Sorry, we're closed Opens today at 9:00 am

Tahun: 2026

Banyuwangi Luncurkan Coastal Resilience Initiatives, Program Kolaborasi Restorasi Pesisir Berkelanjutan

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Memiliki garis pantai salah satu terpanjang di Indonesia dengan 175,8 kilometer, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, meluncurkan program Coastal Resilience Initiatives untuk menjaga ekosistem pesisir dengan kolaborasi banyak pihak.

Program ini kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Pemprov, Pemkab, pelaku usaha, dunia pendidikan, hingga masyarakat dalam penyelamatan ekosistem pesisir. Peluncuran dilakukan di Pusat Latihan Pertempuran Marinir (Puslatpurmar) 7 Lampon, kawasan Pantai Lampon, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Senin (27/7/2026).

Direktur Pembinaan Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Amehr Hakim, yang hadir dalam peluncuran tersebut mengatakan program ini sejalan dengan program Kementerian KKP dalam prinsip kebijakan ekonomi biru.

"Ada lima pilar di dalamnya. Mulai memperluas kawasan konservasi, penangkapan ikan terukur, budidaya berkelanjutan, pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta laut bebas dari sampah," kata Amehr.

Turut hadir dalam peluncuran Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, jajaran direksi PT BSI dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), perwakilan Pempprov Jatim, tokoh masyarakat Lampon, akademisi, hingga jajaran Forkopimda Banyuwangi.

Amehr menyebut Coastal Resilience Initiatives nantinya akan menjadi embrio yang bisa diterapkan ke daerah lain.

"Kita harapkan selain Banyuwangi, bisa kita lebarkan lagi ke pesisir utara dan selatan Jawa Timur," sambung dia.

Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menambahkan, Banyuwangi telah mempraktikkan pengelolaan laut yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat. Bahkan pertengahan Juli lalu, negara-negara ASEAN dan Pasifik dalam ASEAN-ID Blue datang ke Banyuwangi untuk berbagi pengalaman pengembangan ekonomi biru.

"Dengan kolaborasi banyak pihak, mulai perusahaan seperti PT BSI dan ditambah dukungan dari Kementerian KKP. Kami percaya kelestarian ekosistem laut dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat," kata Wabup.

Direktur Utama PT BSI Adi Adriansyah Sjoekri menerangkan, program Coastal Resilience Initiatives merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ketangguhan pesisir melalui keseimbangan antara konservasi lingkungan pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.

Ada 6 inisiatif dalam program tersebut. Di antaranya penanaman mangrove, pelestarian hutan pantai, transplantasi terumbu karang, pengembangan ekowisata, peningkatan pendapatan nelayan, dan penguatan kelembagaan nelayan agar lebih mandiri.

"Sehingga fokusnya bukan hanya pada peningkatan kualitas lingkungan, namun juga peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir," tegas Adi.

BSI menargetkan lebih dari 60 hektare terumbu karang dipulihkan, dan merehabilitasi 200 hektare mangrove serta 17,5 hektare hutan pantai. Saat peluncuran, mereka telah mengawali dengan penanaman puluhan bibit cemara di bibir Pantai Lampon. (*)

Dari Mal Orang Sehat hingga Konsultasi WA 24 Jam, Inovasi Kesehatan Banyuwangi Dipaparkan di Forum Nasional

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Berbagai terobosan program kesehatan yang dilakukan Banyuwangi, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani diundang di forum kesehatan nasional Leimena Conference di Jakarta, Senin (27/7/2026). Di forum yang digagas Kementerian Kesehatan itu, Ipuk diminta memaparkan berbagai inovasi Banyuwangi dalam memperkuat Integrasi Layanan Primer (ILP) berbasis puskesmas.

Ipuk berbicara di sesi leaders talk yang dibuka langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus ini, bersama sejumlah kepala daerah. Di antaranya Walikota Bandung Muhammad Farhan dan Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani, dan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta

“Kami menyadari ada banyak keterbatasan di daerah kami. Mulai dari fiskal, SDM hingga infrastruktur. Hal ini tidak membuat kami patah hati, tapi justru termotivasi untuk membuat inovasi penguatan layanan kesehatan primer,” ungkap Ipuk.

Salah satu inovasi yang dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi adalah dengan serangkaian tindakan preventif di level puskesmas. Di antaranya adalah menjadikan puskesmas sebagai Mall Orang Sehat, dan yang terbaru adalah melengkapinya dengan konsultasi kesehatan gratis online 24 jam nonstop.

Mal Sehat adalah program mendorong warga untuk memeriksakan kesehatan ke puskesmas secara rutin, dimana warga didorong untuk memeriksa kesehatan tanpa harus menunggu sakit sehingga bisa dilakukan pencegahan lebih awal.

