Jalan Buntu, Suara Menggema: Aliansi Poros Tengah Siap Guncang Bapenda Pasuruan Atas Dugaan Penyimpangan PAD

PASURUAN || Jejak-indonesia.id – Kesabaran publik tampaknya telah mencapai ambang batasnya. Aliansi Poros Tengah Pasuruan Raya secara tegas mengonfirmasi akan menggelar aksi demonstrasi di Kantor Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kabupaten Pasuruan, Kamis (21/5/2026). Bukan sekadar seruan lisan, langkah ini merupakan kulminasi dari kebuntuan dialog dan tumpukan data yang selama ini dianggap “deaf ear” oleh pemangku kebijakan.

Koordinator Aliansi, Saiful, menyatakan bahwa persiapan aksi telah dilakukan dengan presisi tinggi. Kelengkapan teknis dan logistik telah disusun jauh hari, menandakan bahwa gerakan ini bukan impuls sesaat, melainkan respons terukur terhadap apa yang mereka sebut sebagai “kelalaian sistemik” dalam pengelolaan keuangan daerah.

Secara hukum, langkah Aliansi ini tak terbantahkan. Surat pemberitahuan telah resmi dilayangkan ke Polres Pasuruan Kota, mematuhi koridor UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Ini adalah pesan jelas: mereka datang bukan untuk anarki, melainkan untuk menagih akuntabilitas melalui jalur konstitusional yang sah.

“Aksi ini adalah hak konstitusional. Kami tempuh jalan turun ke jalan karena jalur audiensi sudah buntu,” tegas Saiful dengan nada dingin namun penuh keyakinan.

Inti dari kemarahan publik ini terletak pada dugaan penyimpangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari Pajak Barang Jasa Tertentu (PBJT) tenaga listrik. Menurut Saiful, data konkret mengenai kebocoran atau ketidakberesan dalam sektor strategis tersebut telah diserahkan kepada pihak terkait, namun respons yang diterima nihil. Tidak ada tindak lanjut serius, tidak ada transparansi, dan yang tersisa hanyalah keheningan birokrasi yang mencekam.

Demonstrasi besok bukan sekadar ritual protes tahunan. Ini adalah ultimatum moral bagi Bappenda Kabupaten Pasuruan. Jika pintu dialog tertutup rapat, maka suara di depan gerbang kantor akan menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa untuk mengingatkan penguasa bahwa kepercayaan rakyat adalah aset yang paling mudah hilang, namun paling sulit dibeli kembali.

Mata publik kini tertuju pada Kamis esok. Apakah Bappenda akan tetap diam, atau akhirnya membuka mata terhadap realitas yang disodorkan oleh rakyatnya sendiri?​

 

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *