Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Opini » Halaman 9

Opini

1780627542627

Mbah Semar: 6 Juni, Tanggal yang Penuh Makna dan Kenangan

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Mbah Semar mengatakan bahwa tanggal 6 Juni merupakan hari yang sangat istimewa dan sarat makna dalam perjalanan hidupnya. Tanggal tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sosok yang telah berpulang, tetapi juga menjadi hari penuh kebahagiaan bagi keluarga.

"Besok, 6 Juni, adalah tanggal yang selalu saya kenang. Pada hari itu merupakan hari kelahiran Almarhum Sudjiharto, ayah saya yang telah meninggalkan begitu banyak teladan, kasih sayang, dan nilai-nilai kehidupan yang hingga kini tetap menjadi pedoman bagi keluarga," ungkap Mbah Semar.

Menurutnya, tanggal yang sama juga menjadi hari bahagia karena merupakan hari kelahiran putra tercintanya, Denies Sevi Cahaya Saputra, serta keponakannya, Friska. Sebuah kebetulan yang indah ketika kenangan dan kebahagiaan hadir dalam satu waktu yang sama.

"Ini adalah anugerah dari Allah SWT. Dalam satu tanggal terdapat kenangan tentang orang tua yang kami cintai, sekaligus kebahagiaan atas bertambahnya usia anak dan keponakan yang menjadi harapan keluarga," ujarnya.

Lebih jauh, Mbah Semar menuturkan bahwa 6 Juni juga memiliki makna penting bagi bangsa Indonesia karena merupakan hari lahir Soekarno, Sang Proklamator yang lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya. Peringatan tersebut menjadi bagian dari Bulan Bung Karno yang mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk meneladani semangat perjuangan, nasionalisme, serta pemikiran besar Bung Karno dalam membangun bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Mbah Semar mengajak keluarga dan masyarakat untuk menjadikan 6 Juni sebagai momentum refleksi diri, memperkuat nilai kekeluargaan, serta menumbuhkan rasa syukur atas nikmat kehidupan.

"Untuk Almarhum Sudjiharto, kami panjatkan doa semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Untuk Denies Sevi Cahaya Saputra dan Friska, selamat ulang tahun. Semoga diberikan kesehatan, umur yang berkah, kesuksesan, dan menjadi pribadi yang berguna bagi agama, bangsa, dan keluarga," tuturnya.

Menutup pernyataannya, Mbah Semar menyampaikan bahwa 6 Juni mengajarkan arti penting kehidupan sebagai rangkaian kenangan, perjuangan, dan harapan.

"Mengenang yang telah tiada, mensyukuri yang masih ada, serta menatap masa depan dengan penuh optimisme. Sebab sejarah, keluarga, dan perjuangan adalah warisan yang harus terus dijaga," pungkasnya.

🤲🌹🎂🎉

"Jas Merah — Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah." — Soekarno.

IMG-20260603-WA0075

Mbah Semar: Ini Cara Melatih Pikiran Agar Tidak Mudah Menyerah

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Dalam menjalankan kehidupan, setiap orang pasti menghadapi berbagai tantangan, tekanan, dan kegagalan. Namun, yang membedakan seseorang berhasil atau tidak adalah kemampuannya untuk tetap bertahan dan bangkit ketika menghadapi kesulitan.

Mbah Semar menuturkan bahwa pikiran yang kuat tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses latihan yang konsisten. Menurutnya, ada beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan untuk melatih pikiran agar tidak mudah menyerah.

"Jangan fokus pada seberapa berat masalah yang dihadapi, tetapi fokuslah pada langkah kecil yang bisa dilakukan hari ini. Orang yang terus melangkah, walaupun perlahan, akan lebih dekat pada tujuan daripada orang yang hanya mengeluh tanpa bertindak," ujar Mbah Semar. Rabu, (3/6/26)

Ia menjelaskan bahwa langkah pertama adalah membiasakan diri berpikir positif terhadap setiap keadaan. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pelajaran yang memberikan pengalaman berharga untuk melangkah lebih baik di masa depan.

