We're open Closes at 5:00 pm

Ratusan Sopir Dump Truck Gelar Aksi di Depan Polresta Banyuwangi, Tuntut Tambang Pasir Dibuka Kembali

IMG-20260811-WA0072

BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id — Ratusan sopir dump truck menggelar aksi penyampaian aspirasi di depan Polresta Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (11/8/2026). Mereka meminta adanya solusi atas penghentian aktivitas tambang pasir yang berdampak langsung terhadap mata pencaharian para sopir angkutan.

Dalam aksi tersebut, ratusan dump truck memadati ruas jalan di sekitar Mapolresta Banyuwangi. Kondisi itu menyebabkan arus lalu lintas di kawasan tersebut mengalami kepadatan hingga kemacetan.

Para sopir menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya meminta aktivitas tambang pasir dapat kembali berjalan sesuai ketentuan serta meminta agar proses penertiban terhadap kegiatan pertambangan dilakukan secara adil, transparan, dan tidak tebang pilih.

Menurut para peserta aksi, pekerjaan sebagai sopir dump truck merupakan sumber penghasilan utama bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keluarga. Terhentinya aktivitas angkutan pasir disebut turut membuat pendapatan mereka ikut terhenti.

Salah seorang sopir, Asnawi, mengungkapkan keresahannya. Ia mengatakan dirinya hanya seorang buruh sopir yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan mengangkut pasir.

“Saya ini orang buruh sopir. Tidak bisa bekerja, bagaimana saya bisa memberi nafkah keluarga? Saya punya anak dan istri, anak saya masih sekolah. Cari pekerjaan lain juga susah. Tolong, Pak, kasih kami keadilan,” ujar Asnawi.

Ia menegaskan bahwa para sopir tidak menuntut agar aktivitas pertambangan berjalan tanpa aturan. Mereka justru berharap pemerintah dan aparat dapat memberikan kepastian hukum serta solusi yang memungkinkan masyarakat tetap bekerja sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kalau kami tidak bisa bekerja, dari mana kami mendapatkan penghasilan untuk keluarga? Kami hanya ingin bisa bekerja,” katanya.

Selain persoalan mata pencaharian, massa juga menyuarakan keberatan terhadap penghentian aktivitas tambang pasir di Banyuwangi.

Para sopir meminta persoalan pertambangan tidak hanya dilihat dari aspek penertiban, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pertambangan dan jasa angkutan.

Salah satu spanduk yang dibentangkan massa bertuliskan:

“Polisi jangan memakai kacamata kuda, hanya melihat satu sisi.”

Tulisan tersebut menjadi bentuk kritik massa terhadap penanganan persoalan tambang pasir. Mereka berharap proses penertiban dilakukan secara objektif dan tidak menimbulkan kesan adanya perlakuan berbeda terhadap pihak-pihak tertentu.

Para peserta aksi juga berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui dialog antara para sopir, kepolisian, pemerintah daerah, dan instansi terkait, sehingga ditemukan jalan keluar yang tetap mengedepankan aturan hukum sekaligus memperhatikan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Aksi ratusan dump truck tersebut turut berdampak terhadap kelancaran lalu lintas di sekitar Mapolresta Banyuwangi. Banyaknya kendaraan yang memadati ruas jalan membuat arus kendaraan mengalami kepadatan.

Para sopir berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait keberlangsungan pekerjaan mereka. Bagi mereka, persoalan tambang pasir bukan semata-mata mengenai aktivitas angkutan, melainkan menyangkut sumber penghasilan keluarga dan keberlangsungan pendidikan anak-anak mereka.

Massa berharap aspirasi yang disampaikan tidak berhenti pada aksi, tetapi segera ditindaklanjuti melalui pembahasan bersama dan solusi yang jelas, terukur, serta sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!