We're open Closes at 5:00 pm

Redaksi

Viral di Gorontalo, Istri Ketum FRN Agus Flores Resmi Jadi Kepala Sekolah, Karier Cemerlang Guru Jadi Sorotan

GORONTALO || Jejak-indonesia.id — Jagat pendidikan di Gorontalo mendadak ramai diperbincangkan. Sosok Fitri Manoppo Datau menjadi sorotan publik usai resmi dipercaya menjabat sebagai kepala sekolah, sekaligus menarik perhatian karena merupakan istri dari Agus Flores.

Penunjukan tersebut sontak menjadi viral, tak hanya karena latar belakang keluarga, tetapi juga perjalanan kariernya yang dinilai inspiratif. Fitri diketahui memulai pengabdian dari bawah sebagai seorang guru, hingga kini mencapai posisi strategis di dunia pendidikan.

Keputusan pengangkatan itu disebut sejalan dengan jenjang kariernya sebagai aparatur sipil negara yang telah mencapai golongan 4B. Dengan capaian tersebut, tanggung jawab lebih besar dalam dunia pendidikan menjadi keniscayaan yang harus diemban.

“Ini bagian dari pengabdian. Mungkin hari ini mengharumkan nama guru, ke depan kita tidak pernah tahu rencana Allah,” ujar Agus Flores, yang juga dikenal sebagai tokoh organisasi dan pengacara di Jakarta.

Ia menambahkan, sosok istrinya memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat. Menurutnya, Fitri dikenal cerdas, komunikatif di depan publik, serta memiliki karisma sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat.

“Dia itu pintar, pandai berbicara di depan umum, berkarisma, murah senyum, dan punya jiwa sosial tinggi,” ungkapnya.

Tak hanya itu, karakter dermawan dan kepedulian sosial yang dimiliki Fitri juga menjadi nilai tambah yang diharapkan mampu membawa perubahan positif di lingkungan sekolah yang dipimpinnya.

Di tengah sorotan publik, banyak pihak berharap kepemimpinan Fitri Manoppo Datau mampu menghadirkan inovasi serta meningkatkan kualitas pendidikan di Gorontalo.

Fenomena ini menjadi bukti bahwa dedikasi panjang seorang guru dapat mengantarkan pada posisi strategis, sekaligus menjadi inspirasi bagi para tenaga pendidik lainnya untuk terus berkarya dan mengabdi bagi bangsa.

Ratusan Siswa SMK Nurut Taqwa Diwisuda, Momentum Lahirkan Generasi Siap Kerja dan Berdaya Saing

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Sebanyak 357 siswa-siswi SMK Nurut Taqwa resmi diwisuda dalam sebuah prosesi yang berlangsung khidmat pada Sabtu pagi (9/5/2026). Kegiatan ini menjadi momen penting bagi para lulusan setelah menempuh pendidikan dan siap melangkah ke jenjang berikutnya, baik dunia kerja maupun pendidikan lanjutan.

Acara wisuda tersebut turut dihadiri Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Eko Budi Santoso, yang memberikan apresiasi atas capaian para siswa serta peran sekolah dalam mencetak sumber daya manusia yang kompeten.

Kepala SMK Nurut Taqwa, Ahmad Nasir, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas keberhasilan para siswa menyelesaikan pendidikan. Ia berharap para lulusan mampu menjaga nama baik almamater dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di tengah masyarakat.

“Wisuda ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Kami berharap seluruh lulusan dapat menjadi pribadi yang mandiri, berakhlak, dan siap bersaing di dunia kerja,” ujarnya.

Sementara itu, Pembina Yayasan Nurut Taqwa, Kyai Haji Mahrus Ali yang juga merupakan anggota Fraksi PKB Banyuwangi, menekankan pentingnya integritas dan nilai-nilai keagamaan sebagai bekal utama dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Dengan digelarnya wisuda ini, SMK Nurut Taqwa kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan daya saing tinggi.

Raker PCNU Banyuwangi di Ponpes Al-Falah Bahas Ide Besar Organisasi dan Penguatan Peran Lembaga

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id — Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi menggelar rapat kerja perdana di Pondok Pesantren Al-Falah di Purwoharjo depan kantor KUA, pada Sabtu (9/5/2026). Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan itu dihadiri jajaran pengurus harian PCNU Banyuwangi, badan otonom (banom), serta berbagai lembaga di bawah naungan Nahdlatul Ulama Banyuwangi.

Rapat kerja tersebut menjadi momentum awal untuk merumuskan arah besar gerakan PCNU Banyuwangi selama masa khidmat kepengurusan. Berbagai ide dan gagasan strategis dibahas bersama sebagai upaya memperkuat peran organisasi dalam bidang sosial, pendidikan, keagamaan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Selain dihadiri pengurus harian PCNU, forum tersebut juga diikuti secara aktif oleh seluruh lembaga dan banom NU Banyuwangi. Kehadiran mereka menunjukkan soliditas organisasi dalam mendukung program-program kemaslahatan umat yang menjadi cita-cita bersama.

