Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Peristiwa

BANGKA BELITUNG || Jejak-indonesia.id – Polda Bangka Belitung akhirnya melimpahkan tahap II perkara akuntan publik dengan tersangka berinisial AA (60). Pelimpahan dilakukan setelah berkas perkara dinyatakan lengkap atau P21 oleh Kejaksaan Tinggi Babel.

Terkait pelimpahan perkara akuntan publik tersebut turut dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Babel Kombes Pol Agus Sugiyarso pada Kamis (16/7/26) sore.

“Iya benar. Pada hari ini Kamis 16 Juli 2026, berkas perkara akuntan publik dengan tersangka AA sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Sungailiat Kabupaten Bangka,”kata Agus di Mapolda.

Dikatakan Agus, Tim Subdit II Fismondev Ditreskrimsus Polda Babel turut menyerahkan sejumlah barang bukti terkait perkara akuntan publik tersebut.

“Tentunya ini semua adalah bagian dari proses hukum yang sedang berjalan. Harapannya ini segera diproses sampai tahap persidangan sehingga tersangka ini bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku,”pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Tim Subdit II Fismondev berhasil menjemput paksa tersangka berinisial AA di kediamannya di Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Penyidik mengungkapkan alasan tersangka AA dijemput paksa dikarenakan tersangka tidak koperatif terhadap surat panggilan tersangka yang sudah 3 kali dilayangkan.

Sehingga pada 20 Mei 2026, penyidik melakukan upaya penjemputan paksa terhadap tersangka AA dengan dasar surat perintah membawa tersangka untuk selanjutnya dilakukan proses pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah dijemput dan dibawa ke Mapolda, tersangka AA resmi dilakukan penahanan selama 20 hari terhitung mulai dari tanggal 20 Mei – 8 Juni 2026.

Untuk tersangka sendiri, penerapan pasal yang dipersangkakan adalah pasal 57 ayat 2 UU No. 5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik dan/atau Pasal 391 UU Nomor 1 tahun 2024 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana dengan ancaman penjara paling lama 4-6 tahun.

BINJAI || Jejak-indonesia.id – Sebagai bentuk komitmen dalam memberantas peredaran narkoba, Polsek Binjai Polres Binjai melaksanakan Grebek Sarang Narkoba (GSN) di Dusun V, Desa Tandem Hilir I, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, pada Senin (14/7/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.

Penggerebekan dipimpin langsung oleh Kapolsek Binjai, AKP Siti Aisyah, M.Pd., setelah menerima laporan masyarakat mengenai adanya aktivitas yang diduga berkaitan dengan penyalahgunaan dan peredaran narkoba di lokasi tersebut.

Setibanya di tempat kejadian, personel Polsek Binjai mendapat dukungan penuh dari tokoh agama dan masyarakat Desa Tandem Hilir I. Warga bersama tokoh agama turut membantu petugas melakukan penyisiran di sekitar lokasi yang diduga menjadi sarang narkoba.

Dari hasil penggerebekan, petugas menemukan 3 unit pondok kecil yang diduga digunakan sebagai tempat transaksi dan penyalahgunaan narkoba, serta 7 buah bong atau alat hisap sabu.

Sebagai tindak lanjut, Kapolsek Binjai bersama tokoh agama dan masyarakat melakukan pembongkaran serta pemusnahan terhadap pondok-pondok tersebut sebagai upaya menghilangkan tempat yang selama ini dinilai meresahkan warga.

Kapolsek Binjai AKP Siti Aisyah menyampaikan apresiasi atas sinergi masyarakat yang telah berperan aktif mendukung kepolisian dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari narkoba.

Sementara itu, Kapolres Binjai AKBP R. Bimo Moernanda, S.I.K., M.H., mengimbau masyarakat agar terus berpartisipasi dalam pemberantasan narkoba dengan memberikan informasi kepada pihak kepolisian melalui Call Center 110. Menurutnya, kolaborasi antara kepolisian dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.

“Kami berkomitmen untuk terus memberantas peredaran narkoba di wilayah hukum Polres Binjai. Dukungan dan informasi dari masyarakat sangat penting agar upaya ini dapat berjalan maksimal demi memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh warga,” tegas Kapolres.

Humas Polres Binjai
15 Juli 2026

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Pemkab Banyuwangi terus memastikan anak-anak yang rentan putus sekolah, tetap bisa bersekolah. Melalui berbagai skema bantuan pendidikan, Banyuwangi berhasil mengentaskan ribuan anak rentan putus sekolah.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen menjaga hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan hingga jenjang SMA atau sederajat..

