We're open Closes at 5:00 pm

Redaksi

Jumat Curhat Kapolsek Silou Kahean Perkuat Keamanan dan Kerukunan Umat di Masjid Al’jihad Nagori Dolok

SIMALUNGUN || Jejak-indonesia.id – Wujud nyata kehadiran Polri di tengah-tengah masyarakat kembali ditunjukkan oleh jajaran Polres Simalungun, Polda Sumatera Utara. Kali ini, Kepolisian Sektor (Polsek) Silou Kahean tampil sebagai garda terdepan dalam menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi warga, khususnya umat Muslim yang hendak menunaikan ibadah Sholat Jumat dengan dilanjutkan pelaksanaan Program Kegiatan Jumat Curhat Polri. Kegiatan pengamanan ini berlangsung di Masjid Al'jihad Nagori Dolok, Kecamatan Silou Kahean, Kabupaten Simalungun, pada Jumat, 8 Mei 2026, mulai pukul 12.30 WIB hingga selesai, dalam suasana cuaca yang cerah.

Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Simalungun, AKP Verry Purba, saat dikonfirmasi pada Jumat, 8 Mei 2026, sekira pukul 14.20 WIB, membenarkan pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program Polri Berintegritas dan Humanis dalam Melayani Masyarakat yang terus digalakkan oleh Polres Simalungun.

"Ini adalah bentuk nyata komitmen Polri untuk selalu hadir di tengah masyarakat. Kami ingin memastikan setiap warga merasa aman dalam menjalankan ibadahnya, sekaligus mempererat hubungan antara personel Polri dengan masyarakat," ujar AKP Verry Purba.

Kegiatan pengamanan dipimpin langsung oleh Kapolsek Silou Kahean, AKP Edy Syahputra, S.H., M.H., didampingi oleh Bhabinkamtibmas Polsek Silou Kahean, Aiptu Dodi H. Saragih. Keduanya hadir sejak awal pelaksanaan ibadah guna memantau situasi keamanan dan ketertiban di sekitar masjid.

Sholat Jumat pada hari itu diimami dan disampaikan khutbahnya oleh Ustadz Sangap Damanik, dengan dihadiri oleh sekitar 45 orang jamaah. Sebanyak 17 unit kendaraan roda dua terparkir di area masjid, menandai antusiasme warga setempat dalam menunaikan kewajiban ibadah mingguan mereka.

Tidak sekadar berdiri mengamankan lokasi, personel Polsek Silou Kahean juga memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan himbauan langsung kepada para jamaah usai pelaksanaan ibadah.

"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat dan jamaah agar bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), mempererat kerukunan antarumat beragama, serta bahu-membahu memerangi peredaran narkoba di lingkungan kita," ucap AKP Edy Syahputra di hadapan para jamaah.

Himbauan tersebut disambut baik oleh para jamaah yang hadir. Kehadiran aparat kepolisian dinilai memberikan rasa aman sekaligus memperlihatkan bahwa Polri sungguh-sungguh hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat — bukan hanya dalam situasi darurat, melainkan juga dalam kegiatan keseharian warga.

AKP Verry Purba menambahkan bahwa kegiatan serupa akan terus dilaksanakan secara rutin di berbagai wilayah jajaran Polres Simalungun, sebagai bagian dari pendekatan humanis yang diusung institusi Polri.

"Polri ingin memastikan bahwa kami selalu dekat dengan masyarakat. Dengan kehadiran kami di setiap kegiatan warga, termasuk ibadah, kami berharap kepercayaan masyarakat kepada Polri semakin tumbuh dan kuat," ungkap AKP Verry Purba mengakhiri keterangannya.

Langkah Polsek Silou Kahean ini menjadi cerminan nyata bahwa Polri tidak hanya bertugas di balik meja atau saat terjadi kejahatan semata, melainkan aktif hadir, berinteraksi, dan bersinergi bersama masyarakat dalam menjaga kedamaian dan keharmonisan di Kabupaten Simalungun. Kehadiran personel di tempat ibadah pun menjadi simbol kuat bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama antara aparat dan seluruh elemen masyarakat.

Kapolres Pasuruan Blusukan Salurkan Bantuan Sosial ke Warga Kurang Mampu di Pasrepan

PASURUAN || Jejak-indonesia.id – Kapolres Pasuruan, Harto Agung Cahyono bersama jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Pasuruan menyalurkan bantuan sosial kepada warga kurang mampu di Desa Ngantungan, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, Jumat (8/5/2026).

Kegiatan bakti sosial tersebut dilakukan dengan mendatangi langsung rumah-rumah warga penerima bantuan di wilayah desa setempat.

Kapolres Pasuruan AKBP Harto Agung Cahyono mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan.

“Kegiatan bakti sosial ini merupakan wujud kepedulian dan rasa kemanusiaan kepada masyarakat. Kami berharap bantuan ini dapat membantu meringankan beban warga serta mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Kapolres didampingi Wakapolres Pasuruan Kompol Andy Purnomo, Kasat Binmas AKP Sunarti, Kasat Lantas AKP Derie Fradesca, Kasat Intelkam AKP Lubis Ibroril Chosam, serta Kapolsek Pasrepan AKP Mastuki.

Rombongan terlebih dahulu transit di Balai Desa Mangguan sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan roda dua menuju lokasi bakti sosial di Desa Ngantungan.

Setibanya di lokasi, rombongan disambut Kepala Desa Ngantungan, Samsul Arifin, yang kemudian menunjukkan sejumlah warga kurang mampu yang dinilai layak menerima bantuan sosial.

Selain menyalurkan bantuan, Kapolres bersama jajaran juga melaksanakan salat Jumat di Masjid Al Huda Desa Mangguan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Jumat Berkah berupa pembagian nasi bungkus kepada jamaah salat Jumat.

Kepala Desa Ngantungan, Samsul Arifin, menyampaikan apresiasi atas kegiatan bakti sosial yang dilakukan Polres Pasuruan di wilayahnya.

Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu masyarakat, khususnya warga kurang mampu di Desa Ngantungan.

Pimpin Rakerwas T.A 2026, Kapolda Aceh Tekankan Transformasi Pengawasan yang Modern dan Adaptif

ACEH || Jejak-indonesia.id — Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Alibasyah, M.M., secara resmi membuka kegiatan Rapat Kerja Pengawasan (Rakerwas) Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Hotel Amel Convention Hall, Banda Aceh, Kamis (7/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 125 peserta dari jajaran fungsi pengawasan internal Polda Aceh dan Polres/ta jajaran.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Irwasda Polda Aceh, para Pejabat Utama (PJU) Polda Aceh, serta personel jajaran pengawasan internal di lingkungan Polda Aceh.

Pelaksanaan Rakerwas TA 2026 bertujuan memperkuat transformasi pengawasan internal Polri yang profesional, modern, bersih, transparan, dan akuntabel guna mendukung terwujudnya tata kelola organisasi yang semakin baik dan dipercaya masyarakat.

Dalam arahannya, Kapolda Aceh menyampaikan apresiasi kepada Inspektorat Pengawasan Daerah (Itwasda) Polda Aceh yang dinilai konsisten menjalankan fungsi pengawasan dan pengendalian organisasi secara profesional.

Menurut Kapolda, fungsi pengawasan memiliki peran strategis sebagai quality control dalam menjaga profesionalisme personel Polri agar tetap berjalan sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku.

“Pengawasan harus terus diperkuat dan ditingkatkan. Transformasi pengawasan menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan organisasi yang semakin dinamis. Pengawasan ke depan harus adaptif, modern, serta memanfaatkan teknologi informasi,” ujar Kapolda Aceh.

Pada kesempatan itu, Kapolda juga menyampaikan apresiasi atas capaian akuntabilitas kinerja Polda Aceh yang memperoleh nilai 91,54 persen dari Kementerian PAN-RB. Capaian tersebut, kata Kapolda, merupakan hasil kerja keras seluruh jajaran, khususnya fungsi pengawasan internal.

“Capaian ini tidak mudah diraih. Saya mengucapkan terima kasih kepada Irwasda beserta seluruh jajaran yang terus menjaga kualitas tata kelola organisasi sehingga mampu mempertahankan akuntabilitas kinerja dengan baik,” lanjutnya.