Salah satu lembaga yang tampak hadir paling kompak adalah Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU). Tidak hanya dihadiri ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, tetapi juga jajaran pembina, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, hingga bidang-bidang dalam struktur organisasi turut hadir mengikuti jalannya rapat kerja.

Dalam kegiatan tersebut tampak pula kehadiran anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi, yang juga Pembina LKKNU Banyuwangi Hj. Desi Prakasiwi, yang selama ini dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat bersama Nahdlatul Ulama.

Ketua PCNU Banyuwangi, Achmad Turmudi, menyampaikan bahwa rapat kerja ini bukan sekadar agenda formal awal kepengurusan, melainkan akan menjadi forum evaluasi tahunan untuk mengukur capaian program serta memperkuat sinergi antar-lembaga dan badan otonom.

“Rapat kerja ini tidak hanya dilakukan di awal masa jabatan PCNU, tetapi juga akan dilaksanakan setiap tahun sebagai evaluasi kegiatan. Sebab kegiatan PCNU bersama banom dan lembaga-lembaga memiliki peran besar dalam mendukung program kemasyarakatan dan pembangunan daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan, ide-ide besar PCNU Banyuwangi akan berhasil apabila didukung secara kolektif oleh seluruh banom dan dilaksanakan secara konkret oleh lembaga-lembaga di bawah naungan NU Banyuwangi.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi turut memberikan perhatian terhadap kegiatan tersebut. Bupati Banyuwangi diwakili oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Yusdi Irawan, yang hadir dalam forum sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap kiprah Nahdlatul Ulama dalam pembangunan sosial dan keagamaan di Banyuwangi.

Suasana rapat kerja berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Para peserta tampak antusias mengikuti pembahasan program serta menyampaikan berbagai gagasan untuk memperkuat kontribusi NU Banyuwangi di tengah masyarakat. (dll)

Ada Sejak 1977, Kuliner Ikan Asap di Desa Patoman, Blimbingsari Banyuwangi Jadi Favorit Wisatawan

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id - Pantai Blimbingsari Banyuwangi merupakan salah satu destinasi wisata pantai di Banyuwangi, yang populer dengan pusat kuliner hasil laut. Salah satu yang layak dicoba adalah ikan asapnya yang sangat khas.

Salah satu ikan asap legendaris di kawasan tersebut, milik Mastia (66), yang telah berjualan sejak 1977. Selama puluhan tahun, ia mempertahankan cita rasa khas Blimbingsari dengan menjual berbagai jenis ikan seperti ekor merah, banyar, slengseng, hingga kerapu.

Menurut Mastia, proses memasak menjadi rahasia utama kelezatan ikan asap dan ikan bakar khas Blimbingsari. Ikan segar hasil tangkapan nelayan dibakar terlebih dahulu, kemudian dilumuri bumbu khas sebelum kembali dibakar agar rempah meresap sempurna.

“Bumbu ini resep turun-temurun asli Blimbingsari. Bahannya asem, bawang merah, bawang putih, laos, kemiri, kencur, gula merah, gula putih, cabai besar dan kecil,” kata Mastia.

Cita rasa khas tersebut membuat pelanggan terus berdatangan, bahkan dari luar daerah. Banyak wisatawan awalnya datang berkunjung ke Pantai Blimbingsari, lalu membeli ikan asap dan akhirnya menjadi pelanggan tetap setelah mencicipi kelezatannya.

Pesanan pun datang dari berbagai kota seperti Blitar, Yogyakarta, hingga Sumatera. Pemesanan biasanya dilakukan melalui telepon maupun WhatsApp untuk kemudian dikirim menggunakan kereta atau dititipkan melalui bus antarkota.

“Kalau kirim luar kota bisa 50 sampai 150 tusuk sekali pesan. Ada yang lewat kereta, ada yang dititipkan bus. Alhamdulillah aman sampai tiga hari,” ujarnya.

Selain cita rasanya yang khas, harga ikan bakar Blimbingsari juga tergolong terjangkau. Ikan bakar dijual mulai Rp15 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung ukuran, sedangkan pepes ikan dibanderol sekitar Rp 5 ribu per bungkus.

Pedagang lainnya, Ulin (45), mengatakan terdapat sekitar 15 UMKM ikan bakar di Dusun Krajan, Desa Blimbingsari. Ia mengaku, keberadaan wisata Pantai Blimbingsari turut mendongkrak penjualan.

“Wisatawan banyak yang pulang dari pantai mampir beli ikan bakar. Kalau sudah pernah ke sini biasanya balik lagi karena bumbunya khas,” kata Ulin.

Ia menyebut ciri khas ikan bakar Blimbingsari terletak pada racikan bumbu alami tanpa saus tambahan.

“Alhamdulillah sektor pariwisata ikut membantu UMKM. Kalau akhir pekan omzet bisa naik sampai Rp500 ribu bahkan lebih. Terakhir ada pesanan dari Surabaya itu bisa sampai 80 tusuk,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, juga menyempatkan diri menikmati ikan bakar yang selama ini menjadi kuliner andalan warga setempat.

“Kuliner khas seperti ini menjadi kekuatan wisata Banyuwangi. Orang datang tidak hanya menikmati pantai, tetapi juga mencari pengalaman kuliner autentik yang tidak ditemukan di daerah lain,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, saat program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) yang digelar di Desa/Kecamatan Blimbingsari, Kamis (7/5/2026).

Menurut Ipuk, potensi wisata kuliner pesisir harus terus dipromosikan karena mampu menggerakkan ekonomi warga. Apalagi, sentra ikan bakar Blimbingsari telah dikenal wisatawan hingga luar daerah.

“Ini salah satu daya tarik wisata Banyuwangi. Rasanya khas karena bumbunya tradisional dan ikannya segar langsung dari nelayan. Kita ingin wisatawan yang datang ke Banyuwangi membawa pengalaman kuliner yang berkesan,” ujarnya. (*)

Puluhan Pencari Kerja Mengaku Jadi Korban Dugaan Penipuan Rekrutmen Cleaning Service Rumah Sakit

PASURUAN || Jejak-indonesia.id -  Harapan puluhan warga untuk memperoleh pekerjaan di sektor pelayanan rumah sakit berubah menjadi luka dan kekecewaan mendalam. Sedikitnya lebih dari 50 pencari kerja mengaku menjadi korban dugaan penipuan berkedok perekrutan tenaga cleaning service yang disebut-sebut bekerja sama dengan PT C.C.S

Kasus ini kini resmi dilaporkan ke Polres Pasuruan Kota setelah para korban merasa janji pekerjaan yang dijanjikan sejak Februari 2026 tak kunjung terealisasi. Para korban menduga perekrutan tersebut hanya menjadi modus untuk menarik uang dari masyarakat yang sedang membutuhkan pekerjaan.

Salah satu pelapor, R F mengungkapkan awal mula dirinya tertarik mengikuti perekrutan tersebut. Ia mengaku mendapatkan informasi lowongan kerja dari rekannya yang kemudian mengarahkan untuk menghubungi seseorang bernama Bu EN, yang disebut sebagai orang kepercayaan dari sosok bernama Pak DN

“Awalnya saya dikasih tahu ada lowongan cleaning service di rumah sakit. Katanya resmi dan pasti masuk kerja. Pertama diminta bayar administrasi Rp200 ribu,” ungkap RF

Namun, setelah pembayaran awal dilakukan, para pencari kerja kembali diminta menyerahkan uang tambahan dengan nominal bervariasi. Ada yang membayar Rp750 ribu, Rp950 ribu, bahkan lebih dari Rp1 juta dengan dalih “jaminan pasti bekerja”.

“Katanya kalau bayar lagi Rp750 ribu sudah pasti masuk kerja. Kalau tidak masuk, uang dikembalikan tanggal 30 April. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan,” lanjutnya.

Menurut pengakuan AlY selaku korban, perekrutan tersebut diklaim untuk penempatan cleaning service di rumah sakit melalui Ejen outsourcing PT CCS. Bahkan sejumlah korban sempat mengikuti pelatihan yang dilaksanakan di sebuah rumah yang disebut akan dijadikan kantor perusahaan.

“Waktu pelatihan itu banyak. Ada sekitar 50 lebih orang. Kami dikumpulkan satu per satu. Semua percaya karena dijanjikan kerja di rumah sakit,” ujar ALY

Ironisnya, setelah berbulan-bulan menunggu, pekerjaan yang dijanjikan tak pernah ada. Jadwal masuk kerja terus mengalami penundaan, mulai dari akhir Februari, setelah Hari Raya Idulfitri, hingga akhirnya tanpa kepastian sama sekali.

“Awalnya bilang akhir Februari mulai kerja. Terus mundur habis Lebaran, lalu mundur lagi. Sampai sekarang tidak ada realisasi,” kata ALY

Tak hanya kehilangan uang, sejumlah korban mengaku mengalami kerugian lain yang lebih besar. Ada yang menolak pekerjaan sebelumnya karena yakin akan segera ditempatkan bekerja di rumah sakit sesuai janji perekrut.

“Kita rugi waktu, rugi tenaga, bahkan ada yang sudah menolak kerjaan lain karena percaya akan diterima kerja di sini,” tegas salah satu korban.

Dalam surat tanda terima laporan pengaduan masyarakat tertanggal 1 Mei 2026 yang diterima para korban, disebutkan adanya dugaan tindak pidana penipuan dengan total kerugian sementara mencapai belasan juta rupiah. Nama-nama korban lain juga turut tercantum dalam laporan tersebut.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik karena menyasar masyarakat pencari kerja yang tengah berada dalam tekanan ekonomi. Para korban berharap aparat penegak hukum segera bergerak cepat mengusut pihak-pihak yang diduga terlibat dan mengungkap secara terang mekanisme perekrutan tersebut.

Masyarakat pun diimbau untuk lebih berhati-hati terhadap proses rekrutmen kerja yang meminta sejumlah uang dengan iming-iming “jaminan pasti diterima”, terlebih jika tidak disertai prosedur resmi dan transparan.

error: Content is protected !!