Sorry, we're closed Opens today at 9:00 am

Redaksi

Tambang Ilegal “Diujung Hidung”, Polres Morowali Disinyalir “Tutup Mata”

MOROWALI || jejakindonesia.id - ktivitas illegal tambang galian batuan atau biasa disebut tambang galian C tampak yang merajalela terjadi di Kabupaten Morowali. Seolah memiliki legalitas resmi, pelaku tambang illegal bebas melakukan aktivitas penambangan illegal di wilayah Morowali dengan percaya diri seakan tanpa beban.

Menelisik Pasal 158 Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan, setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izin Pertambangan Rakyat (IPR), atau Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 100 miliar.

Ancaman hukuman bagi para pelaku tambang ilegal tidaklah main-main, jika Pasal 158 Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara ini ditegakkan. Selain itu, pelaku juga bisa dijerat dengan pasal-pasal lain di KUHP, dan pihak yang membantu atau memfasilitasi juga dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.

Seperti disebutkan dalam Pasal 421 KUHP Pegawai negeri yang menyalahgunakan kekuasaan untuk membiarkan pelanggaran hukum dapat dipidana hingga 2 tahun 8 bulan. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Mengatur sanksi terhadap gratifikasi, suap, dan pemerasan oleh aparat negara.

Aktivitas tambang galian C ilegal di Morowali yang merajalela dan terkesan dibiarkan aparat penegak hukum menunjukkan lemahnya penegakan hukum di Morowali. Meskipun ada aturan dan sanksi pidana untuk penambangan tanpa izin (PETI) terbilang menakutkan. Akan tetapi, jika penegakan hukum lemah, maka tidak perlu heran jika para pelaku tambang illegal bebas dengan kepercayaan diri yang tinggi dan tidak takut tersentuh hukum.

Masalah ini diperparah oleh berbagai faktor seperti potensi kerugian negara miliyaran hingga triliunan rupiah, kerusakan lingkungan yang parah, bahaya bagi masyarakat, hingga indikasi adanya backing dan "cukong" atau pemodal yang turut serta dalam operasi tambang illegal yang marak di Morowali.

Berdasarkan hasil investigasi lapangan tim media ini di Bulan oktober 2025, diwilayah Kecamatan Bungku Tengah, Ibu Kota Kabupaten Morowali misalnya. Penambangan illegal yang merajalela terbilang massif beroperasi. Di desa Bente misalnya yang tak jauh dari Mako Polres Morowali ditemukan dua aktivitas penambangan illegal yang salah satunya milik oknum kades dan sudah pernah beritanya dilayangkan sebelumnya.

Selain itu, ada pula penambangan illegal di wilayah Sungai Ipi yang bebas bertahun-tahun tanpa penindakan aparat penegak hukum. Begitu pun dua titik lokasi penambangan illegal disepanjang jalan aspal di Bahomoleo menuju Kampus Untad II Morowali.

Tidak hanya itu, ditemukan pula penambangan illegal di Desa Matansala. Untuk masuk ke lokasi penambangan illegal ini, kita harus masuk melalui jalan lorong yang tidak jauh dari Eks Kantor Bank Sulteng lama.

Dari semua lokasi penambangan illegal tersebut, mayoritas melayani permintaan kebutuhan proyek bangunan pemerintah, seperti proyek Pembangunan tanggul penahan ombak dan Pembangunan jalan lingkungan serta pemangunan gedung-gedung pemerintah lainnya.

Saat ini investigasi yang disajikan sebatas penambangan galian batuan atau galian C illegal dan baru berbicara di seputaran Kecamatan Bungku Tengah atau sekitaran pusat pemerintahan dan perkantoran. Bagaimana penambangan nikel dan penambangan galian batuan yang berada diwilayah 9 kecamatan lainnya dan yang berada disekitar Kawasan industry?.

Kondisi maraknya penambangan illegal yang berada diujung hidung aparat penegak hukum menimbulkan pertanyaan dan asumsi publik. Apakah ini memang ada kesengajaan dari Polres Morowali untuk pura-pura “buta” dan “tuli” terkait aktivitas illegal atau memang belum tercium oleh pihak Kepolisian.

Lahan SAE Lapas Banyuwangi Mulai Ditanam Padi, Kalapas: Dukung Ketahanan Pangan dan Wujud Program Pembinaan

BANYUWANGI || jejakindonesia.id - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi memulai penanaman benih padi di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) yang berlokasi di Kelurahan Pakis, Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi implementasi nyata dukungan Lapas terhadap program ketahanan pangan nasional, sekaligus wujud dari program pembinaan kemandirian bagi warga binaan.

Penanaman benih padi ini dilaksanakan di atas lahan seluas 7.000 meter persegi dan dipimpin langsung oleh Kepala Lapas (Kalapas) Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, serta juga diikuti oleh peserta pemagangan Kemnaker yang magang di Lapas Banyuwangi pada Selasa (2/12).

