk memohon keselamatan serta dijauhkan dari bencana dan penyakit.

Rangkaian tradisi juga diisi ritual mepe kasur dan Mocoan Lontar Yusup semalam suntuk. Tradisi pembacaan naskah kuno tentang kisah Nabi Yusuf tersebut diyakini sebagai bentuk selamatan dan tolak bala.

“Ini merupakan wujud syukur kami kepada Allah atas limpahan rezeki selama satu tahun, sekaligus doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindarkan dari bala,” ujar Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin.

Pelestarian budaya yang konsisten membuat Desa Kemiren mendapat berbagai penghargaan nasional hingga internasional. Pada 2025, desa tersebut meraih The 5th ASEAN Homestay Award dalam ajang ASEAN Tourism Award di Malaysia.

Di tahun yang sama, Desa Kemiren juga masuk jaringan desa wisata terbaik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain itu, desa ini meraih juara II Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 kategori Kelembagaan dan SDM dari Kementerian Pariwisata RI.

Diskusi Rutin Kamis-Senin GMRI Disambangi Sultan Saladin dan Permaisuri Dari Keraton Kanoman Cirebon

CIREBON || Jejak-indonesia.id - Pertemuan rutin Kamis-Senin GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia), 21 Mei 2026 dikunjungi secara khusus Sultan Saladin dan permaisuri dari Kesultanan Kanoman, Cirebon. Acara ngobrol santai meluas ke berbagai sektor terkait dengan pemerintah, termasuk nilai dollar yang melonjak hingga kecemasan dari fenomena gerhana bulan pada bulan ramadhan lalu yang dibaca Sultan Salatin sebagai isyarat yang harus menjadi perhatian dan kewaspadaan bersama, untuk diantisipasi oleh semua pihak agar tidak sampai menimbulkan kerugian dan menelan korban.

Tentang pemahaman spiritual, Sultan Saladin menginformasikan masih banyak Orang yang beranggapan bahwa spiritual itu klenik. Padahal, orang mencari ilmu dan belajar itu pun bagian dari laku spiritual. Artinya, sosialisasi tentang pengertian dan pemahaman spiritual masih diperlukan agar nilai-nilai yang terpenting dari spiritualitas itu, bisa menghantar bangsa dan negara Indonesia menjadi mercu suar yang menerangi dunia.

Topik diskusi informal GMRI sempat merespon kenaikan dollar yang menekan nilai rupiah. Dan untuk dapat menghadang pengaruh dollar yang cenderung terus melonjak, akan lebih efektif dan strategis bila pemerintah membuka sebanyak mungkin lapangan kerja sehingga uang bisa beredar dalam masyarakat. Pendapat dan saran ini selaras dengan gagasan Sri Eko Sriyanto Galgendu agar pemerintah tidak memperbanyak hari libur. Sebab hari libur artinya akan mengurangi mobilitas dan aktivitas warga masyarakat. Akibatnya, perputaran uang atau ekonomi juga menjadi terhambat. Tidak berputar, alias libur juga, kata pengusaha yang menekuni kuliner sejak 15 tahun silam di kawasan ring satu Istana Negara ini.

Meski begitu, seloroh Sultan Saladin saat menerima telepon dari seorang sahabat dari Jawa Tengah, ia mengatakan bahwa manusia yang paling merdeka di negeri ini adalah Mas Eko, kata Sultan yang biasa bertutur begitu sapaannya kepada Pemimpin Spiritual Nusantara yang semakin berkibar-kibar namanya karena begitu aktif tampil di berbagai acara, utamanya podcast politik yang panas.

Begitulah kata Sultan Saladin, bahwa manusia yang paling merdeka di negeri ini ada adalah Sri Eko Sriyanto Galgendu, ujarnya ketika menjawab seloroh Mas Gagu dalam pembicaraan santai lewat telepon genggamnya.

Bayar utang Kereta Cepat 540 milyar setiap bulan jelas menyedot dana perawatan fasilitas kereta api, sehingga kecelakaan kereta api di Bekasi sungguh tidak masuk akal, sebab 15 menit sebelumnya sudah bisa diketahui dan bisa diantisipasi oleh petugas pengawas bidang pemantauan.

Topik diskusi rutin informal GMRI kali ini pun meluas hingga masalah fasilitas publik di negeri kita ini yang kurang baik dan kurang bagus, misalnya dibanding dengan fasilitas publik di Negara Vietnam yang relatif lebih baik, menurut Sultan Saladin kerena menang pernah touring mengendarai motor hingga ke ujung wilayah perbatasan Vietnam dengan negara China. Dalam perjalanan sepanjang 400 kilometer, nyaris tidak ada jalan yang berlubang, kata Sultan Saladin yang dibenarkan oleh sang permaisuri yang selalu setia mendampingi seperti kehadiran mereka berdua ke Sekretariat GMRI sambil menyantap bakso Pak Botak yang gurih karena racikan kaldu dari kuahnya yang khas. Seperti minuman segar beras kencur dingin atau yang panas.

