Sorry, we're closed Opens Rabu at 9:00 am

Tahun: 2026

Ketum Fast Respon Apresiasi Langkah Antisipasi Dini Kapolda Kalteng dalam Pencegahan Karhutla

KALIMANTAN TENGAH || Jejak-indonesia.id – Ketua Umum Fast Respon Seluruh Indonesia, Agus Flores, memberikan apresiasi atas langkah antisipasi dini yang dilakukan Kapolda Kalimantan Tengah, Irjen Pol. Iwan Kurniawan, dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah.

Menurut Agus Flores, pencegahan merupakan strategi paling efektif dalam meminimalkan risiko terjadinya karhutla yang setiap tahun menjadi ancaman serius, terutama saat musim kemarau. Dengan luasnya kawasan hutan di Kalimantan, kewaspadaan sejak dini dinilai menjadi faktor utama untuk mencegah munculnya kebakaran berskala besar.

"Antisipasi dini lebih baik daripada penanggulangan. Sekecil apa pun titik api harus segera diwaspadai dan ditindaklanjuti agar tidak berkembang menjadi kebakaran besar yang berdampak pada lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga perekonomian," ujar Agus Flores dalam keterangannya, Kamis (30/7/2026).

Ia menilai kepemimpinan Irjen Pol. Iwan Kurniawan menunjukkan komitmen kuat dalam mengedepankan langkah-langkah preventif melalui deteksi dini, kesiapsiagaan personel, patroli rutin di wilayah rawan, serta membangun sinergi dengan TNI, pemerintah daerah, instansi terkait, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan seluruh elemen masyarakat.

Menurut Agus, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada kemampuan memadamkan api, tetapi juga pada kemampuan mencegah munculnya titik api sejak awal. Karena itu, koordinasi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian hutan.

Lebih lanjut, Agus Flores menyebut alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1994 tersebut tidak hanya memiliki kapasitas di bidang penegakan hukum, tetapi juga memahami pentingnya pendekatan sosial, budaya, dan kearifan lokal dalam membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat.

"Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan persoalan setelah terjadi, tetapi juga harus mampu membaca potensi ancaman sejak dini dan mengambil langkah-langkah pencegahan secara terukur demi melindungi masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan," ujarnya.

Selain menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Irjen Pol. Iwan Kurniawan juga dinilai memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya lokal dan kemajemukan bangsa. Menurut Agus, nilai-nilai tersebut merupakan modal penting dalam memperkuat persatuan dan menjaga stabilitas sosial di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Agus Flores menambahkan bahwa semangat merawat kemajemukan budaya sejalan dengan nilai-nilai persatuan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus memperkuat rasa kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menjaga harmoni sosial.

Di akhir pernyataannya, Agus Flores mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam mencegah karhutla dengan segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api kepada aparat maupun instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

"Menjaga hutan adalah menjaga masa depan bangsa. Sinergi antara aparat, pemerintah, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Antisipasi dini adalah investasi terbaik untuk melindungi lingkungan, keselamatan masyarakat, dan generasi yang akan datang," pungkas Agus Flores.

Menteri Pertanian Ungkap Dugaan Penyimpangan Beras Fortifikasi: Kerugian Masyarakat Capai Rp71,9 Triliun, Izin Pelanggar Akan Dicabut Besok

JAKARTA || Jejak-indonesia.id – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap adanya dugaan penyimpangan luas dalam sektor perberasan nasional, yang tak hanya melanda produk beras premium, melainkan juga menyasar beras fortifikasi. Praktik ini diperkirakan membebani kerugian masyarakat hingga mencapai Rp71,9 triliun setiap tahun, akibat produk yang dijual dengan harga tinggi namun kandungan gizinya jauh dari standar yang ditetapkan.

Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Kamis ini, Amran menegaskan bahwa pemerintah akan segera mengumumkan nama-nama produsen yang terbukti melanggar ketentuan, sekaligus mencabut izin usaha mereka. "Besok kami umumkan nama-nama produsennya dan izin usahanya akan dicabut," tegasnya.


Hasil pengawasan yang dilakukan Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Juni 2026 terhadap 15 merek beras fortifikasi yang beredar di wilayah DKI Jakarta, menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: hanya tiga merek yang memenuhi syarat ketentuan, sedangkan sebanyak 12 merek lainnya dinilai tidak memenuhi standar kandungan gizi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Kualitas beras fortifikasi diatur secara ketat melalui SNI 9314:2024 mengenai kernel beras fortifikan serta SNI 9372:2025 tentang beras fortifikasi. Kedua peraturan ini mewajibkan setiap 100 gram produk mengandung kadar vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng sesuai ukuran yang telah ditetapkan, dengan komposisi kernel fortifikan minimal 1 persen dari total isi kemasan.

Namun kenyataan di pasaran menunjukkan hal yang memprihatinkan. Produk yang ternyata tak memenuhi standar tersebut dijual di kisaran harga Rp17.580 hingga Rp42.500 per kilogram, dengan rata-rata mencapai Rp22.665. Angka ini sekitar Rp7.765 lebih tinggi dibandingkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium yang ditetapkan sebesar Rp14.900 per kilogram.

Berdasarkan perhitungan pemerintah, dengan asumsi sekitar 30 persen konsumsi beras premium nasional atau setara 9,2 juta ton per tahun beralih ke jenis beras fortifikasi, potensi kerugian yang ditanggung masyarakat dapat menembus angka Rp71,9 triliun setiap tahun. Menurut Amran, tingginya harga tersebut sama sekali tidak sejalan dengan biaya proses produksi yang sesungguhnya.

Mengacu pada kajian Koalisi Fortifikasi Indonesia, biaya tambahan untuk memproduksi beras fortifikasi hanya berkisar antara Rp700 hingga Rp1.000 per kilogram, yang meliputi harga kernel fortifikan serta proses pencampurannya. Jika beras medium dijual sekitar Rp13.500 per kilogram, maka harga jual wajar beras fortifikasi seharusnya berada di kisaran Rp14.500 per kilogram apabila diproses menggunakan penggilingan yang terintegrasi.

Kesenjangan yang mencolok antara biaya produksi dan harga jual ini dinilai merupakan bukti nyata adanya penyimpangan yang menyimpang jauh dari tujuan mulia pelaksanaan program fortifikasi pangan. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi, program ini dirancang khusus untuk meningkatkan status gizi masyarakat, terutama ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, serta kelompok rentan lainnya.

Bapanas sendiri telah mengarahkan agar distribusi beras fortifikasi diprioritaskan bagi keluarga berpenghasilan rendah dan kelompok yang berisiko mengalami stunting. Namun praktik penjualan produk tak standar dengan harga selangit dianggap telah memutarbalikkan maksud tersebut.

Amran pun menegaskan sikap tegas pemerintah. "Gabah dibeli dari petani dengan harga Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram, tetapi beras hasil olahannya dijual jauh di atas batas kewajaran. Ini adalah bentuk ketidakadilan yang nyata. Pelakunya harus dihukum seberat-beratnya," ujarnya dengan nada serius.

Ia juga menilai kebijakan pemerintah yang tidak mengimpor beras selama dua tahun terakhir telah berhasil mempersempit ruang gerak kelompok yang kerap disebut sebagai mafia beras. Oleh sebab itu, Amran meminta dukungan aparat penegak hukum untuk menelusuri dan membongkar jaringan pelaku hingga ke akar, serta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta melaporkan dugaan penimbunan maupun praktik permainan harga di pasaran.

Satpolairud Polresta Banyuwangi Intensifkan Patroli Dialogis dan Binluh di Pelabuhan Rakyat Boom, Tekankan Keselamatan dan Harkamtibmas

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) di kawasan perairan, anggota Satpolairud Polresta Banyuwangi melaksanakan kegiatan patroli dialogis dan pembinaan serta penyuluhan (Binluh) di kawasan Dermaga Pelabuhan Rakyat Boom Banyuwangi, Kamis (30/7/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut berada di bawah pengendalian Kasat Polairud Polresta Banyuwangi dengan personel yang bertugas, Aipda Haerul Umam, Kanit Pos Unit Kota.

Dalam patroli tersebut, petugas menyambangi area dermaga dan berdialog langsung dengan para buruh pelabuhan, penjemput barang, serta pengguna jasa transportasi perairan. Melalui pendekatan humanis, petugas memberikan edukasi sekaligus imbauan agar masyarakat senantiasa menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan pelabuhan.

Selain mengingatkan pentingnya menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif, personel Satpolairud juga mengimbau para pekerja agar selalu mengutamakan keselamatan saat melakukan aktivitas bongkar muat barang. Masyarakat juga diingatkan untuk lebih waspada terhadap barang-barang pribadi serta berhati-hati terhadap keberadaan orang asing yang mencurigakan di sekitar area pelabuhan.

Patroli dialogis ini merupakan bagian dari upaya preventif Satpolairud Polresta Banyuwangi dalam mencegah terjadinya tindak kriminalitas maupun gangguan keamanan di kawasan pelabuhan yang menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat dan distribusi barang.

Dari hasil kegiatan tersebut, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di sekitar Dermaga Pelabuhan Rakyat Boom Banyuwangi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dengan kondisi cuaca cerah serta air laut dalam keadaan pasang.

Satpolairud Polresta Banyuwangi menegaskan akan terus meningkatkan patroli rutin dan kegiatan pembinaan kepada masyarakat pesisir sebagai bentuk komitmen dalam menciptakan lingkungan perairan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh pengguna jasa pelabuhan.

Lelahku untuk Kemanusiaan, Semoga Hujan Segera Turun

PALANGKA RAYA || Jejak-indonesia.id – Di tengah hamparan lahan yang menghitam akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), personel Satgas Aman Nusa Polda Kalimantan Tengah tetap bertahan menjalankan tugas kemanusiaan. Setelah berjibaku memadamkan api selama berjam-jam, mereka memanfaatkan waktu sejenak untuk beristirahat dan makan siang di lokasi sebelum kembali melanjutkan upaya pemadaman.

"Kondisi di lapangan memang sangat berat. Personel harus menghadapi cuaca panas, asap, medan gambut, serta bekerja dalam waktu yang panjang. Namun mereka tetap menunjukkan dedikasi dan semangat tinggi demi melindungi masyarakat serta lingkungan dari dampak karhutla," kata Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan melalui Kabid Humas Kombes Pol Budi Rachmat.

Momen tersebut menjadi gambaran nyata pengabdian personel Satgas Aman Nusa yang mengutamakan tugas kemanusiaan di atas kepentingan pribadi. Dengan pakaian yang dipenuhi jelaga dan tubuh yang kelelahan, mereka tetap siaga agar kobaran api tidak meluas ke wilayah lain.

Selain memadamkan api, personel juga terus melakukan pendinginan di titik-titik rawan serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempercepat penanganan karhutla. Langkah itu dilakukan agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan.

"Setiap personel memahami bahwa tugas ini bukan sekadar memadamkan api, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat, melindungi ekosistem, dan mencegah kerugian yang lebih besar. Karena itu mereka tetap bekerja tanpa mengenal lelah," ujarnya.

Polda Kalteng juga mengajak seluruh masyarakat untuk berperan aktif mencegah karhutla dengan tidak membuka lahan menggunakan cara dibakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api di wilayahnya. Upaya pencegahan dinilai menjadi kunci untuk menekan jumlah kebakaran selama musim kemarau.

"Harapan kami sederhana, semoga hujan segera turun agar dapat membantu proses pemadaman dan mengurangi potensi meluasnya karhutla. Namun sebelum itu terjadi, personel Satgas Aman Nusa akan terus berada di lapangan, memberikan pengabdian terbaik demi keselamatan masyarakat dan kelestarian alam Kalimantan Tengah," tutupnya.

Personel Polda Kalteng Berjibaku Padamkan Api Karhutla Hingga Malam di Cempaga Hulu

PALANGKA RAYA || Jejak-indonesia.id – Personel Polda Kalimantan Tengah bersama tim gabungan berjibaku hingga malam hari untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (29/7/2026).

Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan melalui Kabid Humas Kombes Pol Budi Rachmat mengatakan, pemadaman dilakukan sebagai upaya cepat mencegah meluasnya kebakaran dan mengurangi dampak yang ditimbulkan.

"Personel Polda Kalteng bersama tim gabungan langsung bergerak melakukan pemadaman di lokasi karhutla di Kecamatan Cempaga Hulu. Upaya ini dilakukan agar api tidak semakin meluas," ujarnya.

Ia menjelaskan, proses pemadaman melibatkan personel Polda Kalteng, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kotawaringin Timur, BPBD Kotawaringin Timur, serta para relawan yang bekerja sama di lapangan.

Menurutnya, sinergi seluruh unsur menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan kebakaran, khususnya di wilayah yang memiliki lahan gambut.

"Pemadaman berlangsung cukup lama karena api telah membakar bagian bawah gambut. Kondisi ini membutuhkan penanganan ekstra agar bara api benar-benar padam dan tidak kembali menyala," katanya.

Kabid Humas menambahkan, Polda Kalteng akan terus mendukung upaya penanggulangan karhutla bersama seluruh instansi terkait serta mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar guna mencegah terjadinya kebakaran yang lebih luas.

error: Content is protected !!