Sorry, we're closed Opens Rabu at 9:00 am

Bulan: Februari 2026

Fungsi DPRD Dipertanyakan, Program Pusat Dijalankan Tanpa Pemberitahuan

PASURUAN || Jejak-indonesia.id — Wibawa dan fungsi pengawasan DPRD kembali dipertanyakan setelah sejumlah program strategis pemerintah pusat dijalankan di daerah tanpa koordinasi dan pemberitahuan kepada wakil rakyat.

Mulai dari pembangunan KDMP (Koprasi Desa Merah Putih), SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) hingga Sekolah Rakyat, semuanya berjalan tanpa kejelasan prosedur dan tanpa pelibatan lembaga legislatif daerah.

Seorang anggota DPRD komisi lll H. Aris Ubaidillah secara terbuka menyampaikan kegelisahannya dalam forum resmi. Ia menegaskan bahwa DPRD bukan sekadar “peta dinding” atau “hiasan rumah demokrasi”, melainkan institusi konstitusional yang seharusnya mengetahui, mengawal, dan menjelaskan setiap kebijakan kepada publik.

“Kami bukan anti-program pusat. Justru kami mendukung penuh. Tapi jangan jadikan DPRD ini seperti tidak ada. Kami ini wakil rakyat, bukan ornamen,” ujarnya.

Ia menyoroti klaim sebagian pejabat eksekutif bahwa program pusat tidak memerlukan persetujuan Tim Penataan Ruang (TPR) atau DPRD. Menurutnya, argumen itu melukai marwah demokrasi lokal.

“Ini bukan proyek kecil. Ini pembangunan besar: MPG Merah Putih, Koperasi Merah Putih, dan Sekolah Rakyat. Paling tidak DPRD dan TPR dilibatkan. Tapi kenyataannya kami justru tahu dari masyarakat, bukan dari pemerintah,” tegasnya

Lebih ironis lagi, sejumlah anggota dewan mengaku tidak mengetahui detail lokasi dan waktu pelaksanaan proyek. Salah satunya bahkan baru mengetahui adanya rencana pembangunan di sekitar kediamannya sendiri dari tetangga.

“Rumah saya di barat Pertigaan. Saya tidak tahu di sebelah barat mau dibangun apa. Saya tahunya dari tetangga. Ini sungguh memalukan,” katanya.

Situasi ini berdampak langsung pada kepercayaan publik. Masyarakat bertanya kepada anggota DPRD tentang proyek-proyek tersebut, tetapi para wakil rakyat justru tidak memiliki jawaban.

“Kami ditanya rakyat soal Koperasi Merah Putih dan Sekolah Rakyat. Kami tidak bisa menjawab karena kami sendiri tidak diberi tahu. Kami baru tahu setelah LSM datang,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa mendukung program pemerintah pusat—termasuk yang digagas Presiden Prabowo Subianto—tidak berarti menghapus peran DPRD.
“Kami ini perwakilan rakyat. Kalau kami tidak diberi informasi, bagaimana kami bisa menjawab rakyat?” tandasnya.

DPRD pun meminta agar ke depan setiap program nasional yang masuk ke daerah disampaikan secara terbuka dan resmi kepada lembaga legislatif, agar tidak terjadi pemutusan komunikasi yang merusak prinsip akuntabilitas dan transparansi.

“Kami mohon, program apa pun dari pusat—apa pun nanti kebijakan Presiden Prabowo—DPRD harus diberi tahu. Jangan sampai wakil rakyat justru menjadi pihak yang paling tidak tahu di rumahnya sendiri,” pungkasnya

 

(RED)

Kobin, Cara Bhabinkamtibmas Polri Lebih Dekat dengan Warga

JAKARTA || Jejak-indonesia.id - Polda Jawa Timur (Jatim) melalui Bhabinkamtibmas terus melakukan pendekatan dengan masyarakat. Salah satunya adalah dengan program Kobin atau Kopi Cak Bhabin.

Bhabinkamtibmas Polsek Bubutan Polda Jawa Timur Aipda Muhammad Sugeng Bin Wahab menjelaskan bahwa, Kobin yang dibawa dengan sepeda dilengkapi kopi tersebut selalu dibawa ketika menjalankan tugas menyambangi warga.

"Kobin adalah salah satu sarana kami kopi cak Bhabin kita berkeliling kampung sebagai tugas khusus ataupun tugas pokok bhabin kamtibmas adalah sambang warga. Maka dari itu saat jita mekakukan sambang ke warga kita dengan datang membawa gerobak Kobin," kata Sugeng, Selasa (17/2/2026).

Menurut Sugeng, sepeda yang disulap menjadi tempat membawa kopi lengkap dengan kantong di kiri-kanannya itu disediakan dari modal pribadi.

"Modalnya pribadi," ujarnya.

Bahkan, inisiasi Bhabinkamtibmas tersebut diapresiasi serta disambut baik oleh Komisi VII DPR RI yang dipimpin oleh Rahayu Saraswati saat kunjungan ke Kampung Batik Okra Surabaya.

Menurut Sugeng, nantinya ketika menyambangi warga untuk menyerap aspirasi masyarakat, kopi yang disediakan bakal gratis.

"Kopinya nanti gratis untuk masyarakat," tuturnya.

Kopin sendiri terinsipirasi dari kebiasaan atau budaya masyarakat Indonesia yang gemar sekali menyeruput kopi.

Polda Jatim menginisiasi program ngopi bareng cak bhabin. Kopi dijadikan sarana oleh para bhabin untuk mencairkan suasana.

Kobin bibuat sendiri oleh para bhabin. Mereka berkeliling desa desa kemudian mengumpulkan para masyarakat dan berusaha menggali aspirasi.

Polresta Malang Kota Pertebal Pengamanan Imlek, Personel Disiagakan di Klenteng hingga Pusat Perbelanjaan

MALANG || Jejak-indonesia.id – Mengantisipasi lonjakan aktivitas masyarakat saat libur panjang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, sekaligus menyongsong Ramadhan 1447 H dan persiapan Operasi Ketupat Semeru 2026, Polresta Malang Kota Polda Jatim meningkatkan pengamanan secara menyeluruh di Kota Malang.

Kapolresta Malang Kota Putu Kholis Aryana mengatakan, langkah tersebut ditunjukkan saat mendampingi Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto saat melakukan pengecekan di Klenteng Eng An Kiong Jalan Martadinata Kota Malang.

Diketahui Klenteng tersebut yang menjadi pusat perayaan Imlek bertema “Harmony of Love & Prosperity” mulai 14–17 Februari 2026 di Kota Malang.

Kombes Pol Putu Kholis menegaskan bahwa pengamanan tidak hanya difokuskan di lokasi ibadah, tetapi juga diperluas ke pusat perbelanjaan modern hingga pasar tradisional.

“Selain meningkatkan pengamanan di klenteng, kami juga menugaskan personel untuk aktif dan fokus di mall, pusat perbelanjaan, serta pasar tradisional, agar masyarakat merasa aman dan nyaman saat beraktivitas,” kata Kombes Pol Putu Kholis.

Ia menerangkan, strategi ini merupakan bagian dari langkah preventif dan preemtif guna mencegah potensi gangguan kamtibmas, seperti pencurian, copet, maupun kepadatan arus kendaraan di jalur provinsi yang melintas di Kota Malang menuju Lumajang dan Blitar.

Pengamanan di Lokasi Klenteng Polresta Malang Kota melibatkan 47 personel.

Selain itu personel juga patroli dialogis di pusat keramaian, rekayasa lalu lintas situasional, serta penguatan komunikasi dengan pengelola tempat ibadah dan pusat ekonomi masyarakat.

“Kami ingin memastikan seluruh rangkaian kegiatan masyarakat, baik ibadah saat Imlek maupun aktivitas ekonomi, berjalan kondusif," ujar Kombes Pol Putu Kholis.

Sementara itu Ketua Yayasan Klenteng Eng An Kiong, Rudi Phan, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kesiapsiagaan apparat, khususnya Polresta Malang Kota, yang sudah menjalin koordinasi intensif serta melakukan pengamanan sejak tahap awal persiapan perayaan.

“Kami mengapresiasi perhatian dan pengamanan Polresta Malang Kota, sejak persiapan Imlek sudah melakukan berkoordinasi hingga puncak acara “Harmony of Love & Prosperity” hari ini berlangsung lebih aman.” ujar Rudi Phan. (*)

Kapolda Jatim Tinjau Klenteng Eng An Kiong di Kota Malang Tegaskan Komitmen Jogo Jawa Timur Saat Imlek 2026

MALANG || Jejak-indonesia.id – Komitmen menjaga kondusivitas wilayah Jawa Timur saat libur panjang dalam rangka Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili sekaligus menjelang Ramadhan 1447 Hijriah dan persiapan Operasi Ketupat Semeru 2026 ditegaskan oleh Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto dengan mengunjungi Klenteng Eng An Kiong, Selasa (17/02/2026).

Didampingi para pejabat utama (PJU) Polda Jatim dan Kapolresta Malang Kota Putu Kholis Aryana, Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang melakukan pengecekan layanan pengamanan perayaan Imlek di Klenteng bersejarah yang berada di Jalan Martadinata, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang.

Kunjungan Jajaran Polda Jatim dan Polresta Malang Kota ini dilakukan untuk memastikan perayaan bertajuk “Harmony of Love & Prosperity” yang berlangsung 14–17 Februari 2026 berjalan aman, tertib, dan penuh suasana toleransi.

Selain memantau kesiapan personel di area ibadah, Kapolda Jatim juga menyoroti aspek lalu lintas.

Jalan Martadinata merupakan jalur provinsi strategis yang menghubungkan arus kendaraan menuju Lumajang dan Blitar, sehingga berpotensi mengalami peningkatan volume kendaraan selama libur panjang.

“Kami memastikan perayaan Imlek di Kota Malang aman dan lancar. Kunjungan kami ini sudah menjadi tanggung jawab kami menjaga Jawa Timur tetap kondusif, baik saat cuti bersama, maupun mitigasi jelang Operasi Ketupat Semeru 2026,” tegas Irjen Nanang.

Menurut Kapolda Jatim, langkah preventif dan preemtif dilakukan melalui penguatan patroli, pengaturan arus lalu lintas, hingga koordinasi intensif dengan pengurus klenteng dan unsur pemerintah daerah.

Soliditas antar instansi menjadi kunci menciptakan rasa aman bagi masyarakat.

Sementara itu Ketua Yayasan Klenteng Eng An Kiong, Rudi Phan, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan pengamanan yang diberikan jajaran kepolisian.

“Kami berterima kasih atas pengamanan dari Polresta Malang Kota dan kunjungan Bapak Kapolda Jatim, sungguh luar biasa perhatian beliau kepada warga khususnya Kota Malang," ungkap Rudi Phan.

Ia mengatakan perayaan tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan momentum menjelang bulan suci Ramadan.

"Kehadiran Polri bahkan sampai Pak Kapolda Jatim turun lapangan ini memberikan rasa tenang bagi umat dan masyarakat sekitar,” ujar Rudi Phan.

Momentum ini sekaligus mempertegas Kota Malang sebagai kota toleran yang menjunjung tinggi kerukunan dalam keberagaman.

Dengan pengamanan terpadu dan sinergi lintas sektor, Polda Jatim memastikan perayaan berlangsung khidmat sekaligus menjadi bagian dari strategi besar menjaga stabilitas keamanan wilayah menjelang Ramadhan dan arus mudik mendatang. (*)

Puskaptis Banyuwangi Desak Direktur RSUD Blambangan Mundur Terkait Dugaan Pelecehan & Siap Hearing

BANYUWANGI || Jejak-ndonesia.id – Pusat Kajian dan Advokasi Transparansi Publik dan Sosial (Puskaptis) Banyuwangi melalui Amrullah angkat suara terkait dugaan kasus pelecehan seksual terhadap pasien di ruang ICU RSUD Blambangan. Dalam pernyataannya, Puskaptis menilai Direktur rumah sakit harus mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab moral atas peristiwa yang mencoreng dunia pelayanan kesehatan tersebut.

Amrullah menyampaikan bahwa kasus pelecehan seksual di lingkungan rumah sakit merupakan persoalan serius dan tidak bisa dipandang sebagai peristiwa individual semata. Menurutnya, kejadian tersebut berpotensi lebih luas dari yang terungkap ke publik.

“Kasus seperti ini sangat sensitif. Tidak menutup kemungkinan ada korban lain yang memilih diam karena mempertimbangkan nama baik pribadi maupun keluarganya. Korban pelecehan seksual kerap berada dalam posisi rentan dan enggan melapor,” tegasnya.

Sebagai bentuk kepedulian dan upaya membuka ruang keadilan bagi para korban, Puskaptis Banyuwangi telah membuka posko pengaduan bagi masyarakat yang merasa menjadi korban atau mengetahui adanya dugaan pelecehan serupa di lingkungan rumah sakit tersebut. Posko ini diharapkan dapat memberikan rasa aman dan perlindungan bagi para pelapor.

Lebih lanjut, Puskaptis menilai dugaan peristiwa tersebut mencerminkan lemahnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) serta kurangnya pengawasan internal di lingkungan rumah sakit. Menurut Amrullah, tanggung jawab tidak hanya melekat pada terduga pelaku, tetapi juga pada pimpinan tertinggi institusi.

“Puncak pimpinan memiliki tanggung jawab moral atas sistem pembinaan dan pengawasan. Jika terjadi kelalaian yang berdampak serius terhadap keselamatan dan martabat pasien, maka Direktur harus berani mengambil sikap dengan mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban moral,” ujarnya.

Selain itu, Puskaptis Banyuwangi juga berencana dalam waktu dekat akan mengajukan hearing dengan mengundang seluruh rumah sakit yang ada di Banyuwangi. Langkah ini dimaksudkan sebagai forum evaluasi bersama agar kasus serupa tidak kembali terjadi serta memperkuat sistem perlindungan pasien di seluruh fasilitas layanan kesehatan.

Puskaptis menegaskan akan terus mengawal proses penanganan kasus ini agar berjalan transparan dan berpihak pada korban, serta mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan perlindungan pasien di lingkungan rumah sakit.

error: Content is protected !!