Selain itu, penting untuk membangun disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan hal-hal kecil secara konsisten akan melatih mental menjadi lebih tangguh dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan yang lebih besar.

Mbah Semar juga mengingatkan agar tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain. Menurutnya, banyak orang kehilangan semangat karena terlalu fokus pada komentar dan pandangan orang di sekitarnya.

"Jadilah pribadi yang terus belajar. Jangan takut salah, jangan takut gagal. Kesalahan adalah guru terbaik yang mengajarkan kita cara menjadi lebih kuat dan lebih bijaksana," tambahnya.

Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan pergaulan yang positif juga sangat berpengaruh terhadap kekuatan mental seseorang. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki semangat, optimisme, dan tujuan hidup yang baik dapat membantu membangun pola pikir yang lebih kuat.

Di akhir pesannya, Mbah Semar mengajak masyarakat untuk selalu bersyukur dan percaya pada proses kehidupan.

"Kesuksesan bukan milik orang yang paling hebat, tetapi milik mereka yang tetap berjuang meski berkali-kali jatuh. Latih pikiran untuk tetap tenang, terus belajar, dan jangan pernah menyerah pada keadaan."

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada fisik, melainkan pada kemampuan menjaga semangat dan keteguhan hati dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.

IMG-20260603-WA0027

Marawat Eka Purwadi: Berpikir Positif Tentang Apa Pun, Khususnya dalam Rumah Tangga

Jejak-indonesia.id || Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang dihadapkan pada berbagai persoalan dan tantangan yang datang silih berganti. Baik dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan sosial, maupun kehidupan rumah tangga, perbedaan pendapat dan kesalahpahaman merupakan hal yang wajar terjadi. Menurut Marawat Eka Purwadi, salah satu kunci utama menjaga ketenangan dan keharmonisan hidup adalah membiasakan diri untuk selalu berpikir positif.

"Berpikir positif bukan berarti mengabaikan kenyataan atau menutup mata terhadap masalah yang sedang dihadapi. Justru dengan pikiran yang positif, seseorang akan lebih mampu melihat persoalan secara jernih, mencari solusi terbaik, dan menghindari prasangka yang dapat memperkeruh keadaan," ujar Marawat Eka Purwadi.

Dalam konteks kehidupan rumah tangga, Marawat menilai bahwa pola pikir positif memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keharmonisan hubungan antara suami dan istri. Menurutnya, banyak persoalan rumah tangga yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik, saling memahami, dan mengedepankan rasa percaya.

"Ketika pasangan mampu menahan diri dari prasangka buruk dan lebih fokus pada niat baik satu sama lain, maka berbagai persoalan akan lebih mudah diselesaikan tanpa harus menimbulkan konflik yang berkepanjangan," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan untuk melihat kelebihan pasangan dibanding terus mempermasalahkan kekurangannya. Dengan demikian, rasa syukur, penghargaan, dan kasih sayang dalam keluarga akan semakin tumbuh dan menguat.

Selain berdampak pada hubungan suami istri, pola pikir positif juga memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan anak-anak. Lingkungan keluarga yang dipenuhi sikap saling menghargai dan komunikasi yang sehat akan menjadi contoh nyata bagi anak dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Di tengah berbagai dinamika kehidupan modern saat ini, Marawat Eka Purwadi mengajak seluruh masyarakat untuk terus menanamkan sikap positif dalam setiap aspek kehidupan, terutama dalam membangun dan mempertahankan keharmonisan rumah tangga.

"Rumah tangga yang harmonis tidak lahir karena tidak adanya masalah, tetapi karena adanya kemauan untuk saling memahami, saling mendukung, dan selalu berpikir positif dalam menghadapi setiap ujian kehidupan," pungkasnya.

"Berpikir positif bukan menghilangkan masalah, tetapi membantu kita menemukan cara terbaik untuk menghadapi dan menyelesaikannya."

