Sejarah Yang Nyaris Terkubur: Besuki Disebut Pernah Jadi Panggung Pergerakan, Jejak Soekarno-Bung Tomo Hingga “Kabinet Para Mantri”
BESUKI || Jejak-indonesia.id — Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak selalu hadir dalam bentuk arsip, dokumen resmi, atau buku pelajaran. Di sejumlah daerah, sejarah justru bertahan melalui ingatan kolektif masyarakat—diceritakan para sesepuh, diwariskan dalam keluarga, kemudian disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu serpihan sejarah lokal itu kini kembali mencuat dari Besuki, Jawa Timur.
Cerita tersebut dituturkan R. Mas MH Agus Rugiarto Astrodiarjo, SH, yang akrab disapa Agus Flores. Ia mengungkap sejumlah kisah yang selama puluhan tahun berkembang di tengah masyarakat Besuki dan diperoleh dari penuturan para sesepuh berusia sekitar 65 hingga 80 tahun ke atas.
Kisah-kisah tersebut menyentuh sejumlah nama besar dalam sejarah Indonesia, mulai dari Soekarno, Bung Tomo, hingga dinamika politik dan pemerintahan pada masa awal kemerdekaan.
Namun ada satu catatan penting: sebagian besar kisah tersebut masih berada dalam ranah tradisi lisan dan belum seluruhnya terkonfirmasi melalui arsip sejarah primer.
Karena itu, cerita tentang Besuki ini bukan sekadar untuk dipercaya begitu saja, melainkan menjadi pintu masuk untuk melakukan penelitian lebih serius.
Besuki dan Jejak Pergerakan yang Belum Banyak Terungkap
Dalam penuturan yang berkembang di masyarakat, Besuki disebut pernah menjadi salah satu kawasan yang memiliki arti dalam dinamika pergerakan politik dan sosial menjelang serta pada masa awal kemerdekaan.
Bahkan muncul cerita bahwa Soekarno ketika masih kecil pernah datang ke Besuki.
Kawasan Besuki juga disebut memiliki hubungan dengan dinamika kelompok politik dan keagamaan, termasuk kelompok yang kemudian dikaitkan dengan Masyumi, serta hubungan sosial antara kalangan priayi, kiai, pesantren dan masyarakat.
Cerita yang diwariskan para sesepuh bahkan menyebut adanya aktivitas pembicaraan, konsolidasi dan pergerakan yang berkaitan dengan perjuangan menuju Indonesia merdeka.
Nama Bung Tomo juga muncul dalam cerita masyarakat.
Namun, sekali lagi, setiap klaim mengenai keterlibatan tokoh nasional tersebut perlu ditempatkan sebagai informasi yang masih membutuhkan pembuktian melalui arsip, dokumen, surat-menyurat, catatan organisasi, kesaksian primer maupun sumber sejarah lain yang dapat diverifikasi.
Sejarah Lokal Tidak Boleh Hilang Hanya Karena Tidak Tertulis
Agus Flores menilai, banyak cerita sejarah di tingkat lokal yang berpotensi hilang apabila tidak segera didokumentasikan.
Ia menyebut sebagian kisah tersebut diperoleh dari para sesepuh yang masih menyimpan ingatan mengenai peristiwa masa lalu.
“Kebanyakan sejarah di Jawa dikaburkan pada masa VOC Belanda. Yang bagus-bagus dihapus dari sejarah.”
Pernyataan tersebut merupakan pandangan yang disampaikan berdasarkan cerita yang berkembang di lingkungan masyarakat. Secara akademis, tentu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menguji sejauh mana klaim tersebut dapat dibuktikan.
Persoalannya bukan semata-mata apakah seluruh cerita tersebut benar atau tidak.
Yang jauh lebih penting adalah jangan sampai ingatan masyarakat hilang sebelum sempat diteliti.
Raden Sastrodiarjo dan Cerita tentang Lingkar Keluarga
Cerita lain yang berkembang berkaitan dengan sosok Raden Sastrodiarjo, yang dalam tradisi lisan setempat disebut memiliki keterkaitan dengan keluarga Soekarno dan dinamika pergerakan.
Kisah tersebut menjadi bagian dari memori keluarga dan masyarakat yang hingga kini masih dituturkan.
Tetapi informasi mengenai hubungan, peran, maupun aktivitas tokoh-tokoh tersebut harus diuji dengan sumber sejarah yang independen agar tidak terjadi pencampuran antara sejarah, legenda keluarga, dan interpretasi generasi berikutnya.
Pondok Pesantren dan Pesan Mbah Soleh
Serpihan cerita lainnya mengarah kepada keberadaan Pondok Pesantren Miftahul Ulum.
Dalam tradisi lisan yang disampaikan Agus Flores, pesantren tersebut disebut sebagai salah satu lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki sejarah panjang dan dikaitkan dengan lingkungan pemikiran pada masa tersebut.
Pesantren itu disebut pernah diasuh KH Abdul Rozak Soleh, yang oleh masyarakat dikenal sebagai Mbah Soleh dan disebut sebagai leluhur Agus Flores.
Salah satu pesan yang diwariskan Mbah Soleh adalah agar pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan dan keagamaan serta tidak terseret ke dalam politik praktis.
Pesan tersebut memiliki makna yang menarik jika dilihat dari konteks hubungan pesantren, masyarakat dan politik pada masa perjuangan kemerdekaan.
Misteri “Kabinet Para Mantri” di Tanah Besuki
Yang tak kalah menarik adalah cerita mengenai sistem pemerintahan di wilayah Besuki pada masa awal kemerdekaan.
Masyarakat mengenal sebuah istilah yang disebut “Para Mantri”.
Dalam cerita tersebut, Residen Besuki disebut pernah membentuk struktur pemerintahan yang melibatkan sejumlah tokoh lokal.
Beberapa nama yang masih disebut dalam tradisi lisan antara lain Mbah Kusman, Mbah Sumo, serta seorang tokoh yang disebut sebagai ayah dari Om Kusnandar.
Mereka dipercaya pernah menjalankan fungsi sebagai mantri dalam struktur pemerintahan Besuki.
Jika benar terdapat struktur pemerintahan lokal dengan nomenklatur tersebut, maka persoalan ini menarik untuk ditelusuri melalui arsip pemerintahan kolonial, arsip Karesidenan Besuki, dokumen pemerintah Republik Indonesia periode 1945–1949, surat keputusan, koran sezaman, maupun dokumen administrasi lainnya.
Istilah “Kabinet Para Mantri” sendiri perlu dipastikan apakah merupakan nomenklatur resmi pemerintahan atau istilah masyarakat untuk menyebut sekelompok pejabat/tokoh lokal.
Di sinilah penelitian sejarah menjadi penting.
HUT RI ke-81: Bukan Sekadar Upacara
Memasuki peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Agus Flores memandang momentum tersebut tidak seharusnya berhenti pada upacara, lomba, pengibaran bendera atau seremoni tahunan.
Di balik kemerdekaan terdapat ribuan bahkan jutaan manusia yang bekerja, bergerak dan berkorban dalam berbagai bentuk.
Sebagian tercatat dalam sejarah nasional.
Sebagian hanya dikenal oleh masyarakat di kampungnya.
Sebagian lainnya mungkin tinggal nama yang hampir hilang bersama generasi yang pernah mengenalnya.
“Sehingga wajar saya membuat acara HUT RI, mengingat perjuangan mereka,” ujar Agus Flores.
