Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Opini » Halaman 11

Opini

IMG-20260531-WA0027

7 Strategi Menjadi Pemain di Belakang Layar

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Minggu, 31 Mei 2026. Tidak semua orang harus berada di garis depan untuk menjadi sosok yang berpengaruh. Dalam banyak organisasi, dunia usaha, maupun kehidupan sosial, justru ada orang-orang yang bekerja di balik layar, tetapi memiliki peran besar dalam menentukan arah dan keberhasilan sebuah tujuan.

Praktisi media yang akrab disapa Mbah Semar menyebut bahwa menjadi "pemain di belakang layar" bukan berarti manipulatif atau mencari keuntungan tersembunyi. Sebaliknya, ini adalah kemampuan untuk bekerja cerdas, membangun pengaruh melalui kompetensi, dan menghasilkan dampak tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.

Berikut tujuh strategi menjadi pemain yang kuat di belakang layar:

1. Bangun Kompetensi yang Sulit Digantikan

Pengaruh sejati lahir dari kemampuan. Kuasai bidang tertentu hingga kehadiran Anda menjadi bagian penting dari sebuah proses atau keputusan.

2. Perbanyak Mendengar, Kurangi Berbicara

Orang yang banyak mendengar biasanya memiliki informasi lebih lengkap. Mereka memahami situasi, karakter orang, dan peluang yang sering tidak terlihat oleh orang lain.

3. Bangun Jaringan, Bukan Sekadar Pertemanan

Kenali berbagai kalangan dan jalin hubungan yang saling menghormati. Jaringan yang luas sering kali menjadi sumber informasi, peluang, dan dukungan.

4. Jadilah Pemberi Solusi

Orang akan menghargai mereka yang mampu menyelesaikan masalah. Ketika banyak orang sibuk mengeluh, jadilah sosok yang menawarkan jalan keluar.

5. Jaga Reputasi dan Integritas

Kepercayaan adalah modal utama pemain di belakang layar. Sekali kepercayaan hilang, pengaruh yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap.

6. Kendalikan Emosi dan Ego

Tidak semua keberhasilan harus diketahui banyak orang. Orang yang matang tidak selalu membutuhkan pengakuan untuk merasa bernilai.

7. Biarkan Hasil yang Berbicara

Fokuslah pada karya dan dampak. Ketika hasilnya nyata, orang akan mengetahui kontribusi Anda tanpa perlu promosi berlebihan.

Mbah Semar menegaskan bahwa kekuatan terbesar sering kali tidak terlihat secara langsung. Banyak keputusan besar lahir dari pemikiran, masukan, dan kerja keras orang-orang yang tidak selalu tampil di depan publik.

"Menjadi pemain di belakang layar bukan soal bersembunyi, tetapi soal memahami bahwa pengaruh tidak selalu harus datang dari sorotan. Pohon yang akarnya kuat sering kali tidak terlihat, tetapi mampu menopang kehidupan di atasnya," ujarnya.

Pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya milik mereka yang tampil di panggung, tetapi juga milik mereka yang bekerja dengan cerdas, menjaga integritas, dan memberikan manfaat nyata meski tanpa banyak tepuk tangan.

IMG-20260531-WA0026

Mbah Semar: “Penjilat Itu Hidup, Tapi Tanpa Harga Diri”

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Minggu, 31 Mei 2026. Dalam kehidupan sosial, dunia kerja, maupun lingkungan organisasi, sering kali ditemukan orang-orang yang lebih memilih mencari keuntungan melalui pujian berlebihan daripada melalui kemampuan dan integritas. Fenomena ini dikenal dengan istilah "penjilat", yaitu perilaku seseorang yang selalu berusaha menyenangkan pihak yang memiliki kekuasaan demi kepentingan pribadi.

Praktisi media yang akrab disapa Mbah Semar menilai bahwa sikap menjilat mungkin dapat memberikan keuntungan sesaat, tetapi dalam jangka panjang berpotensi mengikis kehormatan dan harga diri seseorang.

"Orang yang menjilat mungkin terlihat dekat dengan kekuasaan, tetapi kedekatan itu sering dibangun bukan karena kualitas dirinya, melainkan karena kepentingan yang ingin diraih," ujar Mbah Semar.

Menurutnya, seseorang yang memiliki harga diri akan berusaha memperoleh kepercayaan melalui kerja keras, prestasi, dan kejujuran. Sebaliknya, penjilat cenderung mengorbankan prinsip demi mendapatkan perhatian, jabatan, atau keuntungan tertentu.

Perilaku menjilat juga dapat merusak lingkungan kerja dan organisasi. Kritik yang seharusnya menjadi bahan perbaikan sering kali hilang karena digantikan pujian yang tidak objektif. Akibatnya, pemimpin dapat kehilangan masukan yang jujur dan sulit melihat persoalan yang sebenarnya terjadi.

Mbah Semar menegaskan bahwa menghormati atasan, pemimpin, atau orang yang lebih berpengaruh adalah hal yang baik. Namun, penghormatan berbeda dengan sikap menjilat.

