PASURUAN || jejakindonesia.id – Dalam suasana yang khidmat dan penuh makna, masyarakat Pasuruan kembali menggelar Pengetan Surud Dalem (Haul) Panjenenganipun Kyahi Adipati Nitiadiningrat, seorang tokoh agung yang jejak perjuangan dan kebijaksanaannya telah menanamkan nilai-nilai luhur bagi tanah Pasuruan, acara tersebut dilaksanakan dikediaman K.H. Masykur Faqih di JL. Wiroguno Selatan Alun-alun Kota Pasuruan.
Tahun ini menjadi momentum istimewa peringatan ke-226 tahun wafatnya sang leluhur, sekaligus tahun ketiga tradisi haul ini kembali dihidupkan. Peringatan tersebut menjadi simbol tekad masyarakat untuk menjaga dan melestarikan warisan spiritual, sejarah, dan budaya yang telah mengakar selama berabad-abad.
Kyahi Adipati Nitiadiningrat dikenal bukan hanya sebagai pemimpin yang tegas dan bijaksana, tetapi juga pengayom rakyat serta penjaga nilai-nilai moral dan spiritual. Dalam sejarah lisan masyarakat Pasuruan, beliau dikenang sebagai sosok yang menanamkan semangat kejujuran, gotong royong, dan keteladanan nilai-nilai yang hingga kini masih menjadi napas kehidupan masyarakat setempat.
Tradisi Pangetan Surud Dalem bukan sekadar mengenang sosok besar masa lalu, namun juga meneguhkan kembali semangat kebangsaan, keadaban lokal, dan persaudaraan lintas generasi. Melalui rangkaian doa bersama, tahlil, dan kegiatan budaya, masyarakat menautkan jalinan batin antara masa lampau, masa kini, dan masa depan.

“Mengingat Kembali Leluhur dan Bersama Merajut Semangat Kebersamaan dan Gotong Royong.”
Sejumlah tokoh agama dan keturunan bangsawan Pasuruan turut hadir memberikan tausiah dan refleksi nilai-nilai luhur leluhur, di antaranya:
1. Gus Abdurahman, S.Pd.I., M.Pd. – dari Keluarga Nitiadiningrat III,
2. K.H. Rakai Muhammad,
3. K.H. Masykur Faqih – dari Keluarga Nitiadiningrat III.
Kehadiran para tokoh ini menjadi pengingat bahwa melestarikan warisan spiritual dan sosial bukan hanya tugas sejarah, melainkan panggilan moral generasi masa kini. Nilai-nilai yang diwariskan oleh Pangeran Nitiadiningrat seperti gotong royong, kesantunan, dan kepedulian sosial kembali dihidupkan di tengah masyarakat yang kian modern.
Acara yang digelar di Pasuruan ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dan perwakilan masyarakat, di antaranya:
Kapolresta Pasuruan yang diwakili oleh Wakapolsek Purworejo, AKP Bambang Pamungkas, K.H. Muhammad Mukhson, S.Pd., M.Pd., Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Lajuk, Gondangwetan. Di bawah langit Pasuruan yang sarat sejarah, gema doa dan lantunan gending Jawa berpadu dengan nuansa budaya lokal. Para peserta tampil mengenakan busana tradisional, menambah kekhidmatan suasana peringatan yang penuh penghormatan terhadap leluhur.
Lebih dari sekadar upacara, Pangetan Surud Dalem menjadi ruang spiritual dan budaya di mana masyarakat meneguhkan kembali makna “Uruk Urik” semangat saling menghidupi dan menguatkan yang diwariskan oleh para pendahulu.
Menurut Ketua Panitia, Tengku Emir Mirza, kegiatan Pengetan Surud Dalem ini memiliki tujuan utama mengenang kembali para Leluhur Pasuruan, yaitu Kyahi Adipati Nitiadiningrat I, II, III, dan IV, serta jasa-jasa besar mereka dalam perkembangan Pasuruan.
Selain itu, acara ini juga mengajak seluruh hadirin untuk menguatkan kembali rasa kebersamaan dan gotong royong yang kini mulai tergerus oleh arus zaman.
“Semoga dengan Pengetan Surud Dalem Panjenenganipun Kyahi Adipati Nitiadiningrat ini, keberkahan dan ketentraman di Pasuruan khususnya di Kota Pasuruan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Tengku Emir Mirza.
Acara ini turut dihadiri oleh Putro Wayah Nitiadiningrat yang menjadi panitia, para penggiat budaya, serta perwakilan dari Majelis Ta’lim Darut Tauhid Gresik dan Mojokerto, memperkaya suasana kebersamaan lintas wilayah dan generasi.
Dari sosok Kyahi Adipati Nitiadiningrat, masyarakat Pasuruan belajar bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa terletak pada rasa persaudaraan, cinta tanah air, dan keikhlasan berbuat untuk sesama. Warisan spiritual dan budaya itu kini terus hidup mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di setiap lantunan doa, mengalir pesan abadi dari leluhur:
Bahwa Pasuruan bukan sekadar tanah kelahiran, ia adalah warisan jiwa, tempat di mana kebersamaan menjadi cahaya yang tak pernah padam.
(RED)