Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Redaksi

Satgas Yonif 521/DY Karya Bhakti Mendirikan Gapura MTSN Walesi

JAYAWIJAYA || jejak-indonesia.id - MTSN Walesi Jayawijaya Merupakan salah satu Distrik pedalaman di Wamena, Masyarakat di Walesi merupakan penduduk yang ramah tamah, Kehadiran MTS diharapkan menjadi bagian dari komitmen kehadiran Negara di tengah Masyarakat. (22/10/2025).

Sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan Masyarakat, TNI melaksanakan kegiatan karya bhakti membantu mendirikan gapura sekolah MTS Walesi, Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Kegiatan Pembinaan teretorial (Binter) terbatas ini untuk Mempererat hubungan TNI dan rakyat dan membangun ikatan yang kuat antara prajurit TNI dan masyarakat sipil, terutama di lingkungan sekolah.

Untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih baik, Dengan adanya Gapura baru ini dapat meningkatkan estetika sekolah dan memberikan identitas yang dapat memotivasi siswa dan guru.

Satuan Tugas (Satgas) Yonif 521/DY yang bertugas di wilayah penugasan turut serta dalam pembangunan fasilitas publik, termasuk pembangunan gapura sekolah, Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara TNI dan rakyat.

Komandan Satgas Yonif 521/DY Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata,S.E,M.I.P,
Sebuah sekolah MTS yang menjadi harapan pendidikan bagi anak-anak di wilayah pedalaman yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Pembangunan gapura Sekolah diharapkan dapat mendukung proses belajar mengajar yang lebih baik bagi anak-anak Papua, Ini dilakukan melalui kegiatan pembinaan teritorial (Binter) terbatas, Sebagai bentuk nyata dari kehadiran TNI untuk menanamkan nilai gotong royong dan rasa bangga terhadap lingkungan yang lebih maju dan indah serta damai dalam semangat membangun Papua di wilayah Penugasan.

*Prajurit Macan Kumbang Berhasil (Yonif 521/DY)*

Polsek Rogojampi Ungkap Kasus Pencurian dengan Pemberatan dalam Rangka Operasi Sikat Semeru 2025

BANYUWANGI || jejak-indonesia.id – Unit Reskrim Polsek Rogojampi, Polresta Banyuwangi, berhasil mengungkap kasus pencurian dengan pemberatan (Curat) yang terjadi di wilayah Kecamatan Rogojampi. Pengungkapan kasus ini merupakan bagian dari pelaksanaan Operasi Sikat Semeru 2025, yang difokuskan pada pemberantasan kejahatan konvensional di wilayah hukum Polresta Banyuwangi, Rabu (22/10/2025).

Kapolsek Rogojampi Kompol Imron,S.H., M.H., melaporkan bahwa pengungkapan kasus ini berawal dari laporan warga bernama Budianto (67), Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, yang kehilangan mesin penyedot air merek Yanmar miliknya di area sawah pada Jumat (21/3/2025) malam sekitar pukul 23.00 WIB.

Menurut keterangan saksi, pada saat kejadian terlihat empat orang tak dikenal sedang membongkar mesin penyedot air di sawah korban. Setelah diteriaki warga, para pelaku langsung melarikan diri meninggalkan lokasi. Korban kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Rogojampi.

Menindaklanjuti laporan itu, Unit Reskrim Polsek Rogojampi melakukan penyelidikan intensif hingga berhasil mengidentifikasi empat orang pelaku. Petugas kemudian berhasil menangkap satu tersangka inisial FE (19), warga Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, sementara tiga pelaku lainnya masih dalam pengejaran dan telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Dari tangan pelaku, petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya satu unit mesin pompa air Yanmar, satu ransel berisi 18 engkol berbagai ukuran, dan dua unit sepeda motor Honda Vario yang digunakan pelaku saat beraksi.

Saat diperiksa, tersangka mengakui perbuatannya dan mengungkap bahwa dirinya juga pernah melakukan pencurian mesin pompa air di beberapa lokasi lain di wilayah Rogojampi. Saat ini penyidik masih melakukan pengembangan kasus untuk mengungkap jaringan pelaku lainnya.

Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H. memberikan apresiasi atas keberhasilan jajaran Polsek Rogojampi tersebut.

“Pengungkapan kasus ini merupakan hasil kerja keras anggota di lapangan dalam rangka Operasi Sikat Semeru 2025. Kami berkomitmen menindak tegas para pelaku kejahatan yang meresahkan masyarakat, khususnya pencurian yang merugikan para petani,” ujar Kapolresta Banyuwangi.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan, serta segera melapor ke pihak kepolisian jika mengetahui adanya tindak pidana atau hal yang mencurigakan di lingkungan sekitar,” tambahnya.

Dengan terungkapnya kasus ini, Polresta Banyuwangi melalui Polsek Rogojampi menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta memastikan pelaksanaan Operasi Sikat Semeru 2025 berjalan efektif dan tepat sasaran.

Polres Pasuruan Gelar Donor Darah: Wujud Sinergi Humanis di Hari Jadi Humas Polri ke-74

PASURUAN || jejakindonesia.id — Dalam semangat kepedulian dan kemanusiaan, Polres Pasuruan menggelar kegiatan donor darah di lingkungan Masjid Besar Al-Mukhlasin Glagasari, Rabu (22/10/2025). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Humas Polri ke-74.

Kapolres Pasuruan, AKBP Jazuli Dani Irawan, S.I.K., M.T., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata semangat gotong royong dan kepedulian sosial antara Polri dan masyarakat. “Momentum ini kami maknai dengan aksi kemanusiaan. Setetes darah yang kita sumbangkan sangat berarti bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujarnya.

Wakapolres Pasuruan, Kompol Andy Purnomo, S.I.K., M.M., menambahkan bahwa kegiatan donor darah ini tidak hanya sebagai bentuk kepedulian sosial, tetapi juga sebagai upaya mempererat hubungan antara Polri, media, dan masyarakat. “Kegiatan ini sejalan dengan semangat Humas Polri yang terus mengedepankan komunikasi humanis, sesuai tema ‘Polisi Humanis, Harapan Masyarakat’,” tuturnya.

Sementara itu, Humas Polres Pasuruan, Joko Suseno, menyampaikan bahwa Humas Polri berperan penting dalam membangun citra positif kepolisian melalui kegiatan nyata yang berdampak langsung pada masyarakat. “Humas bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang menghadirkan aksi dan kepedulian sosial yang membawa manfaat,” jelasnya.

Kegiatan donor darah ini disambut antusias oleh para peserta. Selain menjadi bentuk pengabdian, kegiatan tersebut juga memperkuat nilai solidaritas dan kemanusiaan yang sejalan dengan semangat Hari Santri.

Melalui kegiatan ini, Polres Pasuruan berharap sinergi antara Polri, media, dan masyarakat terus terjalin kuat demi mewujudkan kepolisian yang humanis, peduli, dan menjadi harapan masyarakat

Dikenal dengan Musik Perkusinya yang Unik dan Otentik, Banyuwangi Gelar Percussion Festival

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Kabupaten Banyuwangi dikenal memiliki beragam kesenian dan budaya yang menjadi kekuatan identitas kultural. Salah satunya musik perkusi Using yang dikenal unik dan otentik, dengan ciri khas kecepatan pukulannya hingga menghasilkan harmoni musik rancak dan energik yang kekhasannya tak dimiliki daerah lain.

Mengenalkan musik Perkusi khas Using, Banyuwangi menggelar Banyuwangi Percussion Festival (BPF), di Terminal Pariwisata Terpadu, yang bakal digelar Jumat malam, 24 Oktober 2025.

“Banyuwangi kaya seni dan budaya yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Ada tari-tarian, tembang, budaya hingga ritual adat. Salah satunya musik Perkusi Using," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Selasa (21/10/2025).

Hampir semua seni budaya Banyuwangi menggunakan musik perkusi Using sebagai pengiringnya. Seperti tari Gandrung selalu diiringi oleh musik Perkusi Using.

Musik Perkusi Using juga selalu bisa ditemui di setiap acara adat dan budaya sebagai musik pembuka atau pengiringnya.

“Karena itu kali ini secara khusus kami menggelar Banyuwangi Percussion Festival untuk mengenalkan keunikan dan keelokan seni musik perkusi yang dimiliki Banyuwangi,” imbuh Ipuk.

Majelis Kehormatan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Samsudin Adlawi, mengatakan Perkusi Using diakui oleh praktisi dan akademisi seni sebagai seni otentik khas Banyuwangi yang unik dan tidak ditemukan di daerah lainnya di nusantara.

Perkusi Using merupakan permainan musik perpaduan alat-alat musik tradisional khas Banyuwangi yang terdiri atas gong, klincing, rampak kendang, saron dan angklung Using.

“Kekhasan Perkusi Using ada pada kecepatan pukulan kendang yang menghasilkan irama rancak dan energik yang sampai sekarang belum bisa dinotasikan. Satu lagi kelebihan Perkusi Using adalah keluwesannya untuk dipadukan dengan berbagai genre musik” kata Samsudin.

