Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Opini » Halaman 25

Opini

IMG-20251231-WA0064

Jejak Spiritual Sang Pujangga Sunda di Sudut Selatan Banyuwangi

Jejakindonesia.id || Di sudut selatan Kabupaten Banyuwangi, terdapat wilayah yang dulu dikenal sebagai Balumbungan dan kini lebih akrab disebut Blambangan. Tempat ini bukan hanya sekadar sebidang tanah, melainkan salah satu titik penting dalam perjalanan spiritual sang legendaris Pujangga Sunda bernama Ameng Layaran atau lebih dikenal dengan Bujangga Manik.

Kisah perjalanannya ke Blambangan tidak hanya mengisi halaman cerita rakyat Sunda, melainkan juga menyisakan jejak spiritual dan sejarah yang mengikat erat budaya Sunda dengan tradisi lokal Blambangan sebagai warisan budaya yang abadi dan penuh makna bagi kedua daerah.

Di antara banyak tempat yang dikunjungi Bujangga Manik selama perjalanannya, Situs Gumuk Mas yang berlokasi di Desa Tembok Rejo, Kecamatan Muncar, menjadi tujuan utamanya. Kawasan ini dipercaya kaya akan energi spiritual dan pernah menjadi pusat ajaran Siwa-Buddha pada masa itu. Di lokasi ini, ia menghabiskan waktu untuk meditasi, bercocok tanam, dan bahkan membangun lingga yang hingga kini menjadi bukti nyata keberadaannya. Setiap bangunan dan jejak di Situs Gumuk Mas seolah-olah menceritakan kembali momen-momen spiritual sang pangeran Sunda dalam mencari kedamaian batin.

Menurut Sanghyang Dodik, warga lokal yang telah lama merawat Situs Gumuk Mas, dahulu pernah dilakukan penggalian oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Penggalian itu menghasilkan berbagai artefak berharga seperti stupika dan perlengkapan ibadah Hindu-Buddha, yang kini disimpan di Museum Tantular.

Kisah perjalanan Bujangga Manik tidak hanya memperkaya khazanah cerita rakyat Sunda, melainkan juga menjadi pijakan penting untuk mengkaji lebih mendalam hubungan sejarah antara Kerajaan Pajajaran dan Blambangan pada masa kuno. Selain itu, jejak spiritual yang ditinggalkan sang Pujangga Sunda ini berpotensi menjadi daya tarik utama bagi wisata sejarah dan spiritual di Kecamatan Muncar

IMG-20251230-WA0059

Membersihkan Sisa Bencana Perlu Juga Dilakukan Terhadap Aparat Yang Culas

Jejakindonesia.id || Kayu gelondongan yang dimuntahkan sungai dan kali hingga menimbulkan bencana nasional pada penghujung tahun 2025, memang telah membuat banyak korban harta benda dan nyawa manusia yang tidak berdosa, akibat dari penebangan kayu di konsesi hutan yang segarusnya berfungsi menahan air dan membuat keseimbangan bagi alam yang juga berhak hidup lestari.

Dalam perspektif spiritual itulah yang dimaksud bagian dari bahasa yang sudah diteriakkann dari langit yang luput dipahami dan dimengerti oleh manusia yang tamak dan rakus. Padahal para penerima konsesi hutan secara liar dan ugal-ugalan itu dioeroleh mereka yang sudah terbilang berkecukupan secara material, tapi sangat kekurangan dalam pengertian spiritual. Karena itu ketiadaan etika, moral dan akhlak manusia yang sudah diingatkan oleh Tuhan agar tidak membuat kerusakan di muka bumi telah diabaikan, tanpa mengundahkan kepentingan orang lain, terutama bagi generasi beri
kutn7
ya.

Katu gelindongan yang dimuntahkan oleh sungai dan kali itu dari perbukitan menuju muara jelas sebagai protes alam yang sudah hilang daya tahan dan daya serapnya untuk menampung curah hujan, seakan hendak membuktikan bahwa ketamakan dan kerakusan manusia sudah melampaui batas. Sebelumnya, ketika saat musim kemarau melanda, api pun sudah berulang kali.melakykan demonstrasi dengan menebarkan kabut asap, seakan hendak mengatakan juga bahwa api pun dapat membuat kekejian seperti yang dilakukan manusia.

