Sorry, we're closed Opens Rabu at 9:00 am

Tahun: 2026

Long Weekend Polres Probolinggo Tingkatkan Pengamanan Tempat Wisata

PROBOLINGGO || jejakindonesia.id – Libur panjang peringatan Isra Miraj sejumlah lokasi wisata di Kabupaten Probolinggo tampak ramai pengunjung.

Guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan, Polres Probolinggo Polda Jatim meningkatkan pengamanan di sejumlah destinasi wisata.

Salah satunya dilakukan di kawasan wisata Pantai Bohay, Kabupaten Probolinggo pada Jumat (16/1/2026).

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sekaligus meningkatkan keselamatan para pengunjung, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.

Sejumlah personel Polres Probolinggo Polda Jatim diterjunkan untuk melaksanakan patroli rutin di area wisata, mulai dari pintu masuk, area parkir, hingga lokasi-lokasi yang ramai dikunjungi wisatawan.

Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif melalui Kasat Pamobvit Iptu Nurwasil menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen memberikan rasa aman dan nyaman kepada seluruh wisatawan yang berkunjung ke Pantai Bohay.

“Kami meningkatkan pengamanan dengan menempatkan personel di sejumlah titik strategis serta melaksanakan patroli rutin di kawasan wisata Pantai Bohay,” ujarnya.

Selain pengamanan terbuka, petugas juga melakukan pemantauan secara dialogis dengan pengelola wisata maupun pengunjung, sekaligus menyampaikan imbauan kamtibmas.

Petugas mengimbau para wisatawan agar selalu mematuhi peraturan yang berlaku di lokasi wisata, menjaga barang bawaan, serta memperhatikan keselamatan diri dan keluarga saat beraktivitas di area pantai.

“Kami berharap dengan kehadiran personel kepolisian di lokasi wisata, masyarakat dapat berwisata dengan aman, nyaman, dan tenang,” tambahnya.

Polres Probolinggo Polda Jatim juga menjalin koordinasi dengan instansi terkait serta pengelola wisata guna memastikan penerapan standar keselamatan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat. (*)

Polrestabes Surabaya Amankan 18 Pemuda Diduga Terlibat Bentrok Antar Perguruan Silat di Kedungdoro

SURABAYA || jejakindonesia.id — Sat Samapta Polrestabes Surabaya berhasil mencegah potensi kericuhan yang lebih meluas di kawasan Jalan Kedungdoro, Surabaya, pada Kamis dini hari, 15 Januari 2026.

Kasat Samapta Polrestabes Surabaya AKBP Erika Purwana Putra mengatakan, sebanyak 18 pemuda yang diduga berasal dari dua kelompok perguruan silat diamankan bersama sejumlah kendaraan dan barang yang diduga digunakan dalam insiden bentrok.

"Ada 18 orang kami amankan. Mereka diduga dari kelompok peguruan silat yang berbeda. Kami juga mengamankan 10 unit motor, batu dan kayu alat perkelahian," ungkap AKBP Erika, Jumat (16/1)

Diketahui kejadian bermula sekitar pukul 00.30 WIB ketika petugas menerima informasi melalui Taruna Command Center 110 terkait adanya aksi saling serang di lokasi.

Tim Jogoboyo 3 Sat Samapta Polrestabes Surabaya yang saat itu tengah berpatroli di sekitar Jalan Blauran segera bergerak menuju lokasi kejadian untuk melakukan pengecekan sekaligus pengamanan.

Kasat Samapta Polrestabes Surabaya menjelaskan bahwa tindakan cepat dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga situasi kota tetap aman dan kondusif.

"Seluruh potensi gesekan antar kelompok harus dicegah sebelum berkembang menjadi kasus kekerasan yang lebih besar serta membahayakan masyarakat," tegas AKBP Erika,Jumat (16/01).

Ia mengatakan melalui patroli aktif, personel di lapangan dapat merespons dengan lebih efisien dan tepat waktu.

Kini 18 pemuda tersebut berikut barang bukti diserahkan ke Piket Satreskrim Polrestabes Surabaya dan diterima oleh penyidik untuk proses pendalaman.

AKBP Erik mengimbau agar seluruh elemen masyarakat menjaga ketertiban dan tidak mudah terprovokasi.

Ia juga mengapresiasi peran masyarakat yang cepat melapor melalui layanan Command Center sehingga aparat dapat merespons dengan presisi. (*)

Polri-TNI Terus Lakukan Penanganan Banjir Donggala, Akses Jalan Mulai Dibuka dan Pembersihan Rumah Warga Digencarkan

DONGGALA || jejakindonesia.id – Memasuki hari keenam pascabencana banjir bandang di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, personel gabungan TNI-Polri bersama instansi terkait terus melakukan upaya penanganan dan pemulihan di wilayah terdampak.

Pada Jumat (16/1/2026), bertempat di Kecamatan Tanantovea dan Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, ratusan personel gabungan kembali diterjunkan untuk melaksanakan berbagai kegiatan penanganan bencana, mulai dari pembersihan lingkungan, perbaikan infrastruktur, hingga pelayanan kepada masyarakat.

Kegiatan diawali dengan apel pengecekan personel yang dipimpin oleh Kabag Ops Polres Donggala AKP Wakhidin, S.H. Apel tersebut diikuti oleh seluruh personel yang tergabung dalam Satuan Tugas Penanggulangan Bencana.

Selanjutnya, personel gabungan melaksanakan tugas sesuai pembagian sektor kerja. Di antaranya melakukan pembersihan lanjutan rumah warga terdampak di Desa Labuan Kungguma, Kecamatan Labuan, pemasangan jembatan gorong-gorong untuk membuka kembali akses menuju Desa Labuan Lumbubaka, serta pembersihan hunian tetap (huntap) I dan II di Desa Wani Lumbupetigi, Kecamatan Tanantovea.

Kapolres Donggala AKBP Angga Dewanto Basari, S.I.K., M.Si., juga turun langsung melakukan survei lokasi guna memastikan proses pembangunan jembatan gorong-gorong dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.

Dalam kegiatan penanganan ini, total personel yang terlibat meliputi 92 personel Polres Donggala, 102 personel Sat Brimobda Sulteng, 30 personel TNI AD, 25 personel BPBD Kabupaten Donggala, serta tim kesehatan dari Bid Dokkes Polda Sulteng.

Berdasarkan data terbaru, sejumlah wilayah di Kabupaten Donggala masih terdampak cukup signifikan. Total keseluruhan dampak bencana hingga 14 Januari 2026 meliputi 4 unit rumah hanyut, 268 rumah tergenang air, 8 rumah rusak, serta 134 kepala keluarga atau 1.093 jiwa terdampak.

Selain itu, tercatat 10 unit jembatan rusak, 1 sekolah, 1 masjid, 3 ruas jalan raya, dan 1 kantor KUA turut mengalami dampak akibat banjir bandang tersebut.
Meski status tanggap darurat bencana telah berakhir pada 15 Januari 2026, penanganan bencana tetap dilanjutkan melalui Operasi Aman Nusa II hingga 17 Januari 2026 guna memastikan proses pemulihan berjalan optimal.

Kabag Penum Ropenmas Divhumas Polri Kombes Pol Erdi A. Chaniago menyampaikan bahwa langkah cepat yang dilakukan jajaran Polda Sulawesi Tengah merupakan wujud kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah.

“Polri bersama TNI dan instansi terkait terus bekerja maksimal untuk mempercepat pemulihan pascabencana di Kabupaten Donggala. Fokus utama saat ini adalah membuka akses jalan yang terputus, membersihkan rumah warga, serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” ujar Kombes Pol Erdi dalam keterangannya.

Ia menegaskan, keterlibatan personel di lapangan bukan hanya untuk membantu pemulihan fisik, tetapi juga membangun kembali rasa aman dan optimisme masyarakat.

“Kegiatan kerja bakti dan penanganan bencana ini adalah bentuk nyata kepedulian Polri terhadap masyarakat. Kehadiran aparat di tengah warga diharapkan mampu meringankan beban korban sekaligus memperkuat kedekatan antara Polri dan masyarakat,” tambahnya.

Dalam rencana tindak lanjut, Satgas Penanggulangan Bencana akan melanjutkan pembuatan jembatan gorong-gorong menuju Desa Labuan Lumbubaka, melakukan pembersihan lanjutan rumah warga, mengerahkan mobil AWC untuk distribusi air bersih, serta memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Hingga saat ini, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah hukum Polda Sulawesi Tengah dilaporkan tetap dalam keadaan aman dan terkendali.

“Polri memastikan seluruh rangkaian penanganan bencana berjalan dengan baik dan terkoordinasi. Kami akan terus hadir mendampingi masyarakat hingga kondisi benar-benar pulih,” tutup Kombes Pol Erdi.

Dengan kerja keras dan sinergi seluruh pihak, diharapkan proses pemulihan pascabencana di Kabupaten Donggala dapat berlangsung cepat sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal seperti sedia kala.

