Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Opini » Halaman 27

Opini

IMG-20250817-WA0196

Kesan dan Pesan Sonny T. Danaparamita dalam pelaksanaan upacara bendera HUT Proklamasi di Dusun Mbaung Kab. Banyuwangi

Opini, Jejak - Indonesia.id | Pertama-tama, saya mohon maaf tidak dapat hadir dan mengikuti secara langsung upacara bendera di dusun Mbaung, desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi ini.

Namun demikian, sebagai sesama Warga Negara Indonesia, selain rasa hormat, saya juga merasa perlu menyampaikan rasa bangga dan bahagia saya atas dilaksanakannya upacara bendera dan syukuran sederhana dalam rangka peringatan HUT RI ke 80 ini.

Rasa bangga itu semakin kuat dan bahkan bercampur haru ketika saya mendengar komitmen dari panjenengan semua.
Komitmen "Meskipun aliran LISTRIK BELUM MASUK di kampung kami, tapi KAMI TETAP CINTA NEGERI INI", adalah bukti bahwa di dada panjenengan semua, rasa nasionalisme itu begitu kuat terpatri.

Sebagai anggota DPR RI, tentu saya tidak berhenti pada bangga dan haru semata. Meski saya sudah merasa berusaha, namun karena hingga detik ini aliran listrik yang kita inginkan belum menjadi kenyataan, maka sebagai wakil rakyat saya masih menanggung dosa.

Untuk itu, dalam momentum ulang tahun kemerdekaan ini, saya kembali menyampaikan komitmen saya untuk tetap mengawal dusun Mbaung dan 6 titik lain di Banyuwangi yang belum teraliri listrik hingga hari ini, agar segera dapat merasakan terangnya kehidupan.

Energi listrik mungkin bukan segala-galanya, tapi kemudahan masyarakat dalam mendapatkan akses energi listrik secara merata adalah hal mendasar bagi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tetap semangat saudaraku semua.
Ke depan, kita tidak hanya memperjuangkan untuk listrik semata. Secara bersama-sama, kita harus mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa...yakni INDONESIA yang sejati-jatinya MERDEKA.

 

Salam Hormat,
_Sonny T. Danaparamita/Anggota DPR RI Dapil Jatim III._

IMG-20250816-WA0050

20 Tahun Menuju Indonesia Emas, Mimpi atau Ilusi?

Opini, Jejak - Indonesia.id | Indonesia sudah 80 tahun merdeka. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: apakah kita benar-benar merdeka dari ketertindasan, atau hanya berpindah dari cengkraman asing ke jeratan bangsa sendiri?

Julukan paru-paru dunia yang disematkan pada negeri ini kian kehilangan makna. Hutan habis, laut tercemar, tanah dijual ke asing, dan sumber daya dikeruk tanpa kendali.

Luka terbesar bukan datang dari luar, melainkan dari pengkhianatan anak negeri sendiri, mereka yang berteriak paling keras soal nasionalisme, tetapi diam-diam menjual bangsa demi keuntungan pribadi.

Delapan dekade lalu, founding fathers mempertaruhkan darah dan nyawa untuk membebaskan negeri ini dari kolonialisme.

Kini, justru para pemimpin yang mestinya mewarisi semangat itu sibuk memelihara oligarki, mempertontonkan politik transaksional, dan mempermainkan demokrasi hanya demi kursi kekuasaan.

Korupsi, kolusi, nepotisme, dan fitnah politik menjadi tontonan sehari-hari. Lalu di mana wajah Indonesia Emas yang sering dijanjikan?

Pendidikan yang seharusnya jadi fondasi bangsa masih terbelenggu ketimpangan. Pemerintah berkoar soal “makan bergizi gratis”, tapi lupa bahwa otak yang lapar pengetahuan tak bisa disuap dengan janji politik.

Pendidikan gratis dan merata, akses kesehatan yang adil, serta perlindungan bagi petani dan nelayan, jauh lebih mendesak ketimbang proyek mercusuar yang hanya memperkaya elit dan kontraktor.

Dua puluh tahun menuju 2045 bukanlah waktu panjang. Satu generasi bisa gagal jika hari ini tidak ada keberanian untuk membongkar sistem busuk yang sudah lama berakar.

Generasi muda hanya akan jadi penonton jika panggung politik terus dikuasai segelintir elit yang mengatur negeri bak perusahaan keluarga.