“Seberapapun anggarannya tidak akan cukup jika untuk menyembuhkan. Tapi, dengan tindakan preventif, setidaknya akan mengurangi beban pembiayaan kesehatan. Ini sudah dilakukan Banyuwangi sejak 2018. Dan kini semakin senang karena sinergi dengan program pusat CKG (Cek Kesehatan Gratis),” papar Ipuk.

Selain itu, juga dilakukan preventif pendukung lainnya. Seperti satgas stunting untuk peningkatan gizi ibu hamil dan balita, rantang kasih untuk peningkatan gizi warga miskin sebatang kara dan lain sebagainya.

“Kami juga berupaya untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat yang aksesnya terbatas. Seperti Jemput Bola Rawat Warga yang mendatangi warga terpencil, menyiapkan armada berbasis di desa yang bisa berfungsi layaknya ambulance dan lain sebagainya,” terangnya.

Yang terbaru, imbuh Ipuk, adalah Oasis Wangi, sebuah layanan konsultasi online gratis lewat Whatsapp dari nakes untuk perawatan kesehatan keluarga di rumah yang digagas bersama Noora Health.

“Layanan ini sudah dilaunching Pak Menkes pekan lalu. Warga bisa berkonsultasi gratis 24 jam nonstop dan langsung di-handle oleh petugas kesehatan. Sangat mudah, karena konsultasinya lewat WA,” beber Ipuk.

“Kami membagi habis tugas di tingkat Puskesmas, sekaligus juga menambah insentif untuk meningkatkan kesejahteraan nakes,” pungkas Ipuk.

Langkah-langkah inovatif Banyuwangi tersebut mendapat apresiasi dari Wamenkes Dokter Benjamin. Menurutnya, peningkatan beban di Puskesmas adalah indikator penanganan kesehatan yang tepat. “Artinya, upaya preventif di tengah masyarakat sudah berjalan dengan baik,” tegas Dokter Benjamin.

Perlu diketahui, Leimena Conference merupakan forum kesehatan nasional yang menghadirkan para pegiat kesehatan dari seluruh Indonesia. Menghadirkan juga para ahli kesehatan dunia. Konferensi ini guna menghormati pahlawan nasional Dokter Johannes Leimena yang pernah menjadi menteri kesehatan yang merupakan pencetus Puskesmas di masa kepemimpinannya. (*)

Refleksi 30 Tahun Kudatuli di Banyuwangi, Sonny T. Danaparamita Gaungkan Semangat Demokrasi

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Tiga dekade telah berlalu sejak peristiwa 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Tragedi Kudatuli. Namun, bagi sebagian masyarakat, peristiwa tersebut bukan sekadar lembaran sejarah yang tersimpan di buku, melainkan pengingat penting tentang perjalanan panjang demokrasi di Indonesia.

Semangat itulah yang terasa di Rumah Aspirasi GARASI (GriyA Rajut AspiraSI), Banyuwangi, Senin (27/7/2026). Dalam suasana hangat dan penuh refleksi, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Sonny T. Danaparamita mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami sejarah sebagai bekal menjaga kehidupan demokrasi di masa depan.

Menariknya, forum ini mempertemukan dua generasi dalam satu ruang dialog. Para kader senior dan saksi sejarah berbagi pengalaman dengan anak-anak muda yang lahir bertahun-tahun setelah peristiwa Kudatuli terjadi. Percakapan yang terbangun bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ruang belajar agar nilai-nilai demokrasi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dalam kesempatan tersebut, Sonny menegaskan bahwa Tragedi Kudatuli merupakan bagian dari perjalanan sejarah bangsa yang perlu dipahami sebagai pelajaran agar praktik kekerasan dan pengekangan terhadap kebebasan berdemokrasi tidak kembali terulang.

"Tragedi Kudatuli bukan sekadar catatan sejarah, melainkan tragedi kemanusiaan dan menjadi pengingat penting bagi bangsa agar demokrasi terus dijaga," ujar Sonny.

Ia menjelaskan, peringatan 30 tahun Kudatuli yang digelar PDI Perjuangan merupakan bentuk refleksi sejarah, bukan untuk memelihara permusuhan atau dendam masa lalu. Menurutnya, semangat yang dibangun adalah menjaga ruang demokrasi agar tetap berpijak pada penghormatan terhadap hak-hak masyarakat.

Bagi generasi muda, forum tersebut menjadi kesempatan mendengar langsung pengalaman para senior yang pernah merasakan dinamika kehidupan politik pada masa itu. Salah satunya disampaikan Prayogi Adi Pratama, kader muda PDI Perjuangan Banyuwangi.