Stand Up Komedi Seperti Puisi Esai Ingin Tampil Lebih Cantik Memberi Cahaya Yang Mencerahkan

Jejakindonesia.id || Komedi memang patut dilihat dan dinikmati sebagai kritik dan hiburan yang menyegarkan. Tak perlu diasumsikan sebagai suatu penghinaan terhapan suatu instansi atau personal, apalagi semuanya itu berdasarkan fakta dan realitas yang sudah ada dan telah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat. Artinya, stand up komedi sebagai seni panggung pertunjukan yang penuh muatan politik sekalipun bisa dikihat sebagai tontonan yang menghibur, tak perlu dibuat menjadi semacam ketersinggungan yang tidak termasfkan. Sebab didalam kemasan komedi itu pun dapat dipahami sebagai ekspresi dari kebebasan penyampaian pendapat dan bagian dari wujud nyata dari kedewasaan sikap demokrasi kita yang tengah mencari bentuknya yang pas dalam budaya kita yang masih gagap menerima bentuk baru peradaban yang terus berubah, bergeser untuk menentukan posisinya yang paling tepat.

Stand up komedi yang menghebohkan jagat politik dan sosial di Indonesia karena dia dilihat debagai hal yang baru -- yang dianggap tidak jamak dalam tradisi dan budaya dagelan kita yang harus tampil pulgar dan menohol berbagai tembok yang telah menjadi taneng rasa malu yang disembunyikan. Padahal, semua yang diungkap Pandji Pragiwaksono yang memang punya latar belakang keluarga politik -- diplomatis -- memang harus mengungkapkan realitas seperti itu, sebab dengan krama basasa sastra yang halus dan sopan sudah berulang kali dianggap sepi dan juga tidak menghentak perhatian orang banyak. Maka itu sejumlah nama pun dia sebut secara tekanjang, agar rasa malu yang orang bersangkutan bisa lebih direnungkan dan dikoreksi, semacam upaya untuk mengaca diri, bahwa tampilan politik dan sosial budaya dari sosok yang terjena sasaran itu dapat menjadi meringatan bagi mereka yang lain agar tidak culas dan songong seperti tokoh yang terkesan menjadi obyek olok-olokan seniman yang pasti tetap akan mengutamakan keindahan, kesegaran sebagai tontonan.

Komedia di Indonesia tiba-tiba melambung ke langit. Seakan merobek cakrawala pandang yang terbatas dan sempit, seperti tak boleh meneronos wilayah politik dan pemeintahan. Pertunjukan global di Netflix berjudul Mens Rea seperti meletup menjadi trending topik pembicaraan banyak orang, tidak kecuali tokoh dan pengamat sosial budaya terperangah takjub dan bersedia memberikan pembelaan dan argumennya, ketika Sang Komedian mau digiring dalam jeratan hukum.

Alkisah, Mebs Rea sudah dibawa keliling ke berbagai panggung pertunjukan -- seperti grup Srimulat atau Ketoprak Keliling pada tahun 1970 hingga tahun 1980-an. Puncaknya berlangsung di pada 30 Agustus 2025 di Indonesia. Beritanya menyebuy sekutar 10 ribu penonton penuh riang gembira mentertawakan tealitas lucu yang diungkap Pandji Pragiwaksono selama dua jam tanpa sensor yang mengupas habis kebobrokan di negeri ini. Meski semua materi lawakannya adalah realitas dan fakta yang sudah mulai dilupakan oleh banyak orang, termasuk sanksi hukum dari beragam kasus itu yang terkesan tidak jelas ujung penyelesaiannya.

Upaya menyeret Pandji Pragiwaksono ke bilik hukum justru semakin membuat Stand Up Komedi yang selama ini dianggap sebagai penghibur belaka, mula disadari dapat dijadikan sarana untuk mengkritik kebebalan berbagai pihak yang tak lagi memiliki rasa malu, karena kritik model kompensional tidak lagi mampu menggodor hati yang telah membeku, seperti tembok yang tidak lagi mampu ditelusupi dengan kelembutan dan sopan santun, sebab nilai etika dan moral sudah ikut digadaikan dengan harga yang sangat murah.

Laporan beberapa pihak kepada Polda Metro Jaya tentang materi Stand Up Komedi dari Pandji Pragiwaksono ini pun dianggap sejumlah pihak seperti Stand Up komedi dalam bentuk yang lain, lantaran barang bukti berupa Flash Disk rekaman dari pertunjukan yang dijadikan sebagai barang bukti laporan itu tanoa izin dan bisa didakwa sebagai pelanggaran hak cipta. Kecuali itu, pihak pelapor yang mengatasnamakan organisasi keagaman di Indonesia ini pun talah membantah, bukan bagian dari organisasi yang mereka atas nama oranisasi yang mereka sebutkan itu.

