Sorry, we're closed Opens Senin at 9:00 am
Beranda » Opini » Halaman 13

Opini

IMG-20260530-WA0028

STRATEGI BERPURA-PURA BODOH UNTUK MENJEBAK ORANG BODOH

Jejak-indonesia.id — Dalam dinamika kehidupan, sering kali kita berhadapan dengan orang yang merasa dirinya paling pintar. Mereka berbicara dengan nada tinggi, meremehkan, bahkan menganggap orang lain tidak mengerti apa-apa.

Dalam situasi seperti itu, ada sebuah strategi psikologis yang kerap digunakan: berpura-pura bodoh untuk menjebak orang yang merasa paling pintar. Strategi ini bukan tentang menjadi bodoh, melainkan menyembunyikan kecerdikan di balik sikap sederhana dan tidak menonjol.

Menurut Selamet Solichin, yang akrab disapa Mbah Semar, Pimpinan Umum Media Jejak-Indonesia.id, Jejakindonesia.news, dan Pedot.pro, ketika seseorang berpura-pura tidak tahu, pihak lain biasanya akan menurunkan kewaspadaannya.

"Mereka merasa lebih pintar, lebih unggul, dan mulai membuka kelemahannya sendiri. Dari sinilah informasi bisa digali, kesalahan bisa dipelajari, dan kesombongan dapat terlihat dengan jelas. Orang yang cerdas tahu kapan harus diam, kapan harus pura-pura tidak paham, dan kapan saatnya membalik keadaan," ujarnya, Sabtu (30/5/2026).

Menurutnya, strategi tersebut efektif karena ego manusia sering kali mendorong keinginan untuk diakui sebagai yang paling pintar. Saat melihat lawan yang tampak tidak mengerti, mereka merasa sudah menang, padahal tanpa sadar sedang memperlihatkan kelemahan mereka sendiri.
"Kepolosan bisa menjadi umpan yang memancing arogansi keluar," tambah Semar.

Kekuatan dalam Menyembunyikan Diri
Orang yang benar-benar kuat tidak selalu menunjukkan kekuatannya. Dalam banyak situasi, justru mereka yang terlihat biasa saja mampu membaca keadaan dengan lebih jernih. Dengan tidak banyak bicara, mereka memberi ruang bagi orang lain untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

Berpura-pura bodoh juga dapat menjadi latihan kesabaran dan pengendalian diri. Tidak semua hal harus ditanggapi, dan tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Terkadang, kemenangan terbesar adalah memahami situasi tanpa harus menunjukkan bahwa kita menguasainya.

Namun demikian, strategi ini tetap harus digunakan secara bijaksana. Tujuannya bukan untuk merendahkan atau mempermalukan orang lain, melainkan untuk melindungi diri dari kesombongan, manipulasi, atau penilaian yang keliru.
"Jika digunakan secara berlebihan atau dengan niat buruk, strategi ini justru dapat merusak hubungan dan menghilangkan kepercayaan," jelas Semar.

Pada akhirnya, kecerdasan sejati bukanlah tentang terlihat paling pintar, melainkan mengetahui kapan harus bersinar dan kapan harus meredup. Di tengah dunia yang penuh ego, orang yang mampu mengendalikan diri sering kali berada selangkah lebih maju dibandingkan mereka yang selalu ingin menunjukkan keunggulannya.
"Karena tidak semua kemenangan harus diumumkan, dan tidak semua kecerdasan harus dipamerkan," pungkasnya.

Penulis: Selamet Solichin (Mbah Semar)

#Motivasi #Mindset #Inspirasi #Opini #MbahSemar #PengembanganDiri #KecerdasanEmosional

IMG-20260529-WA0057

Perjalanan Rumah Tangga: Melintasi Badai, Menuju Pelangi

Opini || Membangun rumah tangga, sesungguhnya persis seperti perjalanan panjang yang sedang kami tempuh dalam mobil ini. Jalanan tak pernah lurus mulus selamanya; ada tikungan tajam, jalan menanjak curam, jalur berlubang, hingga langit yang tiba-tiba berubah gelap penuh badai, persis seperti awan di depan sana. Namun, di situlah letak perjuangan kami—karena kami tahu, di balik awan hitam yang paling kelam sekalipun, selalu ada pelangi indah yang menanti.

🌸 Pondasi di Tikungan Awal: Belajar Menjadi Satu. Di awal perjalanan, kami pikir mengarungi rumah tangga hanya soal indahnya cinta dan janji manis. Kami berjalan dengan semangat, seperti kendaraan yang melaju kencang di jalan terbuka. Namun, tikungan-tikungan kecil mulai muncul. Menyatukan dua kepala, dua kebiasaan, dan dua dunia yang berbeda ternyata tidak mudah. Ego kerap menjadi pengemudi yang liar, perbedaan pendapat menjadi jalan berlubang yang membuat hati terguncang. Di fase ini, kami belajar: Rumah tangga bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling kuat menurunkan ego, memperlambat langkah, dan memilih untuk saling memahami. Kami belajar mengendalikan kemarahan, menggantinya dengan percakapan, dan menyadari bahwa kami adalah satu tim, bukan lawan.

⛰️ Menanjak di Medan Terjal: Saat Beban Terasa Berat
Waktu berlalu, jalan pernikahan mulai menanjak curam. Ujian tak lagi sekadar soal perasaan, tapi datang menampar kenyataan hidup yang keras. Stabilitas ekonomi yang goyah, tekanan mencari nafkah, kebutuhan keluarga yang tak ada habisnya, hingga kelelahan fisik dan mental yang pelan-pelan menggerus energi. Ada hari di mana rasanya ingin berhenti, rasanya terlalu berat untuk terus melaju. Namun, di tanjakan paling curam itulah kekuatan kami diuji. Kami tidak saling menyalahkan, tidak saling mendorong jatuh. Kami justru saling berpegangan tangan erat-erat, saling mengingatkan: “Kita lewati ini bareng-bareng. Bebanmu separuh bebanku.” Di sinilah kami paham, komitmen itu bukan hanya saat segalanya indah, tapi saat keadaan sulit pun kami memilih untuk tetap duduk bersampingan, menatap arah yang sama.

🌩️ Menerobos Badai dan Lembah Kelam: Ujian yang Paling Menusuk
Ada masa-masa di mana langit kehidupan benar-benar gelap, persis seperti awan hitam yang menutup cakrawala. Ujian datang dalam bentuk yang paling menyakitkan: kehilangan orang tersayang, sakit yang tak kunjung sembuh, krisis kepercayaan, atau kekecewaan yang mendalam. Rasanya seperti terjebak di tengah badai besar, hujan deras menghalangi pandangan, angin kencang mengguncang bahtera kami. Banyak kali hati ini bertanya, “Sanggupkah kami bertahan?” Tapi di dalam kegelapan itulah kami menemukan cahaya sejati. Kami sadar, saat dunia di luar begitu bising dan kejam, satu-satunya tempat paling aman untuk pulang, menangis, dan bersandar hanyalah satu sama lain. Kami belajar memaafkan, bukan karena mudah, tapi karena kami sadar: Tak ada manusia yang sempurna, dan cinta sejati adalah memilih untuk tetap tinggal meski sedang terluka. Badai itu tak menghancurkan kami; ia justru membersihkan segala debu, menjadikan ikatan kami semakin kuat, kokoh, dan tak mudah patah.

🌈 Sampai di Ujung Badai: Pelangi Adalah Bukti Ketahanan
Dan kini, setelah ribuan kilometer perjalanan, setelah menaklukkan segala tanjakan, lubang, tikungan, dan badai—kami melihatnya. Di ujung langit yang sempat kelam itu, muncul pelangi yang indah, melengkung anggun sebagai tanda kemenangan. Itulah kami. Setelah melewati segala medan ujian, rumah tangga kami kini berdiri kokoh di atas kedewasaan. Cinta kami tak lagi berupa rasa berdebar yang mudah hilang, melainkan berupa ketenangan, kepercayaan, dan rasa aman yang tak tergantikan.

Kini, duduk bersamamu di sini, melaju bersama menuju masa depan, aku sadar satu hal paling penting:
Rumah tangga yang kuat bukanlah rumah tangga yang bebas dari masalah. Tapi rumah tangga yang saat masalah datang, mereka tidak saling melempar, melainkan saling menguatkan hingga masalah itu berlalu.

