Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Video

PASURUAN || Jejak-indonesia.id – Pemerintah Kota Pasuruan menegaskan tekadnya untuk mewujudkan lingkungan perkotaan yang nyaman dan layak bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, generasi muda, hingga warga lanjut usia. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 Tahun 2026 yang digelar Dinas Sosial Kota Pasuruan di Gedung Kesenian Darmoyudho, dengan mengusung tema “Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh”.

Kepala Dinas Sosial Kota Pasuruan, Yudi Andi Prasetya, dalam laporannya menyampaikan bahwa peringatan tahun ini dikemas dengan prinsip kesederhanaan, namun tetap menyediakan ruang seluas-luasnya bagi para lansia untuk menyalurkan bakat dan berkarya.

“Kegiatan ini menjadi momentum berharga guna memperkuat kepedulian serta kerja sama dalam menjaga kesejahteraan warga lanjut usia. Semoga seluruh lansia di Kota Pasuruan senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan tetap dapat beraktivitas secara aktif,” ujarnya (24/6/2026).

Ratusan warga lanjut usia dari berbagai wilayah di Kota Pasuruan tampak antusias mengikuti rangkaian acara. Berbagai kegiatan disajikan, mulai dari pemeriksaan kesehatan secara cuma-cuma hingga penampilan seni yang memukau, seperti tarian tradisional, nyanyian, musik keroncong, serta pementasan drama kolosal yang mengundang decak kagum seluruh hadirin.

Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas semangat dan keaktifan yang ditunjukkan para lansia. Menurutnya, motivasi hidup yang terpancar dari warga usia lanjut ini tidak kalah kuat dibandingkan generasi muda.

“Kesehatan dan kebahagiaan para lansia menjadi sumber energi positif yang membawa manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Ketika mereka sehat dan bahagia, maka kedamaian pun akan terasa di tengah masyarakat,” tegasnya.

Ia menegaskan kembali bahwa pembangunan Kota Pasuruan diarahkan untuk menciptakan ruang yang ramah bagi semua kalangan, baik lansia, pemuda, maupun anak-anak. Kota ini pun telah dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kesejahteraan warga lanjut usia.

Wali Kota juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mempererat sinergi dan rasa memiliki terhadap daerah. “Kemajuan Kota Pasuruan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama. Mari kita bangun kerja sama agar kota ini semakin maju, inklusif, dan nyaman bagi siapa saja,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, diserahkan pula bantuan sosial sebagai wujud kepedulian nyata yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2026. Secara simbolis, bantuan tunai sebesar Rp1.000.000 diserahkan kepada Wasiah dari Kelurahan Ngemplakrejo sebagai perwakilan lansia potensial. Bantuan permakanan juga diberikan kepada Syafuwan dari Kelurahan Petahunan dalam rangka program perlindungan lansia terlantar. Selain itu, santunan senilai Rp600.000 diserahkan kepada Khanza Azkadina Alfathunnisa dari Kelurahan Randusari, mewakili tujuh orang anak yatim penerima manfaat.

Melalui peringatan ini, Pemerintah Kota Pasuruan berharap para warga lanjut usia dapat menikmati masa tuanya dengan kondisi sehat, mandiri, aktif, dan bahagia, sekaligus menjadi teladan yang menginspirasi bagi generasi penerus bangsa.

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Bupati Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Banyuwangi, Gerry Oktavian, melontarkan pernyataan tegas terkait arah dan karakter organisasi yang dipimpinnya. Menurutnya, kekuatan sebuah organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya anggota yang dimiliki, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia yang loyal, solid, dan mampu menjaga kehormatan organisasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Gerry sebagai penegasan bahwa LIRA Banyuwangi tidak mengejar kuantitas anggota semata. Sebaliknya, organisasi lebih membutuhkan kader-kader yang memiliki komitmen, integritas, dan kesetiaan terhadap visi perjuangan organisasi.

“Saya tidak butuh pasukan yang banyak. Yang saya butuhkan adalah pasukan yang sedikit tetapi solid, loyal, dan mampu menjaga nama baik organisasi dengan baik,” tegas Gerry, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, tidak sedikit organisasi yang memiliki anggota dalam jumlah besar, namun justru mengalami persoalan internal akibat rendahnya loyalitas dan minimnya rasa tanggung jawab terhadap organisasi. Karena itu, ia menilai soliditas dan kedisiplinan kader merupakan fondasi utama dalam membangun organisasi yang kuat dan berwibawa.

