Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Redaksi

FRPB Tuntut Kejelasan Proyek Jalur Lingkar Utara: Aksi Damai Warnai Suara Rakyat Pasuruan

PASURUAN || jejakindonesia.id - Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tergabung dalam Forum Rakyat Pasuruan Bangkit (FRPB) dijadwalkan akan menggelar aksi damai di depan Kantor Wali Kota Pasuruan dan Kantor Kejaksaan Negeri Pasuruan, pada Rabu, 5 November 2025 mendatang.

Aksi tersebut digelar sebagai bentuk seruan moral dan desakan publik agar Pemerintah Kota Pasuruan memberikan kejelasan terhadap proyek strategis daerah Jalur Lingkar Utara (JLU) yang hingga kini belum juga menunjukkan tanda-tanda pasti pelaksanaan.

Proyek JLU sejatinya telah dirancang sejak tahun 2009, dengan harapan menjadi jalur penghubung vital untuk mengurai kepadatan lalu lintas dan membuka kawasan ekonomi baru di utara kota. Namun, sejak masa penetapan lokasi (penlok) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur berakhir pada 2019, proyek ini seolah terhenti di tengah jalan.
Berbagai kalangan menilai, belum ada langkah konkret dari Pemkot Pasuruan untuk menindaklanjuti rencana besar tersebut.

Ketua Umum DPP LSM GAIB Perjuangan, sekaligus Koordinator I FRPB, Habib Yusuf Assegaf, menegaskan bahwa masyarakat mendukung penuh pembangunan JLU karena diyakini akan membawa manfaat besar bagi warga sekitar. Namun, ia menyoroti lemahnya komitmen pemerintah daerah dalam merealisasikan proyek itu.

"Kami sangat mendukung proyek JLU karena manfaatnya besar bagi masyarakat. Tapi hingga kini belum ada kepastian. Masyarakat menunggu, kami pun ingin tahu bagaimana kelanjutan proyek ini." ujar Habib Yusuf kepada wartawan.

Tujuh Tuntutan Utama FRPB
Dalam pernyataan sikap yang akan disampaikan pada aksi nanti, FRPB mencantumkan tujuh poin tuntutan utama, di antaranya:

1.  Mendukung penuh percepatan pembangunan JLU agar segera terlaksana sesuai RPJMD Kota Pasuruan.

2.  Menilai Pemkot kurang serius, sebab penlok dari Pemprov Jatim sejak 2018 belum terealisasi.

3.  Menduga Pemkot tidak menganggarkan secara serius dana pembebasan lahan senilai sekitar Rp200 miliar.

4.  Mendesak Pemkot menuntaskan proyek JLU di masa kepemimpinan Wali Kota Adi Wibowo.

5.  Jika tidak dilanjutkan, meminta penghapusan jalur JLU dari RDTR berdasarkan Perwali No. 67 Tahun 2021.

6.  Menuntut keterbukaan publik terkait rencana anggaran pembangunan JLU yang disebut mencapai Rp1 triliun.

7.  Menilai proyek JLU belum rasional dengan kondisi keuangan daerah dan situasi ekonomi nasional saat ini.

“Penlok Mandek, Masyarakat Jadi Korban Ketidakpastian”

Ketua Umum LSM M-Bara, Saiful Arif yang juga tergabung dalam FRPB, menilai proyek JLU merupakan kebutuhan mendesak untuk mendukung kemajuan kota. Namun, ia menyayangkan lambannya proses penlok yang sudah mandek sejak 2018.

"Kami ingin menagih komitmen Pemkot. Kalau program ini masuk RPJMD, maka harus dijalankan. Jangan hanya jadi wacana." ujarnya.

Lebih lanjut, Saiful menyoroti dampak sosial yang dirasakan masyarakat akibat peta JLU yang tercantum dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Menurutnya, banyak warga pemilik tanah tidak bisa melakukan aktivitas administratif, seperti memecah sertifikat atau menjual tanah, karena lahan mereka masuk area rencana proyek.

"Tanah warga sudah masuk peta JLU di RDTR. Akibatnya mereka tidak bisa mengurus sertifikat atau melakukan transaksi. Pemerintah harus tegas—lanjut atau hapus dari RDTR agar masyarakat punya kepastian." tegasnya.

“Publik Jangan Dibohongi dengan Janji Pembangunan”

Tokoh masyarakat Mudrik Maulana, yang juga tergabung dalam FRPB, turut menekankan pentingnya kejelasan proyek ini. Ia menilai, diamnya pemerintah justru memunculkan kesan menyesatkan publik.

"Kami hanya meminta kejelasan, apakah proyek ini lanjut atau tidak. Kalau tidak ada jawaban, kami siap menindaklanjuti dengan laporan, karena ini bisa dianggap sebagai bentuk pembohongan publik." tandasnya.