Terima kasih, teman seperjuanganku. Terima kasih sudah sabar memegang setir saat aku lelah, terima kasih sudah menjadi tempat bersandar saat aku rapuh, dan terima kasih tak pernah memilih jalan pisah meski jalannya pernah sangat buruk.

Kita telah membuktikan, bahwa selama kita berdua duduk di kendaraan yang sama, menatap arah yang sama, dan berdoa kepada Tuhan yang sama—tak ada satu pun badai di dunia ini yang sanggup memisahkan kita.

Badai boleh datang dan pergi, tapi pelangi kita... abadi. 🤍🚗💨

IMG-20260529-WA0017

Jejak Pengabdian Putra Terbaik Desa Bongancina Busungbiu untuk Negeri

JAKARTA || Jejak-indonesia.id – Dari sebuah desa di wilayah utara Pulau Bali, lahirlah sosok perwira kepolisian yang dikenal tegas, disiplin, dan penuh pengabdian kepada bangsa dan negara. Ia adalah Kombes Pol Dewa Wijaya, putra terbaik asal Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, yang telah menorehkan perjalanan panjang dalam dunia penegakan hukum, operasi khusus, hingga misi kemanusiaan berskala nasional.

Nama Dewa Wijaya bukan hanya dikenal sebagai perwira kepolisian biasa, melainkan figur polisi lapangan yang memiliki pengalaman lengkap dalam berbagai operasi penting negara. Di balik ketegasan dan kepemimpinannya, tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan, pengorbanan, serta loyalitas tanpa batas terhadap tugas dan pengabdian.

Kombes Pol Dewa Wijaya merupakan Alumni Sekolah Penerbang TNI-AU Angkatan 55/PSDP XII dan lulus pada tahun 1998 Matra Kepolisian. Pendidikan penerbang yang ditempuhnya menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter disiplin, keberanian, serta kemampuan pengambilan keputusan di situasi kritis.

Sebelum dikenal luas sebagai perwira kepolisian, Dewa Wijaya merupakan bagian dari tim khusus Polisi Udara dan aktif sebagai pilot. Berbagai latihan intensif, pendidikan keras, hingga penugasan di daerah konflik baik di dalam maupun luar negeri telah membentuk dirinya menjadi sosok yang tangguh di lapangan.

Pengalaman panjang tersebut membuatnya memahami bahwa tugas seorang anggota kepolisian bukan hanya sekadar menjalankan kewajiban negara, melainkan menjaga keselamatan masyarakat dalam berbagai kondisi, termasuk saat menghadapi ancaman yang membahayakan nyawa.

Namanya mulai mendapat perhatian nasional ketika tim yang dipimpinnya dari Pol Airud terlibat dalam penanganan aksi teror di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Januari 2016. Peristiwa tersebut menjadi salah satu aksi teror besar yang mengguncang Indonesia dan mendapat sorotan dunia internasional.

Dalam situasi penuh ancaman dan kepanikan, Dewa Wijaya bersama jajarannya bergerak cepat melakukan pengamanan dan penindakan terhadap pelaku teror. Kecepatan bertindak, ketegasan mengambil keputusan, serta kemampuan memimpin di tengah situasi darurat menjadi bukti profesionalisme yang telah lama dibangun selama bertugas di lapangan.

Kariernya kemudian terus berkembang di lingkungan Polda Metro Jaya. Ia beberapa kali dipercaya menduduki jabatan strategis sebagai Kasat Reskrim dan menangani berbagai kasus kejahatan umum maupun kejahatan khusus. Pengalaman panjang dalam penanganan kasus-kasus besar menjadikan dirinya dikenal sebagai sosok perwira yang tegas, berpengalaman, dan memiliki integritas tinggi dalam penegakan hukum.

Menurut Dewa Wijaya, polisi harus hadir bukan hanya ketika terjadi persoalan hukum, tetapi juga menjadi bagian dari rasa aman masyarakat.

“Seorang anggota polisi harus selalu hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat ada masalah, tetapi juga saat masyarakat membutuhkan rasa aman dan kepastian,” ujar Kombes Pol Dewa Wijaya.

Tak hanya dikenal dalam bidang penegakan hukum dan operasi keamanan, Dewa Wijaya juga menunjukkan sisi kemanusiaannya saat gempa bumi berkekuatan 7,0 SR mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Agustus 2018.

Saat menjabat sebagai Kasatrolda Pol Air Polda NTB, ia memimpin langsung proses evakuasi ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara dari kawasan Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air menuju Pelabuhan Bangsal. Dalam operasi kemanusiaan tersebut, jajaran Polair Polda NTB mengerahkan sejumlah kapal untuk mengevakuasi lebih dari 2.700 wisatawan guna menghindari dampak gempa susulan yang terus terjadi.

Di tengah situasi penuh kepanikan, Dewa Wijaya turun langsung ke lapangan menenangkan wisatawan yang ketakutan dan memastikan proses evakuasi berjalan aman. Ketegasan dan ketenangannya saat menghadapi bencana menjadi perhatian media nasional maupun internasional.

“Dalam situasi bencana, yang paling utama adalah menyelamatkan nyawa dan memastikan masyarakat merasa tidak sendiri menghadapi keadaan,” kata Dewa Wijaya terkait operasi evakuasi saat gempa Lombok.

Pengabdiannya terhadap masyarakat tidak berhenti setelah proses evakuasi selesai. Pasca bencana, Dewa Wijaya juga menginisiasi pendirian Yayasan NTB Bersatu sebagai wadah penyaluran bantuan sosial dan percepatan pemulihan wilayah terdampak gempa di Pulau Lombok.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengabdian seorang aparat tidak hanya diukur dari keberhasilan operasi keamanan, tetapi juga dari kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Dengan pengalaman di bidang antiteror, reserse kriminal, penerbangan, hingga operasi kemanusiaan, Kombes Pol Dewa Wijaya dikenal sebagai figur polisi lapangan yang memiliki kombinasi kepemimpinan, keberanian, ketegasan, serta kepedulian sosial yang kuat.

Sebagai putra terbaik Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, perjalanan hidup Dewa Wijaya menjadi inspirasi bahwa kerja keras, disiplin, dan loyalitas terhadap negara mampu membawa seseorang mengabdikan diri secara luas bagi bangsa dan masyarakat.

Dedikasi tanpa batas ruang dan waktu yang ditunjukkan Kombes Pol Dewa Wijaya menjadi bukti bahwa pengabdian sejati bukan hanya tentang jabatan dan pangkat, tetapi tentang keberanian untuk selalu hadir bagi negara dan kemanusiaan.

IMG-20260527-WA0058

STRATEGI JADI “PEMAIN DI BALIK LAYAR” 🎯

Jejak-indonesia.id || Tidak semua kekuatan harus terlihat.Ada yang memilih tampil di depan,tapi ada juga yang memilih mengendalikan arah dari balik layar.Yang membedakan bukan siapa yang paling terlihat,tapi siapa yang paling paham cara memainkan situasi.

1. Kumpulkan Informasi Secara CerdasInformasi adalah aset utama.Amati pola perilaku orang di sekitarmu.Pahami siapa berpengaruh, apa kebiasaan mereka, dan di mana titik lemahnya.Dari situ, kamu punya “peta” untuk mengarahkan keadaan tanpa terlihat memaksa.

2. Berpengaruh Tanpa Terlalu TerlihatSemakin sedikit sorotan, semakin aman posisimu.Biarkan orang lain berada di depan, sementara kamu bekerja dari belakang.Jangan terlalu sering menunjukkan ambisi secara terbuka.

3. Bangun Relasi yang BerkualitasTidak perlu banyak koneksi, yang penting tepat.Fokus pada orang-orang yang punya pengaruh dan akses.Kepercayaan adalah mata uang utama dalam permainan ini.

4. Kendalikan Emosi & SituasiTetap tenang, bahkan dalam tekanan.Orang yang mampu mengontrol diri, lebih mudah mengontrol keadaan.Biasakan membaca situasi sebelum mengambil langkah.

5. Gunakan Kata Secara StrategisBicara seperlunya, tapi berdampak.Satu kalimat yang tepat bisa mengubah arah keputusan.Hindari bicara berlebihan yang justru membuka niatmu.

6. Buat Orang Lain Merasa Itu Ide MerekaStrategi paling halus adalah membuat orang lain merasa keputusan itu datang dari mereka sendiri.Dengan begitu, kamu tetap di belakang layar—tapi arah permainan tetap kamu yang pegang.