Bahkan pada saat yang sama, angin puting beliung seakan menyapa keculasan manusia agar segera sadar untuk hidup dalam tatanan harmoni yang sering disebut para ahli agama dalam istilah sunnatullah -- hukum alam -- adalah hukum yang berada dalam otoritas Tuhan. Karena hujan, angin dan banjir serta api yahg ganas itu memang lebih liar dari ketamailkan dan kerakusan manusia yang mengeksploitasi alam seperti mengeruk isi perut bumi entah dalam bentuk apa saja, hingga pasir laut pun dijual demi untuk memperoleh picis. Kendati harta benda dan kekayaan yang dimiliki sudah berlumpah ruah hingga bisa menjamin anak cucu dan keturunan berikutnya yang tidak alang kepalang jika dibandingkan dengan rakyat banyak yang untuk memenuhi jeperluan hidupnya hari ini saja sudah kelumpungan.

Oleh karena itu, kesadaran spiritual sebagai penegak pilar etika, moral dan akhlak mulia manusia sanfat diperlukan agar dapat hidup lebih sederhana dan bersahaja agar dapat mengendalikan hawa nafsu hewani yang tidak pantas dan tidak layak bersemayam di dalam batin dan jiwa manusia yang normal. Karena itu upaya membersihkan sisa-sisa bencana tekah diisyaratkan juga oleh bumi dan langit bahwa pembuat atau pelaku bencana di Indonesia yang jelas akibat oleh ulah manusia harus menjadi pioritas utama untuk segera dibersihkan seperti sejumlah anggota Kabinet Merah Putih yang tekah nyata dan jelas sebagai pelaku utamanya -- yang mengumbar konsesi, dan mereka yang terkait untuk menjaga hutan dan lahan serta melakukan kontrol terhadap mereka yang mengelola perusahaan perkebunan maupun pertambangan harus mendapat sanksi yang keras, lantaran tidak hanya telah membuat rakyat semakin menderita, tetapi juga telah membuat pemerintah sulut untuk dipercaya hendak menunaikan amanah dari rakyat.

Pembersihan yang tuntas terhadap mereka yang terlibat dalam pemberian konsesi yang diobral hingga melakukan pembiaran -- atau bahkan ikut melulundungi para pengusaha perkebunan maupun pertambangan ini dibersihkan dari kabinet, lembaga maupun instansi terkait dengan kerusakan alam dan lingkungan hidup di berbagai tempat dan daerah. Sebab hanya dengan begitu cara terbaik pemerintah untuk memperbaiki kinerja dan citranya kerjanya untuk rakyat.

 

Pecenongan, 29 Desember 2025

IMG-20251227-WA0032

Liburan Akhir Tahun 2025 Dan Liburan Awal Tahun 2026 Aliansi Madura (AMI) GO TO BALI Pada Tanggal 30-31 Desember 2025 1-2 Januari 2026

☆ Tujuan Tempat Wisata ☆

● Bedugul Candi Kuning.
● GWK Bali.
● Banana boat ( Tanjung Benoa).
● Nuanu Bali.
● Kuta Bali.
● Diner jimbaran.

*☆ Fasilitas wisata ☆*

● Hotel ☆☆☆ Area Kuta Bali (1 room isi 2 orang).*
● Bus seat 2-2 (50) JB5.*
● Termasuk Shuttle PP.*
● Guide Lokal Bali.*
● Air Mineral 600 ml Selama Tour.
● Snack 1x.
● Makan 10x Sesuai Program ( Termasuk 2x BF Hotel & 1x Dinner Jimbaran).
● Kapal Penyebrangan PP.*

■ Semuanya Gratis Dan Ditanggung Oleh Aliansi Madura Indonesia (AMI) Dengan Persyaratan Sebagai Berikut :

● Pengurus, Anggota Dan Simpatisan Aliansi Madura Indonesia (AMI) Wajib Mengikuti Seluruh Kegiatan Aliansi Madura Indonesia (AMI) Tanpa Terkecuali.

Liburan 4 Hari 2 Malam Aliansi Madura Indonesia (AMI) 2 Bus Khusus Pengurus, Anggota Dan Simpatisan AMI Yang Selalu Aktiv Mengikuti Kegiatan AMI Tanpa Abstein Sama Sekali.