IMG-20260601-WA0081

Mbah Semar Dukung Fast Respon Nusantara Persatuan Wartawan Counter Polri Gelar Sholawat Akbar di Banyuwangi dalam Rangka HUT Bhayangkara ke-80

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Pimpinan Umum media online Jejak-Indonesia.id, Jejak-Indonesia.news, dan Pedot.pro, yang akrab disapa Mbah Semar, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan Sholawat Akbar yang akan digelar oleh Fast Respon Nusantara (FRN) Persatuan Wartawan Counter Polri di Kabupaten Banyuwangi dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80.

Menurut Mbah Semar, kegiatan sholawat akbar merupakan momentum yang sangat positif untuk mempererat silaturahmi antara masyarakat, insan pers, ulama, tokoh masyarakat, dan jajaran Kepolisian Republik Indonesia. Selain sebagai sarana memperkuat nilai-nilai spiritual, kegiatan tersebut juga menjadi wadah untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Sholawat Akbar ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi doa bersama untuk keamanan, kedamaian, dan kemajuan bangsa. Kami mendukung penuh pelaksanaannya sebagai bentuk sinergi antara masyarakat, wartawan, dan Polri,” ujar Mbah Semar. Senin (1/6/26)

Ia menambahkan bahwa peringatan HUT Bhayangkara ke-80 harus dimaknai sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Melalui kegiatan keagamaan seperti sholawat akbar, diharapkan hubungan harmonis antara Polri dan masyarakat semakin kuat.

Kegiatan yang direncanakan berlangsung di Banyuwangi tersebut akan melibatkan berbagai elemen masyarakat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, serta insan pers yang tergabung dalam Fast Respon Nusantara Persatuan Wartawan Counter Polri.

Dengan mengusung semangat kebersamaan dan persaudaraan, Sholawat Akbar diharapkan menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Bhayangkara ke-80 yang membawa keberkahan serta memperkuat semangat menjaga persatuan, keamanan, dan ketertiban di tengah masyarakat.

“Polri untuk Masyarakat, Bersama Menjaga Persatuan dan Kedamaian Bangsa,” tutup Mbah Semar.

IMG-20260531-WA0092

Mbah Semar: 5 Sikap “Bodo Amat” yang Membuatmu Naik Kelas dalam Hidup

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Menurut Mbah Semar, tidak semua sikap "bodo amat" berdampak buruk. Dalam kondisi tertentu, sikap ini justru diperlukan agar seseorang tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang menghambat kemajuan diri.

"Naik kelas dalam hidup bukan hanya soal harta atau jabatan, tetapi juga tentang cara berpikir dan bersikap," ujar Mbah Semar.

Berikut 5 sikap "bodo amat" yang dapat membuat seseorang naik kelas:

1. Bodo Amat terhadap Omongan Negatif

Tidak semua kritik perlu dimasukkan ke hati. Fokuslah pada masukan yang membangun dan abaikan komentar yang hanya bertujuan menjatuhkan.

2. Bodo Amat terhadap Penilaian Orang

Selama berada di jalan yang benar, tidak perlu sibuk mencari pengakuan dari semua orang. Kesuksesan tidak ditentukan oleh penilaian mereka.

3. Bodo Amat terhadap Persaingan yang Tidak Sehat

Daripada menghabiskan energi untuk iri atau menjatuhkan orang lain, lebih baik fokus meningkatkan kualitas diri sendiri.

4. Bodo Amat terhadap Masa Lalu yang Tidak Bisa Diubah

Kesalahan dan kegagalan adalah pelajaran. Terlalu lama terjebak dalam penyesalan hanya akan menghambat langkah menuju masa depan.

5. Bodo Amat terhadap Hal-Hal yang Tidak Bisa Dikendalikan

Tidak semua hal berada dalam kendali kita. Orang yang bijak akan memusatkan energi pada apa yang bisa diperbaiki dan diusahakan.

Mbah Semar menegaskan bahwa sikap "bodo amat" yang dimaksud bukanlah acuh tak acuh terhadap tanggung jawab, melainkan kemampuan untuk memilah mana yang layak dipikirkan dan mana yang harus dilepaskan.

"Ketika kamu berhenti menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak penting, saat itulah kamu mulai naik kelas dalam hidup," pungkas Mbah Semar.

error: Content is protected !!