Sorry, we're closed Opens today at 9:00 am

Tahun: 2026

Audiensi Sengketa Batas Griya Mulya–Pasar Kebonagung, DPRD Soroti Kelambanan dan Ketidakjelasan Sikap Pemkot Pasuruan

PASURUAN || jejak-indonesia.id - Ketua Komisi II DPRD Kota Pasuruan, Baharudin, memimpin langsung rapat audiensi terkait sengketa batas lahan antara Perumahan Griya Mulya dan Pasar Kebonagung yang digelar di ruang rapat DPRD Kota Pasuruan, Senin (19/1/26).

Audiensi tersebut dihadiri lengkap oleh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, unsur Pemerintah Kota Pasuruan, perwakilan pengembang PT Griya Mulya, serta pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam urusan pertanahan.
Audiensi ini digelar sebagai upaya klarifikasi menyeluruh atas persoalan sengketa dan ikhtilaf status tanah yang hingga kini belum menemui titik terang.

Baharudin menegaskan, rapat tersebut merupakan kelanjutan dari audiensi sebelumnya antara pihak pengembang dan Pemerintah Kota Pasuruan. Namun ironisnya, hasil audiensi pertama justru dinilai tidak jelas dan tidak memberikan kepastian hukum.

“Kami mendapat informasi bahwa Pemkot Pasuruan telah menunjuk akademisi untuk mengkaji dan menyelesaikan persoalan ini. Tetapi sampai hari ini, tidak ada satu pun hasil kajian atau rekomendasi resmi yang disampaikan. Ini jelas menjadi tanda tanya besar,” tegas Baharudin di hadapan forum.

Ia menilai, kehadiran lengkap seluruh OPD teknis dan jajaran berwenang dalam audiensi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini bukan perkara sepele, melainkan menyangkut kepentingan publik dan kepastian hukum. Oleh karena itu, menurutnya, persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa kejelasan sikap pemerintah.

Lebih jauh, Baharudin secara terbuka mempertanyakan substansi dan hasil audiensi pertama yang dipimpin oleh Wakil Wali Kota Pasuruan saat itu. Ia meminta agar pihak pemerintah yang hadir dalam audiensi awal—baik wakil wali kota, kepala dinas, maupun pejabat yang mewakili—menyampaikan secara transparan poin-poin pembahasan serta kesepakatan yang pernah dibicarakan.

“Kalau audiensi pertama itu clear, tentu persoalan ini tidak akan sampai kembali ke kantor dewan. Fakta bahwa hari ini developer dan seluruh pihak harus kembali duduk bersama DPRD menunjukkan bahwa audiensi sebelumnya gagal memberikan kejelasan,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, anggota DPRD Kota Pasuruan, H. Rifa’i, turut menyampaikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh abai terhadap prinsip dasar hukum pertanahan.

“Kita sedang berada di tengah persoalan masyarakat. Maka titik awal penyelesaiannya harus dikembalikan pada alas hak. Pemerintah Kota wajib membuka sejarah penguasaan tanah tersebut berasal dari mana,” tegas Rifa’i.

Ia mengingatkan, dalam sistem hukum pertanahan nasional, alas hak yang sah hanya meliputi akta jual beli, akta wakaf, akta waris, atau akta hibah. Jika sertifikat terbit tanpa didukung salah satu alas hak tersebut, maka patut diduga terdapat persoalan serius dalam proses penguasaannya.

“Kalau sertifikat itu muncul tanpa alas hak yang diakui hukum, lalu tiba-tiba mengklaim tanah masyarakat, maka itu persoalan besar yang tidak bisa ditutup-tutupi,” ujarnya.

Sementara itu, kuasa hukum PT Griya Mulya, Dr. Solehoddin, SH, MH, menegaskan bahwa audiensi tersebut bukanlah yang pertama. Pertemuan awal bahkan telah digelar lebih dari dua bulan lalu dan dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Pasuruan. Namun hingga kini, belum ada langkah konkret maupun kepastian dari pemerintah daerah.

“Kami berharap Pemkot Pasuruan segera merealisasikan hasil audiensi. Jangan sampai negara berhadap-hadapan dengan rakyatnya sendiri. Dalam setiap konflik agraria, rakyat selalu berada di posisi paling rentan,” tegasnya.

