Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Video

TABANAN || Jejak-indonesia.id – Jajaran Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan bersama peserta magang dan Warga Binaan melaksanakan kerja bakti di Pura Beji, Desa Dajan Peken, Selasa (11/08). Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi Warga Binaan untuk kembali berinteraksi dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat melalui pengabdian sederhana, sekaligus memaknai Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dengan semangat kebersamaan dan toleransi.

Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian yang sekaligus menjadi cara untuk memaknai kemerdekaan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Lapas tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari lingkungan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat menumbuhkan kebersamaan sekaligus memberikan ruang kepada Warga Binaan untuk ikut berkontribusi. Semangat kemerdekaan kami maknai melalui kepedulian, toleransi, dan kemauan untuk hadir memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar,” ujar Prawira.

Kehadiran jajaran Lapas Tabanan mendapat apresiasi dari Wayan Gede selaku pengurus Pura Beji. “Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Kalapas beserta jajaran yang selama ini turut membantu menjaga dan merawat Pura Beji. Kehadiran teman-teman dari Lapas sangat membantu kami dalam menjaga lingkungan pura agar tetap bersih dan nyaman digunakan untuk beribadah,” ungkapnya.

Di antara kegiatan tersebut, ada satu pengalaman yang terasa lebih personal bagi Putu B., salah seorang Warga Binaan yang ikut kerja bakti. Sebagai warga lokal, Pura Beji bukanlah tempat yang asing baginya. ” Sebelum masuk Lapas, saya sering beribadah di Pura Beji, tetapi selama menjalani pidana saya tidak bisa datang seperti sebelumnya. Bisa kembali ke sini dan ikut membantu membersihkan pura membuat saya bersyukur. Bagi saya, ini juga menjadi cara untuk memaknai kemerdekaan,” tuturnya.

Bagi Lapas Tabanan, keterlibatan Warga Binaan dalam kegiatan di luar Lapas memiliki makna tersendiri dalam proses pembinaan. Kesempatan untuk hadir, berinteraksi, dan memberikan kontribusi di tengah masyarakat menjadi pengalaman yang dapat menumbuhkan kembali rasa percaya diri sekaligus mempersiapkan mereka untuk menjalani kehidupan sosial setelah menyelesaikan masa pidana.

Kontributor: Humas Lapas Tabanan

TABANAN || Jejak-indonesia.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan menyalurkan bantuan sosial (bansos) kepada keluarga Warga Binaan di Aula Candra Prabhawa dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, Senin (10/08). Peringatan kemerdekaan tersebut dimaknai melalui kepedulian kepada keluarga Warga Binaan, sebagai bentuk perhatian bahwa semangat berbagi dan memberikan manfaat juga dapat hadir dari lingkungan Pemasyarakatan.

Sebanyak enam paket bansos disalurkan kepada keluarga Warga Binaan. Setiap paket berisi kebutuhan pokok berupa beras, gula pasir, telur, dan minyak goreng yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari penerima.

Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, menyampaikan bahwa momentum HUT Kemerdekaan ke-81 menjadi kesempatan untuk menerjemahkan semangat kemerdekaan melalui aksi yang memberikan manfaat bagi sesama.

“Kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana kita memperingatinya, tetapi juga bagaimana semangatnya dapat kita wujudkan melalui kepedulian. Bantuan ini merupakan bentuk perhatian kami kepada keluarga Warga Binaan. Kami berharap dukungan sederhana ini dapat memberikan manfaat sekaligus menjadi penyemangat bagi Warga Binaan dalam menjalani proses pembinaan,” ujar Prawira.

Salah seorang penerima bantuan, Ibu Komang, mengungkapkan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan Lapas Tabanan. “Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Bukan hanya karena kebutuhan yang diberikan, tetapi kami juga merasa diperhatikan dan tidak sendiri. Terima kasih kepada Lapas Tabanan atas kepedulian yang diberikan kepada keluarga kami,” ungkapnya.

Penyaluran bansos ini menjadi gambaran bahwa semangat kemerdekaan dapat tumbuh melalui hal-hal sederhana yang menyentuh kehidupan sesama. Melalui semangat berbagi tersebut, Lapas Tabanan berharap kepedulian dapat terus menjadi bagian dari perjalanan Pemasyarakatan yang humanis, sekaligus menghadirkan manfaat bagi keluarga Warga Binaan dan masyarakat di sekitarnya.