"Hormat lahir dari etika dan kesadaran. Menjilat lahir dari kepentingan. Keduanya sangat berbeda," tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa orang yang terlalu sering mengorbankan prinsip demi menyenangkan pihak tertentu pada akhirnya akan kehilangan kepercayaan dari lingkungan sekitarnya. Sebab, integritas tidak dapat dibeli dengan pujian dan kepura-puraan.

"Jabatan bisa hilang, kekuasaan bisa berganti, tetapi nama baik dan harga diri akan tetap melekat pada seseorang. Karena itu, lebih baik dihargai karena kejujuran daripada dipuji karena kepalsuan," pungkas Mbah Semar.

Pesan moralnya, kesuksesan yang dibangun di atas kemampuan, kerja keras, dan integritas akan bertahan lebih lama dibandingkan kesuksesan yang diperoleh melalui sanjungan dan kepentingan sesaat. Seseorang mungkin bisa hidup dengan berbagai cara, tetapi harga diri adalah nilai yang tidak seharusnya ditukar dengan keuntungan apa pun.

IMG-20260531-WA0025

“Ciri Teman yang Diam-Diam Meracuni Pikiranmu”

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Dalam kehidupan sehari-hari, pertemanan seharusnya menjadi sumber dukungan, motivasi, dan semangat untuk berkembang. Namun, tidak semua orang yang berada di sekitar kita membawa pengaruh positif. Ada kalanya seseorang yang terlihat akrab justru secara perlahan menanamkan pikiran-pikiran negatif yang dapat merusak kepercayaan diri, semangat, bahkan masa depan kita.

Praktisi media yang akrab disapa Mbah Semar mengingatkan bahwa racun dalam pertemanan tidak selalu datang dalam bentuk permusuhan yang terang-terangan. Justru yang paling berbahaya adalah pengaruh negatif yang disampaikan secara halus dan terus-menerus hingga tanpa sadar memengaruhi cara berpikir seseorang.

"Orang yang benar-benar peduli akan mendorong kita menjadi lebih baik. Sebaliknya, teman yang diam-diam meracuni pikiran biasanya membuat kita ragu terhadap kemampuan diri sendiri," ujar Mbah Semar.

Beberapa ciri teman yang patut diwaspadai antara lain:

1. Sering Meremehkan Mimpi dan Targetmu

Setiap kali Anda memiliki rencana atau cita-cita, mereka selalu menemukan alasan mengapa hal itu sulit atau mustahil dicapai. Alih-alih memberi semangat, mereka justru menanamkan keraguan.

2. Gemar Menyebarkan Pesimisme

Mereka lebih sering membahas kegagalan daripada peluang. Setiap pembicaraan dipenuhi keluhan, rasa takut, dan pandangan negatif terhadap masa depan.

3. Tidak Senang Melihat Kesuksesan Orang Lain

Teman seperti ini cenderung iri ketika melihat orang lain berhasil. Mereka sering mencari-cari kekurangan seseorang daripada mengapresiasi pencapaiannya.

4. Membuatmu Merasa Bersalah Saat Berkembang

Ketika Anda mulai maju, belajar hal baru, atau memperbaiki hidup, mereka justru menuduh Anda berubah, sombong, atau melupakan teman lama.

5. Sering Mengadu Domba dan Menebar Gosip

Mereka menikmati cerita buruk tentang orang lain. Kebiasaan ini bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga membentuk pola pikir negatif.

6. Menguras Energi Emosional

Setelah berbicara dengan mereka, Anda sering merasa lelah, tidak bersemangat, atau kehilangan motivasi. Ini bisa menjadi tanda bahwa hubungan tersebut tidak sehat.

7. Memberi Nasihat yang Menyesatkan

Mereka tampak peduli, tetapi sering memberikan saran yang justru menjauhkan Anda dari tujuan, tanggung jawab, atau kesempatan untuk berkembang.

Mbah Semar menegaskan bahwa menjaga lingkungan pergaulan merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas hidup. Seseorang tidak harus memusuhi atau membenci teman yang membawa pengaruh buruk, tetapi perlu menetapkan batasan yang sehat demi menjaga kesehatan mental dan arah hidupnya.

"Siapa yang sering Anda dengarkan akan memengaruhi cara Anda berpikir. Karena itu, dekatilah orang-orang yang memberi inspirasi, menumbuhkan harapan, dan mengingatkan pada kebaikan," pungkasnya.

Perlu diingat, teman yang baik bukanlah mereka yang selalu setuju dengan kita, melainkan mereka yang berani mengingatkan dengan tulus, mendukung pertumbuhan, dan ikut bahagia melihat kita menjadi pribadi yang lebih baik.

IMG-20260531-WA0010

Mbah Semar: “Zaman Edan, Yang Benar Disalahkan, Yang Salah Dibela”

Opini

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, muncul sebuah fenomena yang sering dikeluhkan masyarakat, yakni kondisi ketika yang benar justru disalahkan, sementara yang salah malah mendapatkan pembelaan. Fenomena ini kerap disebut sebagai gambaran dari “zaman edan”, sebuah istilah yang telah lama dikenal dalam budaya Jawa untuk menggambarkan keadaan ketika nilai-nilai moral seolah terbalik.

