Suasana Lebaran Yang Semakin Terasa Berubah

Jejak-indonesia.id || Opor ayam, rendang dan ketupat serta skubal hingga dodol buatan nenek sendiri dahulu menjadi bagian dari menu sajian perayaan lebaran, baik pada Hari Raya Idhul Fitri maupun saat merayakan Hari Raya Idhul Adha yang sering disebut juga dalam istilah Lebaran Haji atau Hari Raya Besar. Tapi entah bagaimana cerita dan prosesnya sekarang justru hari raya Idhul Fitri yang jadi begitu meriah dan marak berderak para pemudik menuju ke kampung halaman. Agaknya, pergeseran perayaan lebaran Idhul Adha jadi kalah semarak dibanding perayaan hari raya Idhul Fitri, tampaknya akibat dari ulah dan sikap para masyarakat urban di perkotaan yang menjadikan semacam “hukum wajib” untuk mudik ke kampung halaman lebih suka memilih waktu hari raya Aidhul Fitri ketimbang Hari Raya Idhul Adha. Sehingga waktu liburan resmi dari berbagai lembaga dan instansi pemerintah ikutan memberi waktu khusus untuk merayakan gari raya Idhul Fitri dalam beberapa hari sebelum dan sesudahnya.

Dahulu pun, perayaan hari raya — saat masih di kampung — suasana yang semarak dan meriah pun tak hanya ditandai oleh beragam menu panganan, tapi juga baju baru, seperangkat alat sholat yang baru. Bahkan untuk pakaian saat perayaan hari raya pun serba baru dan bertebaran wewangin tak hanya pada pakaian, tetapi juga untuk semua ruangan dan peralatan.

Pendek kata, suasana sakral bertebaran nuansa spiritual sangat terasa kental sepanjang hari lebaran, mulai dari persiapan sholat Idh hangga acara saling kunjung ke rumah tetangga sekitar tempat tinggal sampai kepada sanak keluarga dan saudara yang berada di kampung sebelah.

Suasana lebaran seperti itu sungguh masih tersisa sampai akhir tahun 1980-an..artinya, sejak kisaran 40 tahunan, suasana itu sudah berubah sampai sekarang yang pasti tidak lagi dialami oleh generasi yang lahir sejak tahun 1990 sampai sekarang. Begitulah nostalgia yang tersisa dalam ingatan. Lantaran tak lagi bisa dinikmati atau bahkan untuk sekedar dilihat. Sebab video yang merekam pergeseran budaya semacam itu, mungkin dianggap semacam peristiwa biasa, bagian dari proses perjalan waktu yang akan terus meninggalkan hal-hal yang dianggap tidak praktis dan mungkin juga tidak ekonomis dalam persepsi generasi hari ini yang juga tengah membangun budaya baru dalam persepsi mereka yang dianggap lebih baik dansesuai dengan selera dan perkembangan zaman.

Tradisi dan budaya untuk saling bermaaf-maafanpun tak lagi terkesan familiar dan abdol. Apalagi kemudian, muncul semacam trand baru yang disebut open house, pertemuan santai hampir dilakukan setiap mereka yang mampu untuk menyediakan beragam panganan dan minuman, sambil berkelakar tentang banyak hal, termasuk masalah politik dan ekonomi yang tengah menjadi topik pembicaraan banyak orang, mulai dari skala lokal hingga nasional dan internasional seperti perang yang tengah.memvara di Timur Tengah.

Apalagi untuk topik yang sedang mendongder negeri kita ini tentang beban ekonomi yang semakin berat terus diancam oleh kenaikan harga BBM dan gas, sehingga rakyat semakin terkesan panik.untuk siap beralih kepada banyak hal yang serba listrik. Hingga kesan terhadap kehadiran kendaraan listrik — baik yang beroda dua, tidak tiga dan beroda empat hingga lebih — segera dapat beralih kepada listrik. Namun masalahnya, bagaimana dengan yatlrof listrik, sungguhkah dapat dijamin tidak ikut menggeliat naik, seperti BBM ?

Maka berbarengan dengan suasana yang tengah mengguncang dunia — penuh rasa khawatir terjadi krisis pangan — maka suasana lebaran pun, tampaknya akan lewat seperti angin lalu. Oleh karena itu, kecenasan dalam kebahagiaan merayakan hari raya lebaran terasa semakin berbeda dari tahun-tahun sebelumnya bagi saya. Tapi mungkin berbeda menurut perasaan Anda.

Banten, 18 Maret 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *