Pertautan Program PAKJ Dengan GMRI Mendapat Titik Temu Segera Mengadakan Scara Retreat Nasional Bersama

Jejak-indonesia.id || Tobat nasional bagi bangsa Indonesia semakin mendesak untuk segera dilakukan, agar tidak sampai alam sendiri yang melakukan pertobatan dengan caranya sendiri. Toh, alam sudah memiliki hukum, seperti telah berukang kali kita saksikan dengan adanya bencana alibat ulah manusia yang tidak sadar tentang ekoteologi sebagai bagian dari wujud nyata kuass Tuhan atas jagat raya dan seisinya. PAKJ sendiri bertujuan memfasilitasi dan memberdayakan komunitas alumni untuk menjalani kehidupan spiritual yang aktif dan mengambil bagian dalam proses pembinaan berkelanjutan sangat sejaras dengan apa yang sedungguhnya hendak dibangun oleh GMRI dalam upaya membangun gerakan kebangkiran kesadaran dan penahanan spiritual sebagai basi penopang utama etika, moral dan akhlak mulia manusia agar tidak hanya sekedar mengandalkan kemampuan intelektual, tetapi harus dan mutlak mengimbanginya dengan kenampuan dan kecerdasan spiritual.

Begitu tampaknya pertanda dari kuasa Allah melalui karunia-Nya sebagai pertanda cinta kasih dan kuasa-Nya, yaitu sinnatullah yang sangat besar hikmah dan manfaatnya untuk dipahami dan ditaati oleh manusia.

Beranjak dari kesadaran serta pemahaman inilah, Ketua Perkumpulan Alumni Kolese Jesuit (AKJ), Hendra Hudiono bersama Bagio dan kawan-kewan saat menyambangi GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang dibesut Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, 24 Februari 2026 di Sekretarist GMRI, Jl. Ir. H. Juanda No.4 A, Jakarta Pusat menggagas program retreat Nasional dengan melibatkan berbagai kalangan lintas agama untuk merimusjan satu kata sepakat bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia ke depan. Sebab dari “penerawangan spiritual” pada 3 tahun ke depan — 2027 hingga tahun 2029 — Indonesia akan memasuki masa yang paling krusial.

Diskusi informal sebagai pengganti dari tradisi Senin-Kamis runtin dua kali seminggu di Sekretarian GMRI, dimulai usai sholat azhar hingga acara buka puasa bersama yang semakin meluas kaitannya dengan program “Diplomasi Spiritual Global” yang semakin memperoleh titik temu untuk menjangkau berbagai negara tujuan yang paling strategis mendukung program penerintah Indonesia dalam membangun jaringan kerjasama dengan berbagai negara di dunia.

Pada penghujung acara, Sri Eko Sriyanto Galgendu menyerahkan “Kitab MA HA IS MA YA* secara simbolis melakui Ketua Perkumpulan Alumni Kolese Jesuit, Hendra Hudiono sebagai bentuk ikatan batin untuk seluruh anggota organisasi yang mewadahi alumni Kolese Juseit untuk saling mendukung dan membangun jalinan persaudaraan antar iman, utamanya dalam upaya untuk menyelengarakan acara pertoban nasional dalam konteks ekoteologi yang perlu diselenggarakan di negeri ini. Sehingga kesadaran terhadap penghargaan terhadap alam yang erat kaitannya dengan tata kehudupan manusia di bumi, tidak dapat sejenak pun mengabaikan kuasa Tuhan. Karena itu titik temu antara PAKJ dan GMRI ideal beriring sejalan membangun tatanan harmoni hidup dan kehidupan manusia bersama alam atas kasih dan kuasa Tuhan. Pertautan PAKJ dengan GMRI sepakat untuk mengadajan acara retreat nssional bersama para tokoh agama dalam waktu dekat untuk merumuskan kata sepakat gerakan dan aksi bersama terkait pertobatan nasional dan aksi ekoteologi bagi bsngsa dan negara Indonesia yang semakin mendesak.

Pecenongan, 24 Februari 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *