Sorry, we're closed Opens today at 9:00 am

Tahun: 2026

Mendagri Minta Jajarannya Dukung Transformasi dan Arah Kebijakan Presiden

JAKARTA || Jejak-indonesia.id — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta seluruh jajaran di lingkungan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mendukung penuh transformasi dan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan roda pemerintahan. Hal ini termasuk memastikan berbagai program pemerintah daerah (Pemda) selaras dengan arah kebijakan Presiden.

Pesan tersebut disampaikan Mendagri saat acara Pelantikan Wakil Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, dan Pejabat Administrator di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Mendagri menekankan pentingnya memahami pemikiran strategis Presiden, khususnya dalam menghadapi dinamika geopolitik global dan perubahan paradigma pembangunan. Ia menyebut salah satu kata kunci yang perlu dicatat oleh seluruh jajaran Kemendagri adalah transformasi, bahkan revolusi dalam cara berpikir dan bekerja. Terlebih, aparatur sipil negara (ASN) yang unggul dalam mengelola administrasi pemerintahan merupakan salah satu syarat tata kelola negara yang baik.

“Artinya perubahan yang sangat mendasar, yang akan bergerak cepat, revolutif,” ujarnya.

Menurutnya, dalam konteks global yang semakin kompetitif dan tidak menentu, Indonesia harus memperkuat ketahanan nasional dan kemandirian di berbagai sektor. Konsep ini tidak hanya menyangkut pertahanan, tetapi juga pangan, energi, dan ekonomi. Karena itu, Presiden Prabowo banyak melahirkan program yang mengarah pada ketahanan tersebut.

Ia menegaskan, Kemendagri memiliki peran strategis dalam mengawal daerah agar sejalan dengan arah kebijakan tersebut. Karena itu, seluruh jajaran Kemendagri harus memahami paradigma besar yang sedang dibangun pemerintah, termasuk penguatan ekonomi sosial kerakyatan yang berpihak kepada masyarakat luas.

“Semuanya harus paham, kalau tidak akan terjebak dalam pemikiran sektoral,” tegasnya.

Mendagri menjelaskan, perubahan arah kebijakan menuju ekonomi sosial kerakyatan menuntut peran aktif pemerintah dalam memastikan kesejahteraan masyarakat. Intervensi negara dinilai penting untuk memperkuat kelompok masyarakat dengan daya beli rendah.

“Semua kebijakan beliau (Presiden) berorientasi kepada ciri khas sosialisme kerakyatan adalah adanya intervensi pemerintah, campur tangan pemerintah dalam ekonomi, dalam pasar,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Kemendagri harus memastikan kebijakan di daerah selaras dengan program-program prorakyat yang dicanangkan Presiden. Ia menegaskan bahwa seluruh kepala daerah, wakil kepala daerah, hingga DPRD perlu memahami arah perubahan tersebut agar program pembangunan benar-benar berpihak kepada rakyat.

“Semuanya harus mengarah kepada satu titik itu, itu ekonomi sosial kerakyatan dan tadi dalam konteks internasional kita harus mengedepankan konsep self-reliance mampu berdiri di atas kaki sendiri, mandiri,” tandasnya.

Puspen Kemendagri

Lantik Sejumlah Pejabat, Mendagri Ingatkan Loyalitas dan Prestasi

JAKARTA || Jejak-indonesia.id — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian melantik 15 pejabat pimpinan tinggi pratama dan 34 pejabat administrator di lingkungan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Pelantikan berlangsung di Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP), Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Dalam arahannya, Mendagri mengingatkan para pejabat yang dilantik agar memiliki loyalitas dan prestasi dalam menjalankan tugas. Ia menegaskan, pelantikan tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi untuk mewujudkan kinerja yang semakin baik.

Mendagri juga menegaskan akan rutin mengevaluasi kinerja para pejabat yang dilantik. “Ini jabatan sementara pasti akan ada akhirnya juga, jadi saya akan mengevaluasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mendagri menekankan bahwa dirinya membutuhkan tim yang kuat untuk menjalankan tugas-tugas Kemendagri. Terlebih, ia juga mengemban tugas lain, seperti Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) serta Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera. Berbagai tugas tersebut membutuhkan dukungan tim yang solid agar hasilnya optimal.

“Rekan-rekan yang dilantik tolong buktikan, rekan-rekan mampu untuk membantu saya dan kemudian saya juga minta jangan terjebak dalam rutinitas,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto juga menuntut dirinya agar bekerja secara maksimal. Terlebih, Presiden juga memiliki kecepatan dalam bekerja. “Jadi saya juga harus bekerja super tinggi, dan saya juga memerlukan tim pendukung saya juga bekerja super cepat, super tinggi juga,” ujarnya.

Di sisi lain, Mendagri menyampaikan pentingnya jajaran Kemendagri untuk berkinerja dengan baik. Ia menyampaikan analogi “tenda kelompok” atau group tent theory. Menurutnya, Kemendagri ibarat tenda yang melindungi seluruh anggotanya, termasuk memberi penghidupan, status, dan kehormatan. Tenda dapat berdiri kokoh ketika semua anggota di bawahnya ikut menopang.

Namun, jika ada anggota yang tidak menopang kekuatan di dalam tenda, maka tenda tersebut bisa roboh. Karena itu, ia menekankan agar para pejabat mampu menopang tenda tersebut agar tetap berdiri kokoh melalui kinerja yang baik.

Turut hadir dalam pelantikan tersebut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Tomsi Tohir serta pejabat pimpinan tinggi madya dan pratama di lingkungan Kemendagri.

Puspen Kemendagri

Tren Lari Trail Terus Tumbuh, ALTI Fokus Pembinaan dan Prestasi Atlet

JAKARTA || Jejak-indonesia.id – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto dilantik sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) oleh Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman.

Bima Arya menyebut tren lari trail menunjukkan perkembangan yang sangat progresif. Hal ini terlihat dari semakin bertumbuhnya komunitas, serta meningkatnya jumlah kegiatan dan peserta lari trail di berbagai daerah.

“Tahun sebelumnya kami sudah bentuk kepengurusan di 24 provinsi, menggelar 3 Kejurnas dan mengikuti 3 kejuaraan dunia . Kami targetkan setahun ke depan ALTI tuntaskan di 38 provinsi seluruh Indonesia,” katanya pada Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Pusat ALTI Masa Bakti 2025–2029 di Gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Ia melanjutkan, target berikutnya adalah keikutsertaan ALTI dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 yang akan digelar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai tuan rumah. Oleh karena itu, Bima menekankan kepengurusan kali ini akan fokus pada pembinaan atlet guna mendorong pencapaian prestasi.

“Kami ingin agar atlet-atlet kami disentuh, dibina, dan menjadi kebanggaan nasional yang akan nantinya bertanding, tidak saja di tingkat regional tapi internasional,” ujarnya.

Bima juga menyampaikan terima kasih kepada KONI yang telah memberikan kesempatan kepada ALTI untuk bergabung dan belajar bersama. Ke depan, ALTI akan terus memperkuat kapasitas organisasi agar dapat bertransformasi dari olahraga yang bersifat rekreatif menjadi cabang olahraga yang berorientasi pada prestasi.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa telah ada pembicaraan terkait upaya mendorong sosialisasi dan partisipasi pelari trail dalam berbagai ajang kompetisi, termasuk Pekan Olahraga Nasional (PON) Pantai yang akan pertama kali digelar pada 2026 di Kawasan Ancol.

"Lari trail bukan hanya bisa di bukit, hutan, gunung saja. Bisa juga di sawah dan pantai. ALTI juga secara aktif mempromosikan lari trail yang memadukan olahraga dengan keindahan alam atau sport tourism. Kami akan persiapkan juga untuk PON Pantai nanti,” pungkasnya.

Puspen Kemendagri

Indonesia Harus Menghargai Bhayangkara, Takutnya Bubar Indonesia, Seperti Kata Prabowo Sebelum Jadi Presiden

JAKARTA || Jejak-indonesia.id -  Sedikitnya Ketua Perkumpulan Wartawan Fast Respon Counter Polri, R.Mas MH.Agus Rugiarto SH biasa Disapa Agus Flores  Memahami Etimologi , Cikal Bakal Indonesia, Berasal dari Kekuasaan Kerajaan Majapahit dan Bhayangkara, Bahkan Indonesia Baru Seumur Jagung, Mengutak Atik Bhayangkara.

Dalam Pemahaman Raden Mas Agus Flores ini, Keberadaan Majapahit ada kaitannya dengan Pasukan Elit Yang Menjaga Kerajaan yang  namanya BHAYANGKARA.

"Jadi Majapahit dengan Bhayangkara Tidak Bisa Terpisahkan, Dan Indonesia Tidak Pisah Dipisahkan Dengan Bhayangkara, Karena Eyang Buyut Indonesia ada di Bhayangkara," ujarnya Agus , Dengan Sebutan Agus Flores

Sedangkan Agus Mengatakan Istilah Bhayangkara berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti Penjaga, Pengawal, atau Pelindung.

Istilah ini merujuk pada Pasukan Elite Kerajaan Majapahit bentukan Patih Gajah Mada yang bertugas menjaga keselamatan raja dan negara.

Kini, Bhayangkara menjadi identitas dan sebutan bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang bertugas melindungi, melayani, dan mengayomi masyarakat.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai arti Bhayangkara:
Asal-Usul: Diambil dari pasukan elite Majapahit yang sangat tangguh dan setia menjaga Raja Jayanegara.
Makna Etimologis: Berasal dari kata bhaya (bahaya/takut) dan kara (pembuat/penjaga), yang secara harfiah berarti pengawal yang melindungi dari bahaya.
Karakteristik: Melambangkan keberanian, kekuatan, ketangguhan, dan kesetiaan.

Penggunaan Modern: Diadopsi sebagai nama kepolisian Indonesia untuk meresapi semangat juang dalam menegakkan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Bagaimana Bisa Indonesia, Tidak Menghargai Eyang Buyutnya Bhayangkara dilawan, bisa jadi dianggap  "DURHAKA"?

Kepada Media , Jumat (12/2) Agus Flores mengatakan Sisilah Munculnya Indonesia Berasal Dari Kerajaan Majapahit.

Dengan Rentetan Perjalanan Setelah Runtuhnya Kerajaan Majapahit, Dilanjutkan Kerajaan Demak, Dilanjutkan Kerajaan Pajang, Dilanjutkan Mataram Islam, Dilanjutkan Adanya Pecahan 2 Kesultanan yakni Kesultanan Surakarta dan Kesultanan Diningrat Yogyakarta.

" Nah Cikal Bakal Indonesia,  Nanti  dari tahun 1900an Saat Datangnya Penjajah Portugis, Belanda, Jepang, karena Tanah Air ditahun 1850 Masih Dibawah Kendali Kerajaan Surakarta, Kerajaan Yogya Diningrat dan Kerajaan Kerajaan Daerah Lain, Sehingga Mengakibatkan Munculnya Perlawanan DI Ponegoro, Sisinga Mangaraja, Teukumar dan lain lain Mengatasnamakan Perlawanan Kerajaan Kesultanan Masing masing," Ujar Agus.

Menurut Agus, Ada Beranggapan juga Munculnya Nama Indonesia Dimulai VOC Masuk ditahun 1400-1500.

" Dalil Itu Bisa kita akui, Tapi Saatnya Itu Belum Ada Nama Indonesia melainkan Masih dikuasai Kerajaan Demak, Dibawah Kekuasaan Raden Pattah dan Putranya Adipati Unus, dan Berurut Kerajaan Lain" Lanjutnya.

Agus Flores Menyangkal Pula, Kalau Indonesia Dijajah Belanda 350 Tahun, Baginya Yang Benar Komulatif Di Jajah Tanah Air oleh Pihak VOC dizaman Kerajaan, 350 Tahun, sedangkan Negara Indonesia Dijajah berkisar 45 Tahun, bahkan bisa ditafsirkan  hanya 5  tahun.

" Karena Ditahun 1900an itu, masih banyak Kerajaan Didaerah Daerah, jadi Bisa Saja 5 Tahun, Indonesia  Di Jajah, " tegas Mas Agus.

