Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am

Tahun: 2026

ACEH || Jejak-indonesia.id – Kapolsek Simpang Jernih, Polres Aceh Timur, Polda Aceh, Ipda Safwadinur, S.H., M.H., memberikan tausiyah kamtibmas kepada masyarakat menjelang pelaksanaan shalat tarawih di Masjid Nurul Huda, Desa Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Rabu (4/3/2026) malam.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolsek mengingatkan para orang tua untuk lebih memperhatikan aktivitas anak-anak selama bulan suci Ramadhan, terutama agar tidak bermain petasan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

“Peran orang tua sangat penting untuk mengawasi anak-anak agar tidak bermain petasan, karena selain berbahaya juga dapat mengganggu kenyamanan masyarakat yang sedang menjalankan ibadah,” ujar Ipda Safwadinur dalam tausiyahnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan menjaga keamanan rumah masing-masing, terlebih kondisi ekonomi masyarakat yang masih dalam masa pemulihan pasca bencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.

Selain itu, Kapolsek mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat selama bulan Ramadhan, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman dan nyaman.

Kehadiran aparat kepolisian di tengah kegiatan keagamaan masyarakat itu mendapat respons positif dari warga. Masyarakat menyatakan dukungan terhadap upaya Polri dalam menjaga keamanan selama bulan Ramadhan.

Melalui kegiatan tersebut, warga juga semakin memahami bahaya bermain petasan yang dapat menimbulkan risiko bagi lingkungan sekitar, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.

ACEH || Jejak-indonesia.id – Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud) Polres Aceh Timur, Polda Aceh melaksanakan kegiatan kurve atau kerja bakti membersihkan kawasan pesisir Pantai Kuala Idi, Kabupaten Aceh Timur, Kamis (05/03/2026) pagi. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan pesisir sekaligus memperkuat sinergi antarinstansi dan masyarakat.

Kegiatan tersebut berlangsung secara kolaboratif dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, unsur TNI AL, instansi terkait, hingga komunitas masyarakat pesisir dan elemen peduli lingkungan.

Kasatpolairud Polres Aceh Timur AKP Ade Candra, S.H., M.H., mengatakan bahwa kegiatan bersih pantai ini merupakan bagian dari kepedulian bersama terhadap kelestarian lingkungan laut dan pesisir.

“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan pantai, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa lingkungan pesisir merupakan tanggung jawab kita semua,” ujarnya.

Kegiatan kurve tersebut dipimpin langsung oleh KBO Satpolairud Polres Aceh Timur Ipda Azhar, S.Sos bersama personel Satpolairud Polres Aceh Timur. Mereka bergotong royong membersihkan sampah yang berserakan di sepanjang kawasan pantai.

Selain personel kepolisian, kegiatan ini juga melibatkan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Aceh Timur, Panglima Laot Kecamatan Idi Rayeuk Pawang Jailani, personel TNI AL Kelas Dua Leo L. Lubis, serta masyarakat pesisir Kuala Idi.

Melalui kegiatan ini diharapkan kebersihan dan kelestarian kawasan pesisir Pantai Kuala Idi dapat terus terjaga sekaligus mempererat kerja sama antara aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup.

ACEH || Jejak-indonesia.id – Polda Aceh AKBP Irwan Kurniadi, S.I.K. mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara berlebihan di tengah beredarnya isu mengenai potensi terganggunya pasokan BBM ke wilayah Aceh akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Kapolres menegaskan, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terpancing oleh informasi yang belum tentu benar terkait ketersediaan BBM.

“Warga kami imbau tidak melakukan panic buying. Pembelian BBM hendaknya dilakukan sesuai kebutuhan seperti biasa,” kata AKBP Irwan Kurniadi, S.I.K., Kamis (05/03/2026).

Menurut dia, kepolisian terus memantau situasi di lapangan, khususnya di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Kabupaten Aceh Timur.