Gerry menegaskan bahwa setiap anggota LIRA harus mampu menjadi representasi organisasi di tengah masyarakat dengan menjaga etika, integritas, serta menjunjung tinggi marwah lembaga. Baginya, nama baik organisasi merupakan aset yang harus dijaga bersama dan tidak boleh dikorbankan oleh kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

“Organisasi besar bukan diukur dari banyaknya anggota, tetapi dari seberapa kuat anggotanya menjaga kekompakan, loyalitas, dan kehormatan organisasi. Kader yang berkualitas akan lebih bernilai daripada ratusan anggota yang tidak memiliki komitmen,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan seluruh jajaran LIRA Banyuwangi agar terus memperkuat solidaritas internal dan menjadikan loyalitas sebagai nilai utama dalam setiap langkah organisasi. Dengan demikian, LIRA dapat terus hadir sebagai organisasi yang kredibel, dipercaya masyarakat, serta mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional dan bertanggung jawab.

“Lebih baik sedikit tetapi berkualitas, daripada banyak namun justru menjadi beban organisasi. Soliditas, loyalitas, dan integritas adalah harga mati bagi siapa pun yang ingin membesarkan LIRA,” pungkas Gerry Oktavian.

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Jajaran pengurus Ormas Sakera Banyuwangi mengingatkan seluruh anggota agar tetap menjaga marwah organisasi dengan mengedepankan loyalitas, disiplin, dan semangat juang. Mereka menilai, organisasi tidak akan mampu berkembang dan bertahan apabila hanya dijadikan tempat mencari kesenangan, kenyamanan, atau kepentingan pribadi.

Korlap Ormas Sakera Banyuwangi menegaskan bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak lahir dari euforia, seremoni, maupun kebersamaan yang bersifat sesaat. Menurutnya, organisasi yang besar dibangun melalui kerja nyata, pengorbanan, komitmen, dan dedikasi seluruh anggotanya dalam memperjuangkan tujuan bersama.

“Organisasi tidak dibangun oleh euforia dan kesenangan semata, tetapi oleh loyalitas, pengorbanan, serta kerja nyata. Jika hanya ingin happy, organisasi akan kehilangan marwah dan akhirnya runtuh,” tegasnya, Rabu (24/6/2026).

Ia menambahkan, setiap anggota harus memiliki rasa memiliki terhadap organisasi dan menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi. Tanpa loyalitas dan tanggung jawab yang kuat, organisasi akan mudah terpecah dan kehilangan arah perjuangan.

Senada dengan hal tersebut, Bendahara Umum Ormas Sakera Banyuwangi, Bunarwi, menegaskan bahwa organisasi merupakan wadah perjuangan yang dibangun untuk memberikan manfaat bagi anggota maupun masyarakat luas, bukan sekadar tempat mencari hiburan atau kenyamanan.

“Jangan jadikan organisasi sebagai tempat mencari kesenangan. Organisasi adalah wadah perjuangan. Saat semangat juang hilang dan hanya tersisa keinginan untuk happy, maka kehancuran sedang menunggu di depan,” ujar Bunarwi.

Menurutnya, soliditas, disiplin, loyalitas, dan komitmen terhadap visi organisasi merupakan fondasi utama dalam menjaga eksistensi serta kehormatan organisasi di tengah masyarakat. Organisasi yang diisi oleh kader-kader yang memiliki jiwa pengabdian dan rasa tanggung jawab akan mampu menghadapi berbagai tantangan dan dinamika yang muncul dalam perjalanan organisasi.

Sebaliknya, organisasi yang mulai kehilangan semangat perjuangan dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi maupun kelompok, lambat laun akan kehilangan marwah, wibawa, dan kepercayaan dari anggotanya sendiri maupun masyarakat.

Melalui pernyataan tersebut, jajaran pengurus Ormas Sakera Banyuwangi berharap seluruh anggota dapat terus memperkuat solidaritas, menjaga kekompakan, serta menanamkan nilai-nilai pengabdian dan perjuangan demi kemajuan organisasi serta kebermanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat.

(Red)

SITUBONDO || Jejak-indonesia.id – Kepercayaan pimpinan Polri kembali diberikan kepada dua putra terbaik asal Banyuwangi untuk mengemban jabatan strategis di lingkungan Polres Situbondo. Mereka adalah AKP Nurmansyah, S.H., M.H. yang dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Panji dan Iptu Tatang Purwohadi yang kini mengemban amanah sebagai Kasatresnarkoba Polres Situbondo.

Penunjukan kedua perwira tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi dan pembinaan karier di tubuh Polri guna meningkatkan kualitas pelayanan, pengayoman, serta penegakan hukum kepada masyarakat.

Keduanya dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang reserse dan penanganan berbagai perkara kriminal. Rekam jejak tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting sehingga dipercaya menempati posisi yang memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Kabupaten Situbondo.