Indonesia memang merdeka secara de jure, tetapi secara de facto kita masih terjajah: oleh keserakahan, oleh pengkhianatan, oleh pemimpin yang lebih sibuk memoles citra daripada mengurus rakyat.

Jika kondisi ini dibiarkan, maka “Indonesia Emas” hanyalah ilusi, slogan kosong yang akan terkubur bersama reputasi bangsa.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Jangan biarkan kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah berubah menjadi pesta oligarki.

Jika pemimpin terus berkhianat, maka rakyatlah yang harus berdiri, mengawal, dan menagih janji. Sebab negeri ini bukan milik segelintir elit, tetapi milik seluruh anak bangsa.

Penulis : Mangge Muhlis Muhtar (M3), Pemerhati Negeri dari Tanah Kaili

IMG-20250809-WA0078

Kenaikan Pajak Akan Menjadi Hari Duka Di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Banyuwangi, Jejak - Indonesia.id | Aktivis Banyuwangi, Raden Teguh Firmansyah memberi kritik keras soal pajak di Indonesia yang menurutnya tidak dimanfaatkan secara beradab.

Raden menuding bahwa pajak di Indonesia tidak lagi digunakan untuk memperbaiki peradaban, namun justru dipersiapkan untuk korupsi dalam rangka memodali jabatan tiga periode.

Pernyataan Raden dihadapan para awak media saat berdiskusi membuat semua terkejut dan tertawa-tawa "Siap-Siap Saja! penari badut jalanan dan pengemis, bahkan panti asuhan, Juga Dipajaki," kata Raden pada Sabtu, 9 Agustus 2025.

Namun Raden aktivis Filsafat logika berfikir ini menilai bahwa adanya kenaikan pajak 200% akan membuat bupati Banyuwangi dan antek anteknya tidak akan menolaknya, karena itu akan menjadi kebebasannya untuk menggantikan para pemodal kemanangannya saat pemilu.

"Kenaikan pajak ini tidak akan membuat Bupati Banyuwangi dan antek-anteknya untuk menolaknya, karena itu akan menggantikan pengeluarannya saat pemilu dari pemodal pemodal gelap, karena pemimpin kan bebas pajak, logikanya disitu,"ugkap Raden.

Awalnya, Raden menyinggung bahwa pajak adalah hukum yang paling cepat berubah karena disesuaikan dengan perkembangan ekonomi serta daya beli dan daya hidup masyarakat.

“Tapi sekaligus, pajak itu semacam cara biadab untuk mempertahankan peradaban. Karena kita dirampok oleh negara kan,” ujar Raden.

Akan tetapi, Raden mengatakan bahwa masyarakat mengizinkan ‘perampokan’ itu demi membiayai peradaban.

“Tapi musti dibuktikan bahwa peradabannya tumbuh. Ini peradaban gak tumbuh. Masyarakat terbelah, disparitas naik tinggi, gini ratio kita memburuk segala macam, utang bertumpuk-tumpuk, tax ratio tinggal gak jelas persennya,” tuturnya.

Raden juga mensoalkan hari kemerdekaan yang ke-80 adalah juga hari kemerdekaan para koruptor dan pemodal pejabat dalam pemilu tahun lalu.

"Seharusnya hari kemerdekaan ini kita berduka bukan bersenang untuk merayakan, karena ini bukan hari kemerdekaan Republik Indonesia, tapi bulan ini dan tahun ini kemerdekaan para koruptor dan pemodal pemilu tahun lalu. Pemodalnya akan bebas pajak karena pemimpin yang terpilih penguasa bebas pajak,"ucap Raden dalam kritikan kerasnya. (red)

IMG-20250806-WA0225

Kemerdekaan Indonesia Hanya Dulu, Penjajah Masih Ada Bermarkas Dilobang Tambang Emas Saat ini

Banyuwangi, Jejak - Indonesia.id | Aktivis Filsafat logika berfikir. Raden Teguh Firmansyah, menilai Indonesia belum merdeka secara ekonomi maupun politik. Terkait ekonomi, masih banyak orang miskin sedangkan secara politik bangsa ini belum merdeka dari jeratan presidential threshold 20 persen.

