Sorry, we're closed Opens today at 9:00 am

Tahun: 2025

Direktorat Polairud Polda Jambi Peduli Pendidikan, Dirikan Rumah Baca di Pulau Pandan Kota Jambi

Jambi, Jejak - Indonesia.id |  Dalam wujud nyata kepedulian terhadap dunia pendidikan bagi anak-anak, Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Jambi berencana mendirikan Rumah Baca sebagai sarana pembelajaran agama dan pendidikan karakter di kawasan pemukiman Pulau Pandan RT. 31, Kelurahan Legok, Kecamatan Danau Sipin, Kota Jambi.

Rumah Baca ini nantinya diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja untuk belajar mengaji serta memperdalam ilmu agama. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi ruang tumbuhnya generasi muda yang cerdas dan berakhlak mulia di wilayah perairan tersebut.

Direktur Polairud Polda Jambi, Kombes Pol Agus Tri Waluyo menyampaikan, "Kami telah menyediakan tempat untuk Rumah Baca ini, namun kondisinya masih belum sempurna. Perlu dilakukan sedikit rehabilitasi agar tempat ini benar-benar layak digunakan untuk kegiatan belajar."

Sebagai bentuk gotong royong dan partisipasi masyarakat, Ditpolairud membuka kesempatan bagi warga maupun donatur yang ingin berkontribusi dalam proses rehabilitasi. Bantuan atau donasi dapat disalurkan melalui Ketua RT setempat.

Kombes Pol Agus berharap program ini mendapat dukungan luas dari masyarakat sebagai bagian dari gerakan bersama mencerdaskan anak-anak bangsa. (red)

Tokoh pemerhati Kunjungi Kafe, ” Kopi Ramu Menyeduh Damai ” Milik Umar Patek di Banyuwangi, Mengajak Masyarakat Menyeduh Damai

Banyuwangi, Jejak - Indonesia.id | Seorang tokoh pemerhati sosial mengunjungi kafe Hedon and Resto Kopi Ramu Menyeduh Damai, yang terletak di Jl. Gajah Mada No. 49, Giri. Kunjungan ini bertujuan untuk mendukung proses rehabilitasi sosial Umar Patek, mantan terpidana kasus bom Bali, yang kini beralih profesi sebagai peracik kopi.

Selama kunjungan, tokoh tersebut yang bernama Dedy Ary Wydianto menyampaikan apresiasinya terhadap kualitas kopi yang disajikan. "Kopinya luar biasa. Setiap seduhan bukan hanya rasa yang mengesankan, tapi juga sebuah pesan perdamaian," ungkapnya setelah menikmati kopi racikan Umar Patek.

Kafe Kopi Ramu Menyeduh Damai menjadi simbol perubahan bagi Umar Patek, yang sebelumnya terlibat dalam tindak terorisme dan kini berusaha membangun kembali hidupnya. Dengan membuka kafe ini, Umar tidak hanya menawarkan kopi, tetapi juga pesan tentang rekonsiliasi dan perdamaian.

"Melalui kopi, kita bisa membuka percakapan yang membangun perdamaian. Kafe ini bukan hanya tentang minum kopi, tetapi juga menyeduh damai," tambah tokoh pemerhati tersebut ( ungkapnya ).

Masyarakat setempat memberikan dukungan positif terhadap upaya Umar dalam memulai hidup baru. Banyak pelanggan yang merasa terinspirasi oleh ketulusan Umar dalam menempuh jalan perubahan. Dan semua itu juga berkat support dari drg. David Andreasmito selaku owner dari Hedon Estate yang selalu memberikan semangat dan nasehat kepada Umar Patek.

Kafe ini kini menjadi lebih dari sekadar tempat ngopi, Kopi Ramu Menyeduh Damai adalah simbol dari perjalanan menuju perubahan, dan perdamaian yang bisa diraih setiap orang. (sober)

Polda Kalteng Imbau Seluruh Pihak Hormati Hasil PSU Barut

Palangka Raya, Jejak - Indonesia.id |  Proses pemungutan suara ulang (PSU) kedua, Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Barito Utara (Barut) telah dilaksanakan dan berjalan lancar.

Saat ini proses tahapan PSU masih berlangsung hingga menunggu hasil sidang pleno rekapitulasi dan penghitungan suara dari KPU.

Menganggapi hal tersebut, Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan, mengajak seluruh lapisan masyarakat di Kab. Barut untuk bersama-sama mewujudkan Pilkada aman dan damai.

Ajakan tersebut, diutarakan langsung Kapolda Kalteng usai meninjau pelaksanaan rapat sidang pleno, di Kantor Kec. Tewah Baru dan Kantor Bappeda Kec. Teweh Tengah, Kab. Barut, Kamis (7/8/2025).

Irjen Iwan mengatakan bahwa selama penghitungan suara dan rapat pleno ini petugas keamanan serta penyelenggara pemilu telah siap untuk memastikan proses ini berjalan dengan lancar.

"Salah satunya upaya tersebut, yaitu dengan melakukan pemetaan kerawanan dan mengoptimalkan sistem pengamanan guna mengantisipasi potensi gangguan saat proses demokrasi berlangsung," ungkap Irjen Iwan.

Kapolda juga menghimbau kepada para pasangan calon (paslon) dan masyarakat untuk selalu menjaga keamanan dan kelancaran dalam proses penghitungan suara.

"Kami berharap semua pihak, khususnya masyarakat dan paslon dapat menjaga keamanan dan kelancaran proses ini. Sehingga diharapkan penghitungan suara dapat berjalan lancar dan menghasilkan pemimpin yang tepat untuk Kab. Barut," terang Kapolda.

"Saya juga ucapkan terimakasih atas kerjasama seluruh pihak te
rutama personel pengamanan dari TNI Polri, sehingga proses pemungutan suara berjalan dengan lancar dan aman," tuturnya.

"Apapun hasilnya kita tunggu keputusan dan penetapan PSU Barut dari pihak penyelenggara KPU dengan tetap menjaga kamtibmas," tutupnya. (red)

Kapolda Kalteng Tinjau Kesiapan SPPG di Barito Utara

Muara Teweh, Jejak - Indonesia.id |  Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah, Irjen Pol Iwan Kurniawan, melakukan peninjauan langsung kesiapan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berlokasi di Jalan Panti Ajar, Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara.

Peninjauan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya dalam penanganan dan pencegahan gizi buruk serta stunting pada anak-anak di wilayah Kalimantan Tengah.

Dalam kegiatan tersebut, Kapolda turut didampingi oleh Pj Bupati Barito Utara, Indra Gunawan, Kapolres Barito Utara, AKBP Singgih Febiyanto, serta jajaran pejabat terkait dari instansi pemerintah dan petugas layanan kesehatan setempat.

Kapolda menyampaikan bahwa kehadiran SPPG merupakan bagian dari komitmen bersama antara Polri, pemerintah daerah, dan instansi terkait dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.

"Polri tidak hanya hadir untuk menjaga keamanan, tetapi juga turut berkontribusi dalam aspek sosial, salah satunya melalui dukungan terhadap program pelayanan pemenuhan gizi," ujar Kapolda.

Ia juga berharap agar fasilitas SPPG dapat terus dimanfaatkan secara maksimal untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan ibu hamil yang membutuhkan pemantauan gizi secara berkelanjutan.

Kegiatan peninjauan berlangsung lancar dan mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat.

Kapolda juga menyempatkan berdialog langsung dengan petugas dan warga penerima layanan sebagai bentuk empati dan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. (red)

Kasmi Lansia 58 Tahun Warga Dusun Ngindahan,Tidak Pernah Sekalipun Menerima Bantuan Dari Pemerintah

Tuban, Jejak - Indonesia.id | Di tengah gegap gempita janji kesejahteraan dari para pemimpin, masih ada warga yang terpinggirkan dari perhatian negara. Kasmi (58), warga Dusun Ngindahan, Desa Guwoterus, Kecamatan Montong, menjadi salah satu potret nyata dari wajah buram keadilan sosial di akar rumput.
Sejak pemilihan presiden terakhir yang dimenangkan oleh Prabowo Subianto, Kasmi mengaku belum sekalipun menerima bantuan dari pemerintah. Baik bantuan sembako, Bantuan Langsung Tunai (BLT), maupun program perlindungan sosial lainnya tak pernah ia rasakan.

"Saya tidak pernah dapat bantuan apa-apa sejak Pilpres kemarin. Sembako tidak, uang tunai juga tidak. Padahal saya orang kecil," ungkap Kasmi dengan wajah muram, berdiri di depan rumah kayu tuanya yang nyaris lapuk dimakan waktu.

Ironisnya, di saat pemerintah pusat terus mengklaim keberhasilan program pengentasan kemiskinan, realitas di lapangan justru memperlihatkan ketimpangan. Kasmi hidup dalam kesederhanaan, bahkan bisa dibilang kemiskinan, namun tak masuk dalam daftar penerima manfaat program bantuan sosial.

"Sudah pernah tanya ke perangkat desa, tapi katanya belum ada data. Padahal tetangga saya ada yang dapat, meski rumahnya lebih bagus," tuturnya lirih.

Rumah Kasmi berdinding kayu, beratapkan genteng tua yang sebagian sudah lapuk. Tidak ada fasilitas memadai. Listrik seadanya, dan ia hidup dari hasil kerja serabutan yang makin sulit didapat karena faktor usia.

Situasi ini mengundang tanya besar: Ke mana arah dan sasaran program bantuan pemerintah selama ini? Siapa yang sebenarnya dijadikan prioritas? Apakah karena alasan politik, miskin seperti Kasmi harus dibiarkan menanggung sendiri beban hidup di usia senja?

Kisah Kasmi bukan satu-satunya. Di berbagai pelosok desa, masih banyak warga tak bersuara yang luput dari sistem. Padahal mereka adalah warga negara yang sama, yang juga berhak atas perlindungan dan kesejahteraan sebagaimana dijanjikan dalam konstitusi.

Sudah saatnya pemerintah daerah, khususnya Pemdes Guwoterus dan Dinsos Tuban, turun tangan dan melakukan validasi ulang terhadap data penerima bantuan. Jika sistem tidak bisa menjangkau orang seperti Kasmi, maka sistem itu patut dipertanyakan.
(Redho)

error: Content is protected !!