We're open Closes at 5:00 pm

Bulan: November 2025

Pembagian Insentif Guru Ngaji di Kecamatan Siliragung, 453 Penerima Terima Bantuan Rp700 Ribu

Siliragung || jejakindonesia.id — Pemerintah Kecamatan Siliragung pada Senin pagi (10/11/2025) melaksanakan kegiatan pembagian insentif bagi para guru ngaji. Sebanyak 453 orang penerima mendapatkan insentif sebesar Rp700.000 per orang yang disalurkan melalui Bank Jatim. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan apresiasi dan dukungan kepada para guru ngaji yang telah berperan besar dalam pembinaan keagamaan masyarakat.

Camat Siliragung, Joko Kuncoro, S.Sos., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemberian insentif ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap para pendidik nonformal di bidang keagamaan.

“Guru ngaji memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda melalui pendidikan agama. Semoga bantuan ini dapat memberikan motivasi dan kesejahteraan bagi para penerima,” ujar Joko Kuncoro.

Penyaluran insentif ini dilakukan secara langsung dan tertib, dengan pengawasan dari pihak kecamatan serta perwakilan Bank Jatim. Program tersebut akan berlangsung selama satu tahun, dengan pencairan dana dilakukan secara bertahap sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Salah satu penerima, Muawanah, mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian pemerintah terhadap para guru ngaji.

“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada pemerintah dan pihak kecamatan atas bantuan ini. Insentif ini sangat bermanfaat bagi kami untuk mendukung kegiatan mengajar di TPQ,” ungkapnya.

Kegiatan pembagian insentif ini diharapkan dapat memperkuat semangat para guru ngaji dalam mendidik dan membimbing anak-anak di wilayah Kecamatan Siliragung agar semakin mencintai Al-Qur’an serta memiliki akhlak yang baik. ( ikhsan/ Yati )

Kakorlantas Polri Gebrak Pelayanan Publik: ‘Keselamatan’ Jadi Kunci Revitalisasi

JAKARTA || jejakindonesia.id  – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., menegaskan komitmennya dalam memperkuat program revitalisasi pelayanan publik di lingkungan Korlantas Polri. Hal ini sejalan dengan arahan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo untuk terus menghadirkan pelayanan lalu lintas yang modern, humanis, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat.

“Tentunya mendasari perintah dari Bapak Kapolri bagaimana Korlantas Polri dengan revitalisasi pelayan publik Hari ini saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih pada jajaran Dirkamsel yang telah meng-expose dan merevitalisasi program-program nyata di lapangan,” ujar Kakorlantas Polri Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum.,

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Polantas Menyapa di bidang keamanan dan keselamatan (Kamsel). Program ini melibatkan kegiatan edukatif seperti Polisi Cilik (Pocil), Patroli Keamanan Sekolah (PKS), serta pengembangan Indonesia Safety Driving Center (ISDC).

“Salah satu contohnya adalah Polantas Menyapa di bidang Kamsel ada Pocil di sana, terus ada PKS di sana, termasuk juga berkaitan dengan ISDC jadi saya bermimpi, dan sudah saya sampaikan kepada Pak Dirkamsel, ISDC di Indonesia ini adalah yang terbaik di Asia Tenggara Ini mimpi kita,” tambahnya.

Dalam hal ini, Irjen Pol Agus menekankan pentingnya revitalisasi ISDC sebagai pusat pembinaan keselamatan berlalu lintas, pendidikan pengemudi, dan edukasi masyarakat tentang lalu lintas.

“Oleh sebab itu hari ini kita rumuskan bersama-sama, jadi hal-hal, sarana prasarana apa yang harus kita lengkapi, sehingga betul-betul rapi bisa menjadi pencontohan Dan bahkan mungkin negara-negara tetangga akan belajar di kita,” jelasnya.

Selain itu, Kakorlantas menjelaskan bahwa pengembangan Safety Driving Center (SDC) di wilayah-wilayah akan menjadi perpanjangan tangan dari ISDC di tingkat pusat. Sehingga dapat menjamin keselamatan, ketertiban dalam berlalu lintas.

