Sorry, we're closed Opens Selasa at 9:00 am

Bulan: Februari 2026

Bersihkan Rumah Allah Pascabanjir, Polri dan Warga Bener Meriah Gotong Royong Siapkan Meunasah Sambut Ramadan

Bener Meriah || Jejak-indonesia.id — Pasca bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bener Meriah, kepedulian Polri terhadap pemulihan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat terus diwujudkan melalui aksi nyata di lapangan.

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Polri bersama masyarakat bergotong royong membersihkan rumah ibadah agar kembali layak digunakan untuk beribadah.

Polres Bener Meriah bersama personel Brimob Polda Aceh yang tergabung dalam BKO, berkolaborasi dengan masyarakat melaksanakan bakti sosial pascabanjir di Meunasah Al Taqwa, Kampung Lampahan Timur, Kabupaten Bener Meriah. Jumat, (30/1/2026).

Kegiatan tersebut difokuskan pada pembersihan lumpur, sampah, serta normalisasi area meunasah yang terdampak banjir sekaligus memastikan sarana ibadah dapat kembali digunakan dengan aman dan nyaman, khususnya untuk menyambut Bulan suci Ramadhan.

Kabag SDM Polres Bener Meriah, AKP Yulizan, mengatakan bahwa bakti sosial tersebut untuk mempercepat pemulihan kehidupan warga.
“Hari ini Polres Bener Meriah bersama personel Brimob Polda Aceh dan masyarakat melaksanakan kerja bakti membersihkan Meunasah Al Taqwa, Harapannya meunasah ini dapat kembali digunakan untuk beribadah, terutama menyambut ibadah tarawih di bulan suci Ramadan nanti,” ujar AKP Yulizan.

Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan Meunasah Al Taqwa Lampahan Timur, Tengku Rizal Pahlevi, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepedulian dan bantuan yang diberikan Polri. “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolda Aceh, Bapak Kapolres Bener Meriah, serta Satuan Brimob Polda Aceh yang telah membantu membersihkan dan menormalisasikan kembali meunasah kami. Insyaallah, menjelang Ramadan, meunasah ini sudah bisa digunakan kembali oleh masyarakat,” ungkapnya.

Ungkapan syukur juga disampaikan oleh warga setempat yang merasakan langsung manfaat dari kegiatan tersebut. Salah seorang warga dan jamaah Meunasah Al Taqwa, Abdul Rahman (47), mengaku terharu atas kepedulian Polri.
“Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Meunasah ini sempat penuh lumpur akibat banjir. Dengan bantuan Bapak-bapak Polisi, sekarang sudah bersih dan bisa kami persiapkan untuk ibadah Ramadan. Semoga menjadi amal ibadah bagi semuanya,” tuturnya.

Melalui kegiatan bakti sosial Polri menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan mengabdi kepada masyarakat, menjaga sinergi, serta membantu memulihkan kehidupan sosial dan keagamaan warga, khususnya dalam menyambut bulan suci Ramadan yang penuh berkah.

Lambannya Penetapan Tersangka Kasus Solar Subsidi di Sumenep Memicu Keraguan Publik terhadap Kinerja Polres

SUMENEP || Jejak-indonesia.id — Lebih dari tiga bulan sejak pengungkapan dugaan penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Jalan Arya Wiraraja, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Polres Sumenep belum menetapkan satu pun tersangka. Kondisi ini memicu pertanyaan publik mengenai transparansi dan ketegasan penegakan hukum, sekaligus menjadi ujian awal bagi kepemimpinan Kapolres Sumenep yang baru.

Penanganan kasus dugaan penyalahgunaan solar bersubsidi di Kabupaten Sumenep hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar. Lebih dari tiga bulan pasca penangkapan dua unit mobil pikap bermuatan puluhan jeriken solar bersubsidi pada Kamis (6/11/2025) dini hari, proses hukum belum menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Ketiadaan tersangka hingga saat ini dinilai mencederai rasa keadilan publik. Dalam perspektif penegakan hukum, penemuan barang bukti dalam jumlah besar semestinya diikuti dengan kejelasan status hukum para pihak yang diamankan serta pengembangan perkara terhadap kemungkinan jaringan distribusi yang lebih luas.

Namun, hingga kini, Polres Sumenep belum menyampaikan penjelasan resmi terkait hasil pemeriksaan, konstruksi perkara, maupun arah penyidikan. Minimnya informasi ini memicu spekulasi dan memperlebar jarak kepercayaan antara masyarakat dan aparat penegak hukum.

Sejumlah warga menilai praktik penyalahgunaan BBM subsidi bukan fenomena baru di Sumenep dan sulit dilakukan secara individual. Mereka meyakini adanya jaringan distribusi terorganisasi yang melibatkan lebih dari satu aktor.

“Di masyarakat berkembang dugaan bahwa proses hukum terhambat oleh kepentingan tertentu. Ini memang masih asumsi, tetapi muncul karena kasusnya tidak bergerak,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Tokoh masyarakat lainnya menegaskan pentingnya transparansi sebagai prasyarat utama menjaga legitimasi institusi kepolisian. Ia mendorong aparat membuka informasi secara proporsional agar tidak menimbulkan asumsi liar di ruang publik.

Hingga berita ini diturunkan, Polres Sumenep belum memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan penyidikan. Situasi ini dinilai semakin mempertegas krisis kepercayaan publik, terutama di tengah sorotan nasional terhadap kinerja aparat penegak hukum.

Sejumlah elemen masyarakat menyatakan siap menggelar aksi demonstrasi apabila tidak ada kepastian hukum dalam waktu dekat. Mereka menuntut transparansi, kepastian status hukum, serta komitmen nyata dalam pemberantasan mafia BBM subsidi.

Di sisi lain, publik kini menaruh harapan pada Kapolres Sumenep yang baru untuk menunjukkan kepemimpinan tegas dan berintegritas. Penanganan kasus ini dipandang sebagai indikator awal apakah supremasi hukum benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu.

error: Content is protected !!