Sebagai Kapolsek Panji, AKP Nurmansyah dihadapkan pada tugas menjaga kondusivitas wilayah sekaligus memperkuat kehadiran Polri di tengah masyarakat. Dengan pengalaman yang dimiliki, ia diharapkan mampu menghadirkan pelayanan kepolisian yang cepat, humanis, profesional, dan responsif terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

Selain itu, sinergi dengan unsur pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta berbagai elemen lainnya menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kecamatan Panji.

Di sisi lain, jabatan Kasatresnarkoba yang kini diemban Iptu Tatang Purwohadi memiliki tantangan yang tidak ringan. Peredaran dan penyalahgunaan narkotika masih menjadi ancaman serius yang dapat merusak masa depan generasi muda serta mengganggu stabilitas sosial masyarakat.

Dengan bekal pengalaman di bidang reserse, Iptu Tatang diharapkan mampu memperkuat langkah-langkah penegakan hukum terhadap jaringan peredaran narkoba sekaligus mengoptimalkan upaya pencegahan melalui edukasi, sosialisasi, dan pembinaan kepada masyarakat.

Penguatan fungsi pemberantasan narkotika dinilai menjadi salah satu kebutuhan mendesak di berbagai daerah, termasuk Situbondo, mengingat kejahatan narkoba terus berkembang dengan berbagai modus yang semakin kompleks.

Sejumlah kalangan menilai hadirnya dua perwira asal Banyuwangi tersebut akan membawa energi baru bagi Polres Situbondo. Pengalaman mereka dalam bidang penyelidikan dan penyidikan diyakini dapat mendukung peningkatan kinerja institusi, baik dalam menjaga keamanan wilayah maupun dalam penegakan hukum yang profesional dan berkeadilan.

Mutasi dan promosi jabatan di lingkungan Polri sendiri merupakan bagian dari penyegaran organisasi yang bertujuan meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas serta memberikan ruang pengembangan karier bagi personel yang dinilai memiliki kompetensi dan dedikasi tinggi.

Masyarakat Situbondo pun berharap kehadiran AKP Nurmansyah sebagai Kapolsek Panji dan Iptu Tatang Purwohadi sebagai Kasatresnarkoba mampu memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi Polri. Keduanya diharapkan tidak hanya menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi pelayanan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan pengalaman, integritas, dan semangat pengabdian yang dimiliki, kedua putra Banyuwangi tersebut kini siap menjalankan amanah baru demi mewujudkan Kabupaten Situbondo yang aman, tertib, kondusif, serta terbebas dari ancaman kejahatan dan penyalahgunaan narkotika.

JAKARTA || Jejak-indonesia.id – Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PW-FRN), Agus Flores, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya memiliki jaringan yang kuat dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Agus Flores menyusul adanya pihak yang dinilainya meragukan kekuatan dan keberadaan jaringan organisasi yang selama ini dibangun bersama para pengurus dan anggota di seluruh nusantara.

“Saya pernah ditanya oleh salah satu jenderal bintang dua, ‘Mana anggotamu kalau benar kamu kuat?’. Selama ini saya memilih diam dan tidak perlu menunjukkan semuanya. Namun karena terus dipandang enteng, saya merasa perlu memperlihatkan fakta yang ada,” ujar Agus Flores di Jakarta.

Menurutnya, daftar yang selama ini ditampilkan kepada publik sebagian besar baru sebatas para Ketua DPW dan pengurus daerah yang tersebar di berbagai provinsi. Bahkan, masih ada sejumlah pimpinan wilayah yang belum ditampilkan ke publik.

“Salah satu Ketua DPW yang belum saya tampilkan berada di Papua. Ada pertimbangan tersendiri mengapa belum saya munculkan. Yang saya tunjukkan saat ini pun baru para ketua daerah, belum seluruh anggota,” tegasnya.

Agus Flores menjelaskan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya diukur dari jumlah pengurus yang terlihat di media sosial, tetapi dari soliditas jaringan, loyalitas anggota, dan konsistensi dalam menjalankan program organisasi.

“Kalau seluruh anggota saya tampilkan satu per satu, mungkin memori telepon genggam akan penuh. Karena yang selama ini terlihat baru sebagian kecil dari kekuatan yang ada,” katanya.

Ia menambahkan, PW-FRN terus berkembang dan hadir di berbagai daerah sebagai wadah bagi insan pers yang berkomitmen menjaga profesionalisme, memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, serta mendukung terciptanya informasi yang akurat dan berimbang.

Dengan jaringan yang terus bertambah, Agus Flores berharap tidak ada lagi pihak yang meremehkan eksistensi organisasi yang selama ini aktif membangun komunikasi dan kolaborasi di berbagai wilayah Indonesia. “Biarlah karya dan fakta di lapangan yang berbicara,” pungkasnya.

error: Content is protected !!