PASURUAN || jejakindonesia.id – Suasana penuh semangat literasi sejarah, komunitas Sesuluh kembali menghadirkan forum budaya bertajuk Sinau Bareng Sesuluh, sebuah ruang belajar bersama untuk menggali asal-usul dan makna mendalam di balik nama Pasuruan. Dalam acara tersebut dilaksanakan di Jl. Menara Perum Karya Bakti pada (26/10/2025).
Achmad Budiman Surarjono, selaku pemateri sekaligus ketua acara, menegaskan bahwa Sesuluh bukan sekadar komunitas, melainkan gerakan literasi sejarah yang berkomitmen menghidupkan kembali kesadaran historis masyarakat Pasuruan.
“Acara Sinau Bareng Sesuluh ini bertujuan menggali dan menjalankan diskursus tentang sejarah Pasuruan berdasarkan sumber-sumber literasi yang terverifikasi, agar kisah masa lalu tidak sekadar menjadi cerita, tetapi menjadi cermin dan arah bagi masa depan.” ujarnya
Dalam paparannya, Achmad Budiman memaparkan bahwa perjalanan nama Pasuruan menyimpan banyak versi dan tafsir. Mulai dari sebutan “Pa-suruh-an”, “Pasar Uang”, hingga “Gembong” — semua menunjukkan betapa kaya dan dinamisnya identitas kota ini. Bahkan sejak abad ke-14, nama Pasuruan telah tercatat dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada masa Raja Hayam Wuruk, sebagai salah satu wilayah penting di bawah naungan Majapahit.
Beberapa literatur Eropa abad ke-19 juga menuliskan variasi ejaan yang berbeda-beda: Pasoeroewan, Pesoeroewan, bahkan Passaroewang. Profesor P.J. Veth pada tahun 1863 mencatat,
“Ejaan nama wilayah ini sangat tidak pasti dan tidak stabil.” Namun di balik keragaman itu, satu makna yang paling kuat dan disepakati para ahli tetaplah sama — bahwa kata Pasuruan berasal dari “Suruh” atau “Sirih”, tanaman simbol kesucian, penghormatan, dan keramahan khas budaya Jawa. Ejaan atau Penulisan P-a-s-u-r-u-a-n mulai lazim ditulis di media sejak 1949.
Dalam penelusurannya, Sesuluh juga menemukan jejak-jejak penting tentang Untung Surapati, sosok legendaris yang pernah memerintah di Pasuruan hingga akhir hayatnya tahun 1706. Ia dimakamkan di Mancilan, di belakang Kebon Agung tempat yang hingga kini menyimpan aura sejarah perjuangan dan kehormatan.
Lambang Kota Pasuruan yang ditetapkan pada tahun 1929 — bergambar tiga daun sirih berwarna hijau — menjadi bukti bahwa akar sejarah dan simbol budaya itu diabadikan secara resmi oleh Dewan Kota Pasoeroewan. Sirih, atau suruh, bukan sekadar tanaman, tetapi lambang persaudaraan, kesucian niat, dan ketulusan jiwa masyarakat Pasuruan.
Dari berbagai sumber, baik lokal maupun kolonial, tim Sesuluh menarik kesimpulan bahwa:
“Nama Pasuruan berasal dari tanaman Suruh atau Sirih, tempat tumbuhnya daun Suruh. Dan kebenaran ini telah ditegaskan sejak lama, tidak perlu diragukan lagi.”
Melalui kegiatan Sinau Bareng Sesuluh ini, Achmad Budiman Surarjono menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat dan dukungan pemerintah agar sejarah Pasuruan dapat tersusun dengan baik dan benar — menjadi warisan pengetahuan bagi generasi mendatang.
Ia menutup sesi dengan pesan reflektif:
“Dengan memahami asal-usul nama Pasuruan, kita tidak hanya menelusuri sejarah, tetapi juga memperkuat identitas, menumbuhkan rasa bangga, serta membangun memori kolektif yang menjadi dasar bagi kemajuan budaya, ekonomi, dan pendidikan daerah.”
Sinau Bareng Sesuluh — Dari sejarah kita belajar, dari Pasuruan kita bercermin.
(RED)