“Bagi kami, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan apapun persoalannya. Setiap anak berhak mendapatkan haknya untuk bersekolah melalui berbagai skema bantuan,” ujar Ipuk, Kamis (16/7/2026).

Berbagai skema telah disiapkan, mulai dari bantuan perlengkapan sekolah, bantuan uang saku, pendidikan kesetaraan, hingga pendampingan bagi anak yang sempat putus sekolah agar kembali ke bangku sekolah.

Salah satu upaya yang dijalankan adalah Program Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun (Rindu Bulan). Program ini mengoptimalkan kolaborasi berbasis desa dan kelurahan untuk mendata sekaligus mengembalikan Anak Tidak Sekolah (ATS) ke jalur pendidikan, baik melalui sekolah formal maupun pendidikan kesetaraan.

Program tersebut melibatkan banyak stakeholder, mulai dari desa/kelurahan, satuan pendidikan, Kementerian Agama, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, hingga Baznas.

“Penyisiran kami lakukan dari lingkup desa. Kalau kita kunci dari wilayah terkecil, penanganannya akan lebih tepat sasaran karena penyebab anak putus sekolah berbeda-beda sehingga bentuk bantuannya juga harus disesuaikan,” kata Ipuk.

Sejak diluncurkan pada 2023, Rindu Bulan telah berhasil mengembalikan 3.259 Anak Tidak Sekolah (ATS) ke bangku pendidikan.

“Tidak sekadar mengembalikan mereka ke sekolah, kami juga terus mendampingi, baik dari sisi prestasi maupun kebutuhan pendidikannya hingga lulus,” kata Ipuk.

Selain melalui pendataan, Ipuk juga rutin turun langsung mendatangi rumah anak-anak yang teridentifikasi berisiko putus sekolah, untuk memberikan motivasi kepada mereka beserta keluarganya agar tetap melanjutkan pendidikan.

“Dengan kolaborasi banyak pihak, kami berharap semakin banyak anak Banyuwangi yang bisa menyelesaikan pendidikannya. Pendidikan merupakan salah satu kunci memutus rantai kemiskinan,” ujar Ipuk.

Ditambahkan Plt. Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Alfian, proses pendampingan diawali dengan verifikasi dan validasi data anak rentan putus sekolah.. Selanjutnya, tim melakukan kunjungan langsung ke rumah anak untuk mengetahui penyebab mereka tidak bersekolah.

“Anak-anak yang memang benar berstatus ATS akan kami visitasi untuk mengetahui akar persoalannya. Dari situ kami menentukan afirmasi atau bantuan yang paling sesuai, baik mengembalikan ke sekolah formal, pendidikan kesetaraan, maupun memfasilitasi akses berbagai bantuan pendidikan yang tersedia,” kata Alfian.

Pemkab Banyuwangi melakukan penyisiran terhadap anak-anak yang berpotensi putus sekolah hingga ke tingkat desa.

Banyuwangi juga memiliki program SAS (Siswa Asuh Sebaya), siswa diajak menyisihkan uang sakunya untuk membantu teman sekolahnya yang kurang mampu. Dari program ini memberikan bantuan kebutuhan siswa kurang mampu seperti sepeda, kacamata, perlengkapan sekolah, uang saku, dan bantuan kebutuhan pendidikan lainnya.

Gerakan ini menanamkan empati sekaligus menjadi jaring pengaman sosial di lingkungan sekolah. (*)

KALIBARU || Jejak-indonesia.id – Komandan Kodim (Dandim) 0825/Banyuwangi, Letkol Arm Tryadi Indrawijaya, S.H., M.I.P., meninjau langsung progres pembangunan Jembatan Garuda Tahap IV yang berlokasi di Dusun Krajan, Desa Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

​Kegiatan peninjauan lapangan ini dilakukan untuk memastikan pengerjaan proyek infrastruktur vital tersebut berjalan lancar, tepat waktu, dan sesuai dengan spesifikasi yang direncanakan demi kepentingan masyarakat luas.

​Dalam kunjungan tersebut, Letkol Arm Tryadi Indrawijaya didampingi langsung oleh Danramil 0825/05 Kalibaru, Kapten Inf Didik Yulianto, beserta jajaran terkait setempat.