Menurutnya, inti persoalan terletak pada adanya dua irisan klaim sertifikat yang berbeda. Sertifikat milik Perumahan Griya Mulya secara tiba-tiba diklaim masuk dalam wilayah Hak Pengelolaan Lahan (HPL) milik Pemkot Pasuruan. Persoalan ini semakin rumit akibat perbedaan penafsiran titik dan batas tanah antara data lama dan kondisi eksisting saat ini.

“Posisi tanah tahun 1997 jelas berbeda dengan kondisi sekarang. Ada pelebaran jalan dan perubahan fisik wilayah. Namun Pemkot menganggap titik HPL yang mereka miliki adalah titik yang berlaku saat ini. Di sinilah letak persoalan krusialnya,” jelasnya.

Sebagai solusi objektif, pihak pengembang telah mengajukan permohonan pengembalian batas (reconstituering batas). Namun hingga kini, permintaan tersebut belum mendapat persetujuan dari Pemerintah Kota Pasuruan.

“Sebagai badan hukum, kami telah menempuh seluruh prosedur administratif secara sah. Namun faktanya, hingga hari ini pemanfaatan lahan tetap terhambat dan tidak ada kepastian hukum. Ini jelas merugikan,” pungkasnya.

 

(RED)

Kapolda Sulsel Dampingi Kunjungan Menteri Perhubungan dan Kabasarnas di Posko SAR Pesawat ATR 42-500 di Pangkep

Pangkep || jejak-indonesia.id - Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H., mendampingi kunjungan kerja Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi, dan Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, di Posko SAR pencarian pesawat ATR 42-500, Kabupaten Pangkep, Senin (19/01/2026).

Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau langsung perkembangan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap pesawat yang dilaporkan hilang kontak tersebut. Dalam kesempatan itu, Menhub menggelar pertemuan dengan tim SAR gabungan guna mengevaluasi progres operasi agar tetap efektif di tengah tantangan medan terjal dan cuaca yang fluktuatif.

Menhub Dudy Purwagandhi menekankan bahwa sinergi lintas instansi merupakan kunci keberhasilan operasi kemanusiaan ini. "Kami hadir untuk memastikan tim penyelamat TNI-Polri, Basarnas bekerja dengan koordinasi yang baik, didukung penuh oleh Pemda, serta seluruh pihak terkait," ujar Dudy.

Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi tim gabungan yang terus berupaya maksimal di lokasi kejadian. Meski hujan ringan masih mengguyur kawasan Gunung Bulusaraung hingga siang hari, Menhub berharap pencarian segera membuahkan hasil. "Kami memohon doa dari masyarakat agar tim di lapangan diberikan kelancaran dan segera memberikan kepastian bagi keluarga korban," tambahnya.

Dalam tinjauan tersebut, rombongan menerima paparan detail mengenai kondisi terkini, tantangan medan, serta strategi lanjutan yang akan diambil oleh tim gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan relawan.

Sementara itu, Kapolres Pangkep AKBP Muh. Husni Ramli, S.I.K., M.H., M.Tr.Opsla, menyampaikan bahwa Polres Pangkep bersama jajaran telah mengerahkan personel untuk mendukung penuh pelaksanaan operasi SAR, baik dalam aspek pengamanan posko, pengaturan jalur, maupun dukungan operasional lainnya.

"Polres Pangkep bersama seluruh unsur terkait siap mendukung penuh operasi pencarian dan pertolongan ini. Kami telah mengerahkan personel untuk membantu proses SAR, pengamanan posko, serta pengaturan arus dan jalur logistik. Sinergi lintas instansi menjadi kunci utama agar operasi kemanusiaan ini dapat berjalan aman dan maksimal," ujar Kapolres.

Lebih lanjut, Kapolres Pangkep mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, serta senantiasa mengikuti arahan petugas di lapangan demi menjaga keselamatan bersama dan kelancaran proses pencarian.

Turut hadir dalam kegiatan ini Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, serta Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko. Kehadiran para pimpinan kementerian dan unsur TNI-Polri ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam menangani situasi darurat secara terpadu.

Respon Kilat! Polsek Serbalawan Langsung Turun ke TKP Kecelakaan Pelajar Tertabrak KA Siantar Express

SIMALUNGUN || jejak-indonesia.id - Kecepatan respons Polsek Serbalawan patut diacungi jempol. Begitu menerima laporan kecelakaan kereta api di wilayahnya, tim langsung bergerak cepat ke lokasi kejadian. Tragisnya, kecelakaan itu merenggut nyawa seorang pelajar SMK yang masih berusia belia, Joel Nenggolan (16 tahun), yang tertabrak Kereta Api Siantar Express di jalur rel Km 39+8/9 Lingkungan V Sinaksak, Kelurahan Sinaksak, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun, Senin sore (19/1/2026) sekitar pukul 15.50 WIB.

