BANYUWANGI || Jejak-indonesia.id – Suasana Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi berlangsung penuh kehangatan dan kebersamaan. Ratusan warga binaan tampak kompak menggelar kegiatan “nyate bareng” di dalam area lapas yang berlokasi di Jalan Letkol Istiqlah tersebut, Rabu (27/5).
Kegiatan membakar sate bersama ini memanfaatkan daging hasil pemotongan hewan qurban yang dilaksanakan langsung di lingkungan lapas. Menariknya, pihak panitia tidak membagikan daging dalam bentuk gelondongan, melainkan sudah dalam kondisi siap bakar. Setiap warga binaan menerima jatah daging yang telah dipotong kecil dan rapi tertusuk pada bilah bambu.
Kepala Lapas (Kalapas) Banyuwangi, Solichin, mengungkapkan bahwa konsep pembagian daging dalam bentuk tusukan sate ini sengaja dirancang untuk memupuk rasa kebersamaan dan kekompakan di antara para warga binaan.
“Kami ingin menghadirkan nuansa kekeluargaan yang erat. Dengan nyate bareng ini, harapannya mereka bisa saling membaur dan memupuk rasa kebersamaan tanpa ada sekat,” ujar Solichin.
Solichin menambahkan, tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk merasakan momentum hari raya layaknya masyarakat pada umumnya di luar jeruji besi. Kehilangan momen berkumpul bersama keluarga di hari suci tentu menjadi hal yang berat, sehingga kegiatan ini diharapkan dapat mengobati kerinduan tersebut.
Teknis pelaksanaan nyate bareng ini digelar secara serentak di lapangan masing-masing blok hunian. Kendati melibatkan pembakaran dan penggunaan tusuk sate, seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan kondusif di bawah pengawasan ketat dari petugas lapas.
“Meski dilakukan pengawasan ketat oleh petugas untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, suasana tetap cair. Kegiatan ini terbukti mampu menghadirkan senyum bahagia di wajah para warga binaan,” imbuhnya.
Pada Iduladha tahun ini, Lapas Banyuwangi berhasil menghimpun total 12 ekor hewan qurban. Jumlah tersebut terdiri dari 3 ekor sapi dan 9 ekor kambing.
Solichin menjelaskan bahwa seluruh hewan qurban tersebut diperoleh dari beberapa pegawai lapas, bantuan dari sejumlah instansi vertikal, pihak rekanan, hingga sumbangan dari pihak keluarga warga binaan sendiri.
Kebahagiaan ini pun dirasakan langsung oleh salah satu warga binaan berinisial SF. Ia mengaku sangat bersyukur dan tidak menyangka bisa merasakan kembali tradisi membakar sate yang kerap ia lakukan bersama keluarga sebelum tersandung masalah hukum.
“Sangat senang dan bersyukur sekali. Nyate bareng seperti ini adalah tradisi saya dulu di rumah setiap Iduladha. Saya berterima kasih kepada pihak Lapas Banyuwangi yang sudah memfasilitasi dan menyediakan sarana ini, sehingga kami di sini tetap bisa merasakan indahnya Lebaran,” tutur SF dengan mata berkaca-kaca.