​”Pembangunan Jembatan Garuda Tahap IV ini merupakan wujud nyata komitmen Kodim 0825/Banyuwangi dalam mendukung percepatan pembangunan daerah, khususnya dalam membuka aksesibilitas transportasi dan meningkatkan perekonomian warga di wilayah Kecamatan Kalibaru,” ujar Letkol Arm Tryadi Indrawijaya di sela-sela kegiatannya.

​Pihak Kodim 0825/Banyuwangi berharap, dengan rampungnya Jembatan Garuda Tahap IV ini nantinya, mobilitas warga Dusun Krajan dan sekitarnya akan semakin mudah, aman, dan cepat. Jembatan ini diproyeksikan menjadi urat nadi baru yang menghubungkan potensi desa ke pusat-pusat ekonomi daerah.

​Selama peninjauan, Dandim beserta rombongan melihat secara detail setiap sudut konstruksi dan berdiskusi dengan para pekerja di lapangan guna mengantisipasi kendala teknis yang mungkin dihadapi selama proses pembangunan.

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Parade etnik Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 digelar akhir pekan ini, Sabtu 18 Juli 2026. Tidak hanya ditunggu para wisatawan dan masyarakat, para pedagang juga sangat antusias menyambut event tahunan yang mereka nanti-nanti ini.

Bagaimana tidak, perhelatan BEC selalu membawa berkah bagi pelaku usaha kecil. Seperti yang dikatakan Iwan, pedagang kaki lima di Jalan Letjen Sutoyo, penyelenggaraan BEC selalu mendongkrak pendapatannya.

“Kalau ada event BEC pasti ramai, pendapatan yang kami dapat juga naik dua kali lipat,” kata pedagang telur gulung ini, Rabu (15/7/2026).

Untuk memaksimalkan dagangannya, Iwan tak hanya membuka lapak di tempat biasa ia berjualan. Ia turut membuka lapak keliling dengan sepeda motor di area yang dipadati pengunjung. Dengan begitu, stok jualan ditambah, karena pengalaman sebelumnya menunjukkan lonjakan pembeli saat BEC berlangsung.

Dari pengalaman dua tahun terakhir, Iwan mengaku bisa mengantongi omzet Rp600 ribu hingga Rp700 ribu dalam sehari saat BEC digelar. Nilai itu jauh di atas pendapatan hari biasa hingga dua kali lipat.

“Kami berharap. Kalau bisa, BEC digelar setahun dua kali. Karena dampaknya sangat terasa bagi pedagang kecil seperti kami,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Tia, pedagang aneka minuman es di kawasan yang sama. Seperti yang dilakukan Iwan, Tia tidak menyia-nyiakan momen BEC dengan menyiapkan stan tambahan di depan SD Brawijaya yang menjadi salah satu titik ramai penonton. Setiap ada BEC omzetnya bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding hari biasa.

“Tiap ada BEC pasti buka dua tempat. Dari pagi sampai malam jualannya karena pengunjung terus berdatangan. Kalau ada BEC senang sekali. Persiapan jualan ditambah lagi. Biasanya omzet sekitar Rp1 juta, kalau BEC bisa lebih dari itu,” ujarnya.

Berkah serupa dirasakan Rahmat, penjual Es Dawet Barokah di depan Kantor Pos Banyuwangi. Ia mengaku kebutuhan bahan bakunya meningkat drastis setiap kali BEC digelar.

“Biasanya stok tiga perempat kilogram, kalau BEC bisa sampai satu setengah kilogram dan biasanya habis semua,” kata Rahmat.

Begitu juga yang dirasakan Mbok Sulik pemilik warung di kawasan desa wisata Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah. Dia mengaku selalu antusias setiap ada event besar di Banywuangi.

“Banyak orang datang ke Banyuwangi, menginap dan berwisata sehingga dagangan saya laku. Ini yang selalu ditunggu pedagang seperti saya yang berharap rejeki berlimpah dari acara yang dibuat pemkab,” kata Sulik.

BEC akan berlangsung pada 18 Juli pukul 13.00 WIB dengan start di Taman Blambangan. Ratusan talent karnaval akan menempuh rute sepanjang 2 km di jalan protokol Banyuwangi.

Menyambut karnaval kolosal tersebut, berbagai agenda menarik yang bisa diikuti mulai 16-19 Juli dalam rangkaian BEC Week. Seperti Sekarkijang Creative Fest (SCF) yang didukung penuh oleh Bank Indonsia Jember, termasuk festival UMKM dan event lari. (*)

error: Content is protected !!