Praktisi media yang akrab disapa Mbah Semar menilai bahwa kondisi tersebut dapat terjadi ketika kepentingan pribadi, kelompok, maupun kekuasaan lebih diutamakan daripada kebenaran dan keadilan.

“Dalam kehidupan bermasyarakat, sering kita melihat orang yang berusaha jujur dan menyampaikan fakta justru diserang, difitnah, bahkan dianggap sebagai pihak yang bersalah. Sebaliknya, mereka yang nyata-nyata melakukan kesalahan kadang mendapat pembelaan karena memiliki kekuatan, pengaruh, atau kedekatan tertentu,” ujar Mbah Semar.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial turut memberikan dampak yang besar. Informasi yang belum tentu benar dapat dengan mudah menyebar dan membentuk opini publik. Akibatnya, banyak orang lebih percaya pada narasi yang ramai dibicarakan daripada fakta yang sebenarnya.

Mbah Semar menegaskan bahwa kebenaran tidak selalu ditentukan oleh jumlah orang yang mendukung atau membela. Kebenaran tetaplah kebenaran meskipun hanya sedikit yang memperjuangkannya.

“Jangan pernah takut berdiri di pihak yang benar hanya karena mayoritas berada di pihak yang salah. Sejarah telah membuktikan bahwa kebenaran sering kali diuji terlebih dahulu sebelum akhirnya diakui,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi, tidak mudah terprovokasi, dan selalu melakukan verifikasi sebelum memberikan penilaian terhadap suatu persoalan.

Menurutnya, salah satu tanda masyarakat yang sehat adalah ketika kritik diterima sebagai bahan perbaikan, bukan dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, ketika orang yang menyampaikan kebenaran justru dibungkam dan disalahkan, maka kondisi tersebut patut menjadi bahan introspeksi bersama.

“Di zaman yang penuh tantangan ini, menjaga integritas dan kejujuran memang tidak selalu mudah. Namun, nilai-nilai tersebut tetap harus dipertahankan agar keadilan tidak hanya menjadi slogan, melainkan benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Mbah Semar.

Pesan moralnya sederhana: jangan ikut menjadi bagian dari kebisingan yang membela kesalahan. Tetaplah berpihak pada kebenaran, meskipun terkadang harus berjalan sendirian.

IMG-20260530-WA0093

Mbah Semar: Berkaca Sebelum Bicara

Opini....!

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang menyadari bahwa kata-kata yang keluar dari mulutnya sering kali menjadi cerminan dari dirinya sendiri. Karena itu, sebelum menilai, mengkritik, atau menyalahkan orang lain, ada baiknya seseorang terlebih dahulu berkaca pada dirinya sendiri.

Mbah Semar menilai bahwa kebiasaan berbicara tanpa introspeksi sering menjadi sumber konflik, perpecahan, bahkan permusuhan. Seseorang dengan mudah menunjukkan kesalahan orang lain, tetapi lupa bahwa dirinya pun tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.

"Jangan terlalu sibuk melihat debu di mata orang lain, sementara kita lupa ada kaca yang harus dibersihkan dalam diri sendiri," ujar Mbah Semar.

Menurutnya, berbicara adalah hak setiap orang, tetapi setiap ucapan juga memiliki konsekuensi moral dan sosial. Kata-kata yang tidak dipikirkan dengan matang dapat melukai perasaan, merusak hubungan, bahkan menimbulkan fitnah yang sulit diperbaiki.

Sikap berkaca sebelum bicara bukan berarti takut menyampaikan kritik. Justru kritik yang disampaikan setelah melakukan introspeksi akan lebih bijaksana, objektif, dan mudah diterima. Orang yang mampu mengoreksi dirinya sendiri biasanya akan lebih berhati-hati dalam menilai orang lain.

Mbah Semar juga mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak diukur dari seberapa banyak seseorang berbicara, melainkan dari seberapa mampu ia menjaga lisan dan memahami keadaan. Terkadang diam lebih bernilai daripada ucapan yang hanya menimbulkan kegaduhan.

"Jika ingin dihormati, mulailah dengan menghormati orang lain. Jika ingin didengar, belajarlah mendengar. Dan jika ingin menilai orang lain, berkacalah terlebih dahulu pada diri sendiri," tegasnya.

Di tengah era media sosial yang serba cepat, pesan ini menjadi semakin relevan. Sebab, satu kalimat yang ditulis atau diucapkan dapat menyebar luas dalam hitungan detik. Oleh karena itu, kebijaksanaan dalam berbicara, menulis, dan berkomentar merupakan bentuk kedewasaan yang perlu terus dijaga.

Berkaca sebelum bicara bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kebijaksanaan. Karena orang yang mampu menilai dirinya sendiri dengan jujur akan lebih bijak dalam menilai orang lain.

error: Content is protected !!