Berdasarkan hasil pemantauan personel di lapangan, kata Kapolres Aceh Timur, ketersediaan BBM hingga saat ini masih dalam kondisi relatif aman dan belum ditemukan adanya gangguan distribusi yang signifikan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial, terutama yang berpotensi menimbulkan kepanikan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap isu yang belum jelas kebenarannya. Dari hasil pantauan anggota kami di lapangan, stok BBM masih relatif aman,” ujarnya.

Kapolres menambahkan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan serta berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan distribusi BBM di wilayah hukum Polres Aceh Timur tetap berjalan lancar dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

SUMATERA || Jejak-indonesia.id – Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera melaporkan perkembangan terkini perbaikan fasilitas kesehatan masyarakat untuk mendukung layanan kesehatan penyintas bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).

Berdasarkan data Satgas PRR per 4 Maret, fasilitas kesehatan berupa rumah sakit pemerintah terdampak berjumlah 87 yang sudah seluruhnya kembali beroperasi di tiga provinsi bencana Sumatera. Progres serupa juga tampak pada seluruh Puskesmas terdampak yang sudah beroperasi berjumlah 867 di tiga provinsi bencana Sumatera.

Namun, Satgas PRR masih berupaya mengatifkan kembali Puskesmas Pembantu (Pustu) terdampak bencama yang berjumlah 2.522 Pustu dan 176 di antaranya berhenti beroperasi par 1 Desember 2025. Namun, kini tersisa 21 Pustu yang belum beroperasi dan masih dalam tahap pembersihan, renovasi atau tahap pembangunan baru.

Adapun rincian dari 21 Pustu yang masih diupayakan beroperasi kembali adalah 12 di Aceh yang terlektak di: Pustu Blang Seunong, Pante Bidari, Aceh Timur, Pustu Alue le Mirah, Pante Bidari, Aceh Timur, Pustu Jambo Balee, Indra Makmur, Aceh Timur, Pustu Jambo Leubok, Indra Makmur, Aceh Timur, Pustu Seunuebok Bayu, Indra Makmur, Aceh Timur, Pustu Bandar Baro, Indra Makmur, Aceh Timur.

Kemudian Pustu Alue Tuwi, Rantau Selamat, Aceh Timur, Pustu Blang Nie, Simpang Ulim, Aceh Timur, Pustu DK 1 Peunaron Baru, Peunaron, Aceh Timur, Pustu Tanjung Minjei, Madat, Aceh Timur, Pustu Tanjung Tok Blang, Aceh Timur, Pustu Paya Meuligoe, Peureulak, Aceh Timur.

Sementara 9 Pustu di Sumut masih memerlukan pembersihan, renovasi atau dalam tahap pembangunan baru, seperti diPustu Hutabarangan, Sibolga Utara, Kota Sibolga, Pustu Huta Godang, Batang Toru, Tapanuli Selatan, Pustu Po Simargarap, Pasaribu Tobing, Tapanuli Tengah.

Selain itu, Pustu Sibuluan Nalambok, Sarudik, Tapanuli Tengah, Pustu Sibio Bio, Sibabangun, Tapanuli Tengah, Pustu Sigiring-giring, Tukka, Tapanuli Tengah, Pustu Hutanabolon, Tukka, Tapanuli Tengah, Pustu Huraba, Tukka, Tapanuli Tengah, Pustu Sipange, Tukka, Tapanuli Tengah.

Sedangkan di Sumbar dari 709 Pustu terdampak dan 49 diantaranya sempat berhenti beroperasi pada per 1 Desember 2025. Kondisi terkini, seluruh Pustu terdampak sudah beroperasi kembali.

Sebelumnya, Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menyampaikan bahwa layanan kesehatan telah kembali beroperasi di tiga daerah  provinsi terdampak bencana di Sumatera, tidak lepas dari seiring percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang terus dilakukan pemerintah pusat bersama pemerintah daerah (Pemda).