“Kesimpulan saya, Indonesia tidak merdeka baik secara ekonomi dan politik. Sebab kejahatan ekonomi-politik dapat disembunyikan dari CCTV, tapi tidak dapat disembunyikan dari kecerdasan akal logisnya berfikir, seharusnya Indonesia merdeka membangun Ekonomi, Politik, dan Hukum yang Beradab,” ucapnya dalam diskusi santai bersama para aktivis Banyuwangi dan awak media, di kafe Banyuwangi. Rabu 6 Agustus 2025.

Raden juga menyampaikan dengan ilmu idealismenya, bahwa Indonesia sedang diujung kehancuran, terutama bagian Jawa Timur Banyuwangi

"Permainan akan berakhir, itu memang sedang terjadi," ujar Raden dengan logika berfikirnya.

Ini bukan karena voluntarisme kita, tetapi faktor-faktor sosiologis bergerombol untuk memastikan bahwa Indonesia sedang berada diujung kehancuran dibagian Jawa Timur paling timur, yaitu Banyuwangi, sekarang pilihannya kita bisa mencegah gak kehancuran itu,"ungkap Raden.

Masih lanjut Raden sambil menikmati wanginya kopi yang membangunkan pikiran akal sehatnya. Ia mengatakan bahwa perjuangan pahlawan masakini untuk menyadari penjajah berkedok struktur kepemerintahan daerah Banyuwangi yang bersarang di tambang emas tupang pitu, masih belum maximal atau memang penjajah asli model baru,

"Kita sudah berupaya keras dalam berfikir dan berjuang secara terbuka antara pemikir dan perampok halus atau bisa dibilang penjajah berkedok pejabat pemerintahan, yang kadang secara senyap merayap menguasai harta negara yang berada di gunung tupang pitu, kita tetap belum bisa mengatasi mereka itu, jadi biarin aja kan, logikanya begitu sebetulnya," kata kritikan Raden.

Menurut Raden, para pemikir setuju bahwa kehidupan kesetaraan harus dikembalikan dalam bernegara.

"Terlihat bahwa para pemikir besar pun setuju bahwa kita harus kembali kepada kehidupan kesetaraan manusia, solidarity," tutur Raden.

"Karena inti dari kemerdekaan Indonesia adalah sosial justis, gak terlihat!, dan itu yang akan menjadi tontonan untuk para pemekir, untuk tahu bahwa memang pemerintah ini mengeksploitasi rasialisme, benar gak pemerintah atau penjajah," tutup Raden Teguh Firmansyah dalam sebuah diskusi santai. (red)

IMG-20250806-WA0010

Mari Bersama Kawal Gunung Tumpang Pitu, Jangan Sampai Seperti Negeri Wano Di Serial One Piece

Opini, Jejak - Indonesia.id | Dalam anime one piece, Monkey D. Luffy sebagai karakter utama dikenal sebagai seorang bajak laut. Namun tidak seperti bajak laut biasanya yang terlihat jahat dan garang. Luffy malah menjadi sosok humoris yang sering membantu kaum lemah dan tertindas, bajak laut mungkin hanyalah julukannya, tapi semangat yang dia bangun adalah semangat pembebasan dan persahabatan. Beberapa pulau yang didatangi oleh Luffy dan krunya selalu dalam keadaan kacau. Seringkali berada di bawah kuasa bajak laut jahat yang membangun kerajaannya dan membuat pemerintah bahkan para jenderal terkesan membiarkannya. Mulai dari Alabasta, Water 7, Dressrosa, Manusia Ikan hingga Wano.

Kru Topi Jerami yang dipimpin Luffy yang membebaskan pulau itu dari penindasan dan kesewenang- wenangan. Tentu ini membuat Luffy menjadi bajak laut yang seharusnya jahat menjadi pembeda, bahkan dianggap baik layaknya pahlawan. Menariknya, di Indonesia menyambut bulan Agustus yakni bulan kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa masyarakat ada yang mengibarkan bendera merah putih dan bendera hitam one piece atau yang dikenal dengan “Jolly Roger”, dikibarkan depan rumah atau bahkan di kendaraannya, hal ini pun seakan menjadi trend baru di media sosial.

Tentu ini bukan hanya sekadar perilaku para fans one piece, bisa jadi ini adalah ekspresi kegelisahan sekaligus semangat yang dibangun di dunia one piece. Masih banyak pulau-pulau di negeri ini yang dikuasai oleh penjarah, yang hanya ingin mengeruk alam Indonesia. Atau bisa saja mereka yang mengibarkan bendera merasa Indonesia butuh figur layaknya Monkey D. Luffy yang sederhana, lucu namun berani. Selalu menghadirkan kebahagiaan dan kemerdekaan untuk pulau-pulau yang dikunjunginnya.