Menurut Prayogi, generasi yang lahir setelah 1996 hanya mengenal Kudatuli melalui buku, arsip, maupun cerita. Karena itu, mendengar kesaksian langsung dari pelaku sejarah menjadi pengalaman berharga untuk memahami pentingnya kebebasan berpendapat dan demokrasi.

Diskusi juga dihadiri akademisi asal Banyuwangi, Sahru Romadhoni. Ia memaparkan pandangan historis mengenai peristiwa 27 Juli 1996 berdasarkan berbagai referensi dan dokumen sejarah yang telah dipublikasikan.

Selain pemaparan akademik, sejumlah saksi sejarah turut berbagi pengalaman mengenai situasi sosial dan politik yang mereka alami saat itu. Dialog tersebut menjadi ruang edukasi agar generasi muda memahami pentingnya menjaga mekanisme demokrasi, termasuk budaya kritik dan keseimbangan kekuasaan dalam kehidupan berbangsa.

Usai mengikuti refleksi di GARASI, Sonny melanjutkan agenda serupa di wilayah Bondowoso dan Situbondo sebagai bagian dari rangkaian peringatan di daerah pemilihannya, Jawa Timur III.

Menutup kegiatan, Sonny menegaskan bahwa nilai-nilai yang dipetik dari perjalanan sejarah akan terus menjadi pijakan dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota DPR RI, khususnya dalam fungsi pengawasan terhadap kebijakan publik agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat, kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial.

"Sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur III, saya berkomitmen menjalankan amanah masyarakat Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso dengan sebaik-baiknya serta terus mengawal kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat," tutup Sonny. (***)

Dandim 0825/Banyuwangi Hadiri Peluncuran Coastal Resilience Initiatives, Langkah Besar Jaga Pesisir dari Ancaman Abrasi

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id - Peluncuran program Coastal Resilience Initiatives oleh PT Bumi Suksesindo (BSI) di Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur) Marinir 7 Lampon, Dusun Ringinsari, Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, Senin (27/7/2026), menjadi momentum penguatan kolaborasi dalam menjaga ketahanan wilayah pesisir Banyuwangi. Kegiatan tersebut dihadiri Dandim 0825/Banyuwangi Letkol Arm Triyadi Indrawijaya, S.H., M.I.P., Wakil Bupati Banyuwangi Ir. Mujiono, jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direksi PT BSI, unsur TNI-Polri, Forkopimka, serta para pemangku kepentingan. Program ini bertujuan melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi dan banjir rob sekaligus memulihkan ekosistem mangrove, hutan pantai, serta terumbu karang.

Dandim 0825/Banyuwangi Letkol Arm Triyadi Indrawijaya, S.H., M.I.P., menyampaikan bahwa ketahanan wilayah tidak hanya berkaitan dengan aspek pertahanan, tetapi juga mencakup kemampuan menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya melindungi masyarakat. Menurutnya, pesisir yang terjaga akan memberikan manfaat besar bagi keberlangsungan kehidupan warga sekaligus memperkuat ketahanan daerah terhadap dampak perubahan iklim. Dandim juga mengapresiasi inisiatif PT BSI yang menggandeng pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat dalam mewujudkan program pelestarian pesisir secara berkelanjutan. "Sinergi seluruh pihak menjadi kunci agar upaya rehabilitasi mangrove, perlindungan pantai, dan pemulihan terumbu karang dapat memberikan manfaat nyata bagi generasi sekarang maupun yang akan datang," ujarnya.

Rangkaian kegiatan diisi dengan pemaparan program restorasi pesisir yang meliputi rehabilitasi 200 hektare mangrove, pemulihan lebih dari 60 hektare terumbu karang, pengembangan wisata pesisir, hingga pemberdayaan masyarakat. Acara kemudian dilanjutkan dengan peluncuran simbolis Coastal Resilience Initiatives, penanaman pohon bersama, serta foto bersama sebagai bentuk komitmen seluruh pihak dalam membangun kawasan pesisir Banyuwangi yang tangguh, aman, dan berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor.

Kobarkan Semangat “Kami Tidak Akan Lupa”, Sonny T. Danaparamita Ajak Lintas Generasi Banyuwangi Bangkit Kawal Demokrasi!

​BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id  – Energi perjuangan dan semangat pantang menyerah begitu terasa mewarnai Rumah Aspirasi GARASI (GriyA Rajut AspiraSI) di Banyuwangi, Senin (27/7/2026). Bertepatan dengan peringatan 30 Tahun Tragedi 27 Juli 1996 (Kudatuli), Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T. Danaparamita, hadir langsung membakar semangat masyarakat lintas generasi untuk berani menjaga tegaknya kedaulatan rakyat dan menolak keras kembalinya watak otoritarianisme di Bumi Pertiwi.

​Dalam forum yang sarat nilai sejarah tersebut, Sonny dengan lantang dan tegas menggaungkan pesan perjuangan: "Kami Tidak Akan Lupa". Menurutnya, penyerangan terhadap kantor sah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) oleh kekuasaan otoriter yang menunggangi aparatur negara tiga dekade silam, tidak boleh sekadar menjadi kenangan, melainkan harus menjadi api pengingat yang terus menyala bagi bangsa Indonesia.

​"Tragedi Kudatuli bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan dan wujud nyata pembunuhan terhadap demokrasi. Kami tidak akan lupa pada peristiwa tersebut!" ungkap Sonny dengan penuh ketegasan di hadapan warga Banyuwangi yang memadati GARASI.

​Sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri, Sonny menegaskan bahwa peringatan ini digelar bukan untuk meratapi masa lalu atau merawat dendam. Sebaliknya, momentum ini adalah deklarasi komitmen baja untuk memastikan agar kesewenang-wenangan negara dan penindasan terhadap rakyat kecil tidak akan pernah terulang kembali di masa depan.

​Energi Baru Generasi Muda dan Ketegasan Akademisi

​Acara refleksi ini menjadi kian istimewa karena berhasil menyatukan semangat tokoh lintas generasi. Kehadiran anak-anak muda yang menolak buta sejarah menjadi energi tersendiri bagi perjuangan demokrasi di Banyuwangi.
​Prayogi Adi Pratama, seorang Kader Muda PDI Perjuangan Banyuwangi, memaknai pertemuan ini sebagai panggilan jiwa bagi generasinya.

"Sebagai kader yang lahir pasca-kerusuhan 27 Juli 1996, kami hanya dapat membaca berdasarkan sejarah yang tertulis. Kami juga ingin mendengarkan testimoni para senior partai yang merasakan langsung bagaimana pembungkaman-pembungkaman dan hilangnya kebebasan dalam berdemokrasi terjadi pada masa itu. Semangat mereka adalah amunisi kami hari ini!" tutur Prayogi dengan antusias.

​Menyambung gelora kesejarahan tersebut, Sahru Romadhoni, seorang akademisi Banyuwangi, turut memaparkan fakta tak terbantahkan. Ia menegaskan bahwa berbagai dokumen sejarah telah membuktikan secara nyata bahwa peristiwa Kudatuli murni lahir dari watak kekuasaan yang menindas—sebuah praktik kelam dari rezim Orde Baru yang tidak boleh diberi ruang untuk bangkit kembali.

Kesaksian para saksi sejarah di forum tersebut tentang beratnya tekanan hidup dan hilangnya kebebasan semakin membulatkan tekad yang hadir. Tujuannya jelas: generasi muda harus menjadi garda terdepan untuk melawan penguasa yang anti-kritik dan berupaya mematikan prinsip check and balances.

​Aksi Nyata untuk Masyarakat Tapal Kuda

​Ruh perjuangan 27 Juli ini tidak hanya digaungkan Sonny di satu titik. Sebelum menggembleng semangat di GARASI, Sonny terlebih dahulu mengikuti rangkaian acara di kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Banyuwangi. Sebagai wakil rakyat, ia juga memastikan api perjuangan "Kami Tidak Akan Lupa" ini berkobar merata dengan melaksanakan kegiatan serupa di Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Situbondo.

Bagi Sonny, semangat perlawanan terhadap ketidakadilan masa lalu harus bertransformasi menjadi kerja-kerja politik dan konstitusional yang nyata, berani, dan berpihak pada rakyat di parlemen saat ini.

​"Sebagai anggota Fraksi PDI Perjuangan, saya akan menggunakan peristiwa 27 Juli ini sebagai landasan dan energi utama saya dalam melakukan fungsi pengawasan! Segala kebijakan publik harus dan wajib berpihak pada kemanusiaan, demokrasi, kesejahteraan rakyat, demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," tegasnya.

Menutup kegiatan yang membakar semangat juang tersebut, Sonny kembali mengikat janji suci pengabdiannya kepada masyarakat di daerah pemilihannya.

​"Sebagai anggota DPR RI dari Dapil Jawa Timur III, saya akan menjalankan tugas dan kewajiban saya selaku Wakil Rakyat yang telah diberikan amanah oleh masyarakat yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso!" pungkas Sonny, diiringi gemuruh semangat para hadirin.

error: Content is protected !!