Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Peristiwa

SITUBONDO || Jejak-indonesia.id – Ribuan umat Islam dari berbagai daerah memadati Alun-alun Situbondo, Jawa Timur pada Minggu (19/7/2026) untuk menghadiri Haul Masyayikh 2026. Lautan jamaah yang memenuhi kawasan Kota Santri menjadi bukti nyata besarnya kecintaan masyarakat kepada para ulama sekaligus semangat menjaga tradisi keislaman yang penuh keberkahan.

Sejak pagi, suasana berlangsung khidmat. Lantunan ayat suci Al-Qur’an, shalawat, dzikir, dan doa bersama menggema mengiringi setiap rangkaian acara. Ribuan jamaah mengikuti kegiatan dengan penuh kekhusyukan, menjadikan Haul Masyayikh bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga momentum mempererat ukhuwah Islamiyah serta meneladani perjuangan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam yang damai dan penuh kasih.

Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menebar Cinta dan Kasih”, Haul Masyayikh mengajak seluruh umat untuk terus menjaga nilai-nilai persatuan, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Semangat para masyayikh dalam berdakwah, mengabdi kepada umat, serta membangun akhlak mulia menjadi teladan yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.

Pelaksanaan Haul Masyayikh 2026 berlangsung sukses, aman, tertib, dan lancar hingga seluruh rangkaian acara selesai. Keberhasilan penyelenggaraan ini tidak lepas dari sinergi panitia, aparat keamanan, TNI-Polri, tenaga kesehatan, relawan, serta kedisiplinan seluruh jamaah yang menjaga ketertiban selama acara berlangsung. Suasana penuh kedamaian dan kebersamaan menjadi cerminan kuat bahwa masyarakat Situbondo mampu menyelenggarakan kegiatan keagamaan berskala besar dengan baik.

Di penghujung acara, gema shalawat kembali memenuhi Alun-alun Situbondo sebagai penutup yang sarat makna. Seluruh jamaah diajak untuk tidak berhenti mencintai Rasulullah SAW melalui shalawat serta meneladani perjuangan para ulama dalam kehidupan sehari-hari.

“Teruslah bershalawat. Dengan shalawat, hati menjadi tenang, persaudaraan semakin erat, dan keberkahan Allah SWT senantiasa mengiringi setiap langkah kehidupan. Mari terus menjaga warisan para masyayikh dengan memperbanyak shalawat, memperkuat ukhuwah, serta mengamalkan ajaran Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.”

Haul Masyayikh 2026 pun ditutup dengan penuh haru dan rasa syukur. Dari Kota Santri Situbondo, semangat mencintai ulama, menjaga persatuan, dan menghidupkan shalawat kembali bergema, menjadi pesan kuat bahwa warisan para masyayikh akan terus hidup di hati umat sepanjang masa. (Wan)

BALI || Jejak-indonesia.id – Media Online Jejak-Indonesia.id kembali menunjukkan komitmennya dalam menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional dengan mengedepankan konfirmasi sebelum menerbitkan pemberitaan terkait aktivitas tambang kapur yang menjadi perhatian masyarakat.

Sebelum berita dipublikasikan, redaksi terlebih dahulu menghubungi pihak yang namanya disebut dalam informasi yang beredar. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik, yang mewajibkan media melakukan verifikasi, memberikan hak jawab, dan menyajikan informasi secara berimbang.

Dalam proses konfirmasi, redaksi menyampaikan sedikitnya enam pertanyaan substantif, mulai dari legalitas dan kelengkapan perizinan tambang, instansi penerbit izin, dugaan adanya pihak yang membackup kegiatan tersebut, hingga klarifikasi mengenai keterlibatan pihak yang dikonfirmasi dalam aktivitas operasional tambang.

Berdasarkan komunikasi melalui panggilan WhatsApp, pihak yang dikonfirmasi membenarkan bahwa aktivitas tambang tersebut merupakan milik adiknya. Ia juga menjelaskan bahwa adiknya jarang berada di lokasi sehingga dirinya membantu menjaga lokasi usaha tersebut.

Meski demikian, menurut redaksi, penjelasan tersebut belum menjawab substansi pertanyaan yang diajukan, khususnya mengenai status legalitas usaha, jenis perizinan yang dimiliki, instansi penerbit izin, maupun klarifikasi terhadap informasi yang berkembang di masyarakat.

Dalam percakapan lanjutan melalui WhatsApp, respons yang lebih dominan justru berupa ajakan kepada tim media untuk bertemu dan “ngopi” di lapangan serta membangun hubungan pertemanan. Ajakan tersebut disampaikan beberapa kali setelah pertanyaan konfirmasi diajukan.

Bagi redaksi, ajakan bertemu merupakan hal yang wajar dalam membangun komunikasi. Namun, dalam perspektif jurnalistik, pertemuan informal tidak menggantikan kewajiban memberikan jawaban atas pertanyaan konfirmasi yang menyangkut kepentingan publik. Informasi mengenai legalitas usaha dan klarifikasi atas isu yang berkembang tetap menjadi bagian penting yang harus dijelaskan kepada masyarakat.

Di sisi lain, pihak yang dikonfirmasi juga menyampaikan harapannya agar media tetap menjaga nama baik setiap orang yang disebut dalam pemberitaan serta menjunjung tinggi prinsip pemberitaan yang adil, bijaksana, dan tidak sepihak.

Menanggapi hal tersebut, Pimpinan Umum Media Online Jejak-Indonesia.id, Selamet Solichin atau yang akrab disapa Mbah Semar, menegaskan bahwa redaksi menghargai setiap hak jawab narasumber dan memilih menahan sementara publikasi berita sampai proses verifikasi benar-benar selesai.

“Prinsip kami sederhana. Setiap informasi harus diuji melalui konfirmasi. Jika masih ada pertanyaan penting yang belum dijawab, maka berita belum layak disajikan sebagai informasi yang utuh kepada publik,” ujar Mbah Semar.

Atas dasar itu, redaksi memutuskan meng-hold sementara pemberitaan sambil menunggu jawaban lebih lanjut atas pertanyaan yang telah disampaikan. Langkah tersebut diambil untuk menjaga keberimbangan informasi, menghormati hak jawab narasumber, sekaligus memastikan produk jurnalistik yang diterbitkan memenuhi prinsip akurasi, verifikasi, dan profesionalisme sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Hingga berita ini ditulis, redaksi masih membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak yang dikonfirmasi untuk memberikan penjelasan, klarifikasi, maupun menunjukkan dokumen perizinan yang relevan. Apabila seluruh data telah diterima dan diverifikasi, redaksi akan memuatnya secara proporsional sebagai bagian dari penerapan prinsip cover both sides dalam pemberitaan.

BANYUWANGI || Jejak-indoneaia.id – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, melaksanakan kunjungan kerja ke Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi sebagai bagian dari langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, mempercepat hilirisasi sektor pertanian, serta memastikan implementasi program prioritas nasional berjalan efektif hingga ke daerah.

Kunjungan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi sektor pangan sebagai salah satu pilar utama pembangunan nasional. Bondowoso dan Banyuwangi dinilai memiliki potensi strategis sebagai kawasan penyangga ketahanan pangan di wilayah timur Pulau Jawa, dengan kekuatan pada sektor pertanian, perkebunan, hortikultura, peternakan, hingga perikanan yang terus berkembang.

Dalam agenda kerjanya, Menko Pangan melakukan peninjauan terhadap sejumlah sektor strategis, berdialog dengan pemerintah daerah, petani, kelompok tani, pelaku usaha, serta para pemangku kepentingan. Fokus pembahasan meliputi peningkatan produktivitas pertanian, optimalisasi jaringan irigasi, percepatan distribusi hasil panen, stabilisasi harga komoditas pangan, penguatan ketersediaan pupuk, hingga pengembangan hilirisasi produk pertanian agar memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi.

Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan sektor pangan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi, namun juga harus mampu menciptakan ekosistem pertanian yang modern, efisien, berkelanjutan, serta memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Penguatan rantai pasok, perluasan akses pasar, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan investasi menjadi bagian penting dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.

Di Kabupaten Bondowoso, perhatian pemerintah diarahkan pada optimalisasi komoditas unggulan melalui peningkatan produktivitas lahan, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta pengembangan kawasan berbasis potensi lokal. Sementara di Kabupaten Banyuwangi, pembahasan difokuskan pada penguatan kawasan pertanian terpadu, hilirisasi hasil pertanian dan perkebunan, serta pembangunan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan.

Kunjungan kerja ini juga menjadi momentum mempererat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, BUMN, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Sinergi lintas sektor tersebut dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan pangan, mengendalikan inflasi, memperkuat distribusi logistik, serta memastikan ketersediaan pangan yang aman, berkualitas, dan terjangkau bagi masyarakat.

Selain melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan berbagai program prioritas, Menko Pangan juga mendorong percepatan penyelesaian berbagai tantangan yang masih dihadapi sektor pertanian di daerah. Masukan dari pemerintah daerah dan para pelaku sektor pangan diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih adaptif, efektif, dan tepat sasaran.

Pemerintah optimistis bahwa melalui penguatan hilirisasi, modernisasi pertanian, peningkatan produktivitas, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, target swasembada pangan nasional dapat diwujudkan secara berkelanjutan. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Kunjungan kerja Menko Pangan Zulkifli Hasan ke Bondowoso dan Banyuwangi diharapkan menjadi katalisator percepatan pembangunan sektor pangan di kawasan Tapal Kuda. Kehadiran pemerintah pusat di daerah juga menjadi bukti nyata komitmen untuk memastikan setiap kebijakan nasional mampu memberikan manfaat langsung bagi petani, pelaku usaha, dan masyarakat luas, sekaligus memperkuat posisi Indonesia menuju kemandirian dan kedaulatan pangan.

Redaksi | Jejak-Indonesia.id

SITUBONDO || Jejak-indonesia.id – Kabupaten Situbondo kembali menjadi pusat perhatian umat Islam dengan digelarnya Haul Masyayikh Bersama Jamaah Sholawat Nariyah yang akan berlangsung pada Ahad, 19 Juli 2026, mulai pukul 06.00 WIB di Alun-Alun Situbondo, Jawa Timur.

Kegiatan keagamaan yang telah menjadi tradisi tahunan tersebut diperkirakan akan dihadiri oleh puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah di Jawa Timur maupun luar provinsi. Kehadiran para jamaah menjadi wujud kecintaan kepada para ulama dan masyayikh yang telah berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Mengusung semangat kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah, Haul Masyayikh juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarjamaah, memperkuat nilai-nilai keislaman, serta mendoakan para ulama yang telah wafat agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Sejumlah rombongan jamaah dari berbagai daerah telah menyatakan kesiapan menghadiri acara tersebut. Salah satunya adalah Jamaah Ittisholana Locancang, yang terlihat melakukan persiapan keberangkatan dengan armada bus dan membawa bendera identitas sebagai bentuk kekompakan serta semangat mengikuti rangkaian haul.

Selain menjadi agenda spiritual, kegiatan ini juga diharapkan memberikan dampak positif bagi masyarakat Situbondo, khususnya dalam meningkatkan kerukunan umat, memperkuat nilai religius daerah yang dikenal sebagai Bumi Sholawat Nariyah, sekaligus menggerakkan sektor perekonomian masyarakat melalui meningkatnya aktivitas pelaku UMKM, perdagangan, transportasi, hingga sektor jasa selama pelaksanaan kegiatan.

Panitia mengimbau seluruh jamaah agar tetap menjaga ketertiban, mematuhi arahan petugas, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengutamakan keselamatan selama perjalanan maupun saat mengikuti seluruh rangkaian acara.

Dengan semangat sholawat, doa, dan kebersamaan, Haul Masyayikh Bersama Jamaah Sholawat Nariyah diharapkan menjadi sarana memperkokoh persatuan umat serta menumbuhkan kecintaan kepada para ulama sebagai pewaris perjuangan dakwah Islam di Nusantara.

MANOKWARI || Jejak-indonesia.id – Guna memperkokoh kerukunan umat beragama di tanah Papua, Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Papua Barat Densus 88 Anti Teror (AT) Polri menggelar forum diskusi lintas agama bertajuk Kopi Toleransi. Acara yang berlangsung di Universitas Negeri Papua (Unipa), Kabupaten Manokwari, Sabtu (18/7) malam tersebut sukses menyedot antusiasme hingga 1.000 warga dan tokoh penting.

Kolaborasi apik antara Satgaswil Densus 88 AT Polri dan Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) ini dipimpin langsung oleh Kasatgaswil Papua Barat Densus 88, Kombes Pol. Gede Suardana. Forum ini dirancang khusus untuk mempererat harmoni, persaudaraan, sekaligus menjaga stabilitas keamanan di wilayah Papua Barat melalui dialog yang inklusif.

Suasana diskusi interaktif malam itu terasa begitu hidup berkat kehadiran tiga tokoh agama nasional sebagai narasumber utama. Mereka adalah dai kondang Ustadz Dr. H. Das’ad Latif, tokoh Buddhis YM Bhante Dhirapunno Thera, serta Dr. Dr. (HC.) Ponijan Liaw yang bertindak sebagai special host. Perpaduan para tokoh ini berhasil mencairkan suasana lewat pesan-pesan perdamaian yang dikemas santai namun mendalam, layaknya obrolan hangat di warung kopi.

Agenda strategis ini juga mendapat apresiasi tinggi dari jajaran pejabat daerah. Hadir di lokasi acara, Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., Sekretaris Daerah Ali Baham Temongmere, Bupati Manokwari Hermus Indou, S.IP., M.H., Wakil Bupati Manokwari Mugiyono, S.Hut., M.Ling, perwakilan Kapolda Papua Barat, Kepala Kesbangpol Reinhard Calvin Maniagasi, S.STP., M.Si., Wakil Ketua I DPRP Peteus Makbon, S.H.

Bersama seribuan masyarakat, para pejabat dan jajaran Forkopimda tampak memadati area Unipa sejak pukul 18.00 WIT hingga acara usai dengan tertib.

Melalui sinergi kuat antara aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh agama, dan organisasi keagamaan seperti KBI, kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik komitmen bersama untuk terus merawat kebhinekaan, menangkal radikalisme, serta membangun jembatan silaturahmi yang kokoh di seluruh wilayah Papua Barat.

error: Content is protected !!