Kapolsek Serbalawan, AKP Gunawan Sembiring, S.H., saat dihubungi pada Selasa pagi (20/1/2026) sekitar pukul 09.30 WIB, menjelaskan kronologi penanganan kasus yang dilakukan jajarannya dengan sangat profesional dan cepat tanggap.

"Sekitar pukul 16.00 WIB, kami menerima informasi dari masyarakat tentang kejadian kecelakaan kereta api. Begitu mendapat laporan, saya langsung memerintahkan personel untuk segera berangkat ke TKP tanpa membuang waktu sedikitpun," ujar Kapolsek Serbalawan dengan tegas.

Candra Teo Anugrah Manurung (26), warga setempat yang berprofesi sebagai petani, menjadi saksi mata kejadian nahas tersebut. Saat itu, ia sedang duduk santai di belakang rumahnya yang berada di Jalan Melati Lingkungan VI Sinaksak.

"Saya lihat Joel jalan dari Gang Melati mau pulang ke rumahnya. Dia jalan menunduk, sepertinya lagi main HP atau mikirin sesuatu. Tiba-tiba saya dengar suara klakson kereta api yang sangat keras dari arah Siantar," cerita Candra dengan suara bergetar.

Candra melanjutkan, jarak kereta api saat itu hanya sekitar 20 meter dari posisi Joel. "Masinis sudah bunyikan klakson panjang berkali-kali, saya juga udah teriak-teriak manggil Joel, tapi dia kayak gak dengar sama sekali. Dalam hitungan detik, kereta udah nyamperin dia dan langsung kena. Badannya terpental," kenang Candra yang masih trauma menyaksikan kejadian tersebut.

Yogi Kurniadi (27), petugas security PT KAI yang bertugas di wilayah tersebut, segera mendapat informasi dari Komandan Regu melalui telepon berdasarkan laporan masinis Kereta Api Siantar Express yang melaju dari Pematang Siantar menuju Medan.

"Saya langsung meluncur ke lokasi untuk memastikan informasi yang dilaporkan masinis. Sesampainya di sana, benar ada korban yang tertabrak kereta," ungkap Yogi.

Doli Manurung (30), warga setempat yang berprofesi sebagai wiraswasta, juga turut membantu proses evakuasi korban bersama warga lainnya.

Begitu tiba di TKP, tim yang dipimpin PS Kanit Intel Aiptu Sutiono bersama Aiptu Bambang Irawan (Kapos Pol Purbasari), Aiptu Simson Purba, dan Aiptu Aswin Manurung (Piket SPKT) langsung melakukan serangkaian tindakan profesional.

"Tim kami menemukan korban bernama Joel Nenggolan, siswa SMK Negeri 3 Pematang Siantar jurusan Perhotelan, dalam kondisi sekarat dengan luka berat di kepala sebelah kanan yang pecah dan patah tulang tangan kanan," jelas Kapolsek.

Orang tua korban yang mendengar kabar tersebut langsung datang ke lokasi. Dengan bantuan warga yang meminjamkan mobil pribadi, Joel segera dilarikan ke RS Efarina Pematang Siantar untuk mendapat pertolongan medis. Namun malang tak dapat ditolak, sesampainya di rumah sakit, dokter menyatakan Joel telah meninggal dunia.

"Kami sangat prihatin dengan kejadian ini. Joel masih sangat muda dan memiliki masa depan cerah di depannya," ucap Kapolsek dengan nada sedih.

Kapolsek Serbalawan menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan serangkaian tindakan penanganan secara lengkap dan profesional. "Kami telah melakukan olah TKP secara menyeluruh, mengamankan barang bukti berupa sepatu merek Prolexus warna hitam sebelah kanan milik korban, melakukan pemeriksaan di rumah sakit, menginterogasi saksi-saksi, mendokumentasikan seluruh proses, dan melaporkan kepada pimpinan," terang Kapolsek Serbalawan.

Berdasarkan hasil olah TKP, petugas menemukan fakta bahwa Joel memang rutin melewati jalur rel kereta api tersebut setiap hari untuk berangkat dan pulang sekolah dari Gang Melati Lingkungan VII menuju rumahnya di Perumahan Residence Sinaksak Blok A No. 15 yang berada tepat di samping rel kereta api.

Jenazah Joel akan dilakukan visum et repertum di RSUD dr. Djasamen Saragih Pematang Siantar untuk kepentingan proses hukum lebih lanjut. Sementara motif atau penyebab pasti Joel tidak mendengar peringatan klakson kereta masih dalam penyelidikan lebih lanjut.

Tragedi ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk selalu waspada saat melintas jalur kereta api, dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Polsek Serbalawan yang telah menunjukkan profesionalisme dan kecepatan respons dalam menangani kasus ini.

FRN Aceh Soroti Oknum Mengaku Wartawan, Praktiknya Justru Cederai Demokrasi

ACEH || jejak-indonesia.id - Dalam sistem demokrasi, pejabat publik harus siap menerima kritik sebagai bagian dari tanggung jawab jabatan. Kritik merupakan kontrol sosial yang sehat dan menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga akal sehat bernegara. Oleh karena itu, mereka yang tidak siap dikritik seharusnya tidak menempatkan diri sebagai pejabat publik.

Hal tersebut disampaikan oleh Syahbudin Padang, Wakil Ketua DPW FRN (Fast Respon Counter Polri Nusantara) Provinsi Aceh, di Subulussalam. Ia menegaskan bahwa wartawan dan insan pers memiliki peran strategis sebagai penyeimbang kekuasaan.

“Wartawan itu pada dasarnya bersifat oposisi, bekerja secara independen, dan tidak pandang bulu dalam menjalankan profesinya. Kritik yang disampaikan pers adalah bagian dari kontrol sosial demi kepentingan masyarakat,” ujar Syahbudin.

Ia juga menekankan pentingnya membedakan antara insan jurnalis yang profesional dengan oknum yang mengaku sebagai wartawan atau media, namun praktiknya menyimpang dari kode etik jurnalistik. Menurutnya, di sejumlah daerah masih ditemukan oknum LSM atau individu yang mengatasnamakan media, tetapi justru meminta imbalan atau amplop di instansi-instansi yang dianggap basah.

“Praktik seperti ini tidak memberikan manfaat bagi masyarakat. Mereka bukan menghentikan korupsi, malah menjadi bagian dari persoalan itu sendiri. Ini jelas mencoreng nama baik profesi jurnalis,” tegasnya.

Syahbudin berharap ke depan ada penguatan etika jurnalistik, profesionalisme pers, serta peningkatan literasi publik agar masyarakat mampu membedakan jurnalis yang bekerja untuk kepentingan publik dengan oknum yang memanfaatkan label media demi kepentingan pribadi.

Dari Rumah Warga hingga Masjid, Sinergi Brimob Sumut Bergerak Bantu Korban Bencana

TAPANULI || jejak-indonesia.id - Sebagai bagian dari misi kemanusiaan pascabencana alam tanah longsor dan banjir bandang, personel Batalyon-C Brimob Sumatera Utara melaksanakan kerja bakti sinergitas di Desa Huta Godang, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada Selasa (20/1/2025).

Kegiatan tersebut difokuskan pada pembersihan rumah warga yang terdampak serta membantu pembangunan fasilitas sanitasi berupa MCK swadaya di Masjid Taqwa Garoga. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan dasar masyarakat pascabencana.

Danki 1 Penugasan AKP Januar Fazhari, S.H., personel Batalyon-C secara bergotong royong membersihkan material lumpur dan pasir yang menimbun rumah warga. Adapun rumah yang menjadi sasaran pembersihan antara lain milik Bapak Reza Tamba Siregar, Ibu Mutiara Ervina Pandiangan, Bapak Hendrik, dan Ibu Henni Situmeang. Selain itu, personel juga membantu para tukang dalam proses pembangunan MCK swadaya di lingkungan Masjid Taqwa Garoga.

“Kerja bakti ini merupakan wujud kepedulian kami terhadap masyarakat yang terdampak bencana. Kami hadir tidak hanya untuk membantu secara fisik, tetapi juga untuk memberikan semangat dan harapan agar warga dapat segera bangkit dan kembali menjalani aktivitasnya,” ujar AKP Januar Fazhari.

Melalui kegiatan kerja bakti sinergitas ini, Brimob Sumut menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi masyarakat dalam setiap tahapan penanggulangan bencana, mulai dari tanggap darurat hingga pemulihan, sebagai bagian dari pengabdian kepada kemanusiaan dan negeri.

error: Content is protected !!