Sementara itu, Tri Sulistiyo Sahyudi, Koordinator II FRPB, menilai bahwa JLU sejatinya bisa menjadi proyek kunci dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menarik minat investasi baru. Namun, semua itu hanya akan terwujud jika pemerintah menunjukkan keseriusan.

"Pasuruan akan berkembang bila janji politik ditepati dan program strategis seperti JLU diselesaikan. Pemerintah juga harus aktif menarik investor agar PAD meningkat dan ekonomi daerah semakin kuat." pungkas pria yang akrab disapa Bang Yudi itu.

Aksi damai yang akan digelar FRPB pada awal November mendatang menjadi ujian komitmen moral pemerintah daerah terhadap transparansi dan konsistensi pembangunan.

Masyarakat menanti—apakah Jalur Lingkar Utara akan menjadi simbol kemajuan Kota Pasuruan, atau justru kenangan panjang dari janji yang tak kunjung ditepati.

(RED)

Kemenlu Ajak Mitra Strategis Internasional Perkuat Ekosistem Kreatif Banyuwangi

BANYUWANGI  || jejakindonesia.id – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia mengoneksikan Banyuwangi dengan jaringan industri kreatif dunia. Kemenlu melibatkan mitra strategis internasional dari berbagai negara untuk memperkuat ekosistem kreatif yang kian tumbuh di Banyuwangi.

Dukungan Kemenlu adalah bagian dari program Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (sesdilu) yang kali ini diikuti 18 Diplomat Muda. Sesdilu merupakan Diklat Fungsional Berjenjang Diplomatik yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi para diplomat muda Indonesia, salah satunya dengan melakukan kunjungan lapang ke daerah.

“Biasanya lokus kunjungan kami di level provinsi. Namun kali ini kami memberanikan diri untuk ke Banyuwangi karena menurut kami Banyuwangi ini sudah memiliki banyak hal yang bisa kami eksplor dan layak kami koneksikan dengan mitra internasional Kemenlu,” kata Direktur Sesdilu Kemenlu RI, Tubagus Edwin Suchranudin, saat bertemu Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, di Kantor Pemkab Banyuwangi, Rabu (29/10/2025). Sesdilu di Banyuwangi ini berlangsung dari Selasa – Jumat (28-31 Oktober 2025).

Turut hadir para diplomat senior, di antaranya, Duta Besar Semuel Samson; Dubes Syahrir Rahardjo; serta Dubes Diar Nurbiantoro yang sekaligus sebagai mentor para peserta Sesdilu.

Edwin membeberkan, Banyuwangi dipilih sebagai lokus karena dinilai memiliki komitmen besar untuk mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto lewat program-program di daerahnya.

“Jujur kami juga menggunakan AI (artificial intelligence) untuk mencari lokus dengan kriteria Asta Cita Presiden. Dan yang muncul paling atas adalah Banyuwangi, dan memang tidak salah setelah kami datang ke sini,” kata Edwin.

Selama di Banyuwangi, peserta sesdilu fokus pada empat sektor penunjang Asta Cita, yakni ketahanan pangan, industri kreatif, energi terbarukan, dan hilirisasi industri. Kemenlu juga membawa mitra internasional untuk dikoneksikan dengan Banyuwangi.

“Harapan kami dengan jejaring yang kami miliki dan kami pertemukan dengan para pelaku usaha di Banyuwangi, mudah-mudahan bisa membantu Banyuwangi lebih naik kelas. Kami bantu apa yang dibutuhkan Banyuwangi,” kata Edwin.

Salah satu yang dilakukan Kemenlu adalah menggelar lokakarya dengan pesertanya 30 alumni Jagoan Banyuwangi, yang bergerak di sektor digital, pertanian, dan bisnis. Mereka dipertemukan dengan perusahaan dan organisasi industri kreatif dunia, seperti Epicenter Stockholm, yang merupakan Coworking space dan hub inovasi “House of Digital Innovation” yang berlokasi di jantung kota Stockholm, Swedia.

Ada pula Opus Solution, perusahaan berbasis di Hongkong yang bergerak di bidang inovasi digital dan artificial intelligence (AI).

Ada juga ada ASEAN SME Academy, platform pembelajaran online gratis di bawah naungan Kementerian Perdagangan Filipina, yang menawarkan lebih dari 100 jenis pelatihan bisnis untuk mendongkrak daya saing dan kapasitas digital pelaku industri kreatif di negara-negara Asean. Selain itu juga ada BNI ventures dan Pijar Foundation.

Kemlu juga mengajak mitra strategis internasional lainnya, seperti Kedutaan Besar Korea Selatan, Japan International Cooperation Agency/JICA
lembaga yang didirikan pemerintah Jepang untuk membantu pembangunan negara-negara berkembang, dan GIZ.