Hal tersebut disampaikan Tito dalam Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Wilayah Sumatera yang digelar di Ruang Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (26/1/2026).

“Saya mengucapkan terima kasih banyak atas nama Satgas dan juga atas nama Dewan Pengarah karena kerja keras Bapak-Ibu sekalian, kementerian (dan) lembaga, kemudian juga pemerintah daerah, provinsi, kabupaten, kota, serta semua non-pemerintah yang hadir juga di sana,” ujar Tito.

JAYAPURA || Jejak-indonesia.id – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk menekankan pentingnya sinkronisasi antara Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Langkah tersebut dinilai penting agar arah pembangunan di daerah dapat berjalan selaras dengan prioritas pembangunan nasional.

Ia menjelaskan bahwa setiap kepala daerah yang terpilih melalui pemilihan kepala daerah (Pilkada) membawa visi dan misi pembangunan daerah. Visi dan misi tersebut kemudian dituangkan dalam dokumen RPJMD yang menjadi pedoman pembangunan daerah selama lima tahun masa jabatan kepala daerah.

“Kegiatan Musrenbang hari ini menjadi momentum yang sangat strategis untuk membicarakan RPJMD daerah 2025–2029. Visi dan misi gubernur hasil Pilkada kemudian disinkronkan dengan RPJMN nasional, sehingga kita bisa melihat apakah [kebijakan tersebut] sudah selaras atau belum,” ujar Ribka kepada awak media di sela kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RPJMD Provinsi Papua di Hotel Suni Abepura, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (5/3/2026).

Ribka juga menyoroti pentingnya sinergi antarkementerian dan lembaga dalam mendukung proses perencanaan pembangunan daerah. Menurutnya, koordinasi yang baik diperlukan untuk memastikan pelaksanaan Musrenbang di daerah dapat berjalan selaras dengan kebijakan pemerintah pusat.

“Saya berharap kementerian dan lembaga terkait dapat hadir dalam Musrenbang di daerah, khususnya pada Musrenbang tingkat provinsi. Saya hadir mewakili Menteri Dalam Negeri, namun masih ada kementerian/lembaga yang belum hadir. Kehadiran tersebut penting agar kementerian/lembaga dapat langsung memonitor serta melihat berbagai kendala di lapangan, sehingga bersama-sama kita dapat mengawal dan mendukung pembangunan di daerah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ribka menuturkan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan pembangunan yang perlu segera diatasi. Hal tersebut antara lain tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, rendahnya kapasitas fiskal daerah, serta pertumbuhan ekonomi yang masih terbatas. Karena itu, pemerintah daerah (Pemda) setempat perlu melakukan transformasi dan percepatan pembangunan di berbagai sektor strategis.

“Saya pesan kepada gubernur, wakil gubernur, dan semua bupati untuk segera melakukan transformasi dalam beberapa [tantangan] ini, atau melakukan pertumbuhan perbaikan,” ujarnya.

Selain itu, Ribka juga menyoroti pentingnya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Papua melalui penguatan sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat. Menurutnya, ketiga sektor tersebut saling berkaitan dan menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Jadi IPM-nya ini harus diperbaiki, dan dengan kontribusi dari masalah pendidikan, kesehatan, kalau pendidikannya sudah bagus, kesehatan sudah bagus, ekonominya sudah bagus, IPM-nya pasti akan lebih baik juga seperti itu,” jelasnya.

Menurut Ribka, Provinsi Papua memiliki peran penting sebagai parameter pembangunan bagi daerah otonomi baru (DOB) di wilayah Papua. Karena itu, meskipun menghadapi berbagai keterbatasan, Pemda tetap harus memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal.

“Provinsi Papua ini menjadi provinsi yang menjadi parameter, menjadi ukuran bagi daerah DOB yang lain. Dengan semua keterbatasan, dia (Pemda) harus tetap melakukan pelayanan terhadap masyarakat,” tandasnya.

Puspen Kemendagri

error: Content is protected !!