Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Peristiwa » Halaman 852

Peristiwa

Screenshot_20250923-180558_Document Reader

Bendungan Bersejarah Dam Pleret 1904 Jadi Pusat Pelatihan Produksi Warga

PASURUAN || jejakindonesia.id - Bendungan bersejarah Dam Pleret 1904 yang berlokasi di Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, kini bukan harya menjadi saksi bisu sistem irigasi tempo dulu, tetapi juga berkembang menjadi pusat pelatihan dan edukasi masyarakat. Berkat keja sama antara Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dam Pleret 1904 dan Universitas Merdeka Malang. kawasan ini disulap menjadi agrOwisata edukatif dengan berbagai fasilitas pertanian modern.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat yang didanai oleh DPPM Kemendikbudristek tahun anggaran 2025, melalui skema Pengabdian Kemitraan Masyarakat, dengan judul: "Pengembangan Ekowisata Pertanian Edukatif Dam Pleret 1904: Sinergi Swasembada Pangan, Digitalisasi, dan Penguatan Kelembagaan Komunitas.

Dalam program ini dilaksanakan pada hari minggu tanggal 10 agustus 2025, warga Desa Pleret mengikuti rangkaian Pelatihan Produksi Hidroponik, Tabulampot (Tanaman Buah dalam Pot), dan Vertikultur. Pelatihan berlangsung di lahan edukatif sekitar Dam Pleret yang kini menjadi ruang praktik bagi warga, mahasiswa, dan komunitas lokal. Materi pelatihan menitikberatkan pada teknik pertanian hemat lahan yang aplikatif. Peserta diajarkan cara merakit instalasi hidroponik NFT, menyusun rak vertikultur, serta merawat tabulampot. Selain itu pelatihan juga mencakup pemberian nutrisi tanaman, sanitasi panen, serta pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai jual.

"Awalnya saya hanya tahu menanam lalu menjual apa adanya. Setelah ikut pelatihan, saya belajar cara mengemas dan bahkan mengolah jadi produk berbeda. Irni membuka peluang baru bagi usaha keluarga kami, ujar Bu Husain, salah satu peserta dari kelompok ibu rumah tangga.

Produk hasil pelatihan pun beragam, mulai dari sayuran siap mas ak, minuman herbal, hingga camilan sehat berbahan dasar sayuran lokal. Pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membekali peserta dengan dasar-dasar manajemen usaha seperti pencatatan biaya, perhitungan harga pokok produksi, hingga strategi pemasaran sederhana.Ketua Pokdarwis Dam Pleret 1904, Heru Yulian Bayuardi, menyebut pelatihan ini menjadi titik awal perubahan pandangan masyarakat terhadap pertanian.

"Pelatihan ini memberi kami semangat baru. Anak-anak muda bisa melihat bahwa bertani bukan pekerjaan kuno, tapi bisa modern dan menguntungkan jika dikelola dengan benar," ujarnya

Dampaknya mulai terasa. Beberapa keluarga telah memproduksi sampel olahan dan memasarkan ke pasar lokal. Kelompok pemuda desa bahkan menyiapkan stan produk untuk acara desa. Ini menjadi langkah nyata menuju kemandirian ekonomi berbasis komunitas.

Tak hanya bermanfaat bagi warga, lahan edukatif ini kini juga menarik kunjungan mahasiswa melalui program MBKM serta menjadi destinasi kunjungan sekolah. Hal ini memperkuat posisi Dam Pleret 1904 sebagai destinasi ekowisata edukatif, yang menggabungkan aspek rekreasi, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat. Ke depan, tim pengabdian Universitas Merdeka Malang berencana melanjutkan pendampingan, khususnya dalam aspek pemasaran digital dan pembentukan jaringan UMKM regional. Harapannya, produk-produk lokal dari Pleret tidak hanya beredar di pasar lokal, tetapi bis a menembus pasar yang lebih luas.