Kontributor: Humas Lapas Tabanan

DENPASAR || Jejak-indonesia.id –  Wakapolda Bali menghadiri Upacara Pemberangkatan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG Mobile Yonif 900/Satya Bhakti Wirottama (SBW) yang akan melaksanakan penugasan di wilayah Papua Tahun Anggaran 2026. Kegiatan berlangsung di Dermaga AP2 Pelabuhan Benoa, Denpasar. Selasa, (11/8/2026).

Upacara pemberangkatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Bali dan jajaran TNI, di antaranya Pangdam IX/Udayana, Danrem 163/Wira Satya, Korwil Denpasar, Danlanal Denpasar, serta Danlanud I Gusti Ngurah Rai.

Sebelum pelaksanaan rangkaian upacara, Wakapolda Bali bersama para undangan melaksanakan peninjauan KRI Tanjung Kambani-971 yang menjadi bagian dari sarana pemberangkatan personel Satgas.

Dalam arahannya, Pangdam IX/Udayana menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada seluruh prajurit pilihan Satgas Pamtas Yonif 900/SBW yang telah mendapatkan kepercayaan untuk melaksanakan tugas negara.

Pangdam IX/Udayana menegaskan bahwa penugasan operasi merupakan sebuah kehormatan sekaligus bentuk kepercayaan negara yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan loyalitas. Seluruh personel diminta senantiasa menjaga kehormatan diri, keluarga, satuan, serta menghindari segala bentuk pelanggaran selama menjalankan tugas.

Selain itu, para prajurit juga diingatkan untuk terus memperkuat kebersamaan, kekompakan, dan jiwa korsa sebagai modal utama dalam menghadapi berbagai tantangan di daerah penugasan.

Pangdam IX/Udayana turut berpesan agar seluruh personel tetap menjaga komunikasi dengan keluarga secara bijaksana tanpa mengurangi konsentrasi dan fokus terhadap pelaksanaan tugas.

“Berangkatlah dalam keadaan lengkap dan siap melaksanakan tugas, serta kembalilah dengan membawa keberhasilan dan kebanggaan bagi satuan. Selamat melaksanakan latihan pratugas. Semoga seluruh rangkaian kegiatan senantiasa diberikan perlindungan, kesehatan, keselamatan, dan kekuatan dalam melaksanakan setiap tugas yang diemban,” pesannya.

Sementara itu, Wakapolda Bali menyampaikan dukungan dan doa kepada seluruh prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 900/SBW yang akan menjalankan tugas negara di wilayah Papua.

“Atas nama Polda Bali, kami menyampaikan selamat bertugas kepada seluruh prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 900/SBW. Jalankan amanah negara ini dengan penuh tanggung jawab, profesionalisme, disiplin, serta tetap mengedepankan pendekatan yang humanis kepada masyarakat di daerah penugasan,” ujar Wakapolda Bali.

Wakapolda Bali juga berharap seluruh personel senantiasa menjaga soliditas dan sinergitas selama melaksanakan tugas serta mampu membawa nama baik satuan, TNI, dan negara.

“Jaga kesehatan, keselamatan, kekompakan dan kehormatan satuan. Kami semua mendoakan agar seluruh personel diberikan perlindungan dan kelancaran dalam menjalankan tugas, serta nantinya dapat kembali dalam keadaan sehat, selamat, lengkap, dan membawa kebanggaan bagi keluarga maupun satuan,” tambahnya.

Kehadiran Wakapolda Bali dalam kegiatan tersebut sekaligus menjadi wujud soliditas dan sinergitas TNI-Polri serta unsur Forkopimda Bali dalam memberikan dukungan kepada para prajurit yang akan melaksanakan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan Wakapolda Bali bersama Pangdam IX/Udayana dan para undangan lainnya memberikan ucapan selamat bertugas kepada para prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 900/SBW.

Dengan semangat pengabdian dan profesionalisme, para prajurit diharapkan dapat menjalankan seluruh rangkaian tugas dengan aman dan lancar serta kembali ke satuan dengan membawa keberhasilan dan kehormatan.