7. Konsisten & SabarIni bukan permainan instan.Butuh waktu, ketenangan, dan konsistensi.Semakin halus caramu bergerak, semakin kuat.

 

pengaruhmu.
#mindsetkuat
#strategihidup
#selfimprovement
#carapintar
#berkembang

IMG-20260526-WA0032

5 Kunci Kebahagiaan dan Keutuhan Rumah Tangga

Opini || Setiap orang mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya dan salah satu aspek yang paling berpengaruh adalah kehidupan rumah tangga. Pentingnya menggali kembali nilai-nilai Islam dalam kehidupan rumah tangga, agar kebahagiaan yang diharapkan bukan sekedar angka statistik, melainkan kenyataan yang dirasakan setiap pasangan. Bagaimana pun, rumah tangga ibarat sebuah kapal yang mengarungi lautan luas.

Sesekali menghadapi ombak yang tenang, namun tak jarang pula diterpa badai. Al-Qur'an memberikan landasan yang kokoh agar pasangan suami-istri dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan bijaksana. Allah berfirman:
فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا ۝١٩
wa 'âsyirûhunna bil-ma'rûf, fa ing karihtumûhunna fa 'asâ an takrahû syai'aw wa yaj'alallâhu fîhi khairang katsîrâ
Artinya, " Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya ." (QS An-Nisa : 19)
Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam penjelasannya mengenai ayat di atas menegaskan bahwa perintah Allah untuk “bergaullah dengan istri secara patut” adalah koreksi atas kebiasaan jahiliah yang memperlakukan perempuan dengan kasar dan kehati-hatian.

Menurut beliau, jika seorang suami merasa kurang suka pada istrinya karena perangai atau penampilan yang tidak cocok, atau kelalaian dalam tugas rumah tangga, maka hendaknya ia bersabar dan tidak tergesa-gesa menyakiti atau menceraikannya. Sebab boleh jadi Allah menanamkan banyak kebaikan dalam diri sang istri, baik berupa ketenangan, akhlak yang akhirnya membaik, maupun anak-anak yang saleh (Syekh Wahbah Az-Zuhaili, Tafsirul Munir , [Beirut: Darul Fikr, 1418 H], jilid IV, hlm. 303).

Selanjutnya Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam membangun rumah tangga. Beliau tidak hanya menjadi pemimpin umat, tetapi juga sosok suami yang penuh cinta dan kasih sayang. Dalam haditsnya, Rasulullah SAW menyebutkan:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya, “ Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku .” (HR. Ibnu Majah)
Hadits ini relevan bagi pasangan muda yang sering sibuk menunjukkan citra baik di luar rumah, di kantor, atau di media sosial, tetapi lalai dalam pikiran lembut terhadap pasangan di rumah.

Rasulullah SAW bersabda bahwa tolok ukur kebaikan seseorang adalah bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Hadits di atas menggambarkan dengan sangat indah bagaimana Rasulullah membangun rumah tangga yang penuh kebahagiaan.

Al-Munawi ketika menjelaskan hadits di atas menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya berperan sebagai pemimpin umat, tetapi juga sebagai suami yang penuh perhatian, lembut, dan kreatif dalam membahagiakan istrinya. Beliau meluangkan waktu untuk mendampingi Aisyah bermain, bahkan mengirimkan anak-anak perempuan Anshar untuk menemaninya.

Rasulullah juga menunjukkan kasih sayang dengan hal-hal sederhana namun bermakna, seperti meminum dari bekas tempat minum Aisyah, membiarkan Aisyah bersandar di pundaknya ketika menonton permainan orang Habasyah di masjid, berlomba lari bersama Aisyah dalam perjalanan, bercanda ketika keluar rumah, hingga tersenyum ketika menghadapi emosi istrinya. (Abdurrauf Al-Munawi, Faydhul Qadir Syarh al-Jami' al-Saghir , [Mesir: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, 1356 H], jilid III, hlm. 495).

