Sorry, we're closed Opens today at 9:00 am

Bulan: Agustus 2025

Kecurangan Beras Raup Omzet Hampir Rp5 Miliar, Polda Jabar Ungkap Praktik Curang Enam Pelaku

Bandung, Jejak - Indonesia.id | Keuntungan besar menjadi motif utama di balik praktik curang yang berhasil diungkap Satgas Pangan Polda Jawa Barat. Melalui operasi intensif di 11 lokasi, Polda Jabar berhasil membongkar produksi dan peredaran beras tidak sesuai standar mutu yang telah merugikan masyarakat dan menyesatkan konsumen.

Dalam konferensi pers yang dipimpin oleh Kabid Humas Polda Jabar Kombes Hendra Rochmawan dan Dirreskrimsus Polda Jabar Wirdhanto Hadicaksono diungkap bahwa enam tersangka dari empat perkara hukum berhasil meraup omzet total hampir Rp5 miliar dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Salah satu pelaku, AP, pemilik CV. Sri Unggul Keandra di Majalengka, memproduksi beras merk "Si Putih" 25 kg dengan label premium, padahal beras yang dijual tidak sesuai standar kualitas.

"Selama empat tahun beroperasi, AP berhasil meraih omzet sebesar Rp468 juta dari penjualan 36 ton beras," ujar Kabid Humas, Kamis (7/8/2025).

Sementara itu, kasus lain di PB Berkah, Cianjur, memperlihatkan skala yang lebih besar. Pelaku menjual beras bermerek “Slyp Pandan Wangi BR Cianjur” yang tidak sesuai dengan jenis yang tertera. Dalam empat tahun, produksi mencapai 192 ton dan omzet melonjak hingga Rp2,97 miliar.

Di wilayah Polresta Bandung, ditemukan delapan merek beras—termasuk MA Premium, NJ Premium Jembar Wangi, dan Slyp Super TAN—yang seluruhnya tidak memenuhi standar mutu premium. Penjualan produk ini berkontribusi pada kerugian masyarakat sebesar Rp7 miliar, menunjukkan bahwa pelaku mengambil keuntungan besar dengan menekan kualitas dan menipu konsumen.

Dalam kasus lainnya di Polres Bogor, pelaku berinisial MAN melakukan praktik repacking beras medium menjadi premium, lalu menjualnya dengan merek-merek seperti Slyp Super Gambar Mawar, Ramos Bandung, hingga BMW. Omzet yang dikantongi MAN mencapai Rp1,4 miliar sejak tahun 2021.

Barang bukti yang berhasil disita termasuk ribuan karung beras berbagai merek dan ukuran, alat produksi, nota transaksi, serta hasil uji laboratorium yang membuktikan adanya pencampuran kualitas beras yang tidak sesuai standar.

Para pelaku kini dijerat dengan Pasal 62 jo Pasal 8 ayat (1) huruf a dan f UU Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda hingga Rp2 miliar. Selain itu, 12 merek beras yang melanggar standar mutu nasional akan ditarik dari peredaran oleh Polda Jabar bekerja sama dengan instansi terkait.

"Satgas Pangan Polda Jabar mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap label dan mutu produk pangan, dan memastikan kesesuaian dengan standar nasional. Kasus ini menjadi peringatan bahwa keuntungan instan yang diperoleh dari manipulasi mutu beras akan berujung pada konsekuensi hukum yang serius," ungkap Kabid Humas. (red)

Dedi Mulyadi Siap Bangun 5 Tol Raksasa di Jabar, Ini Daftar dan Manfaatnya

Bandung, Jejak - Indonesia.id | 6 Agustus 2025 — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengumumkan rencana pembangunan lima proyek jalan tol besar yang akan menjadi penghubung strategis antardaerah di wilayahnya. Proyek infrastruktur ini ditargetkan mulai konstruksi pada tahun 2026, dan menjadi bagian dari ambisi besar Dedi untuk mewujudkan Jawa Barat terkoneksi sepenuhnya pada 2027.

Dalam pernyataannya, Dedi menegaskan bahwa pembangunan jalan tol ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi sebagai mesin penggerak ekonomi daerah. “Target saya di 2027 seluruh jalan di Jawa Barat—jalan nasional, jalan tol, jalan provinsi, jalan kabupaten, dan jalan desa—terkoneksi dengan baik, dalam keadaan mulus. Nanti itu akan melahirkan sirkulasi ekonomi,” tegas Dedi saat ditemui di Gedung Sate, Bandung.