SITUBONDO || Jejak-indonesia.id — Rencana kegiatan doa dan shalawat di Alun-Alun Besuki pada Selasa (11/8/2026) yang dikaitkan dengan Raden Mas MH Agus Rg Astrodiarjo, SH, atau yang akrab disapa Agus Flores, menjadi perhatian.

Bukan semata karena kegiatan tersebut berkaitan dengan doa dan shalawat untuk Kapolri, tetapi juga karena di balik rencana itu terdapat kisah sejarah keluarga yang disebut memiliki hubungan erat dengan Besuki sejak masa pemerintahan kolonial.

Jika memang ada pihak yang melarang atau mempersoalkan kegiatan tersebut, apa dasar dan alasan pelarangannya?

Pertanyaan itu menjadi semakin menarik karena bagi Agus Flores, Besuki bukan sekadar sebuah wilayah administratif.

Besuki disebut memiliki hubungan historis dengan keluarganya, terutama melalui sosok Mantri Kusman, yang dalam kisah keluarga disebut pernah menjalankan tugas sebagai mantri dalam lingkungan pemerintahan kolonial.

Dalam perjalanan sejarahnya, Besuki pernah menjadi pusat pemerintahan Keresidenan Besuki pada masa Hindia Belanda.

Keresidenan tersebut memiliki posisi penting dalam struktur pemerintahan kolonial dan membawahi sejumlah wilayah yang kini berkembang menjadi beberapa kabupaten di kawasan Tapal Kuda.

Keberadaan eks Pendopo Keresidenan Besuki juga menjadi salah satu bukti bahwa kawasan tersebut menyimpan jejak pemerintahan masa lalu.

Karena itu, Besuki bukan hanya memiliki nilai administratif, tetapi juga menyimpan nilai historis yang kuat bagi masyarakat dan keluarga-keluarga yang memiliki keterkaitan dengan wilayah tersebut.

Dalam keterangan keluarga yang disampaikan, Mantri Kusman disebut memiliki hubungan darah dengan keluarga Agus Flores.

Mantri Kusman disebut merupakan keturunan R. Astrodiarjo dari Mojokerto dan Rr. Moor.

Karena disebut tidak memiliki anak kandung, Mantri Kusman kemudian mengangkat R. Kusnandar, putra dari adik kandungnya, Rr. Herlina, yang menikah dengan R. Sunyoto Hadinoto.

R. Kusnandar disebut sejak kecil telah tinggal dan mengenal lingkungan Pendopo Besuki.

Bahkan, berdasarkan kisah keluarga, dirinya mengetahui secara langsung bagian-bagian pendopo, termasuk kamar yang pernah ditempatinya.

Cerita tersebut dikaitkan dengan aktivitas Mantri Kusman yang pada masa itu disebut sering berada di lingkungan pendopo ketika menjalankan tugas dan memberikan gaji kepada para pegawainya.

Dari sinilah hubungan emosional keluarga Agus Flores dengan Besuki kemudian dibangun.

Menurut kisah yang berkembang di lingkungan keluarga, kawasan yang sekarang menjadi Alun-Alun Besuki juga memiliki cerita tersendiri.

Tempat tersebut disebut pernah menjadi ruang bermain pada masa kecil keluarga Agus Flores.

Karena itu, keinginan untuk menggelar doa dan shalawat di kawasan tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai kegiatan biasa.

Ada memori keluarga, sejarah leluhur, dan ikatan emosional dengan Besuki yang ingin kembali dihidupkan.

Bagi sebuah keluarga, tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup orang tua dan leluhur tentu dapat memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah lokasi.

Alun-Alun Besuki merupakan ruang publik. Karena itu, setiap kegiatan yang digelar di dalamnya tentu harus memperhatikan ketentuan penggunaan fasilitas umum, perizinan, keamanan, ketertiban, serta kepentingan masyarakat.

Apakah larangan tersebut berkaitan dengan persoalan administrasi, keamanan, penggunaan fasilitas umum, atau alasan lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

Di sisi lain, klaim sejarah keluarga juga harus tetap dibedakan dengan hak penguasaan terhadap ruang publik.