Komedi satir memang tidak cuma mematok target agar penonton bisa terbahak-bahak karena merasa terhibur dan terwakili ekspresi yang juga hendak nereka ungkapkan, tetapi yang tidak kalah penting adalah ajakan untuk merenungkan, tentang apa yang sudah kita lakukan atau apa yang bisa dilakukan dalam mensikapi realitas realitas hukum, realitas sosial dan realitas budaya yang telah terjadi akibat dari kehadian yang ganknjil dan lucu -- bahkan ironis -- terjadi di negeri yang kaya raya ini, tapi rakyat tetap banyak yang muskin. Padahal janji dalam konstitusi yang disepakati saat proklamasi dilakukan, kemiskinan dan kebodohan rakyat akan diatasi.

Jadi humor yang digunakan untuk membungkus kritik agar laku dan mau didengar oleh semua kalangan -- tak hanya pejabat publik -- memang harus dikemas, atau menghias diri seperti puisi esai agar tidak terkesan kuno -- agar supaya tidak juga membosankan -- seperti lauk-pauk yang tidak dikreasi sedemikian rupa, sehingga tan cuma lebih sedap, tapi juga lebih memarik serta memberi kesan yang tidak membosankan.

Begitulah stand up komedi, seperti genre puisi esai yang tampil lebih molek dan genial untuk lebih jelas menandai eksistensi agar bisa lebih diperhitungkan. Dan data kreativitas seniman tentu tidak boleh berhenti untuk terus menciptakan genre yang lebih cantik dan indah -- tapi juga jenial -- tudak hanya mengandalkan kemolekan tampilan semata, tapi juga cahaya cenerlang yang ada di dalam batok kepalanya. Jadi hanya dengan begitu seni pemanggungan stand up komedi bisa naik kelas tidak cuma panggung penghibur, tapi juga merupakan ruang kelas untuk untuk melakukan perenungan.

 

Banten, 15 Januari 2026

Polda Sumut Berikan Dukungan Psikososial kepada Anak Korban Peristiwa Pencurian di Medan Marelan

MEDAN || jejakindonesia.id — Kepedulian Polri terhadap pemulihan psikologis masyarakat kembali diwujudkan Polda Sumatera Utara. Melalui Bagian Psikologi (Bagpsi) Ro SDM Polda Sumut bersama konselor Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Medan, dukungan psikososial diberikan kepada seorang anak yang menjadi korban peristiwa pencurian di wilayah hukum Polda Sumut.

Kegiatan dukungan psikososial tersebut dilaksanakan pada Rabu, 14 Januari 2026, sekitar pukul 13.00 WIB, bertempat di Jalan A.M.D Gang Perabot, Kecamatan Medan Marelan, Sumatera Utara.

Kegiatan ini dipimpin oleh Kasubbagpsipol Bagpsi Ro SDM Polda Sumut, KOMPOL Zulhafni, S.Psi., M.Psi., didampingi Ps. Kanit PPA Polrestabes Medan selaku konselor, IPTU Dearma Agustina, S.H., M.H., serta didukung personel Bagpsi Ro SDM Polda Sumut dan Unit PPA Polrestabes Medan.

Adapun subjek pendampingan merupakan Jovita Vianitan (9), seorang siswi SD Anugrah Harapan Bangsa, yang viral di media sosial setelah berupaya menggagalkan aksi pencurian terhadap handphone milik ayahnya dan mengalami luka-luka akibat terseret sepeda motor pelaku.

Kasubbagpsipol Bagpsi Ro SDM Polda Sumut, KOMPOL Zulhafni, S.Psi., M.Psi., menyampaikan bahwa pendampingan psikososial ini bertujuan untuk membantu proses pemulihan psikologis korban pascakejadian.

“Kami hadir untuk memberikan penguatan mental, motivasi, serta rasa aman kepada anak dan keluarganya, agar trauma yang dialami tidak berlarut-larut dan anak dapat kembali beraktivitas secara normal,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Polri tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap aspek kemanusiaan, khususnya perlindungan anak.

“Pendampingan ini merupakan bagian dari komitmen Polri dalam memberikan pelayanan yang humanis serta memastikan hak-hak anak tetap terlindungi,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim memberikan dukungan emosional, edukasi sederhana, serta komunikasi empatik kepada korban dan keluarga, guna menumbuhkan kembali kepercayaan diri serta rasa aman.

Kegiatan berlangsung dengan aman dan lancar, sekaligus menjadi wujud nyata kehadiran Polri yang humanis dan peduli terhadap kondisi psikologis masyarakat.

error: Content is protected !!