We're open Closes at 5:00 pm

Bulan: Agustus 2025

Jalur Gumitir Ditutup, DPRD Diam, Jalan Rusak: Rakyat Jadi Korban Badokan dan Selfie

Banyuwangi, Jejak-indonesia.id | Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, tapi rakyat di tapal batas Jawa Timur-Bali justru harus “menyembah tanah” akibat lumpuhnya jalur utama. Penutupan jalan nasional Banyuwangi-Jember di kawasan Gunung Gumitir bukan hanya menyusahkan pengguna jalan, tapi juga menelanjangi bobroknya tata kelola jalan dan lambannya respons pemerintah.

Alih-alih ditangani cepat, kendaraan besar terpaksa memutar lewat Bondowoso-Situbondo, sedangkan sepeda motor dialihkan ke jalan sempit milik PTPN 1 Regional 5. Jalan produksi itu sejatinya dibuat untuk mengangkut hasil perkebunan seperti karet, kopi, coklat, dan kayu dari lahan seluas lebih dari 2.000 hektare, bukan untuk jalur umum.

Ketua Aliansi LSM Banyuwangi, Rudy Voeler, yang juga dikenal sebagai Rudy Suharto, melontarkan kritik keras kepada Gubernur Jawa Timur, Direksi PTPN 1 Regional 5, dan para kepala daerah terkait.

“Gubernur dua periode kok kerjanya cuma konten makan mangga, pisang, apel. Jalan nasional putus, rakyat susah, dia malah ngurusi badokan! Kalau nggak mampu, mundur saja! Sama halnya Direksi PTPN 1 Regional 5, kalau bangun jalan produksi saja tak sanggup, lebih baik minggat dari jabatannya!,” tegas Rudy Voeler, Minggu (3/8/2025).

Rudy menyoroti, bahwa sejak era kolonial hingga saat ini, PTPN 1 telah menghasilkan triliunan rupiah dari sektor perkebunan. Namun, infrastruktur jalan di wilayah produksinya justru tetap seperti zaman perang.

“Diduga hasil panen ribuan triliun dari Gunung Gumitir itu hanya masuk ke kas Surabaya lalu diarak ke Kementerian BUMN di Jakarta untuk dikorupsi dan dibancaki para pejabat bermental rampok,” sindirnya tajam.

Rudy juga menuding Bupati Banyuwangi dan Jember abai menyelesaikan jalur alternatif utama yakni Jalur Lintas Selatan (JLS). Padahal jalur ini hanya kurang sekitar 13 km dan dua jembatan untuk menghubungkan Malangsari (Kalibaru) ke Kecamatan Silo (Jember).

“Tambang emas Tumpang Pitu di Banyuwangi sejak beroperasi 10 tahun lalu sudah menghasilkan ratusan ton emas. Tapi untuk bangun 13 km jalan saja, hasilnya entah ke mana. Diduga hanya dikuasai segelintir elite. Rakyat cuma dapat polusi dan kerusakan jalan,” suluk Rudy.

Tak ketinggalan, Rudy menyentil gaya kepemimpinan kepala daerah yang lebih suka tampil di hadapan kamera daripada bekerja menyelesaikan persoalan.

“Bupati Jember kalau cuma bisa senam sama emak-emak di alun-alun dan mimpin kenduren, ya ndak usah ngaku-ngaku pemimpin rakyat! Jalur JLS itu harus jadi prioritas nasional,” tegasnya.

Ia juga menyindir kinerja DPRD di berbagai level:

“DPRD Banyuwangi, DPRD Jember, DPRD Jatim... Jangan cuma datang, duduk, dengar, duit, dan ngantuk. Rakyat butuh solusi, bukan akrobat politik!”

Rudy Voeler menutup pernyataannya dengan desakan keras: jika semua pihak tidak sanggup memperjuangkan hak rakyat, maka sebaiknya mundur dengan hormat sebelum ditendang oleh sejarah. (red)

Polresta Banyuwangi Sigap Atasi Kepadatan Kendaraan di Jalur Pelabuhan Ketapang

Banyuwangi, Jejak-indonesia.id | Polresta Banyuwangi mengerahkan personel gabungan untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas di kawasan Pelabuhan Ketapang, Jumat (1/8/2025) dini hari.

Peningkatan volume kendaraan, baik pribadi maupun logistik, menyebabkan antrean mengular di jalur utama Jalan Raya Tanjung Wangi, salah satu akses vital menuju dermaga penyeberangan Jawa–Bali.

Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., turun langsung memimpin pengaturan lalu lintas bersama anggota Satlantas, Sat Samapta, Satpol Airud, Sat Pamobvit dan Polsek jajaran.

“Kami menempatkan personel di titik-titik yang kerap menjadi titik tumpu kemacetan untuk memastikan arus tetap bergerak,” ujar Kombes Pol. Rama di sela kegiatan.

Petugas juga memberikan imbauan langsung kepada pengendara untuk tetap tertib dan tidak memotong antrean (ngeblong) yang dapat mengganggu kelancaran arus kendaraan.

Menurut Kapolresta, penguraian kepadatan ini merupakan bagian dari upaya respons cepat Polresta Banyuwangi dalam memberikan pelayanan publik, khususnya di sektor transportasi.

“Pelabuhan Ketapang adalah simpul utama mobilitas antara Jawa dan Bali. Kami rutin lakukan pemantauan dan rekayasa lalu lintas, apalagi saat terjadi lonjakan kendaraan,” ujarnya.

Selain pengaturan arus, personel juga melakukan koordinasi dengan stakeholder pelabuhan guna menjaga distribusi barang dan penumpang tetap berjalan lancar.
(red)

Libatkan Personel Gabungan,Kapolresta Banyuwangi Turun Langsung Pimpin Urai Kepadatan di Pelabuhan Ketapang

Banyuwangi, Jejak-indonesia.id | Mengantisipasi lonjakan arus kendaraan di kawasan Pelabuhan Ketapang, Polresta Banyuwangi Polda Jatim mengerahkan seluruh kekuatan personelnya.

Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra mengatakan, seluruh unit, mulai dari Satuan Lalu Lintas, Samapta, Pamobvit, hingga jajaran Polsek, dikerahkan untuk memastikan arus kendaraan tetap mengalir dan situasi tetap terkendali.

Seperti diberitakan sebelumnya, kepadatan terjadi akibat meningkatnya volume kendaraan yang hendak menyeberang ke Pulau Bali melalui jalur penyeberangan utama Pelabuhan Ketapang Banyuwangi yang berada di ujung Timur Pulau Jawa tersebut.

“Kami siagakan seluruh personel untuk memastikan kelancaran dan keselamatan pengguna jalan. Penanganan dilakukan secara bertahap dan terukur,” ujar Kombes Pol Rama, Sabtu malam (2/8).

Sejumlah langkah taktis diterapkan untuk mengurai kemacatan, mulai pengalihan arus ke jalur-jalur alternatif, penyediaan kantong parkir sementara bagi kendaraan yang belum dapat memasuki kawasan pelabuhan, hingga penempatan personel pada titik-titik rawan kemacetan.

Selain itu, Polresta Banyuwangi Polda Jatim juga memperkuat koordinasi lintas instansi dengan pihak ASDP, Otoritas Pelabuhan, dan Pemerintah Daerah guna meminimalkan potensi gangguan keamanan dan ketertiban.

Peningkatan volume kendaraan dengan adanya penghentian sementara operasional penyebrangan akibat faktor cuaca ekstrem dan gelombang tinggi di Selat Bali menyebabkan antrian panjang kembali terjadi.

Kondisi ini menyebabkan antrean kendaraan mengular hingga ke jalur utama menuju pelabuhan.

Kapoklresta Banyuwangi menjelaskan, untuk merespons kondisi tersebut, pihakanya meningkatkan sistem patroli dan pemantauan lalu lintas dilakukan secara real-time melalui jaringan CCTV.