Yang Bawa Anak (Usia 12 Tahun Kebawah) Wajib Bayar Uang Makan Dan Uang Tiket Masuk, Pembayaran Sebelum Keberangkatan Maksimal 2 Hari, Dan Cukup Bawa 1 Anak (Usia 12 Tahun Kebawah) Saja.

IMG-20251227-WA0031

Janji dan Harapan Palsu Yang Bisa Merusak Tatanan Harmoni Yang Harus Selalu Terjaga

Jejakindonesia.id || Entah sejak kapan, dia sudah menetapkan dirinya untuk tidak lagi pernah berharap. Sebab harapan baginya selalu menimbulkan kekecewaan. Karena itu, yang namanya berharap baginya sudah menjadi semacam musuh yang tidak perlu diperhitungkan. Bahkan, sekecil.apa pun harapan itu sudah dia kikis habis, seperti penyakit yang tidak boleh muncul kembali. Sekecil apapun san sesaat pun. Sebab harapan baginya hanya ada di dalam berbagai bentuk usaha yang harus dikerjakan dengan cara jerha keras, sambil mempersiapkan berbagai kemungkinan kegagalan yang sangat mungkin terjadi, sehingga tidak perlu menimbulkan rasa kekecewaan seperti yang sudah-sudah.

Banyak janji secara tak langsung yang telah dia terima, namun terus dia lupakan agar tidak menjadi harapan yang menggantung, hingga akan membuat kekecewaan. Sebab harapan yang ditiupkan baginya sudah terlalu banyak yang diakhiri dengan kekecewaan. Apalagi sekedar janji palsu atau semacam angin surga yang dihembuskan lantaran orang bersangkutan mengharap adanya sesuatu imbalan yang dapat diperoleh dari dirinya.

Tokoh dalam tulisan ini yang tak hendak disebut namanya sejak beberapa tahun silam tak hendak lagi menaruh harapan pada siapapun, lantaran telah berulang kali mengalami peristiwa na'as yang membuat hatinya kecewa, sehingga menyimpulkan bahwa sumpah dan janji sekalipun -- seperti yang selalu dikirimkan oleh para pejabat saat menerima amanah untuk menjalankan fungsi dan tugas mulutnya sebagai penguasa -- toh banyak diingkari atau bahkan diabaikan, seakan sumpah dab janji itu dilakukan tidak atas nama dan dilakukan dihadapan Tuhan. Kendati sumpah dan janji itu sendiri helas-jelas menyebut "demi Tuhan". Toh, realitasnya pelanggaran dan penyelewengan bahkan penipuan hingga pengkhianatan mereka lakukan juga dengan sikap yang dingin dan penuh kesadaran untuk memperoleh keuntungan maupun posisi dengan cara yang lebih cepat dam singkat.

Itulah sebabnya dia pernah menulis puisi panjang yang bercerita tentang "Sumpah dan Janji itu Menuju Kemunafikan". Karena memang hampir tidak ada isi dari sumpah dan janji itu" yang dipatuhi dan ditaati oleh yang bersangkutan. Sebab "sumpah dan janji" saat hedak menerima jabatan itu hanya sekedar dianggap persyaratan administratif belaka yang tidak dianggap memiliki konsekuensi hukum atau pun moral yang bisa menimbulkan malapetaka bagi pelakunya.

Sebagai aktivis, dia pun sudah terbilang puas menerima harapan kosong -- atau bahkan bualan yang lebih bernuansa penipuan dan tipu daya -- untuk memuluskan hasrat dan birahi keserakahannya semata. Maka itu kelanggengan dalam rata kelola organisasi terus berubah tidak pernah bisa Solid dan langgeng dalam membangun kebersamaan. Sebab egosentrisitas terlalu besar dan liar tidak mampu dijinakkan.