Screenshot_20250923-173404_Document Reader

Pelatihan Manajerial Jadikan Pokdarwis Dam Pleret Lebih Profesional

PASURUAN - Dam Pleret 1904 tak hanya menyimpan nilai historis sebagai peninggalan irigasi masa kolonial, tetapi kini juga menjadi pusat pengembangan wisata edukatif berbasis masyarakat. Di kawasan ini, warga Desa Pleret aktif mengelola destinasi melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang terus berbenah, salah satunya melalui pelatih an manajerial yang difokuskan pada penguatan tata kelola usaha.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh Universitas Merdeka Malang, dan didukung pendanaan dari DPPM Kemendikbudristek tahun anggaran 2025 melalui skema Pengabdian Kemitraan Masyarakat, yang dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 16 agustus 2025. Program ini mengangkat judul:

"Pengembangan Ekowisata Pertanian Edukatif Dam Pleret 1 904: Sinergi Swasembada Pangan, Digitalisasi, dan Penguatan Kelembagaan Komunitas."

Fokus utama pelatihan adalah memberikan pemahaman praktis kepada warga tentang cara mengelola usaha secara profesional. Mulai dari pembukuan keuangan yang sederhana, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SQP), hingga perencanaan bisnis jangka pendek dan jangka panjang.

Peserta diajak mengenal cara mencatat transaksi sehari-hari seperti pemasukan dari hasil kebun dan pengeluaran operasional. Pendekatan ini membangun kesadaran bahwa keberlangsungan usaha tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi juga perlu pencatatan yang sistematis dan bisa diaudit.

Dalam sesi SOP. warga dan fasilitator menyusun langkah-langkah kerja st andar, seperti alur menerima kunjungan wisata, cara pengemasan hasil panen, serta sistem pembagian tugas antar anggota. Langkah ini penting untuk menciptakan efisiensi, konsistensi layanan, dan pengelolaan yang dapat berjalan meski anggota berganti.

Selain itu, warga dilibatkan dalam merancang strategi usaha-mulai dari menentukan target produksi bulanan, strategi promosi, hingga pengembangan pasar lokal. Semua proses dilakukan secara partisipatif agar warga merasa memiliki dan siap menerapkan hasil pelatihan secara nyata.

"Dulu kami mengandalkan ingatan untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran. Sekarang kami belajar cara membuat catatan yang rapi dan mudah dipahami. Ini sangat membantu kami dalam mengelola kebun dan wisata edukasi," ujar Budi Santoso, peserta aktif dari Pokdarwis Dam Pleret 1904.

Dosen pendamping dari Universitas Merdeka Malang. Ilham Nur Hanifan Maulana, S. AP., MAP, menyampaikan bahwa kemampuan manajerial adalah pilar utama dalam mengembangkan usaha berbasis komunitas.

"Kemampuan produksi saja tidak cukup. Tanpa pengelolaan yang baik, potensi bisa ter hambat. Melalui pelatihan ini, kami ingin memperkuat fonda si kelembagaan warga agar lebih siap tumbuh secara berkelanjutan, jelasnya.

Pelatihan ini juga membangun keber samaan di antara warga. Proses diskusi dalam menyusun SOP dan rencana usaha menciptakan ruang dialog. saling mendengar, dan gotong roy ong. Nilai-nilai ini menjadi kekuatan tambahan bagi Pokdarwis dalam membangun usaha yang tidak hanya produktif, tapi juga solid secara sosial. Ke depan, masyarakat berharap adanya lanjutan pendampingan, terutama dalam pengembangan pasar dan akses permodalan. Dengan sistem pencatatan yang lebih rapi, warga optimistis dapat menjalin kemitraan dengan pihak luar dan membawa produk-produk Dam Pleret menjangkau pasar yang lebih luas.

Pengalaman ini membuktikan bahwa keberhasilan desa wisata bukan hanya soal keindahan alam atau produk yang dijual, tetapi juga ditentukan oleh kualitas manajemen dan kemandirian kelembagaan di baliknya.

Screenshot_20250923-153319_Document Reader

Pelatihan Digital Marketing Perkuat Branding Ekowisata Dam Pleret 1904

PASURUAN || jejak Indonesia.id - Dam Pleret 1904, peninggalan kolonial yang dulunya hanya dikenal sebagai bendungan pengairan, kini menjelma menjadi pusat pembelajaran dan wisata pertanian edukatif. Di sekelilingnya tumbuh ruang produktif berupa kebun hidroponik dan vertikultur yang dikelola oleh masyarakat melalui Pokdarwis Dam Pleret 1904. Tidak hanya fokus pada produksi, kini warga juga belajar cara memperkenalkan potensi lokal mereka secara digital melalui pelatihan digital marketing dan pengelolaan media sosial.

Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 18 Agustus 2025 merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat oleh Universitas Merdeka Malang. yang didanai oleh DPPM Kemendikbud ristek tahun anggaran 2025, dalam skema Pengabdian Kenitraan Masyarakat. Adapun tema besar kegiatan ini adalah:

"Pengembangan Ekowisata Pertanian Edukatif Dam Pleret 1904: Sinergi Swasembada Pangan, Digitalisasi, dan Penguatan Kelembagaan Komunitas."

Pelatihan ini bertujuan membekali warga-khususnya pengurus Pokdarwis dan pemuda desa dengan keterampilan promosi digital yang relevan dan aplikatif. Sebanyak 30 peserta terlibat aktif dalam sesi pelatihan yang mencakup pembuatan konten media sosial, strategi sederhana SEO, manajemen akun usaha, hingga pengelolaan website sebagai media promosi dan pemesanan layanan wisata.

Peserta tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik membuat kalender konten, memotret produk hasil panen, menyusun caption menarik, dan mengunggah testimoni pengunjung. Pendekatan ini membantu warga memahami pentingnya visual yang
menarik dan narasi lokal dalam menarik minat pengunjung maupun calon penbeli.

"Awalnya kami ragu dan bingung mulai dari mana. Tapi setelah dilatih, ternyata mernbuat konten tentang kegiatan tani atau cara panen bisa jadi menarik. Sekarang kami bisa memperkenalkan Dam Pleret ke lebih banyak orang, tanpa menunggu mereka datang dulu." ungkap Dinan Adi Baskoro, Anggota Pokdarwis Dam Pleret 1904.

Hasil awal pelatihan terlihat dari meningkatnya aktivitas digital: akun media sosial Pokdarwis mulai terisi rutin, sementara website resmi telah aktif dan mulai menerima beberapa formulir pemesanan kunjungan edukatif dari sekolah-sekolah sekitar. Tim pengabdian mencatat adanya peningkatan engagerment, meski tantangan utama tetap terletak pada konsistensi pengelolaan dan keberlanjutan konten.

Pelatihan juga menggarisbawahi pentingnya cerita lokal. Bukan sekadar promosi produk, strategi digital yang dibangun mengajak warga mengangkat nilai sejarah Dam Pleret dan aktivitas kebun edukatif sebagai daya tarik utama. Cerita-cerita ini menjadi pembeda yang memperkuat posisi Dam Pleret di tengah banyaknya destinasi wisata serupa.

Meski infrastruktur digital sudah berjalan, tantangan lain masih perlu diatasi: peningkatan kapasitas produksi, penyempurnaan kemasan, dan perluasan akses pasar. Oleh karena itu, tim pengabdian merancang tahapan lanjutan, seperti mentoring konten, integrasi dengan marketplace lokal, dan penyusunan paket prormosi terpadu berbasis komunitas.

Di sisi lain, pelatihan ini juga membuka jalan bagi anak-anak muda desa untuk terlibat aktif tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Dengan keahlian digital yang mereka miliki, mereka bisa menjadi jembatan antara potensi lokal dan pasar yang lebih luas.

"Bagi kami, strategi digital bukan hanya soal jualan online. Ini adalah cara agar orang tahu bahwa di Dam Pleret ada praktik pertanian modern, produk sehat, dan cerita lokal yang bisa dibagikan" ujar Ahmad Herlyasa Sosro Pratama, S.P, M. Si, dosen pendamping dari Universitas Merdeka Malang.

Dengan dukungan yang berkelanjutan, strategi digital ini diharapkan tak hanya memperluas jangkauan promosi, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi warga Pleret. Bukan mustahil, Dam Pleret 1904 akan dikenal bukan hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai model sukses ekowisata berbasis komunitas dan digitalisasi pedesaan.

IMG-20250923-WA0032

Ketua YLKI Sultra Agus Flores: Sepakat dengan DPR Hentikan MBG

KENDARI || jejakindonesia.id – Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulawesi Tenggara (Sultra), Agus Flores, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PW FRN) Counter Polri, menyampaikan sikap tegas terkait polemik keberadaan MBG.