“Oleh sebab itu, saya sampaikan kepada Pak Dirkamsel, revitalisasi betul ISDC, agar supaya nanti menjamin keselamatan, ketertiban, berlalu lintas. Karena fungsinya disana jadi pembinaan tentang keselamatan, terus pendidikan tentang pengemudi, termasuk juga pendidikan secara umum, lalu lintas ada di ISDC,” tegas Kakorlantas.

Terakhir Kakorlantas menambahkan, program-program seperti Polantas Menyapa dan pengumpulan data Kamsel akan digunakan untuk menganalisis serta mengevaluasi langkah strategis dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas.

“Langkah-langkah yang tepat yang dilakukan Dirlantas itu dengan data yang apa untuk mengurangi fatalitas korban kecelakaan termasuk sasaran pendidikan masyarakat Ini sudah dirumuskan, termasuk juga bagaimana kita update lagi tentang pocil PKS yang pentingnya membantu kita,” pungkasnya.

Polda Aceh Gelar Upacara Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2025

Banda Aceh || jejakindonesia.id — Polda Aceh menggelar upacara peringatan Hari Pahlawan di lapangan Mapolda Aceh, Senin, 10 November 2025. Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Kapolda Aceh Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah dan diikuti oleh para pejabat utama beserta seluruh personel.

Peringatan Hari Pahlawan tahun ini mengusung tema “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan” sebagai pesan agar masyarakat terus meneladani semangat para pahlawan dan meneruskannya dalam bentuk kerja nyata demi kemajuan bangsa.

Dalam upacara tersebut juga dibacakan pesan-pesan perjuangan dari para pahlawan. Salah satunya adalah pesan Pahlawan Soekarno, yaitu “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Dalam amanat Menteri Sosial Republik Indonesia Saifullah Yusuf yang dibacakan Kapolda Aceh disebutkan bahwa hari ini, di bawah langit Indonesia yang merdeka, kita menundukkan kepala penuh hormat mengenang para pahlawan bangsa.

“Mereka bukan sekadar nama yang terukir di batu nisan, melainkan cahaya yang menerangi jalan kita hingga hari ini. Dari Surabaya hingga Banda Aceh, dari Ambarawa hingga Biak, mereka berjuang bukan demi dirinya sendiri, tetapi demi masa depan bangsa yang belum mereka kenal, yaitu kita semua yang berdiri di sini hari ini,” sebut Kapolda.

Marzuki menyebutkan, para pahlawan mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan tidak jatuh dari langit. Kemerdekaan lahir dari kesabaran, keberanian, kejujuran, kebersamaan, dan keikhlasan.

Karenanya, ada tiga hal yang dapat kita teladani dari para pahlawan bangsa: pertama, kesabaran para pahlawan; kedua, semangat untuk mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya; dan ketiga, pandangan jauh ke depan.

“Ini adalah modal besar bagi generasi kita saat ini. Semangat perjuangan yang pantang menyerah adalah kekuatan bagi kita dan generasi mendatang untuk meneruskan cita-cita para pahlawan yang selama ini telah ditunaikan,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, kini perjuangan tidak lagi dengan bambu runcing, melainkan dengan ilmu, empati, dan pengabdian. Namun semangatnya tetap sama, yaitu membela yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dari arus kemajuan.

“Inilah semangat yang terus dihidupkan melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, mulai dari memperkuat ketahanan nasional, memajukan pendidikan, menegakkan keadilan sosial, hingga membangun manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya,” katanya lagi.

Kapolda Aceh juga mengajak seluruh peserta upacara untuk bersyukur dan berjanji bahwa kemerdekaan ini tidak akan sia-sia, serta akan melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan cara bekerja lebih keras, berpikir lebih jernih, dan melayani lebih tulus.

“Sebagaimana para pahlawan telah memberikan segalanya untuk Indonesia, maka kini giliran kita menjaga agar api perjuangan itu tidak pernah padam. Dengan bekerja, bergerak, dan berdampak. Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan,” tutupnya.

Plt-isme: Wajah Birokrasi Banyuwangi yang Terjebak Politik Jabatan

BANYUWANGI || jejakindonesia.id - Banyuwangi seakan punya resep baru dalam memaknai tata pemerintahan: satu jabatan, seribu pelaksana tugas. Dari kepala dinas hingga kepala sekolah, dari camat hingga kepala bidang, semuanya ramai-ramai memakai seragam “Plt”.

Tentu, ini bukan parade jabatan kosong yang lucu-lucuan. Ini potret nyata betapa sistem pemerintahan daerah telah kehilangan kepastian hukum dan arah meritokrasi.

Padahal, dalam konstitusi birokrasi Indonesia, tidak ada satu pun pasal yang menoleransi jabatan sementara permanen.

Jika dibiarkan, Kabupaten Banyuwangi bisa dicatat sejarah sebagai “daerah dengan jumlah Plt terbanyak di Indonesia”. Ironinya, sebagian dari mereka menjabat lebih dari enam bulan, bahkan ada yang lebih dari setahun, bahkan bertahun-tahun tanpa SK definitif.

Padahal, Surat Edaran BKN Nomor 2 Tahun 2019 sudah terang benderang menyebut: “Plt hanya boleh menjabat maksimal enam bulan.”

Lebih dari itu, tindakan Plt yang ikut menandatangani mutasi pegawai, mengatur proyek, atau menyusun kebijakan anggaran, secara hukum dapat dinyatakan tidak sah.

Di atas kertas, semua tampak rapi. Tapi di balik meja birokrasi, ada pelanggaran asas hukum yang dibiarkan hidup sehari-hari.

Pertanyaannya sederhana: jika semua jabatan diisi Plt, lalu siapa yang benar-benar berwenang?

Kita sedang hidup di masa ketika pelaksana tugas bisa mengambil keputusan strategis, tanpa pernah benar-benar diberi mandat penuh.

Ini bukan sekadar kesalahan administrasi, ini maladministrasi sistemik.
Dalam bahasa hukum, disebut "abuse of power" atau penyalahgunaan wewenang.

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tipikor menyebut tegas:

“Setiap orang yang menyalahgunakan kewenangan karena jabatan yang dapat merugikan keuangan negara, dipidana penjara maksimal 20 tahun.”

Bayangkan, bagaimana memastikan akuntabilitas keuangan daerah jika pejabat penanggung jawabnya sendiri hanyalah Plt?

Sistem merit, yang menjadi ruh UU ASN, menegaskan bahwa jabatan harus diisi berdasarkan kompetensi, bukan kedekatan.

Namun realitas Banyuwangi hari ini menunjukkan sebaliknya. Plt justru sering menjadi “parkir sementara” bagi loyalis politik atau pegawai yang sedang menunggu waktu promosi.

Dalam hukum kepegawaian, praktik semacam ini termasuk penyimpangan prinsip merit, dan dapat dikenai sanksi administratif dari BKN dan KASN.

KASN sendiri sudah berulang kali mengingatkan:

“Pengisian jabatan yang terlalu lama oleh Plt tanpa seleksi terbuka melanggar asas profesionalitas.”

Sayangnya, peringatan itu seolah berlalu tanpa gema di Pendopo Sabha Swagata.

Secara yuridis, Plt tidak boleh mengambil keputusan dalam hal kepegawaian, keuangan, maupun kebijakan strategis. Tapi faktanya, di Banyuwangi banyak Plt justru menjadi “raja kecil” di kantornya masing-masing.

Mereka menandatangani SK, melakukan mutasi, bahkan mengatur anggaran proyek. Semua berjalan seolah normal.

Padahal, setiap tindakan tanpa dasar hukum yang sah adalah batal demi hukum.
Dan lebih parah, jika keputusan itu berdampak pada anggaran, maka bisa berujung pada dugaan tindak pidana korupsi.

Tidak bisa tidak, tanggung jawab ini kembali ke meja Bupati Banyuwangi sebagai Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK).
UU ASN Pasal 69 tegas menyebut:

“Pejabat Pembina Kepegawaian bertanggung jawab menetapkan pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PNS.”

Dengan demikian, membiarkan Plt berlarut-larut sama artinya membiarkan pelanggaran hukum administratif terjadi di depan mata.

Jika pembiaran ini disengaja, atau justru digunakan untuk mengatur loyalitas jabatan, maka konsekuensinya bukan hanya etik, tetapi bisa masuk ke ranah pidana.

Di sinilah letak ironi Banyuwangi: daerah dengan slogan “Smart City” tapi praktik birokrasi masih penuh taktik catur politik.
Jabatan bukan lagi soal kemampuan, tapi soal siapa yang bisa lebih lama menunggu giliran.

Sementara rakyat, ASN, dan sistem pelayanan publik, menjadi korban dari permainan jabatan yang tak pernah pasti.

Kita patut bertanya: apakah Banyuwangi sedang membangun pemerintahan berbasis hukum, atau sekadar mengelola kekuasaan berbasis kenyamanan?

Sudah waktunya pemerintah daerah berhenti menjadikan status Plt sebagai instrumen kekuasaan.
Birokrasi tidak boleh dikendalikan dengan surat tugas sementara, karena rakyat tidak butuh pejabat sementara, rakyat butuh kepastian.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Ombudsman RI atau KASN akan turun tangan, dan publik akan kehilangan kepercayaan pada sistem birokrasi Banyuwangi.

Negeri yang katanya “semakin maju” ini justru akan dikenang sebagai negeri seribu Plt, bukan karena kemajuan, tetapi karena kegamangan.

Kapolda Jatim : Semangat Juang Para Pahlawan Harus Jadi Energi Dalam Memperkuat Kamtibmas

SURABAYA || jejakindonesia.id – Kepolisian Daerah Jawa Timur menggelar Upacara Peringatan Hari Pahlawan Nasional Tahun 2025 di Lapangan Upacara Mapolda Jatim, Senin (10/11/2025.

Upacara dipimpin oleh Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Drs. Nanang Avianto, M.Si., dan diikuti oleh Pejabat Utama Polda Jatim, personel Polri, ASN, serta peserta upacara lainnya.

Mengutip pesan Menteri Sosial Republik Indonesia, Kapolda Jatim mengatakan bahwa Hari Pahlawan merupakan momentum bagi seluruh bangsa untuk kembali meneladani semangat dan keteladanan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan.

"Para pahlawan bukan sekadar nama yang terukir di batu nisan, namun cahaya yang menerangi arah perjuangan bangsa hingga saat ini," ujar Irjen Nanang Avianto.

Kapolda Jatim menyampaikan, para pahlawan mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak diraih secara instan.

"Kemerdekaan tercapai melalui kesabaran, keberanian, kejujuran, kebersamaan, dan keikhlasan," tutur Irjen Nanang.

Nilai tersebut lanjut Kapolda Jatim menjadi landasan bagi bangsa untuk terus membangun dan menjaga Indonesia.

Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto juga mengajak seluruh personel jajaran Polda Jatim untuk meneladani semangat tersebut dalam menjalankan tugas pengabdian.

“Para pahlawan telah memberikan segalanya demi bangsa ini tanpa meminta balasan. Maka hari ini, tugas kitalah untuk menjaga warisan tersebut dengan bekerja lebih keras, melayani lebih tulus, dan hadir membawa manfaat bagi masyarakat,” tegas Kapolda Jatim.

Lebih lanjut Kapolda Jatim menekankan bahwa perjuangan di masa sekarang tidak lagi dengan bambu runcing, melainkan dengan kompetensi, disiplin, empati, serta kehadiran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

“Semangat pantang menyerah para pahlawan harus menjadi energi kita dalam memperkuat Kamtibmas, memperjuangkan rasa aman dan adil bagi seluruh warga, serta memastikan tidak ada satu pun masyarakat yang tertinggal,” jelasnya.

Masih kata Kapolda Jatim, peringatan Hari Pahlawan juga menjadi pengingat bahwa perjuangan bangsa harus berkelanjutan dari generasi ke generasi.

"Dengan bekerja, bergerak, dan berdampak nyata bagi masyarakat, maka api perjuangan para pahlawan akan tetap menyala," pungkasnya

error: Content is protected !!