Akibatnya, tentu saja kesetiaan, loyalitas dan komitmen diri sekedar kamuflase semata. Tak lebih menjadi tameng diri agar kesan idealisme perjuangan demi dan untuk orang banyak dapat menjadi jualan yang bisa dijalankan. Slogan para pejabat pemerintah dan negara pun sama, sekali tiga uang juga. Yang terjadi adalah mencari peluang dan kesempatan melalui jalan pintas bukan hanya untuk karier, tapi juga hasrat mengumpulkan pundi-pundi, karena itu takaran sukses yang bersemayam di dalam benak manusia umumnya pada hari ini yang telah menjadi sangat materialistis sifatnya sehingga semakin jauh berjarak dengan nilai-nilai spiritual. Karena kesuksesan dan keunggulan sudah dipatok secara material.

Karena itu, janji dan harapan untuk menerima sesuatu dari seorang sahabat karib pun selaku dia lupakan. Demikian juga hembusan angin surga dari siapapun yang hendak memberikan sesuatu, selalu dia tolak diam-diam, sebelum semuanya terwujud dan nyata. Sebab kekecewaan yang terjadi karena janji palsu itu bisa akibatnya sangat vatal dan tidak terduga akibatnya. Jadi begitulah janji dan harapan palsu yang dijanjikan itu bisa merusak tatanan harmoni yang harus selalu terjaga dan dipelihara agar kebahagiaan yang paling sederhana sekalipun dapat dinikmati dengan sepenuh hati. Sebab kebahagiaan itu tidak harus mewah dan tidak pula harus yang mahal.

Banten, 20 Desember 2025

IMG-20251226-WA0012

Mulai dari Kebakaran Hutan dan Lahan Hingga Bencana Banjir Bandang Mengapa Rakyat Harus Menanggung Dera dan Derita Katena Ulah Kerakusan Mereka

Jejakindonesia.id || Mencabut konsesi hutan untuk 18 perusahaan dengan total luas 526.144 hektar. Hakekatnhya sama dengan mencabut SIM (Surat Izin Mengemudi) setelah insiden kecelakaan yang dilakukan seorang sopir setelah melabrak sejumlah pengguna jalan lainnya secara ugal-ugalan.

Jadi masalah pencabutan konsesi hutan untuk 18 perusahaan ini, tidak lantas berarti telah mengatasi masalah bencana banjir akibat ulah manusia ini. Sebab dari proses pemberian konsesi yang salah harus segers diusut pelakunya, bukan justru mencari kambing hitam terhadap pihak perusahaan yang memperoleh konsesi hutan yang dilelang secara ugal-ugalan.

Sebab pihak perusahaan hanya memanfaatkan saja fasiltas pemberian konsesi hutan tersebut dengan tebusan yang pasti tidak murah. Lalu siapa saja yang ikut menikmati konsesi hutan itu hingga harus membuat rakyat menanggung dera dan derita yang sangat mingkin telah memupus masa depan anak cucu mereka yang sangat diharap mampu memperbaiki kualitas hidup serta masa depan yang bisa kebih menggembirakan.

Anda bisa bayangkan satu keluarga yang kehilangan hewan ternak dan lahan penghidupan mereka yang menjadi bagian dari tumpuhan harapan hidup telah hilang tersapu banjir hingga tidak jelas bagaimana cara untuk memulihkan kondisi seperti semula yang telah menyita seluruh daya dan upaya mereka untuk membangun masa depan yang lebih baik dan lebih manusiawi, bukan sekedar untuk mengurangi angka kemiskinan yang terkadang tidak terbilang dalam kalkulasi statistik agar tidak memperkukuh kondisi ekonomi negara yang selalu terkesan buruk.

Satu keluarga lain yang ikut tergulung bencana akibat ulah keserakahan manusia ini, justru kehilangan seorang putra terbaiknya yang sangat diharap dapat menjadi generasi penerus dari sebuah keluarga yang sangat mendambakan perbaikan generasi masa depan yang akan mewarisi negeri ini, agar bisa lebih baik dan lebih beraradab dalam tatanan lokal, regional maupun nasional untuk bercanpur-gaul dalam tata pergaulan tata peradaban dunia.

Artinya, bencana akibat ulah manusia seperti yang terjadi di Indonesia secara beruntun sejak pertengahan tahun 2025 hingga akhir tahun hingga menjelang tahun baru 2026, patut diusut tuntas sejak awal pemberian konsesi hutan yang diobral secara ugal-ugalan hingga harus ditarik kembali dengan mendiskreditkan sejumlah perusahaan yang dikesankan sebagai penanggung dosa utama dari kerusakan lingkunga hingga tidak memiliki daya tahan dari gerusan air yang melabrak semua lahan dan pemukiman rakyat berikut ternak peliharaa mereka yang menjadi pengharapan jaminan kelangsungan dari tata kehidupan mereka berikutnya.