Dalam pernyataannya, Agus Flores menegaskan bahwa aktivitas MBG tidak berada dalam pengawasan resmi lembaga perlindungan konsumen maupun otoritas terkait.

“Saya sepakat dengan DPR hentikan MBG. Erornya jelas, karena tidak diawasi YLKI dan Balai POM,” ujar Agus Flores.

Ia menekankan, pengawasan dari lembaga konsumen serta Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merupakan syarat mutlak agar aktivitas usaha yang menyentuh masyarakat luas berjalan sesuai aturan dan tidak menimbulkan kerugian.

Agus Flores juga mengingatkan bahwa lemahnya kontrol terhadap aktivitas semacam MBG berpotensi besar merugikan masyarakat. Karena itu, ia mendukung langkah DPR untuk segera menghentikan operasional MBG sampai ada kejelasan regulasi dan pengawasan yang benar.

Dengan pernyataan ini, Agus Flores menegaskan komitmen YLKI Sultra untuk selalu berdiri di garis depan dalam melindungi konsumen dan mendukung upaya pemerintah maupun DPR dalam menjaga kepentingan masyarakat.

(Red)

IMG-20250922-WA0082

Sinergi Pendidikan & Penegak Hukum: MKKS SMAS Kupas Permasalahan Sekolah

BANYUWANGI || jejak-indonesia.id - Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Swasta se-Kabupaten Banyuwangi menggelar forum diskusi publik bertajuk “Kajian dan Analisis Hukum Permasalahan di Satuan Pendidikan”, Senin (22/9/2025), bertempat di Griya Ekologi, Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro.

Ketua MKKS SMA Swasta Banyuwangi, Drs. Hari Prasmono, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang penting bagi para kepala sekolah untuk memperdalam pemahaman hukum. “Kami ingin kepala sekolah memiliki bekal yang cukup, tidak hanya dalam manajerial pendidikan, tetapi juga dalam tata kelola yang sesuai regulasi agar terhindar dari masalah hukum,” ujarnya.

Acara menghadirkan narasumber Iptu Karyono Setyawan, S.H.MH., Kanit Pidkor Satreskrim Polresta Banyuwangi, serta Drs. Slamet Riyadi, M.Pd, Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah (Cabdindikprovwil) Banyuwangi. Diskusi dipandu oleh Hakim Said, S.H., Ketua Firma Hukum Rumah Advokasi Kebangsaan Banyuwangi (RAKB).

Iptu Karyono dalam paparannya menekankan pentingnya transparansi dan kehati-hatian dalam penggunaan dana pendidikan. “Potensi pelanggaran sering muncul bukan karena niat, melainkan kurangnya pemahaman regulasi. Maka kepala sekolah wajib berhati-hati,” tegasnya.

Senada, Drs. Slamet Riyadi menegaskan komitmen Dinas Pendidikan untuk terus melakukan pembinaan. “Kami ingin memastikan tata kelola sekolah berjalan sesuai prinsip akuntabilitas dan transparansi,” ujarnya.

Moderator, Hakim Said, S.H., memberi penekanan khusus bahwa sekolah tidak boleh dibiarkan terjebak dalam praktik yang berpotensi menyalahi aturan. “Pendidikan adalah ladang pengabdian, bukan ruang jebakan. Kepala sekolah harus berani berkata tidak pada segala bentuk intervensi menyimpang. Regulasi harus menjadi pagar, bukan jerat,” tandasnya.

Adapun agenda MKKS SMA Swasta Banyuwangi pada Senin, 22 September - Selasa, 23 September 2025 di Griya Ekologi Kelir, diantaranya:

Pembahasan dasar hukum pengelolaan sekolah.

Identifikasi permasalahan aktual di SMA Swasta.

Analisis hukum dari perspektif pendidikan.

Strategi pencegahan dan rekomendasi tindak lanjut.

Forum ini menghasilkan kesepahaman penting: perlunya literasi hukum yang lebih kuat bagi kepala sekolah, serta kolaborasi erat antara MKKS, Cabang Dinas Pendidikan, dan Polresta Banyuwangi dalam mencegah maladministrasi dan praktik penyimpangan di dunia pendidikan.

error: Content is protected !!