Juga menghadirkan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB - FAO di Indonesia untuk sharing masalah ketahanan pangan, Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI), Indonesian Chamber of Commerce Western Australia (ICCWA), Konjen RI di Sydney, serta kantor perwakilan Kemendag RI di Sydney.

“Harapannya, setelah mempertemukan berbagai pihak tersebut, selain ada kesepahaman, nantinya ada keberlanjutan kerjasama antara Banyuwangi dengan mitra internasional,” harap Edwin.

Sementara itu, Bupati Ipuk berharap ini akan bermanfaat besar bagi pelaku usaha di Banyuwangi.

“Ini membuka ruang belajar praktik baik dari mitra internasional. Kami sangat senang dibantu dibukakan jejaring global. Semoga bisa meningkatkan kapasitas pelaku industri kreatif di Banyuwangi, melalui pembelajaran digital, peningkatan literasi keuangan, promosi bisnis serta pemanfaatan teknologi untuk memperluas pasar,” kata Ipuk.

Satgas TMMD ke-126 Kodim 0601/Pandeglang Laksanakan Pemasangan Plafon pada Rumah RLTH di Desa Cikentrung

PANDEGLANG || jejakindonesia.id — Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Kodim 0601/Pandeglang terus menunjukkan progres signifikan dalam kegiatan fisik di wilayah Desa Cikentrung, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang. Salah satu kegiatan yang tengah dilaksanakan adalah pemasangan plafon pada rumah warga penerima bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RLTH) yang menjadi salah satu sasaran utama program TMMD kali ini.

Terlihat dalam kegiatan tersebut, para anggota Satgas TMMD bersama warga bahu-membahu mengangkat dan memasang lembaran plafon di bagian dalam rumah yang sedang direhab. Proses pemasangan dilakukan dengan penuh ketelitian untuk memastikan hasil pekerjaan rapi, kuat, dan nyaman bagi penghuni rumah nantinya.

Menurut keterangan dari salah satu anggota Satgas TMMD ke-126, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya TNI untuk mewujudkan lingkungan hunian yang lebih layak, sehat, dan nyaman bagi masyarakat kurang mampu. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata semangat gotong royong antara TNI dan masyarakat dalam mendukung percepatan pembangunan di wilayah pedesaan.

“Pekerjaan pemasangan plafon ini merupakan tahapan lanjutan setelah proses pengacian dinding selesai. Kami bersama warga terus bekerja keras agar seluruh sasaran fisik dapat rampung sesuai target waktu yang telah ditetapkan,” ungkap salah satu anggota Satgas di lokasi kegiatan.

Sementara itu, warga penerima bantuan rumah RLTH menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Satgas TMMD yang telah memberikan perhatian besar terhadap kondisi rumahnya. Ia mengaku sangat terbantu, karena selama ini rumahnya memang belum memiliki plafon yang layak dan sering kali bocor saat hujan turun.

Program TMMD ke-126 di Desa Cikentrung tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik seperti rehabilitasi rumah tidak layak huni, pembangunan MCK, pengeboran sumur, dan pengerasan jalan desa, tetapi juga menyentuh kegiatan non-fisik seperti penyuluhan wawasan kebangsaan, kesehatan, serta pembinaan masyarakat.

Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras antara TNI dan warga, diharapkan seluruh program TMMD dapat diselesaikan tepat waktu dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Desa Cikentrung. Kehadiran TMMD menjadi wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam mendukung pemerataan pembangunan menuju desa yang lebih maju, sejahtera, dan mandiri.

Sumber: Pendim 0601 Pandeglang

Saat Bupati Ipuk bertemu Bupati Rio di Pasir Putih Situbondo

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bertemu dengan Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo dalam forum Bank Indonesia (BI) Jember Awards 2025 di Gedung Serbaguna Wisata Bahari Pasir Putih Situbondo, Selasa (28/10/2025) malam. Dalam ajang tersebut Banyuwangi dan Situbondo sama-sama meraih dua penghargaan di ajang BI Jember Awards 2025.

Banyuwangi meraih penghargaan sebagai Mitra Strategis Terbaik dalam Pengendalian Inflasi Daerah (Kategori IHK), dan Mitra Strategis Terbaik dalam Sinergi Ketahanan Pangan dan Keprotokolan.

Sementara Situbondo berhasil meraih penghargaan Mitra Strategis Terbaik dalam Pengendalian Inflasi Daerah (Kategori Non-IHK), dan Mitra Digitalisasi Daerah Terkolaboratif.

Dalam ajang kedua pemimpin daerah bertetangga itu saling melempar pujian. Bupati Rio mengaku kehadiran Bupati Banyuwangi menjadi motivasi tersendiri bagi daerahnya.