Dalam keterangannya, Wayan menegaskan bahwa kegiatan pertanian ini adalah bagian integral dari komitmen Lapas Banyuwangi untuk mendukung ketahanan pangan pemerintah.

“Selain merupakan implementasi dukungan kami terhadap program ketahanan pangan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari program pembinaan di bidang pertanian bagi warga binaan kami,” ujarnya.

Padi yang dipilih untuk ditanam adalah benih unggul dari jenis Siliwangi. Wayan menjelaskan bahwa pemilihan jenis ini didasarkan pada keunggulannya, yakni tahan terhadap serangan penyakit blas dan hawar daun bakteri. Hal ini diharapkan dapat memaksimalkan hasil panen.

Wayan menambahkan, lahan SAE Pakis memiliki luas total mencapai 2,2 hektar. Lahan yang luas ini tidak hanya difokuskan untuk menanam padi, namun juga ditanam beberapa komoditi.

“Di lahan ini, kami juga telah menanam beberapa komoditas lain seperti semangka, jagung, dan tomat. Selain itu, kami juga membudidayakan beberapa jenis ikan,” jelas Wayan.

Dengan adanya kegiatan ini, Wayan berharap bahwa selain berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan, aktivitas di lahan SAE ini juga mampu memberikan keterampilan baru yang produktif bagi warga binaan.

“Harapan kami, saat mereka bebas nanti, bekal keterampilan di bidang pertanian dan perikanan ini dapat menjadi modal mereka untuk mandiri dan berintegrasi kembali dengan masyarakat,” pungkasnya.

Ivoni Munir, S. Farm., Apt Ketua DPRD Kabupaten Solok Tambah Bantuan Alat Berat untuk Percepatan Pemulihan Pascabencana

SOLOK || jejakindonesia.id — Ivoni Munir, S. Farm., Apt Ketua DPRD Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat menegaskan komitmennya untuk mempercepat proses pemulihan pascabencana dengan menurunkan tambahan satu unit alat berat pada senin Malam (1/12/2025).

Penanganan bencana, di mana Ivoni Munir, S. Farm., Apt menilai bahwasanya kebutuhan alat berat masih mendesak meskipun masa tanggap darurat telah memasuki hari kelima, pasca bencana Banjir dan longsor yang menerjang wilayah Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat diakhir bulan November 2025 lalu.

“Alat berat dari pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera berjumlah 5 alat berat, dari provinsi, dan dari kabupaten memang sudah turun. Namun jumlahnya belum mencukupi untuk memperbaiki berbagai kerusakan, terutama normalisasi sungai dan pembersihan material longsor,” ujarnya kepada Wartawan, Selasa (2/12/2025).

Lebih lanjut Ivoni Munir, S. Farm., Apt menjelaskan, bantuan tambahan tersebut difokuskan untuk wilayah Kecamatan Junjuang Sirih, khususnya Nagari Muaro Pingai dan Nagari Paninggahan, yang menjadi daerah dengan tingkat kerusakan cukup berat. “Masih banyak akses jalan yang tertutup batu, kerikil, dan kayu. Karena itu kami menambah satu unit alat berat untuk mempercepat pembersihan,” Tukas Ivoni Munir, S. Farm , Apt

Kendatipun, Ivoni Munir, S. Farm., Apt menekankan bahwa percepatan penanganan hanya dapat tercapai melalui kerja sama semua pihak. “Sinergi antara pemerintah daerah, Forkopimda, DPRD, Kodim, Polres, dan para wali nagari sangatlah penting. Kita harus bergerak bersama agar persoalan di lapangan bisa diselesaikan selama masa tanggap darurat ini,” tegasnya.

Terkait kebutuhan pemulihan pascabencana, Ivoni Munir, S. Farm., Apt berharap dukungan tambahan dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dapat segera terealisasi. “Kami masih membutuhkan bantuan besar untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak, seperti jalan longsor, jembatan yang terputus, serta normalisasi sungai,” tuturnya.

Selain infrastruktur, Ivoni Munir, S. Farm., Apt juga menyoroti kebutuhan masyarakat yang mendesak untuk segera dipenuhi. “Anak-anak membutuhkan pakaian sekolah, masyarakat membutuhkan fasilitas umum seperti sekolah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tempat ibadah yang rusak serta obat-obatan. Semua ini harus menjadi perhatian dalam tahap pemulihan berikutnya,” tutupnya.

Penulis: Haris Pranatha

Ivoni Munir, S. Farm., Apt Ketua DPRD Kabupaten Solok Tambah Bantuan Alat Berat untuk Percepatan Pemulihan Pascabencana

Nasional || jejakindonesia.id — Ivoni Munir, S. Farm., Apt Ketua DPRD Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat menegaskan komitmennya untuk mempercepat proses pemulihan pascabencana dengan menurunkan tambahan satu unit alat berat pada senin (1/12/2025) Malam. Penanganan bencana, di mana Ivoni Munir, S. Farm., Apt menilai bahwasanya kebutuhan alat berat masih mendesak meskipun masa tanggap darurat telah memasuki hari kelima, pasca bencana Banjir dan longsor yang menerjang wilayah Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat diakhir bulan November 2025 lalu.