Di sisi lain, dalam perjalanan rumah tangga, pasti ada perbedaan pandangan, pertengkaran kecil, bahkan rasa kecewa. Rasulullah SAW berpesan:
Artinya, “ Berwasiatlah dengan baik terhadap wanita .” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas merupakan wasiat penting dari Rasulullah yang menekankan agar para suami memperlakukan istrinya dengan penuh kelembutan, kesabaran, dan kebaikan. Imam al-Qurthubi dalam al-Mufhim menjelaskan bahwa wasiat itu menekankan agar suami menerima pesan Nabi, lalu mengamalkan dengan sabar, lembut, dan berbuat baik kepada istrinya.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kondisi emosional dan fisik wanita, serta menekankan pentingnya sikap empati suami dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Jika wasiat ini benar-benar diamalkan, maka rumah tangga akan dipenuhi kasih sayang, jauh dari kekerasan maupun ketidakadilan, serta mampu melahirkan ketenteraman bagi seluruh anggota keluarga. (Abu al-'Abbas Ahmad bin 'Umar al-Qurthubi, al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim , [Beirut: Dar Ibn Katsir & Dar al-Kalim al-Thayyib, 1996], jilid IV, hlm. 222).

Pesan ini tidak hanya berlaku bagi suami kepada istri, tetapi juga sebaliknya: pasangan harus saling memahami. Di era sekarang, stres akibat pekerjaan, tuntutan gaya hidup, dan tekanan sosial seringkali membuat pasangan muda cepat tersulut emosi. Padahal, rumah tangga yang bahagia hanya bisa terwujud dengan kesabaran, empati, dan komunikasi yang sehat.
Poin selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah tidak semua tangga rumah runtuh karena masalah besar. Kadang-kadang, kebosanan dan kurangnya perhatian kecil justru menjadi penyebab renggangnya hubungan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa rumah tangga harus dihidupkan dengan kehangatan dan keceriaan. Dalam sebuah hadits diceritakan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، قَالَتْ:

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan
اللَّحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي، فَقَالَ: هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ.
Artinya, “ Dari Aisyah ra.ia berkata: 'Aku pernah bersama Nabi SAW dalam suatu perjalanan. Aku menantangnya untuk berlomba lari, lalu aku mendahuluinya dengan kakiku. Namun ketika tubuhku sudah bertambah berat, aku menantangnya lagi, dan ia yang mendahuluiku.' Maka beliau SAW bersabda: 'Kemenangan ini sebagai balasan dari kemenangan yang terdahulu' , ”(HR. Abu Dawud).

Bagi para pasangan, hadits ini menunjukkan bahwa hubungan suami-istri perlu diisi dengan momen ringan, bercanda, dan melakukan aktivitas bersama atau dalam bahasa yang populer saat ini salah satunya adalah " quality time ". Kehangatan sederhana ini ibarat vitamin yang menjaga rumah tangga tetap sehat dan penuh cinta.
Selain perlunya diketahui suami istri melakukan aktivitas bermakna, penting bahwa salah satu faktor yang kerap menjadi pemicu keretakan rumah tangga masa kini adalah masalah ekonomi. Banyak pasangan muda terbebani gaya hidup konsumtif dan tekanan sosial. Dalam kitab Adabul fi Nizhamil Usrah , Syekh Muhammad Alawi Al-Maliki menulis:
وَمِنْ حُسْنِ عِشْرَةِ الْمَرْأَةِ لِلرَّجُلِ أَنْ لَا تُحَمِّلَ زَوْجَهَا مَا لَا طَاقَةَ لَهُ بِهِ، وَلَا تَطْلُبَ مِنْهُ مَا يَزِيدُ عَلَى الْحَاجَةِ، وَهَذَا فِي الْمَعْنَى: إِعَانَةٌ لِزَوْجِهَا عَلَى الْاِقْتِصَادِ. الْقَنَاعَةَ تُعَمِّرُ الْبُيُوتَ، وَتُوَثِّقُ الْأُلْفَةَ، وَإِنَّ الْجَشَعَ وَالطَّمَعَ يُضْعِفَانِ الْمَحَبَّةَ، وَيَأْتِيَانِ بِالْكَرَاهَةِ.
Artinya, “ Termasuk kebaikan seorang istri terhadap suaminya adalah tidak bersandar suami dengan sesuatu yang ia tidak sanggup menanggungnya, dan tidak menuntut darinya lebih dari kebutuhan.