Kelima proyek tol raksasa ini kini sedang dalam tahap persiapan, termasuk kajian teknis dan proses pembebasan lahan yang ditargetkan rampung pada akhir 2025.

Berikut daftar lengkap proyek tol yang akan dibangun:

1. Tol Dalam Kota Bandung
Tol layang dalam kota ini akan membentang dari Pasteur – PHH Mustofa – Ujungberung – Gede Bage – Cileunyi. Proyek ini diyakini akan menjadi solusi utama kemacetan di Kota Bandung dengan akses cepat ke berbagai pusat aktivitas kota.

2. Tol Pasteur–Lembang
Tol sepanjang 14–20 kilometer ini dirancang sebagai akses wisata dari pusat kota Bandung menuju kawasan Lembang. Dengan tol ini, waktu tempuh Bandung–Lembang diprediksi bisa dipangkas hingga 50 persen, mendukung sektor pariwisata di utara Bandung.

3. Tol Puncak (Caringin–Cianjur)
Jalur sepanjang 51,8 km ini akan menjadi penghubung strategis antara Caringin (Bogor) hingga Cianjur. Tol ini diharapkan mampu mengurai kemacetan akut di Jalur Puncak serta memperlancar mobilitas Bogor–Cipanas–Cugenang–Cianjur.

4. Tol Sukabumi–Cianjur–Padalarang
Tol sepanjang 45 km ini menjadi penghubung penting antara kawasan selatan Jawa Barat ke Bandung dan Jakarta, mengintegrasikan Tol Bocimi dan Tol Cipularang. Jalur ini akan mempermudah distribusi barang dan mendukung pertumbuhan logistik di wilayah selatan Jabar.

5. Tol Getaci (Gedebage–Tasikmalaya–Ciamis)
Proyek tol terpanjang di Jawa Barat ini diperkirakan membentang lebih dari 206 km. Tahap awal pembangunan akan dimulai dari Gedebage–Garut–Tasikmalaya sepanjang 95 km. Nilai investasinya mencapai Rp56,2 triliun. Tol ini menjadi jalur vital yang membuka konektivitas antara wilayah timur Jabar dengan pusat kota Bandung.

Dengan proyek infrastruktur masif ini, Dedi Mulyadi berharap seluruh lapisan masyarakat, dari kota hingga desa, bisa merasakan manfaat pembangunan, terutama dalam hal kelancaran mobilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Infrastruktur itu bukan sekadar beton, tapi jalur kehidupan yang mempercepat kesejahteraan rakyat,” tutupnya. (red)

Presiden Prabowo: Ada Pelaku Ekonomi Hisap Kekayaan Rakyat Seperti Hisap Darah, Pemerintah Siap Bertindak Tegas

Jakarta, Jejak - Indonesia.id |  6 Agustus 2025 – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (6/8), melontarkan pernyataan tegas mengenai situasi ekonomi nasional. Ia menyoroti keberadaan aktor-aktor ekonomi yang hanya mengejar keuntungan pribadi tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat.

“Ada pelaku-pelaku ekonomi yang hanya ingin ambil kekayaan kita tanpa kontribusi berarti. Mereka menghisap kekayaan kita seperti menghisap darah,” ujar Prabowo dalam pidatonya, sebagaimana dikutip dari NTV News.

Menurut Presiden, praktik semacam ini bukan hanya merugikan negara, tapi juga secara sistematis memiskinkan rakyat. Ia menuding bahwa terdapat pihak-pihak yang dengan sadar mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari sumber daya nasional, sambil menelantarkan kepentingan masyarakat kecil.

Pemerintah, kata Prabowo, tidak akan tinggal diam. Ia menegaskan bahwa negara akan mengambil langkah tegas dan terukur untuk melindungi rakyat dari praktik-praktik ekonomi predatoris.

“Pemerintah membuka pintu bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional. Tapi syaratnya satu: kepentingan rakyat harus diutamakan,” tegasnya.

Selain mengecam praktik ekonomi eksploitatif, Prabowo juga menyampaikan pentingnya strategi pembangunan yang berbasis pada kondisi nyata dan memperkuat sektor ketahanan pangan. Ia menekankan bahwa kerja sama lintas sektor, baik swasta maupun publik, harus mengedepankan keadilan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.

Pernyataan Prabowo ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah akan mengkaji ulang peran pelaku ekonomi besar yang tidak berpihak pada kepentingan nasional. Banyak pihak menafsirkan ini sebagai bentuk peringatan terhadap elite bisnis yang selama ini leluasa memanfaatkan celah kebijakan tanpa memberi kontribusi berarti kepada rakyat. (red)

Program Penanaman Jagung Bersama Santri : Polres Ponorogo Gandeng 42 Ponpes Siapkan 71,4 Hektare Lahan

PONOROGO – Program ketahanan pangan nasional melalui Penanaman Jagung Bersama Santri Serentak Seluruh Jawa Timur resmi digelar serentak, Rabu (6/8/2025).

Di Kabupaten Ponorogo, kegiatan salah satu program Asta Cita itu dilaksanakan di lahan milik Pondok Pesantren (Ponpes) Arrisalah, Gundik, Kecamatan Slahung.

Kapolres Ponorogo, AKBP Andin Wisnu Sudibyo mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan total lahan seluas 71,4 hektare.

Dengan menggandeng 42 Ponpes, menjadikan Polres Ponorogo menyiapkan lahan terluas dalam program ini di Jawa Timur.

“Kami telah bekerjasama dengan 42 pondok pesantren di Ponorogo, termasuk di termasuk Ponpes Arrisalah yang memiliki lahan 3,5 hektare," ujar AKBP Andin, Kamis (7/8).

Kapolres Ponorogo mengungkapkan hal itu bagian dari upaya serius Polres Ponorogo Polda Jatim dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Tak hanya itu, Polres Ponorogo Polda Jatim juga bersinergi dengan Pemkab Ponorogo untuk memperluas cakupan program.

Kapolres Ponorogo mengatakanan, ke depan, akan diterapkan pola satu desa satu hektare untuk penanaman jagung.

"Kami juga mendukung lewat penyediaan bibit unggul Bhayangkara dan pemupukan,” imbuh AKBP Andin.

Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko yang hadir bersama Forkopimda dan para pengasuh pesantren menyatakan dukungannya terhadap program ini.

“Kami apresiasi kolaborasi ini. Selain mendukung produktivitas pangan, program ini juga memberi bekal keterampilan pertanian bagi para santri,” ujar Kang Giri.

Program ini merupakan gagasan dari Polresta Sidoarjo dan dipusatkan di Kabupaten Jombang, yang dihadiri langsung oleh Komjen Wahyu Widada sebagai Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri.

Selain menanam jagung, Polres Ponorogo juga memberikan bantuan berupa alat pertanian, pupuk hingga bibit jagung Bhayangkara.

Semarak Jelang Hari Kemerdekaan RI ke -80, Polisi Berbagi Bendera Merah Putih di Nganjuk

NGANJUK || jejakindonesia.id - Gugah semangat nasionalisme, Polres Nganjuk Polda Jatim melalui Satuan Lalu Lintas membagikan bendera Merah Putih kepada pengemudi truk, angkutan umum, dan pengendara roda dua (R2) yang melintas di Jalan Panglima Sudirman serta depan Pos Lantas Pujahito.

Kegiatan ini digelar untuk menyemarakkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, sekaligus mengajak masyarakat menunjukkan semangat cinta Tanah Air melalui simbol merah putih yang dikibarkan di kendaraan.

Kapolres Nganjuk, AKBP Henri Noveri Santoso, S.H., S.I.K., M.M., mengatakan bahwa pembagian bendera ini tidak hanya bentuk penghormatan terhadap kemerdekaan, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat.

"Kami ingin menghidupkan kembali semangat nasionalisme di tengah masyarakat," ujar AKBP Henri, Kamis (7/8).

Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Kasat Lantas Polres Nganjuk, AKP Ivan Danara Oktavian bersama personel dengan sasaran utama pengemudi truk, bus, kendaraan umum, serta pengendara motor yang melintasi jalur utama kabupaten.

Selain membagikan dan memasangkan bendera merah putih, petugas juga memberikan edukasi kepada para sopir, khususnya kendaraan berat, tentang pentingnya menjaga keselamatan saat berkendara.

Kasat Lantas Polres Nganjuk,menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye keselamatan lalu lintas yang dikemas dengan nuansa kemerdekaan.

"Momen 17-an ini kami manfaatkan untuk mengingatkan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan perilaku yang disiplin, termasuk dalam berlalu lintas," ungkap AKP Ivan.

Pengendara tampak antusias menerima bendera dan langsung memasangnya di kendaraan masing-masing.

Mereka juga menyampaikan dukungan terhadap upaya Polres Nganjuk dalam mengedukasi keselamatan berkendara.

error: Content is protected !!