Pada akhirnya, topik diskusi memuncak pada sosol ideal seorang pemimpin di Indonesia yanh harus dan mutlak memiliki sifat dan sikap yang bijaksana. Sehingga kebijakan yang dilakukan bisa diterima oleh rakyat, karena kebijakan yang dilakukan dapat selaras dengan lingkungan dan aspirasi serta kehendak rakyat.

Pendapat tentang sikap seorang pemimpin yang bijak itu, diakui oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu tidak mudah dilakukan. Apalagi untuk mereka yang terlanjur merasa lebih senior atau tua dalam pengertian usia, enggan untuk menerima pendapat mereka yang lebih muda, apalagi harus menerima kritik atau sekedar saran.

Diskusi yang juga terkesan mengumbar kangen dan curhat ini, sungguh tidak terasa sudah lebih dari tiga jam, hingga topik kelahiran, kepemimpinan sampai kematian jadi bahasan. Terutama terkait dengan lahan pemakaman dan biaya yabg tidak murah. Apalagi pada waktu belakangan ini ada wacana kavling di pekuburan akan dikenakan pajak. Artinya, beban hidup rakyat memang semakin berat, karena tetap harus menanggung biaya anggota keluarga yang meninggal dunia.

Pecenongan, 21 Mei 2026

Lapas Banyuwangi Resmikan Kelurahan Pakis Jadi Wilayah Binaan, Hadirkan Cek Kesehatan Gratis hingga Bansos

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi secara resmi membuka program Kelurahan Binaan. Program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat ini merupakan pengejawantahan dari gagasan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.

Dalam program perdana ini, Lapas Banyuwangi menunjuk Kelurahan Pakis sebagai kelurahan binaan. Prosesi pembukaan program dipusatkan di Lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi yang terletak di Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi, dan diresmikan langsung oleh Kepala Lapas Banyuwangi, Solichin, Kamis (21/5).

Pada acara peresmian tersebut, Lapas Banyuwangi menghadirkan serangkaian kegiatan sosial yang menyasar warga sekitar, mulai dari pemeriksaan kesehatan gratis, penyuluhan, hingga pembagian bantuan sosial (bansos).

Kepala Lapas Banyuwangi, Solichin menyatakan bahwa program ini menjadi bukti konkret perluasan peran institusi pemasyarakatan di tengah masyarakat. Menurutnya, fungsi lembaga pemasyarakatan kini telah meluas.

"Kegiatan ini adalah bukti nyata bahwa pemasyarakatan telah meluaskan fungsinya. Kami tidak hanya fokus membina para pelanggar hukum di dalam lapas, namun lebih luas lagi, kehadiran kami harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas," ujar Solichin dalam sambutannya.

Solichin merinci, beragam agenda yang dipusatkan di SAE Paswangi ini meliputi cek kesehatan gratis, penyuluhan pertanian, penyuluhan hukum, penyuluhan kesehatan, serta penyaluran bantuan sosial.

Guna menyukseskan jalannya acara dan memastikan edukasi tersampaikan dengan baik, Lapas Banyuwangi menerjunkan langsung dokter dari Klinik Lapas serta penyuluh pertanian, dengan didampingi langsung oleh pihak kelurahan setempat.

Melalui program terintegrasi ini, Solichin berharap masyarakat dapat merasakan dampak positif dan kegunaan fasilitas lapas secara langsung. Di sisi lain, ia juga mengajak warga sekitar untuk ikut serta menjaga dan mendukung program pembinaan kemandirian yang berjalan di SAE Paswangi.

"Kami berharap masyarakat mampu merasakan manfaat langsung dari kehadiran kami. Kami juga memohon dukungan dari warga sekitar untuk menyokong segala kegiatan pembinaan yang ada di SAE Paswangi ini agar terus berkembang," imbuhnya.

Langkah humanis yang diinisiasi oleh Lapas Banyuwangi ini mendapatkan sambutan hangat dari jajaran pemerintah daerah setempat. Lurah Pakis, Moch Farid Isnaini, menyampaikan apresiasi yang mendalam sekaligus ungkapan terima kasih atas dipilihnya wilayah Kelurahan Pakis sebagai kelurahan binaan.

"Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Lapas Banyuwangi atas kepercayaan penuh menunjuk Kelurahan Pakis. Kami berharap, kepedulian yang luar biasa ini mampu memberikan dampak nyata yang dapat dirasakan langsung kesejahteraannya oleh warga kami," tutur Farid.