Irama yang rancak dan energik Perkusi Using sampai kini diwariskan secara turun menurun ke generasi yang lebih muda. Bahkan di Banyuwangi, Perkusi Using juga dipelajarai sebagai ekstra kulikuler di sekolah-sekolah.

“Regenerasi musik Banyuwangi telah berjalan dengan baik. Karenanya dengan adanya Festival Perkusi Using akan menjadi panggung yang tepat bagi para seniman musik khas Banyuwangi untuk dikenal lebih luas lagi sebagaimana impian kami para seniman dan budayawan daerah," ungkap Samsudin.

Banyuwangi Percussion Festival yang digelar perdana ini akan menampilkan empat grup perkusi. Tiga di antaranya grup perkusi dari Banyuwangi yakni Damar Art, Munsing (Musik Nada Using) dan JEB (Jiwa Etnik Banyuwang).

”Damar Art, Munsing dan JEB dimotori oleh tiga kreator musik etnik Banyuwangi. Tiga seniman muda jebolan kampus seni itu akan bereksperimen dan memainkan komposisi musik etnik dengan konsep musik yang inovatif, memadukannya dengan berbagai genre musik dan kolaborasi dengan penyanyi lokal. Di tangan mereka, musik etnik Banyuwangi bakal terdengar modern, tanpa kehilangan rasa tradisionalnya,” kata Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Budi Santoso.

Selain grup lokal Banyuwangi juga ada grup tamu “Ethno Ensamble” dari Solo yang sebagian besar musisinya merupakan mahasiswa dan alumni etnomusikologi ISI Surakarta/Solo. Komposisi-komposisi yang dimainkan lebih ke perpaduan berbagai alat perkusi di Indonesia.

“Mereka juga akan berkolaborasi dengan mahasiswa seni ISI Banyuwangi. Grup musik ini kami hadirkan untuk memperkaya wawasan musik perkusi generasi muda Banyuwangi khususnya juga untuk memberikan hiburan nuansa baru bagi semua penonton yang datang,” tambah Budi.

Peringati Hari Santri, ASN Banyuwangi Wajib Pakai Sarung dan Peci Selama Tiga Hari

BANYUWANGI || jejakindonesia.id - Memperingati Hari Santri Nasional 2025, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengeluarkan kebijakan khusus bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), di lingkungan Pemkab Banyuwangi diwajibkan mengenakan busana bernuansa santri, termasuk sarung dan peci bagi pria, serta busana muslimah putih bagi perempuan, selama tiga hari, mulai 21 hingga 23 Oktober 2025.

Kebijakan ini tertuang dalam surat edaran resmi yang ditandatangani oleh Sekretaris Daerah Banyuwangi, Guntur Priambodo, sebagai tindak lanjut dari arahan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Ipuk mengatakan kebijakan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan ulama dan santri.

“Kita bersama ingin memberikan penghormatan terhadap jasa para ulama dan santri dalam NKRI, utamanya perjuangan di Bumi Blambangan,” ujar Ipuk, Selasa (21/10/2025).

Kebijakan ini juga diharapkan menjadi momentum bagi ASN untuk meneladani semangat juang, sikap kebersamaan, kesederhanaan, dan solidaritas sebagaimana yang ditunjukkan para santri.

Selain itu menurut Ipuk kebijakan ini juga ungkapan apresiasi terhadap pesantren, yang telah memberikan kontribusi besar dalam pembangunan daerah, terutama dalam pendidikan dan pembentukan karakter masyarakat.

“Kami banyak berutang budi dengan pesantren. Pesantren telah banyak berkontribusi, khususnya dalam mendidik masyarakat, menjaga akhlak dan budi pekerti,” kata Ipuk.

Ipuk menambahkan meski pemerintah daerah menghadapi keterbatasan fiskal, namun Pemkab Banyuwangi tetap berkomitmen mendukung pengembangan pesantren agar terus berperan aktif dalam membangun sumber daya manusia yang berakhlak dan berdaya saing.

"Ini sesuai dengan tema peringatan Hari Santri tahun ini adalah Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia," tambah Ipuk.

Dalam surat edaran itu dijelaskan, ASN pria muslim wajib memakai baju muslim putih, songkok hitam, dan sarung dengan warna bebas. Sementara ASN perempuan muslim diwajibkan mengenakan baju muslimah putih, rok panjang, serta kerudung berwarna hitam.

Bagi ASN non muslim, ketentuannya disesuaikan dengan menggunakan kemeja putih, celana hitam untuk pria, dan rok panjang hitam bagi wanita.

“Meski menggunakan sarung dalam bekerja, insyaallah layanan tetap bisa maksimal untuk masyarakat,” tambahnya.