Dalam realita bangsa saat ini, rakyat sangat membutuhkan sosok seperti Monkey D. Luffy dalam anime One Piece. Pasalnya dari Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote, setiap wilayah memiliki persoalan tersendiri yang hingga saat ini belum terselesaikan. Salah satu contohnya, persoalan yang terjadi di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa atau dikenal dengan nama Banyuwangi. Dimana, sampai hari persoalan kerusakan alam dan lingkungan yang terjadi di Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran akibat adanya aktivitas tambang emas yang dilakukan PT. Bumi Suksesindo (BSI).

Keberadaan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur memiliki sejarah yang cukup panjang. Sejak satu dekade lebih, keberadaan tambang emas ini telah berdampak buruk bagi masyarakat lokal. Konsesi tambang sendiri dilakukan oleh Merdeka Cooper Gold Tbk dengan PT Bumi Suksesindo (PT BSI) yang merupakan anak perusahaannya sebagai operator di lapangan.

Penolakan terhadap tambang emas di Gunung Tumpang Pitu bukan sekedar reaksi spontan, melainkan cerminan dari kesedihan mendalam warga terhadap dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan. Warga di Desa Sumberagung, khususnya di Dusun Pancer, telah lama menyaksikan bagaimana eksploitasi tambang sedikit banyak telah mengubah kehidupan mereka. Apa yang dijanjikan sebagai pembangunan dan kesejahteraan justru berakhir pada ancaman terhadap ekosistem, mata pencaharian, dan keadilan agraria.

Dahulu, Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan hutan lindung yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologi di pesisir banyuwangi. Namun, keberadaan tambang emas di wilayah ini telah menyebabkan penggundulan hutan dalam skala besar, menghilangkan daerah resapan udara, serta meningkatkan risiko bencana seperti longsor dan banjir. Mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi petani perlahan mengering, sementara Sungai Katakan yang sebelumnya mengairi sawah warga kini ditanggul oleh perusahaan tambang, menyebabkan kesulitan udara di Dusun Pancer. Bencana menjadi semakin akrab bagi warga yang tinggal di sekitar konsesi tambang emas Tumpang Pitu, mulai banjir beruntun dari tahun 2019-2021. Protes pada tahun 2019 dan 2020 salah satunya disebabkan oleh adanya banjir, selain juga karena jalan rusak.

Beberapa bulan terakhir, lebih dari tiga kali, media sosial dihebohkan dengan sebuah vidio rekaman yang menunjukkan adanya kegiatan blasting (pengeboman) yang dilakukan oleh PT BSI. Dan dalam vidio amatir tersebut, terlihat jika serpihan dari ledakan itu dibiarkan untuk mengalir ke laut. Dampaknya ketika serpihan dari ledakan yang dilakukan oleh PT BSI dibiarkan saja jatuh ke laut pasti dampaknya akan mencemari lingkungan. Apalagi tak jauh dari lokasi tambang emas terdapat tempat wisata yang menjadi salah satu destinasi para wisatawan untuk berlibur dan berekreasi disana.

Perlu diketahui bersama, jika lokasi gunung tumpang pitu tidak jauh dengan lokasi pulau merah. Dan jika laut sekitar pulau tercemar oleh partikel tanah imbas dari kegiatan blasting, tentu saja ini merugikan warga yang mengais rezeki di daerah tersebut. Apalagi sektor pariwisata mulai dahulu merupakan program unggulan dari pemerintah kabupaten Banyuwangi. Selain itu, masyarakat di dusun pancer mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan, jika laut tercemar akibat kegiatan blasting jelas berdampak terhadap pendapatan mereka.

Dampak ekonomi dari tambang emas Tumpang Pitu juga mulai dirasakan oleh warga Desa Sumberagung. Efek dari penambangan ini memberi efek buruk pada mata pencaharian warga. Mayoritas penduduk setempat bergantung pada pertanian dan perikanan, namun keduanya kini terancam akibat pencemaran dan alih fungsi lahan. Salah satu dampak yang dirasakan warga adalah kondisi Sungai Katakan. Sungai yang selama ini menjadi sumber utama irigasi bagi petani, kini ditanggul oleh perusahaan tambang, menyebabkan banyak lahan pertanian kehilangan pasokan udara. Sumur-sumur warga yang mulai mengering, terutama dalam dua tahun terakhir, membuat kehidupan semakin sulit.