Memiliki hubungan historis dengan sebuah tempat tentu mempunyai nilai emosional dan budaya, tetapi penggunaan ruang publik tetap harus mengikuti aturan yang berlaku.

Kisah Mantri Kusman dan keluarganya menjadi menarik apabila dapat dibuktikan melalui arsip sejarah.

Jika benar terdapat catatan mengenai Mantri Kusman dalam arsip pemerintahan kolonial, dokumen tersebut dapat menjadi bagian penting dalam mengungkap sejarah lokal Besuki.

Begitu pula dengan klaim mengenai keberadaan nama Mantri Kusman dalam arsip atau koleksi museum di Amsterdam.

Dokumen, nomor arsip, tahun pencatatan, jabatan, serta identitas tokoh perlu ditampilkan agar sejarah tersebut dapat diverifikasi secara independen.

Sebab, sejarah yang kuat bukan hanya dibangun berdasarkan cerita turun-temurun, tetapi juga berdasarkan dokumen dan bukti primer.

Jika seluruh rangkaian cerita tersebut nantinya dapat dibuktikan melalui arsip, maka kisah ini bukan hanya mengenai seorang tokoh bernama Agus Flores yang ingin menggelar doa dan shalawat.

Lebih jauh, ini merupakan bagian dari potongan sejarah keluarga yang bersinggungan dengan sejarah pemerintahan Besuki.

Dari cerita mengenai Mantri Kusman, R. Kusnandar, Pendopo Besuki, hingga kenangan masa kecil yang dikaitkan dengan kawasan Alun-Alun Besuki, semuanya menjadi bagian dari narasi sejarah yang menarik untuk ditelusuri.

Kini bola berada pada pihak-pihak yang disebut berkaitan dengan persoalan tersebut.

Jika memang ada larangan, maka penjelasan resmi dan dasar hukumnya perlu disampaikan kepada publik.

Sebab, kegiatan doa dan shalawat adalah satu hal, sedangkan prosedur penggunaan ruang publik adalah hal lainnya.

Yang tidak kalah penting, jangan sampai persoalan administrasi sebuah kegiatan justru berkembang menjadi polemik yang mengaburkan sejarah Besuki.

Karena sejarah bukan milik satu orang. Sejarah adalah bagian dari ingatan kolektif masyarakat.

Dan jika Alun-Alun Besuki memang menyimpan kenangan masa kecil keluarga Agus Flores, maka keinginan untuk mengenang leluhur melalui doa dan shalawat setidaknya patut dipahami dalam konteks sejarah dan emosionalnya—tentunya sepanjang pelaksanaannya memenuhi ketentuan yang berlaku.

Sebab, sejarah boleh berubah karena zaman, tetapi jejaknya tidak semestinya hilang tanpa penjelasan.

KARANGASEM || Jejak-indonesia.id – Kapolres Karangasem AKBP I Made Santika, S.H., S.I.K., M.I.K., menghadiri undangan Puncak Upacara Dewa Yadnya Usaba Sri Desa Bungaya yang berlangsung di Alun-Alun Pasar Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, pada Senin (10/8/2026).

Kehadiran Kapolres Karangasem dalam prosesi adat tersebut merupakan bentuk penghormatan serta komitmen jajaran Kepolisian dalam mendukung pelestarian nilai-nilai budaya dan tradisi keagamaan masyarakat lokal. Upacara Usaba Sri sendiri merupakan bagian dari tradisi ritual adat warga Desa Adat Bungaya sebagai ungkapan rasa syukur atas kelimpahan hasil bumi dan permohonan keselamatan serta kemakmuran wilayah.

Di sela-sela kegiatan, Kapolres Karangasem menyampaikan bahwa pihak kepolisian siap untuk senantiasa mendukung kelancaran seluruh rangkaian kegiatan keagamaan dan adat di wilayah Hukum Polres Karangasem melalui pengamanan yang terukur dan sinergis bersama tokoh masyarakat setempat.

Rangkaian Puncak Upacara Dewa Yadnya Usaba Sri Desa Bungaya tersebut berlangsung dengan khidmat, tertib, dan lancar dengan dihadiri oleh tokoh adat, tokoh masyarakat, serta krama Desa Adat Bungaya.

error: Content is protected !!