"Penempatan petugas di lapangan juga difokuskan pada pengaturan antrean, pelayanan informasi, serta penanganan darurat bila diperlukan," kata Kombes Rama.

Polresta Banyuwangi Polda Jatim memastikan kesiapsiagaan personel akan terus berlangsung hingga situasi kembali normal.

”Masyarakat dan pengguna jasa penyeberangan kita imbau untuk tetap tenang, mematuhi arahan petugas, serta memantau informasi terkini dari sumber resmi,’’ pesan Kombes Pol Rama. (red)

Kodim 0825 Banyuwangi Gelar Penyuluhan Pertanian Terintegrasi dan Pemilihan Pupuk Alternatif dalam Rangka TMMD ke-125

Banyuwangi, Jejak-indonesia.id |  Dalam rangka mendukung program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 Tahun Anggaran 2025, Kodim 0825/Banyuwangi menggelar kegiatan penyuluhan pertanian terintegrasi dan pemilihan pupuk alternatif yang tepat. Kegiatan yang dilaksanakan pada malam hari ini diikuti oleh ratusan warga serta tokoh masyarakat dari wilayah sasaran TMMD.

Penyuluhan ini menghadirkan narasumber dari Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi. Mereka menyampaikan materi seputar metode pertanian yang ramah lingkungan, efisien, serta tepat guna, termasuk pentingnya beralih pada pupuk alternatif guna menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta, termasuk kelompok tani dan pemuda desa, tampak aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan seputar permasalahan yang dihadapi dalam praktik pertanian sehari-hari. Hal ini menunjukkan tingginya semangat warga dalam mendukung program TMMD yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyasar pembangunan sumber daya manusia.

Perwira Seksi Teritorial Kodim 0825 Banyuwangi, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa penyuluhan ini merupakan salah satu bentuk sinergi TNI dengan pemerintah daerah dalam upaya mendorong ketahanan pangan masyarakat desa. Diharapkan, ilmu yang diperoleh dalam kegiatan ini dapat langsung diterapkan oleh masyarakat untuk meningkatkan hasil pertanian mereka.

Program TMMD ke-125 ini menjadi bukti nyata kehadiran TNI di tengah-tengah masyarakat, tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur, namun juga melalui penyadartahuan dan penguatan kapasitas warga dalam berbagai bidang kehidupan. (red)

Satgas TMMD ke-125 Kodim 0825 Banyuwangi Genjot Pembangunan Saluran Irigasi, Progres Capai 50 Persen

Banyuwangi, Jejak-indonesia.id |  Pembangunan saluran irigasi oleh Satgas TMMD ke-125 Kodim 0825/Banyuwangi terus menunjukkan progres signifikan. Hingga hari ini, Minggu (3/8/2025), kegiatan pembangunan yang berlokasi di wilayah Kecamatan Siliragung telah mencapai sekitar 50 persen dari total panjang saluran yang direncanakan.

Dalam pelaksanaan di lapangan, tampak para personel TNI bergotong royong bersama warga setempat menyusun batu dan memperkuat struktur saluran yang menjadi sarana vital bagi pertanian masyarakat. Di bawah terik matahari, semangat kebersamaan tetap menggelora demi mewujudkan infrastruktur yang bermanfaat jangka panjang.

"Pembangunan saluran irigasi ini sangat penting bagi petani kami. Dengan aliran air yang lancar, masa tanam tidak lagi terganggu," ungkap salah satu warga yang ikut dalam kegiatan.

Program TMMD ini tidak hanya membangun secara fisik, tetapi juga memperkuat hubungan antara TNI dan rakyat. Kegiatan yang berlangsung sejak bulan Juli ini menyasar berbagai pembangunan, di antaranya: rabat beton, pembangunan jembatan, sumur bor, RUTILAHU, MCK, serta saluran irigasi yang kini sedang digarap.

Dengan cuaca yang cukup mendukung dan partisipasi aktif masyarakat, pengerjaan saluran irigasi ditargetkan rampung tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh Satgas TMMD. (red)

error: Content is protected !!