" Kalau Rentetan Sisilah Indonesia Dianggap Baru Seumur Jagung, dibandingkan Lahirnya Bhayangkara, Wajar Saja, Saya Katakan Indonesia Durhaka ke Bhayangkara," ujar Trah Brawijaya ini.

Kepada Awak media, Agus Flores, bisa menafsirkan ditahun 2030 Indonesia Bisa Bubar, Seperti Pernyataan Prabowo Subianto Saat Kampanyenya, Sebelum Jadi Presiden Republik Indonesia.

Apresiasi Komitmen Bupati Ipuk dalam Mengelola Sampah, Clean Rivers Uni Emirat Arab Suport Dua TPS3R Banyuwangi

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Komitmen Banyuwangi dalam pengolahan sampah sirkular mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya dari Clean Rivers, organisasi nirlaba global yang berbasis di Uni Emirat Arab akan mensuport pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Banyuwangi.

Clean Rivers akan bermitra dengan Project STOP (didirikan Borealis dan Systemiq) yang telah beroperasi di Banyuwangi sejak 2017. Bersama dengan pemkab, Project STOP Banyuwangi Hijau bertujuan membangun sistem pengelolaan sampah sirkular pertama di Indonesia yang mencakup seluruh wilayah kabupaten.

CEO Clean Rivers Deborah Baccus telah bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendopo Sabha Swagata, Rabu (12/02/2026). Turut hadir Mari Kylmälä, In country representative Borealis, Jason Hale Senior Director Systemiq dan Sekda Banyuwangi Guntur Priambodo.

Deborah menyampaikan apresiasi kepada pemkab atas komitmen dan dukungan pada sistem pengelolaan persampahan. Banyuwangi dinilai memiliki visi kuat dalam transformasi sistem persampahan yang dijalankan secara bertahap, terstruktur, dan berdampak bagi masyarakat.

“Kami mendukung inisiatif yang dilakukan Banyuwangi, fokus pada pengelolaan sampah yang berdampak secara ekonomi, lingkungan dan sosial. Tidak hanya berdampak pada daerah, namun ini juga akan menjadi semangat global,” ungkap Deborah.

Dua fasilitas TPS3R akan dibangun di wilayah Kecamatan Banyuwangi dan Kecamatan Genteng yang ditargetkan beroperasi pada November 2026. Kedua fasilitas ini dirancang untuk memperkuat layanan pengangkutan dan pengolahan sampah di kawasan dengan kepadatan dan aktivitas warga yang tinggi. Dua fasilitas TPS3R ini diproyeksikan bisa mengatasi permasalahan sampah warga dengan jangkauan 850 ribu jiwa

“Kami merasa terhormat dapat menjadi bagian dari perjalanan ini, dan berharap kerja sama ini terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi Banyuwangi,” ujarnya.

Bupati Ipuk mengatakan bahwa kerja sama dengan Clean Rivers ini sangat penting untuk membangun sistem persampahan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

“Bekerja dalam skala yang lebih luas, dengan dukungan dari Clean Rivers akan mempercepat transformasi sistem pengelolaan persampahan di Banyuwangi,” kata Ipuk.

“Ini tidak hanya berdampak pada menyediakan akses penanganan sampah yang terintegrasi untuk ratusan ribu orang, tapi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru, terutama bagi penduduk sekitar lokasi,” imbuh Ipuk.

Ditambahkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dwi Handayani Clean Rivers akan berkontribusi pada program Banyuwangi Hijau Fase 3 dengan fokus pembangunan dua fasilitas TPS3R di wilayah Banyuwangi Kota dan Kecamatan Genteng. Dalam kerjasama tersebut, pemkab akan menyediakan lahan untuk TPS3R tersebut, dan sarana penunjang lainnya.

“Kedua TPS3R masing-masing berkapasitas 50 ton dan akan melayani hingga 850 ribu jiwa. TPS3R ini dirancang menggunakan teknologi untuk meminimalkan residu dan tidak menimbulkan bau,” ujar Handayani. (*)