Ditemukan Mayat Sopir di Dalam Mobil Trailer di Kawasan Industri CBA Jawilan, Polisi Pastikan Tak Ada Tanda Kekerasan

SERANG || Jejak-indonesia.id – Sebuah peristiwa duka terjadi di Kawasan Industri CBA, Desa Jawilan, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, pada Kamis pagi, 21 Mei 2026. Seorang pria berusia 33 tahun ditemukan meninggal dunia di dalam kabin mobil trailer yang diparkir di lingkungan perusahaan PT Indopurnace. Korban diketahui bekerja sebagai sopir dan teridentifikasi atas nama Asep Yudisutira bin almarhum Kamsari, warga Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak.

Penemuan mayat tersebut pertama kali diketahui oleh petugas keamanan atau security perusahaan bernama Anwar Wadhyudi Permana. Sekitar pukul 06.47 WIB, Anwar hendak meminta sopir yang ada di dalam mobil untuk memindahkan kendaraannya, namun saat mendekati kabin, ia melihat sosok pria tergeletak kaku dalam posisi terlentang dan masih bersarung. Ia segera mengecek keadaan korban dan memastikan bahwa orang tersebut sudah tidak bernyawa.

Mendapati kondisi tersebut, Anwar tidak berani melakukan tindakan apa pun dan segera melaporkannya kepada Suryadi, salah satu karyawan perusahaan. Tak lama kemudian, Suryadi melaporkan temuan itu ke pihak kepolisian, tepatnya ke Polsek Jawilan.

Mendapat laporan, jajaran Polsek Jawilan yang dipimpin langsung oleh Kanit Reskrim IPDA Arief Rifai, M.M., segera bergerak menuju lokasi kejadian. Bersama tim dari Satreskrim Polres Serang, termasuk petugas identifikasi dan INAFIS, mereka tiba di tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan penanganan awal.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari sejumlah saksi, terungkap bahwa pada malam harinya, sekitar pukul 21.00 WIB, korban masih terlihat sehat dan mengobrol santai bersama rekan-rekan sopir lainnya di area parkir perusahaan. Setelah berbincang cukup lama, korban dikabarkan masuk ke dalam mobil untuk beristirahat dan tidur.

Beberapa keterangan juga menyebutkan bahwa korban sempat mengeluh merasa tidak enak badan atau "masuk angin" kepada rekan kerjanya, namun ada juga yang menyatakan tidak mendapati korban mengeluh sakit sama sekali. Sementara itu, dari keterangan keluarga, diketahui bahwa korban memang sering mengalami keluhan masuk angin setelah bekerja dan biasa meminta dikerok untuk meredakan rasa tidak nyamannya.

Di dalam kabin mobil tempat korban ditemukan, petugas kepolisian juga menemukan sejumlah barang yang kemudian diamankan sebagai barang bukti, antara lain bekas pembakaran obat nyamuk, botol bekas minuman yang dipotong, sisa buah pisang, serta makanan ringan. Selain itu, di dalam tas milik korban juga ditemukan sejumlah obat-obatan yang biasa dikonsumsi masyarakat umum seperti Bodrex, Neo Remacyl, Freshcare, serta obat yang sudah diminum seperti Mixargic. Barang pribadi lainnya seperti dompet dan ponsel juga ditemukan di lokasi.

Setelah melakukan pengamanan TKP, pendataan, dan pendokumentasian, jenazah korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Banten untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil visum luar yang dilakukan tim medis, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan fisik maupun luka-luka pada seluruh bagian tubuh korban. Diperkirakan, kematian korban terjadi sekitar 6 hingga 8 jam sebelum dilakukan pemeriksaan, atau berkisar antara pukul 22.00 hingga 24.00 WIB malam sebelumnya.

Menanggapi hasil pemeriksaan tersebut, pihak keluarga korban menyatakan keinginannya untuk tidak dilakukan proses otopsi lebih lanjut. Mereka pun menyerahkan surat pernyataan penolakan secara resmi dan memohon agar jenazah segera diserahkan untuk dimakamkan. Pihak keluarga juga menyatakan bahwa kejadian ini dianggap sebagai musibah semata dan tidak akan menuntut pihak mana pun terkait peristiwa ini.

Memperhatikan keinginan keluarga dan hasil pemeriksaan yang tidak menunjukkan adanya unsur pidana, jenazah pun akhirnya diserahkan kembali kepada pihak keluarga untuk diurus proses pemakamannya sesuai dengan adat dan agama yang dianut.

Kapolsek Jawilan, AKP Erwan Nurwanda, S.E., menyampaikan bahwa pihak kepolisian telah melakukan seluruh prosedur penanganan kejadian sesuai standar operasional yang berlaku. "Kami telah melakukan langkah-langkah penanganan secara lengkap, mulai dari pendataan, pemeriksaan saksi, hingga pemeriksaan medis. Dari seluruh hasil yang diperoleh, tidak ditemukan indikasi adanya tindak kejahatan, sehingga kami menghormati keinginan keluarga untuk segera mengurus pemakaman," ungkap AKP Erwan saat dikonfirmasi.

error: Content is protected !!