“Alat berat dari pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera berjumlah 5 alat berat, dari provinsi, dan dari kabupaten memang sudah turun. Namun jumlahnya belum mencukupi untuk memperbaiki berbagai kerusakan, terutama normalisasi sungai dan pembersihan material longsor,” ujarnya kepada Wartawan, Selasa (2/12/2025).

Lebih lanjut Ivoni Munir, S. Farm., Apt menjelaskan, bantuan tambahan tersebut difokuskan untuk wilayah Kecamatan Junjuang Sirih, khususnya Nagari Muaro Pingai dan Nagari Paninggahan, yang menjadi daerah dengan tingkat kerusakan cukup berat. “Masih banyak akses jalan yang tertutup batu, kerikil, dan kayu. Karena itu kami menambah satu unit alat berat untuk mempercepat pembersihan,” Tukas Ivoni Munir, S. Farm , Apt

Kendatipun, Ivoni Munir, S. Farm., Apt menekankan bahwa percepatan penanganan hanya dapat tercapai melalui kerja sama semua pihak. “Sinergi antara pemerintah daerah, Forkopimda, DPRD, Kodim, Polres, dan para wali nagari sangatlah penting. Kita harus bergerak bersama agar persoalan di lapangan bisa diselesaikan selama masa tanggap darurat ini,” tegasnya.

Terkait kebutuhan pemulihan pascabencana, Ivoni Munir, S. Farm., Apt berharap dukungan tambahan dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dapat segera terealisasi. “Kami masih membutuhkan bantuan besar untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak, seperti jalan longsor, jembatan yang terputus, serta normalisasi sungai,” tuturnya.

Selain infrastruktur, Ivoni Munir, S. Farm., Apt juga menyoroti kebutuhan masyarakat yang mendesak untuk segera dipenuhi. “Anak-anak membutuhkan pakaian sekolah, masyarakat membutuhkan fasilitas umum seperti sekolah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tempat ibadah yang rusak serta obat-obatan. Semua ini harus menjadi perhatian dalam tahap pemulihan berikutnya,” tutupnya.

Penulis: Haris Pranatha

Wujud Kepedulian, Polda Kalteng Kirim 3 Truk Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Bencana di Sumatera

Palangka Raya || jejakindonesia.id - Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah (Polda Kalteng) mengirimkan tiga truk bantuan logistik dalam misi kemanusiaan di wilayah Sumatera yang terkena bencana, yakni di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Pengiriman bantuan tersebut, dilepas langsung oleh Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan, S.IK., M.Si. didampingi Wakapolda Brigjen Pol Dr. Rakhmad Setyadi, S.IK., S.H., M.H. dan sejumlah pejabat utama serta personel Polda, bertempat di Terminal Cargo Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, Selasa (2/12/2025).

"Hari ini Polda Kalteng bersama Bhayangkari menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk korban bencana alam di wilayah Aceh, Sumbar dan Sumut," kata Kapolda Kalteng, usai kegiatan pelepasan.

Irjen Iwan mengatakan bahwa bantuan yang disalurkan yakni dua ton beras, 300 karton mie instan dan peralatan mandi serta 26 koli pakaian baru untuk dewasa, bayi dan anak, untuk setiap Provinsi.

"Bantuan ini adalah hasil sumbangan dari personel Polda Kalteng, sebagai bentuk kepedulian dengan harapan bisa meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana," terang Kapolda.

Kapolda menerangkan bahwa penyaluran bantuan ini akan dibagi menjadi dua tahap, pertama dari Polda dan kedua dari Polres jajaran.

Untuk pendistribusiannya sendiri akan melalui jalur udara, dengan tujuan mempercepatan tersalurkannya logistik ke wilayah terdampak.

"Selain bantuan logistik, kami juga telah berkoodinasi dengan Mabes Polri untuk mengirimkan personel dan peralatan bantuan, termasuk Helikopter untuk digunakan di Aceh," bebernya.

Irjen Iwan menegaskan komitmen mewujudkan kepedulian terhadap sesama sebagai bentuk hadirnya Polri untuk masyarakat, sekaligus menyiapkan langkah antisipasi untuk situasi darurat bencana khususnya di Prov. Kalteng.

"Langkah antisipasi untuk menghadapi potensi bencana di wilayah Kalteng sendiri telah kita optimalkan. Termasuk menyiapkan posko bantuan sosial dan memetakan daerah banjir di setiap titik rawan bencana," terang Kapolda.

Diakhir kesempatan, Kapolda berharap semoga melalui kegiatan ini dapat mengurangi beban penderitaan korban bencana, sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan sebagai wujud kepedulian dan kemanusiaan untuk persatuan bangsa. (adji)

error: Content is protected !!