BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Tembok jeruji besi terbukti bukan menjadi penghalang bagi warga binaan untuk melahirkan karya monumental yang religius. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Timur, Kadiyono, saat meresmikan Al-Qur’an raksasa hasil goresan tangan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi, Senin (16/3).
Peresmian tersebut dilakukan di sela-sela kegiatan Safari Ramadan Kakanwil Ditjenpas Jatim pada Koordinator Wilayah (Korwil) Jember yang dipusatkan di Lapas Banyuwangi. Dalam sambutannya, Kakanwil memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi warga binaan yang mampu menyelesaikan penulisan kitab suci berukuran besar tersebut dengan presisi dan estetika yang tinggi.
Kadiyono menilai keberhasilan menerbitkan Al-Qur’an raksasa ini menjadi bukti nyata bahwa program pembinaan di Lapas Banyuwangi berjalan sangat efektif dalam menumbuhkan kreativitas.
“Ini adalah bukti konkret bahwa pembinaan di Lapas Banyuwangi mampu mengubah keterbatasan menjadi karya yang luar biasa. Warga binaan diberikan ruang untuk menggali potensi diri mereka, bahkan dalam bidang seni religius yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi,” ujarnya.
Menariknya, prestasi ini dicapai oleh tiga orang warga binaan yang sebelumnya tidak memiliki dasar keahlian di bidang seni kaligrafi. Mereka mempelajari teknik penulisan tersebut sepenuhnya di dalam Lapas melalui pendampingan intensif dari praktisi profesional serta pengawasan dari petugas Lapas.
“Tanpa dorongan semangat dan tekad yang kuat, tentunya hal ini akan sulit untuk dilakukan. Namun warga binaan Lapas Banyuwangi mampu melakukan hal tersebut dengan sangat baik meskipun tidak memiliki bakat kaligrafi sebelumnya,” terangnya.
Kepala Lapas (Kalapas) Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menjelaskan bahwa Al-Qur’an tersebut tidak hanya menjadi pajangan. Saat ini, karya tersebut telah digunakan secara rutin oleh warga binaan untuk kegiatan tadarus setelah pelaksanaan salat Tarawih di Masjid Lapas Banyuwangi.
Wayan juga menekankan bahwa aspek akurasi tetap menjadi prioritas utama. Sebelum diresmikan dan digunakan, Al-Qur’an raksasa tersebut telah melalui proses taskhih atau pemeriksaan ulang yang ketat untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam penulisan ayat maupun tanda baca.
“Prosesnya sangat teliti. Setelah dinyatakan valid melalui tahap pemeriksaan, barulah Al-Qur’an ini kami gunakan untuk kegiatan ibadah warga binaan,” terang Wayan.
Keberhasilan ini pun memicu semangat baru. Wayan mengungkapkan bahwa saat ini tim warga binaan tersebut tengah memulai pengerjaan Al-Qur’an kedua dengan ukuran yang sama sebagai bagian dari keberlanjutan program pembinaan kemandirian dan kerohanian.
Moch Chanafi, salah satu warga binaan yang menjadi penulis utama, mengaku tidak menyangka bisa menghasilkan karya sebesar ini. Rasa bangga dan haru menyelimuti dirinya saat melihat hasil karyanya kini diresmikan oleh pimpinan tinggi wilayah.
“Awalnya saya hanya belajar dari nol di sini. Sekarang, ada rasa bangga yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ini memberikan saya semangat baru untuk segera menyelesaikan Al-Qur’an yang kedua bersama teman-teman yang lain,” ungkap Chanafi dengan nada optimis.