Hal ini pada hakikatnya merupakan bentuk bantuan bagi suaminya untuk hidup hemat. Sesungguhnya sifat qana'ah (merasa cukup) akan membangun rumah tangga dan memperkuat kasih sayang. Sedangkan sifat serakah dan tamak akan mengirimkan cinta dan mendatangkan kebencian, ” (Sayyid Muhammad 'Alawi bin 'Abbas al-Maliki al-Hasani, Adabul Islam fi Nizhamil Usrah , [Makkah: Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah atsna' al-nashr, 1432 H], hlm.16)

Pesan ini sangat relevan dengan fenomena “ fleksibel ” di media sosial yang membuat banyak keluarga terjebak dalam persaingan gaya hidup. Rumah tangga yang bahagia baru lahir dari kerabat, rasa syukur, dan saling mendukung di masa lapang maupun sempit.

Kebaikan istri seperti penjelasan Sayyid Muhammad di atas tentunya harus diiringi dengan kecakapan suami dalam mencari nafkah. Bagi para suami di masa sekarang, kebaikan dalam rumah tangga justru terlihat dari kesungguhannya dalam berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara yang halal dan terhormat.

Suami tidak boleh bermalas-malasan atau berpangku tangan, apalagi mencari jalan pintas melalui hal yang merusak seperti judi online atau utang konsumtif yang bersandar di rumah tangga. Upaya yang sungguh-sungguh untuk menafkahi keluarga merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus ibadah.

Selain bekerja keras, suami juga perlu membangun komunikasi yang jujur dan terbuka dengan istri mengenai pengeluaran rumah tangga. Dengan saling merencanakan keuangan, mengatur prioritas, serta menahan diri dari pengeluaran yang tidak perlu, rumah tangga akan lebih stabil dan harmonis. Sikap giat, bersih dari praktik haram, serta komunikasi yang sehat dengan pasangan adalah kunci menjaga keutuhan dan kebahagiaan keluarga di tengah tantangan zaman.

Kemudian yang terakhir, yang tidak kalah pentingnya adalah rumah tangga harus dijaga dengan doa yang baik dan akhlak mulia. Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ
Artinya, “ Janganlah kalian berdoa jelek terhadap diri kalian, jangan berdoa jelek terhadap anak-anak kalian, dan jangan berdoa jelek terhadap harta kalian ." (HR. Ibnu Hibban)

Bagi para pasangan, nasihat ini sangat penting. Kadang kala, saat emosi, pasangan sadar tanpa mengucapkan doa buruk atau melampiaskan kata-kata kasar kepada anak dan pasangan. Padahal, kata-kata adalah doa.

Kesimpulannya, kunci kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga dapat diringkas dalam beberapa hal pokok. Pertama , perintah Al-Qur'an untuk memperlakukan pasangan dengan baik menjadi fondasi utama.

Kedua , teladan Rasulullah menekankan pentingnya cinta, kelembutan, humor, dan perhatian kecil yang konsisten.
Ketiga , wasiat beliau agar memperlakukan istri dengan sabar dan penuh kebaikan, menekankan perlunya empati serta komunikasi yang sehat.

Keempat , penghematan, qana'ah, dan kerja keras suami-istri dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga secara halal menjadi benteng dari berbagai krisis, termasuk godaan gaya hidup konsumtif.
Kelima , rumah tangga harus senantiasa dijaga dengan doa, tutur kata positif, dan akhlak mulia agar tetap penuh kasih sayang dan jauh dari perpecahan.

Dalam perjalanan rumah tangga, tidak ada pasangan yang sempurna. Akan selalu ada kesalahan, kelalaian, atau kata-kata yang merugikan, baik dari suami maupun istri. Oleh karena itu, kunci agar bahtera tetap kokoh adalah sikap saling memaafkan.
Memaafkan pasangan bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan membuka ruang untuk perbaikan, sama seperti orang tua yang selalu menyediakan maaf untuk anak-anaknya.

Pasangan pun sejatinya hanyalah manusia biasa, bukan malaikat. Dengan menyediakan lebih banyak maaf daripada kemarahan, rumah tangga akan tetap hangat, konflik tidak berlarut-larut, dan cinta tetap hidup meskipun dalam badai masalah. Wallahu a'lam .

error: Content is protected !!