Kini semua itu punah, tiada jelas bagaimana harus menggantikannya. Apalagi untuk anggota keluarga mereka menjadi korban. Meninggal dunia dan hilang tidak jelas juntrungannya. Apalagi bantuan yang he dak diberikan masih menjadi pilemik dengan prosedur yang berbelit -- kusut -- tak kunjung dikakukan kecuali atas inisitif warga masyarakat yang menaruh empaty dan mempunyai penggarapan atas dasar kemanusiaan. Bukan pamrih politik atau sekedar pencitraaan belaka.

Pemerintah harus bertindak obyektif dan adil -- tidak menutupi kesakahan dan kekeluruan pejabat yang terlibat dalam pemberian konsesisi secara ugal-ugalan itu, ternasuk menghindari dari jebakan sikap dan sifat yang saling menyandera untuk menutupi kesalahan dan keieliruan jaki tangan rezim masa lalu yang masih bercokol karena memegang sejumlah ragasia dosa masa lalu yang dijadikan sebagai dasar untuk saling menyandera.

Karena itu, sejunlah nama penguasa atau pemilik perusahaan tampak disembunyikan atau ditutup-tutupi agar tidak saling membongkar kebobrokan yang telah mereka lakukan.

Delapan belas perusahaan yang sudah dikenakan sanksi pencabutan terkait dengan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tahun 2025 dan masalah konsesi hutan, diantaranya adalah PT. Subur Agro Makmur di Kalimantan Selatan, PT. Esa Dinamika di Sumatra Selatan, PT. Paramita Mulia Langgeng di Sumatra Selatan, PT. Persada Permai di Sumatra Selatan, PT. Sebtosa Bahagia Bersama di Sumatra Selatan, PT. Wahana Kestari Makmur di Sunatra Selatan, PT. MHP di Sumatra Selata, PT. London Sumatra di Sunatra Selatan, PT. Muara Bibit Lestari di Sumatra Selatan.

Lalu bagaimana masalah lahan perkebunan dan pertambangan yang juga telah menimbulkan berbagai masalah banjir dan penjarahan hutan yang tidak cuma diambil kayunya hingga ke akarnya yang membuat tanah menjadi kehilangan daya serap dan penahan air yang telah menjadi bah seperri yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat oada November hingga Desember 2025 yang telah menimbulkan banyak korban harta benda dan nyawa manusia ?

Akankah perselingkuhan akibat saling sandra antara pejabat yang satu dengan pejabat yang lain itu akan tetap ditutupi agar tidak samoai saling mempernalukan ?

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dicatat oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dari berbagai tempat dan daerah sungguh mengeikan kareba terjadi secara terstruktur, sistematis dan massif pada 1 Juli 2025 di Indonesia terdapat 20.788 titik api dengan jumlah 639 katagori tinggi, level sedang 19.656 hotspot dan level rendah sebanyak 943 hotspot. Hingga saat ini pemerintah tidak berani melakukan evaluasi terhadap 969 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah puluhan tahun beroperasi di wilayah gambut dan hutan seluas 5,6 juta hektar. Eakhi juga mencatat sudah cukup banyak perusahaaan yang telah diputus bersalah oleh pengadilan, namun tidak ada proses eksekusi putusan yang jelas dan tidak juga dicabut izinnya. Menurut Walhi, impunitas dan ketundukan nrgara terhadap pengusaha inilah yang menjadi akar persoalan serius dalam masakah Karhutla di Indonesia.

Betapa pentingnya mitigasi bencana yang terintegrasi antara bencana dan banjir seperti yang baru saja terjadi di Sumatra -- Aceh, Sunatra Utara dan Sumatra Barat -- yang sangat parah dan telah membuat rakyat sangat menderita, adakah krisis ekologi yang saling berkelindan. Selain kelalaian dan ugal-ugalannta pejabat pemerintah memberi konsesi demi fulus dan untuk memoerkaya diri sendiri juga menunjukkan degradasi ekosistem telah mempermarah penderitaan rakyat sekutarnya yang terdampak.

Karhutla di Aceh sepanjang tahun 2024 tercatat 7.257, 35 hektar hingga menjadi peristiwa terburuk sepanjang 5 tahun terakhir. Angka ini menurut Walhi melonjak empat kali lioat dibanding tahun 2023 yang tercatat sebesar 1.936, 86 hektar. Ledakan angka Karhutla ini menempatkan Aceh pada peringkat keempat tertinggi di Sumatra pada tahun 2024 dan peringkat ke-12 di Indonesia. Kondisi ini jelas menunjukkan bahwa Aceh memang berada dalam bayang-bayang krisis ekologis yang serius.

Antara April hingga Juli 2025 di Sumatra Barat tercatat 1.225 titik hotspot yang terpantau melalui Citra satelut (NASA SNPP). Gubernur Sumatra Barat ketika itu sempat menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla selama 60 hari berdasarkan SK. Gubernur Sumbar No. 360-416-2025 meliputi 10 kecamatan dan 22 nagari. 36 titik hotspot di Sumatra Barat ketika itu ditemukan di konsesi perusahaan PT. Citalaras Indonesia, HGU Husdi Gunawan. PT. Sumatra Jaya Agro Lestari. PT. Sapta Sentosa Jaya Abadi, dan PT. Sukses Jaya Wood. Kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Barat selaku berulang di lokasi yang sama. Biasanya terjadi beriringan dengan aluh fungsi lahan gambut dan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Sedangkan di Riau sejak Januari hingga Juli 2025 ada 1.000 hektar hutan dan lahan yang terbakar. Titik api yang terpantau oleh Walhi berada di dalam areal perusahaan perkebunan kayu dan kelapa sawit PT. Perawang Sukses Perkasa, PT. Citra Buana Inti Fajar, PT. Riau Andalan Pulp & Paper, PT. Sekaras Abadi Utama, PT. Diamond Raya Timber. CV. Bhakti Praja Mulia, PT. Ruas Utama Jaya dan PT. Jatim Jatlya Perkasa.

Temuan Wakhi titik api yang terdapat di konsesi perusahaan PT. RAAP (APRIL & PARTNER), PT. DRT (Barito Grup) adalah perusahaan yang juga terbakar pada tahun-tahun sebelumnya. Bahkan PT. Jatim Jaya Perkasa (Wilmar Grup) yang telah diputus bersalah melakukan perbuatan melawan hukum terkait pengrusakan dan pencemaran lingkungan hidup dan pembakaran hutan dan lahan bersasarkan putusan Mahkamah Agung kembali ditemukan oleh Walhi titik api yang kembali berkobar di area kerjanya. Jadi memang pengusaha sungguh membandel dan aparat penegak hukum pun gemar bermain mata untuk mendapatkan fulus dan fundi-fundi dari pihak pengusaha.

Artinya, rakyat yang terdampak oleh bencana Karhutla maupun banjir bandang sungguh tidak bisa tinggal diam. Bila tidak, maka selamanya rakyat akan menjadi bukan-bulanan pengusaha dan aparat yang terus bermain mata. Mulai dari mengobral konsesesi hingga menutupi keculasan dan kecurangan pengusaha yang selalu mau untung dan enak sendiri.

Saran dari Walhi, seharusnya penegak hukum tak hanya menangkap pelaku-pelaku kecil, tapi juga harus menangkap bandar atau pemilik modal dari perusahaan yang culas itu.

Begitu juga Karhutla di daerah lain, hingga Juli 2025 di Kalimantan Selatan terdapat 120 titik hotspot. Antara Mei - Juli 2025 di Kalimantan Barat terdapat 8.644 titik api, meliouti Sanggau 1816 hotspot hingga Mempawah dan Sambas 1.190 hotspot, Landak 807 hotspot, Ketapang 657 hotspot. Dan hotspot terbanyak justru di PT. Perkebunan Nusantara XIII, PT. Kapuas Palm Industri, PT. Sumatra Unggul Makmur. PT. Kakimantan Unggul Makmur, PT. Mitra Austral Sejahtera, dan PT. Peniti Sungai Purun.

Banten, 25 Desember 2025

error: Content is protected !!