Kapolda Aceh turut menekankan pentingnya langkah preventif dalam pelaksanaan pengawasan, khususnya melalui audit dengan tujuan tertentu. Ia meminta jajaran pengawasan agar tidak hanya bertindak setelah terjadi pelanggaran, namun juga mampu melakukan deteksi dini dan pencegahan secara cepat dan tepat.

Menurutnya, pengawasan yang efektif harus mampu meminimalisasi potensi penyimpangan sejak awal melalui langkah pengendalian, pembinaan, dan pengawasan yang humanis namun tetap tegas.

Selain itu, Kapolda mengajak seluruh peserta Rakerwas menjadikan forum tersebut sebagai ruang evaluasi, koordinasi, dan diskusi guna melahirkan inovasi serta terobosan kreatif dalam memperkuat tata kelola organisasi yang bersih, transparan, dan akuntabel.

Ia juga menekankan pentingnya soliditas internal serta pengelolaan pengaduan masyarakat secara profesional, cepat, tepat, dan penuh empati guna meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi Polri.

Mengakhiri arahannya, Kapolda Aceh berharap pelaksanaan Rakerwas TA 2026 mampu menghasilkan rekomendasi strategis yang memperkuat sistem pengawasan internal menuju Polri yang Presisi.

“Semoga kegiatan ini mampu melahirkan terobosan kreatif yang memperkuat tata kelola organisasi yang bersih, transparan, dan akuntabel demi memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya.

Polda Kalteng Pastikan Stok BBM di SPBU Palangka Raya aman, Masyarakat Diimbau Tidak Panic Buying

PALANGKARAYA || Jejak-indonesia.id - Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) memastikan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di seluruh SPBU wilayah Palangka Raya dalam kondisi aman dan mencukupi.

Penegasan ini disampaikan menyusul adanya antrean kendaraan di beberapa SPBU yang memicu kekhawatiran masyarakat.

Kabidhumas Polda Kalteng Kombes Pol Budi Rachmat, mewakili Kapolda Irjen Pol Iwan Kurniawan menyatakan, antrean yang terjadi bukan karena kelangkaan BBM.

"Disampaikan bahwa stok BBM aman. Tidak ada kelangkaan BBM di SPBU Palangka Raya maupun wilayah Kalteng," tegasnya.

Kabidhumas menyebut bahwa antrean kemungkinan dipicu oleh isu yang berkembang di masyarakat, sehingga menimbulkan kepanikan dan kekhawatiran tidak kebagian BBM, dimana kondisi ini berpotensi menyebabkan Panic Buying.

"Polda Kalteng selalu berkoordinasi dengan Pertamina terkait distribusi dan ketersediaan BBM. Hasil koordinasi kami, pasokan ke SPBU berjalan normal dan stok mencukupi untuk kebutuhan masyarakat," jelasnya.

Kombes Budi mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak benar. Masyarakat diminta membeli BBM sesuai kebutuhan.

"Kami menghimbau agar masyarakat tenang dan tidak panik. Stok BBM di SPBU Palangka Raya dan Kalteng aman dan cukup. Tidak ada kekurangan atau kelangkaan BBM di SPBU Kalteng," imbau Kabidhumas.

"Polda Kalteng bersama Pertamina akan terus melakukan pemantauan distribusi BBM guna menjamin ketersediaan di seluruh wilayah," tutupnya.

Jejak Darah Bangsawan Besuki: Kisah Raden Kusnandar Kabur dari AKABRI, Ayahnya Wafat karena Memikirkan Sang Anak, hingga Konflik Warisan Tak Berujung

Jejak-indonesia.id – Di balik megahnya sejarah tanah Residenan Besuki, tersimpan kisah panjang keluarga ningrat yang penuh perjuangan, konflik batin, hingga perebutan harta warisan yang membekas lintas generasi. Kisah itu berasal dari garis keturunan Raden Kusnandar Sunyoto Hadinoto, ayah dari Raden Mas MH Agus Rugiarto Astrodiarjo SH MH yang dikenal sebagai Agus Flores.

Kompleks Residenan Besuki, Jawa Timur, menjadi saksi kehidupan masa kecil keluarga besar ningrat tersebut. Dari wilayah inilah lahir sejarah panjang hubungan antara kalangan priyayi ningrat dan para kiai yang sejak dahulu disebut memiliki sekat sosial dan pengaruh tersendiri di tengah masyarakat.

Konon, pembagian wilayah bahkan pernah terjadi akibat konflik dan perbedaan pengaruh. Wilayah utara dikenal sebagai kawasan para kiai, sementara bagian selatan menjadi pusat kaum priyayi ningrat. Hingga kini, kisah tentang rivalitas lama itu masih menjadi cerita turun-temurun di kalangan keluarga besar Besuki.

Dalam silsilah keluarga tersebut, terdapat sosok legendaris bernama Mbah Sumo, kakek dari Raden Kusnandar yang disebut sebagai keturunan Cakraningrat dan dikenal dekat dengan tokoh-tokoh besar pada zamannya, termasuk era Presiden pertama RI, Soekarno.

Mbah Sumo dikenal sebagai tokoh sakti dan ahli tirakat. Tubuhnya tinggi besar dan disegani masyarakat. Bersama istrinya, Nyai Masturah, ia disebut sebagai figur pejuang rakyat yang berani melawan kekuasaan kolonial Belanda. Sosoknya bahkan dijuluki masyarakat sebagai “Si Pitung dari Besuki” karena keberaniannya membela rakyat kecil.

Sejarah keluarga itu kemudian berlanjut ketika salah satu putri Mbah Sumo, Roro Amna, menikah dengan Raden Kusman Astrodiarjo, seorang ningrat dari Mojokerto. Pernikahan dua keluarga besar itu melahirkan dua anak, yakni Raden Kusnandar dan seorang putri yang disebut mengalami gangguan kejiwaan akibat konflik keluarga dan persoalan warisan.

Pada tahun 1968, Raden Kusnandar dikisahkan dipaksa masuk AKABRI demi menjaga nama besar keluarga. Penolakan dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap kehormatan keluarga besar ningrat saat itu.

Namun jalan hidup berkata lain. Baru sekitar enam bulan menjalani pendidikan, Raden Kusnandar memilih meninggalkan barak AKABRI. Ia pergi tanpa pamit dan mengikuti saudara sepupunya yang bekerja sebagai arsitek di Kementerian PU untuk menangani proyek pembangunan di Sulawesi Tengah, termasuk proyek pembangunan rumah gubernur pertama di wilayah tersebut.

Di lingkungan AKABRI angkatan 1968, nama Kusnandar disebut cukup dikenal. Ia bahkan disebut satu angkatan dengan mantan Kapolri ke-13, Dibyo Widodo. Di kalangan tertentu, ia dikenang sebagai “anak ningrat Residenan Besuki”.

Kepergian Kusnandar tanpa kabar bertahun-tahun disebut membawa luka mendalam bagi sang ayah, Raden Kusman Astrodiarjo. Kesedihan dan rasa cemas memikirkan keberadaan anaknya diyakini menjadi salah satu penyebab menurunnya kondisi kesehatan sang ayah hingga akhirnya wafat.

Situasi keluarga semakin rumit ketika persoalan harta warisan mulai diperebutkan. Karena Raden Kusnandar tak kunjung kembali dan tidak diketahui keberadaannya, sebagian aset keluarga disebut dikuasai pihak lain. Konflik panjang itu bahkan dikisahkan menyebabkan tekanan mental berat bagi anggota keluarga lainnya.

Hingga kini, cerita tentang batas tak kasat mata antara keluarga kiai dan priyayi di kawasan Besuki masih sering terdengar. Bahkan, hubungan sosial antar keluarga disebut masih menyimpan sensitivitas sejarah yang belum sepenuhnya hilang.

Bagi Agus Flores, kisah keluarganya menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga. Menurutnya, kehidupan terbaik adalah mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada harta warisan yang justru kerap memicu konflik berkepanjangan dalam keluarga besar.

“Kadang kalau bicara sejarah keluarga dan persoalan warisan, rasanya seperti membuka luka lama yang tidak pernah selesai,” ungkapnya.

Kisah keluarga besar Residenan Besuki ini bukan sekadar cerita tentang darah bangsawan, tetapi juga potret tentang harga diri, perjuangan hidup, pengorbanan keluarga, dan dampak panjang dari konflik warisan yang terus membayang hingga lintas generasi.

error: Content is protected !!