“Terima kasih kehadiran Mbak Ipuk. Mudah-mudahan kehadiran Mbak Ipuk bisa memotivasi kita yang ada di Situbondo,” kata Mas Rio, panggilan akrabnya.

Bupati Ipuk, mengapresiasi Bupati Situbondo, yang dinilai memiliki semangat kuat untuk membawa Situbondo menjadi daerah yang mampu bersaing di Jawa Timur.

“Kalau saya melihat suatu daerah itu dari leader-nya. Dan saya melihat Bupati Situbondo ini punya semangat untuk berbuat bagi daerahnya. Masyarakat Situbondo beruntung punya Bupati Mas Rio dan harus didukung,” ujar Ipuk.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember, Gunawan, mengatakan Forum Mitra Strategis BI Jember menjadi agenda tahunan sebagai bentuk apresiasi kepada mitra strategis di wilayah kerja Sekarkijang, yang meliputi Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Jember, dan Lumajang.

“Bank Indonesia Jember terus memberikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah Sekarkijang dengan berbagai program, termasuk pengendalian inflasi agar tidak melambung,” ujarnya

Kemenekraf Gelar Pelatihan Bisnis Digital Di Banyuwangi

BANYUWANGI || jejakindonesia.id – Meningkatkan kapasitas para pelaku kreatif di daerah, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) RI menggelar Program Gen Matic (Generasi Muda Melek Teknologi) di Kabupaten Banyuwangi, Senin (27/10/2025). Program ini melatih puluhan anak muda bagaimana strategi membangun bisnis digital yang kreatif, produktif dan berkelanjutan.

Direktur Konten Digital Kemenekraf, Yuana Rochma Astuti, mengatakan pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat literasi dan kemampuan digital anak-anak muda. Mereka didorong untuk memahami teknologi, sekaligus mengaplikasikannya secara produktif sehingga bisa menjadi sumber ekonomi.

“Melek teknologi saja tidak cukup, peserta juga harus bisa menghasilkan karya digital yang bermanfaat dan bernilai ekonomi,” ujarnya.

Pelatihan ini diikuti sebanyak 56 peserta dari wilayah Banyuwangi dan beberapa daerah di sekitarnya. Peserta merupakan pelaku ekonomi kreatif seperti konten kreator, pelaku UMKM, dan lainnya yang sudah diseleksi sebelumnya.

Para peserta mengikuti kelas online yang berlangsung selama tiga minggu, dilanjutkan dengan pertemuan offline pada hari ini. Selanjutnya, peserta masih akan didampingi, dimonitoring, hingga benar-benar sukses menjalankan bisnis digital.

“Total pendampingan yang kita berikan selama dua bulan. Peserta akan kita dampingi end to end, mulai mereka belum punya produk sampai ada omzetnya. Sehingga kegiatan ini betul-betul ada dampaknya,” kata Yuana.

Dalam pelaksanaan program, Kemenekraf menggandeng Sekolah Bisnis Online (SBO) sebagai fasilitator yang memberikan berbagai materi pengembangan bisnis digital kepada peserta. Seperti strategi pemasaran, riset produk, hingga pemanfaatan teknologi untuk mempermudah pekerjaan. Misalnya, memanfaatkan sosial media, artificial intelligence, hingga automasi.

Yuana menambahkan, sengaja memilih Banyuwangi sebagai lokasi pelaksanaan program karena berbagai alasan. “Selain merupakan daerah wisata, literasi digital dan potensi UMKM Banyuwangi cukup baik. Makanya kami gelar di sini untuk mendukung ekonomi Banyuwangi,” Yuana.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani sangat mengapresiasi program tersebut. Ipuk juga berterima kasih Banyuwangi dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program ini.

“Pelatihan ini semakin melengkapi berbagi program peningkatan kapasitas yang sudah kami lakukan di Banyuwangi. Semoga program ini bisa menguatkan ekonomi digital di daerah kami,” kata Ipuk.

Seperti diketahui, Banyuwangi rutin menggelar program inkubasi bisnis bagi anak muda untuk mendorong tumbuhnya wirausaha muda di sektor pertanian lewat Program Jagoan Tani, di sektor digital (Jagoan Digital), serta sektor usaha lainnya (Jagoan Bisnis).

Program Gen Matic disambut baik warga Banyuwangi. Salah satunya, Anggun, warga Kelurahan Bakungan yang mengaku mendapatkan banyak manfaat dari program pelatihan dan pendampingan ini.

“Awalnya hanya jualan es mambo di warung dan kantin sekolah. Setelah mendapatkan pelatihan, sekarang saya mulai membuat e-book dan membuka pelatihan online membuat es mambo. Alhamdulillah belajar digital bisa menambah penghasilan saya,” ujar Anggun

error: Content is protected !!