Para warga yang berprofesi sebagai petani mulai mengeluhkan lahan pertanian yang dulunya subur kini menyusut dan mengalami krisis udara. Meski samar-samar disampaikan, namun isyarat itu tampak dari keluhan-keluhan mereka, terutama bagi petani buah naga. Desa ini dikenal penghasil buah naga besar. Komoditas ini menjadi andalan warga Desa Sumberagung sejak 15 tahun terakhir. Selain buah naga juga ada komoditas jeruk. Para petaninya kini mengeluhkan tidak maksimalnya produksi buah mereka, terutama sejak kehadiran tambang. Salah satu yang mereka keluhkan tentunya terkait dengan akses air, dan potensi banjir saat musim hujan, terutama ketakutan mereka saat Sungai Katakan meluap.

Kerusakan lingkungan yang terjadi di gunung tumpang pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, hampir sama seperti yang terjadi di negeri Wano dalam anime/manga One Piece. Digambarkan, jika lingkungan negeri Wano sangat rusak karena praktik industrialisasi yang tidak terkendali oleh para penguasa, Shogun Orochi dan Kaido, serta praktik penambangan ilegal yang mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan parah. Kerusakan ini berdampak pada bencana kelaparan dan menghambat kehidupan masyarakat, terutama petani.

Penyebab kerusakan lingkungan di Negeri Wano adalah industrialisasi oleh Kaido dan Orochi yang mengubah sebagian besar wilayah Wano menjadi pabrik senjata raksasa. Hal ini menyebabkan pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem secara luas. Selain itu, sifat serakah para penguasa untuk memperkaya diri dengan melakukan penambangan ilegal dan penggunaan sumber daya alam yang berlebihan tanpa memperdulikan kelestarian alam, menyebabkan pencemaran maupun kerusakan pada lingkungan.

Kerusakan dan pencemaran lingkungan akibat industrialisasi menyebabkan terjadinya krisis pangan di Negeri Wano. Kegiatan bertani dan bercocok tanam menjadi terhambat akibat ekosistem yang rusak, mempengaruhi kehidupan masyarakat. Akibatnya, rakyat Wano menjadi korban kerakusan dan ambisi para pemimpin, yang hidup dalam penindasan dan penderitaan akibat kerusakan lingkungan yang mereka alami sehingga rakyat disana hidup dalam kemiskinan.

Maka dari itu berkaca dari Negeri Wano dalam anime One Piece, Si Penulis berharap kepada seluruh masyarakat Banyuwangi untuk bersama-sama mengkritisi aktivitas pertambangan Gunung Tumpang Pitu. Karena tambang emas itu milik seluruh masyarakat Banyuwangi tanpa terkecuali, dan adanya tambang tersebut semata-mata untuk kesejahteraan rakyat Bumi Blambangan. Jangan hanya kekayaan alamnya saja yang dikeruk, tetapi rakyat hanya disuguhkan dampak kerusakan lingkungan. Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. BSI selama beroperasi belum dirasakan oleh seluruh rakyat Banyuwangi. Buktinya ada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuwangi yang bersuara keras menanyakan hal tersebut. Kesimpulannya mereka yang menjadi wakil rakyat masih tidak tau dana CSR dari tumpang pitu di kucurkan kemana serta untuk apa. Dan ini, merupakan tanda tanya besar?

Terakhir Si Penulis berpendapat, adanya tambang emas di Pesanggaran tidak membawa kemajuan dan kesejahteraan untuk masyarakat Banyuwangi khususnya masyarakat ring satu. Melainkan melahirkan berjuta permasalahan baru disana, salah satunya konflik horisontal di tengah masyarakat. Lebih dari itu, kerusakan alam yang terjadi akibat aktivitas pertambangan akan menjadi problematika jangka panjang yang tak kunjung usai. Apalagi pihak perusahaan akan melakukan perluasan wilayah pertambangan di Gunung Salakan.

Penulis: Bondan Madani Si Raja Demo
Ketua Umum LDKS PIJAR

error: Content is protected !!